KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
KesehatanDisiplin Prokes Jangan Kendor Kekuatan Covid-19 Varian Delta Disebut 2,5 Kali Lebih Berbahaya oleh : Danny Melani Butarbutar
22-Jun-2021, 12:51 WIB


 
  KabarIndonesia - Hai, apa kabarmu? Semoga kabarmu baik karena kondisi kesehatan dan imunitas yang terjaga di tengah ancaman kesehatan yang tidak surut karena pandemi.

Seperti dikhawatirkan sebelumnya, kasus positif Covid-19 meningkat tajam setelah libur lebaran sepanjang Mei 2021 dan
selengkapnya....


 


 
BERITA SERBA SERBI LAINNYA





 
BERITA LAINNYA
 

 
 
M E R D E K A !!! 17 Aug 2020 06:01 WIB

Terbunuh Cinta Sendiri 05 Jul 2020 14:46 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
 
SERBA SERBI

CARA MENINGKATKAN KHARISMA !
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 12-Mei-2021, 10:22:20 WIB

KabarIndonesia - Apabila anda ingin jadi Selebritis/ Pemimpin anda harus memiliki KHARISMA. Pejabat tinggi maupun seorang konglomerat sekalipun belum tentu ia memiliki KHARISMA.

Mengapa demikian? Maklum seorang yang berkarisma dapat membangkitkan rasa kagum dan juga pemujaan dari masyarakat kepada dirinya.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sampai saat ini belum ada pemimpin Indonesia yang memiliki KHARISMA seperti Bung Karno.

Maka tidaklah heran apabila Bung Karno disejajarkan dengan pemimpin-pemimpin kaliber dunia lainnya yang memiliki kharisma misalnya Fidel Castro, Nelson Mandela, JF. Kennedy, Barrack Obama

Kata KHARISMA ini diserap dari kata KHARIS dalam bahasa Yunani yang berarti KARUNIA dari Tuhan. Menurut Alkitab, hal ini terjadi pada saat para Rasul diberikan KARUNIA = KHARISMA, sehingga mereka mampu berpidato dengan sangat memukau dihadapan orang banyak.

Namun kata Kharisma sekarang ini sudah menjadi kata yang umum. Kata yang tidak ada kaitannya lagi dengan hal keagamaan.

Kata KHARISMA bisa di definisikan dengan baik dalam arti kata SIMA (bahasa Sunda). Kata “SIMA”, yang bermakna ‘karisma’, ‘aura’, ‘wibawa, dan sejenisnya. Maka dari itu kharisma bisa disamakan dengan kata SIMA (mantera) dalam bahasa Sunda

SIMA sering dikaitkan dengan “MAUNG” (harimau, macan) dlm bhs Jawa SIMA. Ini tentunya disebabkan “maung” selalu membuat manusia “terkejut”, “termangu-mangu”, “kasima” lantaran “karisma”-nya.

Dari sini, muncul kata kerja pasif “KASIMA”, yang bermakna harfiah , ‘terpana’, ‘terpesona’, ‘terkejut sekali’, ‘hilang akal’, ‘tak bisa berkata-kata’, dan seterusnya.

Mereka yang memiliki KHARISMA pada umumnya adalah SEORANG PENDONGENG YANG ULUNG yang dapat membuat para pendengarnya TERPUKAU dan betah mendengarnnya ataupun membaca bukunya!

Disamping itu mereka memiliki Pe-De yang OVERDOSIS sehingga percikan-percikan bisa meyakinkan para pendengarnya dan langsung timbul keyakinan I WILL FOLLOW HIM !

Seseorang yang kharismatik biasanya memiliki tingkat NARSISME yang yang sangat tinggi, Namun dapat menarik perhatian seluruh orang. Ia seolah-olah menyerap energi orang dan ruangan, lalu memancarkannya kembali berlipat kali ganda kepada siapa saja yang memperhatikannya.

Perhatikan bahwa ini bukan kepercayaan diri dalam pikiran saja, melainkan kepercayaan diri secara fisik yang meluap keluar dari setiap gerakan tubuhnya.

Bukan hanya para pembicara saja yang bisa memancarkan KHARISMA melainkan para PENULIS buku pun demikian, sehingga orang senang membacanya !

Namun tidak semua orang memiliki bakat sebagai PEMBICARA maupun PENULIS misalnya TUHAN YESUS memiliki kharisma sehingga bisa meyakinkan milyar manusia. Namun Tuhan sendiri tidak pernah menulis apapun juga !

Penampilan bukanlah persyaratan utama sehingga seseorang memiliki KHARISMA misalnya walaupun Hitler memiliki wajah seperti pelawak Jojon namun bisa menarik dan meyakinkan puluhan juta manusia.

Richard Wiseman -seorang profesor Public Understanding of Psychology– menyatakan kharisma merupakan 50% kemampuan alamiah dan 50% hasil latihan perilaku tertentu.

Misalnya Steve Jobs pada awalnya ia belum memiliki kharisma seperti ketika di akhir hidupnya. Begitu juga dengan Barack Obama di tahun 1990 belum memukau seperti sekarang ini.

Semakin sukses seseorang semakin meningkat pula KHARISMA seseorang. Namun kebalikannya pada saat ia jatuh; maka semakin meredup pula kharismanya misalnya Soekarno atau Soeharto

Kharisma ini bukannya penilaian pribadi dari diri sendiri melainkan penilaian dari orang lain. Dari FOTO seseorang pun kita bisa merasakan PANCARAN KHARISMA yang dimiliki oleh foto orang tersebut.(Penulis Mang Ucup)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 



Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 
Majelis Rakyat Papua Didukung PGI 13 Jun 2021 04:31 WIB


 

 

 

 

 

 
 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia