KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
KesehatanDisiplin Prokes Jangan Kendor Kekuatan Covid-19 Varian Delta Disebut 2,5 Kali Lebih Berbahaya oleh : Danny Melani Butarbutar
22-Jun-2021, 12:51 WIB


 
  KabarIndonesia - Hai, apa kabarmu? Semoga kabarmu baik karena kondisi kesehatan dan imunitas yang terjaga di tengah ancaman kesehatan yang tidak surut karena pandemi.

Seperti dikhawatirkan sebelumnya, kasus positif Covid-19 meningkat tajam setelah libur lebaran sepanjang Mei 2021 dan
selengkapnya....


 


 
BERITA PROFIL LAINNYA



 
BERITA LAINNYA
 

 
 
M E R D E K A !!! 17 Aug 2020 06:01 WIB

Terbunuh Cinta Sendiri 05 Jul 2020 14:46 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
CARA MENINGKATKAN KHARISMA ! 12 Mei 2021 10:22 WIB


 

Willem Linggi Tambing Pelopor Berdirinya Kabupaten Tana Toraja

 
PROFIL

Willem Linggi Tambing Pelopor Berdirinya Kabupaten Tana Toraja
Oleh : Antha | 10-Jun-2021, 04:33:50 WIB

KabarIndonesia - Toraja, Willem Linggi Tambing yang dikenal dengan nama WL Tambing (Pong Tambing). WL Tambing lahir di Madandan Tana Toraja, tanggal 17 Februari 1923, dan meninggal pada tanggal 06 Maret 1995 usia 72 tahun, Lahir dari pasangan Sampe Bunga dan Rut. WL Tambing lulus di Hollandsch Inlandsche School (HIS) setingkat SD, kemudian masuk di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (Mulo-B) Makassar, setingkat SMP dan Algemeene Middelbare School (AMS-B) Makassar, setara SMA.

Pada tahun 1955, Indonesia melaksanakan pemilihan umum pertama untuk memilih anggota DPR dan Anggota Konstituante. Partai Kristen Indonesia (Parkindo) salah satu peserta pemilu 1955. Parkindo memperoleh suara 1.003.326 suara dengan persentase sebesar 2,66% sehingga memperoleh 8 Kursi di DPR.

Kedelapan Anggota DPR tersebut adalah Albert Mangaratua Tambunan, Johannes Leimena, Huibert Senduk, Melanchton Siregar, Marthinus Caley, Christoffel Joseph Mooy, Manuel Sondakh, dan Willem Linggi Tambing.

Sebelumnya, Perjuangan WL Tambing dimulai pada tahun 1952 saat menjadi Kepala Pemerintah Negeri (KPN) di Palopo. Pada saat itu terjadi pemberontakan DI/TII pimpinan Qahar Mudzakkar, WL tambing yang memiliki wewenang sebagai Kepala Pemerintah Negeri meminta bantuan tentara untuk membuka wilayah Hutan di Seriti-Lamasi dan melindungi wilayah Bastem.

WL Tambing fokus di dunia politik dengan menjadi anggota Dewan Pimpinan Cabang Parkindo Palopo pada tahun 1952-1956 merangkap Dewan Koordinasi Cabang Parkindo Kabupaten Luwu Sulawesi Selatan. Pada tahun 1953 - 1955 menjadi Anggota Dewan Pemerintaha Daerah Swatantra Luwu Sulawesi Selatan.

Pada tahun 1952 - 1953, Selain DI/TII juga terjadi hal panas antara Andi Sose dan pasukannya bersama Masyarakat Toraja. Selain karena desas-desus soal pelecehan gadis-gadis Toraja oleh bawahan Sose, ada isu sensitif yang bikin pasukan Sose dimusuhi orang Toraja.

W.L. Tambing dan H.L. Lethe mengajukan kepada Kolonel Joop Warouw sekalu panglima T.T VII agar segera memindahkan Andi Sose dan pasukannya dari Toraja, tetapi permintaan tidak dikabulkan.

W.L Tambing kemudian mengorganisasi orang Toraja, terutama polisi dan pegawai yang berada di Palopo dan Masamba. Frans Karangan yang saat itu anak buah Andi Sose mendukung W.L. Tambing. Penyerbuan terhadap Andi Sose dipimpin langsung oleh Frans Karangan yang pasukannya menyusul bergabung dengan masa yang dikumpulkan W.L Tambing. Pasukan ini didukung oleh amunisi Batalion 422 Diponegoro. Peristiwa 1953 ini mempererat hubungan antar tokoh Agama Kristen dan Elite Tradisional.

Pada tahun 1956 berhasil memperjuangkan berdirinya SMA Negeri Rantepao. Selanjutnya, W.L. Tambing memimpin konsolidasi persama tokoh Kristen dan Elite Tradisional (Tahun 1957 Toraja menjadi Dati II Tana Toraja berdasarkan UU Darurat Nomor 3 Tahun 1957 Berdasarkan UU No. 29/1959). WL Tambing mempelopori berdirinya Kabupaten Tana Toraja (TK.II) yang secara resmi berdiri pada tahun 31 Agustus 1957 dengan yang menjadi Bupati adalah H.L. Lethe.

Saat terjadi peristiwa 1958, W.L. Tambing kembali mengupayakan cuti untuk para Polisi yang ada di Palopo dan Masamba dan beberap tempat lainnya. Panggilan jiwa untuk mempertahankan Toraja dari invasi pasukan Andi Sose’. pasukan Frans Karangan di bawah pimpinan J. Pappang yang berjalan kaki dari Palu menembus hutan belantara. Atas upaya yang dilakukannya, banyak polisi yang diberikan cuti. Dengan demikian bertambah jumlah pasukan untuk mempertahan wilayah Toraja dan pada akhirnya pasukan Andi Sose’ dipukul mundur keluar dari wilayah Toraja.

Setelah peristiwa 1958, Willem Linggi Tambing dan Rendra Sarungallo (Anggota Konstitune) meyakinkan pemerintah pusat bahwa wilayah Toraja adalah bagian dari NKRI, bahwa Jiwa Nasionalisme Toraja jangan di ragukan.(*) 

Foto: WL Tambing paling kanan depan saat menghadiri Sidang Umum PBB bersama Menteri Pendidikan Syarif Thayeb

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 



Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 
Majelis Rakyat Papua Didukung PGI 13 Jun 2021 04:31 WIB


 

 

 

 

 
 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia