Ongko Suwarso (12-Mar-2019, 04:18:40)
Harus diakui bahwa utk memuat tulisan ini butuh keberanian sang Mualaf Zaman Now, mungkin resikonya pak Tonny akan dilabel jadi Kafir bahkan PKI dll. Tapi semoga tidak seiring kesadaran dan kedewasaan org Indonesia punya toleransi dan menghormati perbedaan pendapat.

Billy Tan (11-Mar-2019, 11:35:36)
Dari apa yg pak Tonny tulis tsb merupakan salah satu bukti nyata apabila masyarkat menilai bahwa pak Tonny sebagai seorang tokoh pengusaha papan atas yg Legendaris. Cara berpikir bpk maupun itung-itungan kalkulasinya sangat tajam sekali yg selalu berpikir secara real, bukan hanya sekedar dari harapan kosong saja. Begitu juga dlm masalah Agama buat apa kita mengharapkan Sorga/Neraka di masa yg akan datang apalagi ini baru sekedar “maybe/katanya” saja. Lebih baik menjalankan kehidupan dan mengharapkan surga yang nyata pada saat kehidupan sekarang ini,

Ir Situmorang (11-Mar-2019, 07:49:08)
Harus diakui bahwa tulisan pak Tonny sering terkesan nyeleneh bahkan melecehkan Tuhan. Namun apabila dibaca dgn nalar secara sadar; banyak sekali kebenarannya. Tidak bisa dipungkiri bahwa 90% dari para pemeluk agama di duia ini hanya memiliki satu tujuan saja ialah menadapatkan One Way Ticket ke Sorga. Jadi bukannya untuk hidup di dunia nyata ini seperti yg dipaparkan oleh Bpk. Acung jempol untuk sang Mualaf Zaman Now

Drs Djoko Muladi (11-Mar-2019, 07:38:15)
Pak Tonny itu memang seorang penulis jenius yg memilik penilaian yg sangat tepat sekali bahwa banyaknya agama itu terjadi karena mereka belum mengenal Allah. Keberadaan begitu banyak agama bukanlah bantahan terhadap keberadaan Allah. Ataupun dijadikan dalih bahwa kebenaran mengenai Allah itu kurang jelas. Sebaliknya, adanya begitu banyak agama menjadi bukti pernyataan penolakan umat manusia terhadap Allah yang esa dan sejati yg belum mereka kenal!

Supadiyanto (11-Mar-2019, 07:25:47)
Pak Tonny patut disejajarkan dgn Friederich Nietzsche maupun Mao Tze Dong yg menilai bahwa Agama itu Racun ! Semua agama didunia ini menganut fasafah yg sama ialah: “Kasihilah sesamamu seperti dirimu !" yg beda hanya definisi “Sesamamu", sebab antara teori dan praktek kenyataannya beda seperti bumi dan langit. Di dlm praktek kehidupan kita, orang yg tidak menganut agama dan aliran yg sama denganku bukanlah “sesamaku". Bagaimana aku bisa sama dengan dia dimana “Tuhan-Mu adalah Hantu-Ku". Menurut agama-mu illahku adalah berhala, tetapi diagama-ku ia adalah illah kudus suci
yg kusembah.


Hal :  1|