KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
KesehatanDisiplin Prokes Jangan Kendor Kekuatan Covid-19 Varian Delta Disebut 2,5 Kali Lebih Berbahaya oleh : Danny Melani Butarbutar
22-Jun-2021, 12:51 WIB


 
  KabarIndonesia - Hai, apa kabarmu? Semoga kabarmu baik karena kondisi kesehatan dan imunitas yang terjaga di tengah ancaman kesehatan yang tidak surut karena pandemi.

Seperti dikhawatirkan sebelumnya, kasus positif Covid-19 meningkat tajam setelah libur lebaran sepanjang Mei 2021 dan
selengkapnya....


 


 
BERITA INTERNASIONAL LAINNYA




 
BERITA LAINNYA
 

 
 
M E R D E K A !!! 17 Aug 2020 06:01 WIB

Terbunuh Cinta Sendiri 05 Jul 2020 14:46 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
CARA MENINGKATKAN KHARISMA ! 12 Mei 2021 10:22 WIB


 

Pelopor Gerakan Oikumene Asia Dr SAE Nababan Meninggal Dunia

 
INTERNASIONAL

Pelopor Gerakan Oikumene Asia Dr SAE Nababan Meninggal Dunia
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 12-Mei-2021, 11:07:05 WIB

KabarIndonesia - Jakarta, Kabar duka, Pendeta Soritua Albert Ernst (SAE) Nababan meninggal dunia, pada Sabtu (8/5/2021) sekira pukul 16.18 WIB. Pendeta SAE meninggal dunia di usia ke-88 tahun setelah menjalani perawatan intensif di RS Medistra, Jakarta.

"Telah berpulang pada kemuliaan surgawi. Pdt. Dr. Soritua Albert Ernst (SAE) Nababan, LID. Kabar duka ini disampaikan pada Sabtu sore, 8 Mei 2021, pukul 16.18 WIB. Pdt. SAE meninggal menjelang usianya ke-88 tahun, setelah menjalani perawatan intensif di RS Medistra, Jakarta," demikian informasi dari kerabat dekatnya kepada media.

SAE Nababan dikenal sebagai tokoh gerakan oikoumene nasional dan internasional. Ia lahir pada 24 Mei 1933 di Tarutung, Tapanuli Utara.

Pendeta senior di gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) itu merupakan lulusan Sekolah Tinggi Teologi Jakarta (sekarang STFT Jakarta) tahun 1956 dan pada tahun yang sama ditahbiskan menjadi pendeta.

"Setelah menjalani pelayanan sebagai pendeta pemuda di HKBP Medan, beliau kemudian menempuh studi di Universitas Ruperto Carola, Heidelberg, Jerman – lulus Doctor Theologiae pada Februari 1963," kata kerabat SAE Nababan, Basar Daniel, dalam keterangannya.

Jenazah pendeta senior dari Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) ini disemayamkan di Rumah Duka RSPAD, lantai 2 ruang N, Jakarta dan pemakaman akan dilakukan di kampung halaman, Siborongborong, Tapanuli Utara.

Diberitakan, sejak masa mudanya SAE Nababan aktif dalam pelayanan ekumenis dan sosial kemasyarakatan. Ia juga dikenal di gerakan ekumenis baik tingkat nasional, Asia maupun dunia.

Sembari dipercayakan peran sebagai anggota Parhalado Pusat HKBP, SAE berperan cukup lama, dari 1967-1984, sebagai Sekretaris Umum Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI) yang kemudian berganti nama menjadi Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI). Ia kemudian menjadi ketua umum di lembaga ekumenis tersebut pada 1984-1987.

SAE juga mengemban sejumlah jabatan di berbagai forum ekumenis dunia seperti Lutheran World Federation (LWF), Christian Conference of Asia (CCA), United Evangelical Mission (UEM) dan Dewan Gereja Dunia (World Council of Churches, WCC).

Bagi masyarakat Indonesia, namanya lebih dikenal saat menjadi pimpinan (Ephorus) HKBP selama 1987-1998. Di periode kedua kepemimpinannya (1992-1998), rezim Orde Baru melakukan intervensi pada pemilihan pimpinan HKBP.

Sebab SAE Nababan dianggap cukup kritis menyerukan penghargaan atas kemanusiaan dan prinsip demokrasi. "Ini memunculkan dualisme kepemimpinan di HKBP yang baru selesai setelah pemerintahan Soeharto berganti," ujar Daniel.

SAE Nababan termasuk salah satu inisiator untuk mempertemukan tokoh dan kelompok reformasi yang akhirnya melahirkan Deklarasi Ciganjur dan mengamanatkan agenda reformasi Indonesia. Daniel menuturkan sumbangsih pemikiran SAE Nababan bagi gereja dan masyarakat Indonesia terangkum dalam sejumlah khotbah dan tulisannya. Salah satunya dalam buku catatan perjalanan SAE bertajuk Selagi Masih Siang yang telah terbit tahun lalu.

Pelopor gerakan ekumenis di Asia Dr Soritua Albert Ernest Nababan baru saja dianugerahi medali St Mesrop Mashtots His Holiness Aram I di Gereja Armenia Catholicos of Cilicia.

Di hadapan para pemimpin ekumenis global serta perwakilan dari komunitas Armenia yang hadir pada acara khusus yang diadakan di Catholicosate Armenia dari Rumah Besar Cilicia, Lebanon, pada 1 Februari 2020 tersebut, Paus dari Tahta Suci Cilicia menyerahkan medali tersebut kepada Dr Nababan dan mengenang kembali kepemimpinan beliau dalam gerakan ekumenis di berbagai tingkatan.

Kini Dr Soritua Albert Ernest Nababan yang lazim dikenal dengan sebutan Dr SAE telah meninggalkan umat gereja khususnya HKBP. Soritua meninggalkan seorang isteri Alida Lientje Lumbantobing, M.Sc. dan dua orang anak laki-laki, seorang anak perempuan serta dua orang cucu.

Dua orang dari saudara-saudara kandungnya adalah Panda Nababan, anggota DPR Republik Indonesia dari PDI-P dan Asmara Nababan, tokoh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Putranya, Hotasi Nababan adalah Alumni ITB dan MIT serta pernah menjabat sebagai CEO Merpati Nusantara dan GE Indonesia.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 



Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 
Majelis Rakyat Papua Didukung PGI 13 Jun 2021 04:31 WIB


 

 

 

 

 
 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia