Konspirasi Tsunami
Oleh : Batara R. Hutagalung

15-Nov-2006, 12:21:21 WIB - [www.kabarindonesia.com]
Akibat Buruknya Bagi Korban Tsunami

Bagian 1: Permasalahan

Sejarah telah membuktikan, bahwa satu orang saja dapat membuat hal atau peristiwa yang besar, baik yang dinilai positif oleh masyarakat, maupun yang berakibat negatif, tergantung dari sudut pandang, dan juga apa permasalahannya. Berawal dari satu orang saja, suatu pemerintahan dapat digulingkan, negara dapat diambil alih atau dihancurkan, bahkan dunia pun dapat digoncang, seperti yang dilakukan oleh beberapa tokoh dunia di masa yang belum lama berlalu.

Demikian juga dalam kehidupan sehari-hari, satu orang dapat menggerakkan berbagai institusi, baik pemerintahan maupun lembaga non pemerintah untuk kepentingan pribadi atau kelompoknya.

Sejak bencana pada hari Natal bulan Desember 2004, seluruh dunia kini mengetahui apa yang dinamakan gelombang Tsunami, yakni gelombang dahsyat yang diakibatkan oleh gempa yang terjadi di bawah laut. Apa yang dialami oleh FIG-Indonesia, satu LSM kecil dari Jerman yang sedang menjalankan program bantuan kemanusiaan di Sabang/Pulau Weh, NAD, mirip seperti orang mengalami gelombang Tsunami.

Berawal dari ketidakcocokan pribadi antara Mr. Yves Dantin, warga Jerman yang adalah Presiden dari Förder und Interessengemeinschaft (FIG) -Indonesia dengan Carola Güldner, seorang jurnalis Jerman yang sempat bekerja untuk FIG-Indonesia selama 2 minggu, dan Peter Hedrich, pria Jerman yang gagal bekerja untuk FIG-Indonesia di Sabang.

Masalahnya pribadi. Apa masalahnya, tidak lagi relevan untuk diperdebatkan di sini, karena sudah tentu masing-masing dengan versinya dan merasa dialah yang paling benar. Apabila masalah pribadi ini tetap menjadi pertengkaran pribadi di antara mereka, maka ini tidak akan menjadi masalah bagi para korban Tsunami di Sabang/Pulau Weh dan lembaga-lembaga Jerman dan Indonesia.

Namun rangkaian kejadian sebagai akibat dari pertengkaran pribadi ini, korban Tsunami di Sabang untuk kedua kalinya menjadi korban, kali ini disebabkan oleh suatu konspirasi, yang efeknya sedemikian dahsyat mirip Tsunami, sehingga patut disebut sebagai konspirasi Tsunami. Mr. Yves Dantin bersama Carola Güldner tiba di Sabang/Pulau Weh pada akhir bulan Maret 2005, dan berkenalan dengan Peter Hedrich, yang telah sering datang dan tinggal selama beberapa waktu di Sabang. Tujuannya adalah bekerjasama dalam menyalurkan dana dari donatur di Jerman untuk membantu para korban Tsunami dan berpartisipasi dalam rehabilitasi dan rekonstruksi Sabang/Pulau Weh.

Ternyata trio ini tidak bertahan lama dan bubar sebelum bersatu untuk tujuan yang mulia. Carola Güldner kembali ke Jerman, Peter konon mendapat pekerjaan yang lebih besar dan lebih baik di lembaga Jerman lain, GTZ (Gesellschaft für technische Zusammenarbeit) di Banda Aceh, dan Mr. Yves Dantin yang Presiden FIG-Indonesia, tetap tinggal di Sabang dan memulai kegiatannya sampai sekarang. Masalah mulai timbul di sini. Carola Güldner yang nampaknya sangat geram terhadap Mr. Yves Dantin, mulai menulis di weblognya mengenai Yves Dantin dan menyebut Yves sebagai seorang yang tidak profesional dsb. Hal-hal yang sangat pribadi pun dimunculkan. Pemilihan lokasi untuk bantuanpun dipertanyakan. Kritik yang dilontarkan mengenai pemilihan lokasi yang akan dibantu adalah, bahwa di Pulau Weh korban tewas "hanya" 12 orang (menurut data dari Posko Depsos tanggal 18 Februari 2005, korban tewas di Sabang berjumlah 18 orang).Namun Carola Güldner juga tidak menyebutkan, bahwa rumah yang hancur atau rusak parah mencapai lebih dari 630, selain itu 7 sekolah serta 5 jembatan juga rusak.

Di internet muncul berbagai reaksi atas tulisan Carola Güldner dan mereka yang mempercayai tulisan Carola Güldner, kemudian ikut menghujat dan meneror Yves Dantin melalui internet, bahkan ada yang mengusulkan agar Yves Dantin dilempari dengan batu dan kemudian dipenjara seumur hidup. Siapapun yang membaca beberapa tulisan Carola Güldner mengenai pribadi Yves Dantin dapat menangkap, betapa dendamnya Carola Güldner terhadap Yves Dantin.

Apakah hanya sebatas hujatan dan penghinaan melalui internet? Ternyata tidak. Dukungan bagi Carola Güldner datang dari sesama rekan jurnalis, yaitu Inge Altemeier, wanita Jerman pembuat film dokumenter yang telah sering ke Indonesia. Gebrakan Carola Güldner. Peter dan Inge selanjutnya tidak tanggung-tanggung. Mereka menghubungi semua orang dan institusi yang ada hubungannya dengan Yves Dantin, dan menyampaikan berbagai hal yang negatif mengenai Mr. Yves Dantin, terutama yang menyangkut kegiatan FIG-Indonesia di Sabang. Tuduhan yang dilancarkan adalah, telah terjadi penyalahgunaan dana bantuan dan kualitas rumah yang dibangun sangat buruk, perahu yang diberikan kepada nelayan adalah "peti mati yang terapung", dsb.

Ketika Inge Altemeier pada bulan September 2005 ke Aceh untuk membuat film dokumenter mengenai Aceh pasca Tsunami, diapun menyempatkan diri untuk mencari kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh FIG-Indonesia. Inge Altemeier „berhasil" mewawancarai orang yang tak kenal dengan Yves dan menolak bantuan LSM yang menurutnya hanya omong saja. Ditunjukkanlah dua perahu nelayan yang rusak, dan dikatakan sebagai bantuan dari FIG-Indonesia, yang sebenarnya bukan perahu bantuan FIG-Indonesia. Film tersebut kemudian ditayangkan di Jerman.

Di Indonesia, jaringan Inge Altemeier pun mulai digerakkan. Inge Altemeier pernah memfasilitasi bantuan dana untuk Walhi, dan berkat bantuan Inge Altemeier, Walhi memperoleh sumbangan miliaran rupiah. Nampaknya Inge sangat memanfaatkan „jasa baiknya" terhadap Walhi. Adalah Bambang Antariksa, pada saat itu adalah Direktur Walhi Aceh dan juga aktifis Gerak (Gerakan Rakyat Anti Korupsi)-Aceh, yang pada akhir bulan Desember 2005 menulis laporan ke berbagai pihak, a.l. ke Kedutaan Besar Jerman di Jakarta, dan pada 27 Desember 2005 ke Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi NAD-Nias (BRR) di Banda Aceh. Benang merah konspirasi mulai tampak. Lengkaplah quartet ini, Carola Güldner, Peter Hedrich, Inge Altemeier dan Bambang Antariksa.


Laporan Gerak-Aceh yang katanya adalah hasil penelitian lapangan tanggal 13 - 15 Desember 2005 menyebut a.l., bahwa FIG-Indonesia telah melakukan proyek fiktif dan kualitas rumah yang dibangun sangat buruk. Padahal pada waktu itu, pembangunan perumahan belum lama dimulai, karena pada bulan Oktober memasuki bulan Ramadhan, kemudian diikuti dengan hari Raya Idul Fitri, di mana banyak pekerjaan terhenti karena liburan panjang. Selain itu mulai musim hujan yang menambah kesulitan membawa bahan bangunan ke lokasi, karena kebanyakan jalan menuju lokasi masih berupa tanah dan belum diaspal.

Laporan itu mirip dengan tudingan yang awalnya digulirkan oleh Carola Güldner dan kemudian dikembangkan oleh Inge Altemeier und Peter Hedrich. Beberapa media di Indonesia dan Jerman pun kemudian juga menulis berita yang mirip dengan tulisan Inge Altemeir, Peter Hedrich dan laporan Bambang Antariksa, yaitu sehubungan dengan data, angka-angka dan tuduhan yang dilontarkan.

„Perang" di internet pun makin seru. Donatur di Hamburg pun dihubungi, yaitu Bild Hilft - Ein Herz für Kinder, organisasi yang didanai oleh Bild Zeitung, harian dengan tiras terbesar di Jerman, yang mencetak lebih dari 4 ½ juta eksemplar setiap hari. Setelah berita mengenai terjadinya Tsunami dan bencana yang ditimbulkannya, berbagai organisasi berinisiatif mengumpulkan dana untuk membantu para korban Tsunami. Bild berhasil mengumpulkan dana dari masyarakat Jerman sebesar 44 juta Euro. Keseluruhan dana yang terkumpul dari masyarakat di Jerman mencapai lebih dari 600 (!) juta Euro. Untuk pelaksanaan penyaluran bantuan, Bild menyalurkan melalui berbagai lembaga, termasuk FIG-Indonesia, yang mendapat kucuran dana sebesar dua juta Euro.Kepada donatur dan semua yang ada hubungannya dengan Yves Dantin dan FIG-Indonesia -termasuk kepada Deutsch-Indonesische Gesellschaft (Masyarakat Jerman-Indonesia) Hamburg- disampaikan, a.l., bahwa FIG melakukan proyek fiktif di Sabang, kualitas perahu dan rumah yang dibangun sangat buruk, bahwa Yves Dantin tinggal di suatu vila dan membeli mobil mewah dsb.

Kenyataannya, yang dikontrak adalah rumah yang apabila dibandingkan dengan tetangganya memang lebih besar, namun di rumah tersebut, selain menjadi tempat tinggal seluruh jajaran FIG-Indonesia yang datang dari luar Sabang, rumah tersebut menjadi kantor FIG-Indonesia dan halaman yang luas juga berfungsi sebagai gudang penyimpanan berbagai bahan bangunan. Untuk makan setiap hari juga ada juru masak, sehingga seluruh pimpinan dan staf tidak perlu makan di restoran. Mengontrak rumah justru untuk efisiensi dan penghematan, karena apabila semua harus tinggal di hotel dan setiap hari makan di restoran, tentu biayanya akan meningkat berlipat kali.

Mengenai tuduhan membeli mobil mewah, mungkin yang dimaksud adalah mobil Mitsubishi Strada Turbo, 4 Wheel Drive. Siapapun yang melihat medan yang harus ditempuh menuju beberapa lokasi perumahan, akan memahami, bahwa diperlukan kendaraan dengan mesin kuat dengan dobel gardan (4 Wheel Drive), apalagi di musim hujan. Kendaraan biasa seperti Kijang atau sejenisnya tidak akan dapat melalui jalan tanah yang di beberapa tempat sangat terjal dan berbatu-batu.Juga pada waktu tuduhan dilontarkan, pembangunan perumahan baru saja dimulai, sebagaimana dinyatakan oleh Walikota Sabang (Lihat penjelasan Pj. Walikota Sabang dalam Press Release Nr. 1), untuk menyelesaikan masalah administrasinya, yaitu pembebasan lahan, perizinan, land clearing dsb., baru selesai pada awal Oktober 2005.
Masalah proses administrasi yang berkepanjangan ini menyebabkan dua NGO menarik diri dari Sabang. (Lihat keterangan UNDP dalam Press Release FIG-Indonesia Nr. 4). Namun pimpinan lembaga donatur mempercayai ceritera tersebut, dan pada awal tahun 2006 memblokir satu juta Euro, yang masih tersimpan di rekening FIG-Indonesia di satu Bank di Jerman. Pihak Bild Hilft juga mengadukan FIG-Indonesia ke pengadilan di Jerman, dan menuntut FIG-Indonesia untuk mengembalikan sisa dana yang telah diberikan sebesar 850.000 Euro ditambah bunga dsb.Lembaga-lembaga di Indonesia yang memperoleh laporan dari Gerak-Acek segera bertindak dan melakukan berbagai investigasi. Bahkan masalah FIG-Indonesia ini telah sampai ke Auswärtiges Amt (Kementerian Luar Negeri Jerman) di Berlin.UNDP, BRR, Kedutaan Besar Jerman mengirim staf atau tim teknis ke Sabang untuk meneliti kebenaran tuduhan tersebut. BRR bahkan dua kali mengirim tim teknis ke Sabang dan setelah itu penelitian masih dilakukan sendiri oleh Col. (ret) Raymond Benson, Technical Assistant BRR.

Semua lembaga tersebut, termasuk Pj. Walikota Sabang, memberikan penilaian yang sangat positif, baik mengenai kinerja FIG-Indonesia, maupun mengenai rumah-rumah yang telah/sedang dibangun oleh FIG-Indonesia di berbagai lokasi di Pulau Weh. Bahkan beberapa menilai, bahwa rumah yang telah dibangun oleh FIG-Indonesia kualitasnya lebih baik dibandingkan rumah-rumah yang dibangun oleh lembaga lain, baik di Sabang maupun di daratan Aceh dan Nias. Kedutaan Besar Jerman pun tidak menemukan hal-hal yang dituduhkan kepada FIG-Indonesia. Tidak satu pun lembaga yang memberikan penilaian negatif terhadap hasil kerja FIG-Indonesia di Sabang. (Lihat Press Release FIG-Indonesia Nr. 1 - 4)

Kepercayaan yang diberikan kepada FIG-Indonesia terbukti dari pengalihan pembangunan 25 unit rumah Cot Kuala, yang semula harus dilakukan oleh LSM lain, Muslim Aid, namun kini pelaksanaannya dipercayakan kepada FIG-Indonesia. Demikian juga rencananya untuk mengalihkan pelaksanaan pembangunan 50 unit rumah di Ujong Sekundo, yang seharusnya dilakukan oleh LSM lain, namun hingga saat ini belum menunjukkan tanda-tanda untuk memulai pembangunannya. Selain itu, mendirikan pabrik batako yang semula disangka sebagai pemborosan, terbukti menjadi suatu langkah yang tepat, karena selain penyediaan bahan bangunan menjadi mandiri, juga produk yang dihasilkan tersebut ramah lingkungan (Lihat keterangan UNDP dalam Press Release FIG-Indonesia Nr.4 ). Apabila program bantuan korban Tsunami di Sabang telah berakhir, maka pabrik batako tersebut dapat terus dilanjutkan untuk beroperasi sehingga dapat menghidupi beberapa keluarga yang bekerja di pabrik tersebut.

Namun Gerak-Aceh masih tidak puas, dan menuduh BRR membuat laporan yang tidak benar. BRR menyampaikan, bahwa BRR bersedia bersama tim teknis Gerak-Aceh, yang terdiri dari PAKAR YANG KOMPETEN untuk sekali lagi turun ke lapangan guna meneliti pembangunan perumahan yang dilakukan oleh FIG-Indonesia.

Hal ini tentu memunculkan pertanyaan, mengapa Gerak-Aceh begitu bersemangat, bahkan boleh dikatakan ngotot, untuk menyatakan bahwa FIG-Indonesia benar telah melakukan proyek fiktif dan kualitas rumah yang dibangun sangat buruk. Apakah semua lembaga itu -Pemkot Sabang, BRR, UNDP, Kedutaan Besar Jerman- adalah lembaga-lembaga yang sama sekali tidak dapat dipercaya?Seandainya Gerak-Aceh benar memperjuangkan kepentingan rakyat, mengapa kelompok tersebut tidak langsung menanyakan kepada masyarakat korban Tsunami, yang kini telah menempati rumah-rumah yang dibangun oleh FIG-Indonesia? Gerak-Aceh seharusnya dapat menanyakan secara langsung, apakah para penghuni rumah-rumah tersebut mengeluhkan buruknya rumah yang kini mereka tempati. Memang di beberapa lokasi mereka mengeluhkan belum adanya akses memperoleh air bersih yang memadai, namun hal ini bukan tugas dan tanggung jawab FIG-Indonesia. Di beberapa lokasi, FIG-Indonesia dapat membantu dalam penyediaan air bersih, namun ini sebenarnya tidak termasuk tugas pokok FIG-Indonesia.

Mengenai tuduhan penyelewengan dana, pada bulan Desember 2005, FIG-Indonesia telah menyerahkan pembukuan untuk diaudit di Jerman, negara di mana FIG-Indonesia terdaftar sebagai organisasi (eingetragener Verein - e.V), dan negara di mana donatur berkedudukan. Hasil auditing positif. Namun akhir tahun ini, FIG-Indonesia akan menyerahkan proses auditing pembukuan kepada auditor internasional yang beroperasi di Indonesia, yang mengetahui harga barang-barang di Indonesia dan dapat menilai kepantasan atau kelayakan pengeluaran dana, karena auditor di Jerman tidak mengetahui harga barang-barang di Indonesia, dan hanya dapat meneliti angka-angka.

Demikianlah permasalahan yang berawal dari masalah pribadi, kemudian di Jerman mulai digulirkan seperti bola salju yang semakin besar, dan sampai di Aceh dan Sabang berubah menjadi bola api liar yang „membakar" banyak pihak dan menimbulkan korban cukup besar. Konspirasi ini „berhasil" menggerakkan berbagai institusi pemerintahan dan lembaga-lembaga internasional untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya. Cherchez la femme, Cherchez la femme...!

Bagian 2: Siapa yang dirugikan?
Akibat kampanye negatif yang dilakukan oleh Inge Altemeier dkk., FIG-Indonesia terpaksa mengeluarkan dana ekstra untuk membayar pengacara di Jerman untuk menghadapi tuntutan di pengadilan di Jerman, dan juga menugaskan pengacara di Indonesia, untuk membawa masalah pemberitaan yang tidak benar dan tuduhan yang tidak beralasan ke jalur hukum yang berlaku di Indonesia. Selain itu, FIG-Indonesia juga harus mengeluarkan biaya yang tidak kecil untuk menerjemahkan berbagai dokumen dari bahasa Indonesia ke bahasa Jerman sebagai bukti di pengadilan dan pihak-pihak yang terkait dan berkepentingn dengan masalah ini.

Dapat diperkirakan berapa besar dana yang harus dikeluarkan oleh FIG-Indonesia untuk menghadapi semua ini. Belum lagi beban psikologis yang mengiringi permasalahan yang tidak kecil bagi FIG-Indonesia, LSM kecil ini. Sekarang marilah kita teliti, siapa yang sebenarnya sangat dirugikan oleh konspirasi Tsunami ini.

Entah disadari atau tidak oleh mereka yang melakukan tindakan ini -atau mungkin mereka tidak peduli- bahwa kampanye negatif ini tidak hanya mempersulit kerja dan mencemarkan nama baik FIG-Indonesia, namun yang jelas, korban Tsunami di Sabang kehilangan bantuan sebesar satu juta Euro, atau sekitar duabelas milyar rupiah, yaitu dana yang diblokir di Jerman, yang sebenarnya telah disetujui untuk disalurkan bagi korban Tsunami di Sabang/Pulau Weh.

FIG-Indonesia sedang mengupayakan melalui jalur hukum di Jerman untuk menuntut pengucuran dana satu juta Euro tersebut agar dapat digunakan sesuai program awal, yaitu bantuan untuk korban Tsunami di Sabang. Namun disadari, bahwa yang dilawan adalah salah satu harian dengan tiras terbesar di Jerman dan juga salah satu raksasa ekonomi, yang dibentengi oleh sederetan pengacara kondang di Jerman.


Memang belum tentu menang, namun di sini bukan masalah kalah atau menang, melainkan masalah prinsip untuk menegakkan kebenaran dan memperjuangkan hak. Kalau menang, maka korban Tsunami di Sabang akan memperoleh tambahan dana sebesar satu juta Euro, dan kalau FIG-Indonesia kalah di pengadilan di Jerman, maka 1 juta Euro tersebut akan dikembalikan kepada donatur, dan belum diketahui kemana akan disalurkan. Seandainya hal ini terjadi, yaitu FIG-Indonesia kalah di pengadilan di Jerman dan dana satu juta Euro tidak jadi dikembalikan kepada FIG-Indonesia untuk dipergunakan bagi bantuan kemanusiaan kepada korban Tsunami, dan berarti dana pembangunan di Sabang berkurang satu juta Euro, maka akan sangat ironis, bahwa lembaga yang menamakan dirinya Gerakan „Rakyat" ini justru menambah sengsara rakyat, dan setelah terkena musibah bencana alam, kini mengalami musibah lagi akibat ulah manusia yang katanya ingin menolong rakyat.

Saat ini belum dapat dihitung dengan tepat, berapa dana yang masih harus dikeluarkan oleh FIG-Indonesia sampai selesainya proses pengadilan di Jerman, dan menyelesaikan secara hukum di Indonesia atas tindakan beberapa pihak di Indonesia yang terlibat dalam konspirasi pencemaran nama baik FIG-Indonesia, karena ini adalah masalah yang sangat serius dan tidak dapat dibiarkan begitu saja, tanpa ada konsekwensi hukumnya.

Selain itu, belum lagi dihitung biaya yang dikeluarkan oleh beberapa lembaga, baik Indonesia maupun Jerman, seperti Kedutaan Besar Jerman dan lembaga internasional lain seperti UNDP, untuk menindaklanjuti laporan Gerak-Aceh, dengan mengirim tim investigasi atau tim teknis ke Sabang untuk menilai sendiri benar tidaknya tuduhan tersebut. Dana yang dikeluarkan oleh lembaga-lembaga tersebut dan FIG-Indonesia untuk masalah ini dipastikan telah mencapai milyaran rupiah.

Kini, ternyata hal-hal yang dituduhkan tersebut tidak benar, dan bahkan sebaliknya, berdasarkan penilaian tim investigasi dan tim teknis dari beberapa institusi termasuk Pemerintah Kota Sabang, hasil kerja dari FIG-Indonesia ternyata termasuk yang terbaik, dibandingkan dengan rumah-rumah yang dibangun oleh lembaga lain, baik di Sabang/Pulau Weh maupun di Aceh daratan dan Nias. Pertanyaan yang kemudian muncul yaitu, apa konsekwensinya apabila ternyata laporan yang diberikan oleh suatu lembaga tersebut adalah palsu dan fiktif, artinya tidak benar sama sekali dan bahkan sebaliknya.Siapa yang mengganti kerugian atau dana yang telah dikeluarkan oleh FIG-Indonesia untuk membayar pengacara di Jerman dan Indonesia serta penerjemah? Demikian juga dengan dana yang dikeluarkan oleh berbagai lembaga, hanya untuk membiayai penyelidikan berdasarkan laporan yang tidak benar?

Dana yang sangat besar tersebut seharusnya dapat lebih bermanfaatkan bagi rehabilitasi dan rekonstruksi NAD-Nias.

Seandainya memang benar terjadi penyimpangan penggunaan dana bantuan atau tindak pidana korupsi, langkah yang ditempuh oleh Gerak-Aceh memang tepat, yaitu menindaklanjuti dan kemudian melaporkan kepada pihak-pihak yang berwenang. Namun untuk menghindari terjadinya salah sasaran dan bahkan lebih parah lagi menjadi bumerang bagi Gerak-Aceh apabila tidak terbukti kebenarannya, seharusnya pihak Gerak-Aceh terlebih dahulu lebih kritis meneliti, mengkaji dan menguji sumber informasi awal, dan tidak hanya berdasarkan „utang budi" kepada pihak tertentu, sehingga lalai untuk bersikap kritis ke dalam. Juga yang harus dilakukan oleh Gerak-Aceh adalah mengirim tim teknis yang kompeten, dan dapat memberikan penilaian mengenai hal-hal yang sangat teknis, seperti pembangunan rumah. Selain itu, juga membandingkan dengan rumah-rumah lain yang dibangun oleh beberapa lembaga di Sabang. Pengiriman tim teknis ini telah dilakukan oleh lembaga-lembaga yang menindaklanjuti pengaduan Gerak-Aceh, sedangkan Gerak-Aceh sendiri terkesan tidak melakukan hal ini.

Keunggulan rumah-rumah yang dibuat oleh FIG-Indonesia akan lebih menonjol lagi, apabila dilakukan perbandingan biaya yang dikeluarkan untuk membuat satu unit rumah dengan tipe yang sama, sehingga dapat dinilai apakah FIG-Indonesia melakukan mark up harga atau terjadi pemborosan. Untuk hal ini, Gerak-Aceh harus melakukannya sendiri, dan untuk menjaga netralitas, harus didampingi oleh lembaga-lembaga lain yang terkait dan berwenang.

Semoga di masa depan, tidak lagi terjadi hal-hal seperti diuraikan di atas, yang mungkin akan menimpa lembaga/organisasi lain, yang juga bergerak di bidang bantuan kemanusiaan. Kasus ini telah mebuktikan, bahwa yang menjadi korban adalah para korban Tsunami di Sabang, yang telah KEHILANGAN DANA BANTUAN PALING SEDIKIT DUA BELAS MILYAR RUPIAH. FIG-Indonesia akan terus memperjuangkan di Jerman agar korban Tsunami di Sabang tetap dapat memperoleh bantuan yang sebenarnya telah menjadi hak mereka. Apakah quartet konspirasi ini bersedia mengganti kehilangan dana sebesar ini yang sebenarnya sudah menjadi hak para korban Tsunami di Sabang/Pulau Weh?


Salam persaudaraan dan perdamaian.

Sabang, 14 November 2006
Batara R. Hutagalung