KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalDI ATAS LANGIT ADA LANGIT oleh : Tonny Djayalaksana
23-Aug-2019, 14:03 WIB


 
 
KabarIndonesia - Pengacara 02 dalam Sidang Sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK) yaitu Bambang Widjojanto seperti menyimpan agenda tersendiri. Hal itu terlihat dari kejanggalan-kejanggalan yang saya ungkapkan sebelumnya.

Sidang pun berlanjut dengan acara mendengarkan saksi dan ahli dari
selengkapnya....


 


 
BERITA NASIONAL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
AMOR 16 Aug 2019 10:58 WIB


 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar Janji (6)

 
NASIONAL

Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar Janji (6)
Oleh : Tonny Djayalaksana | 15-Jul-2019, 10:33:42 WIB

KabarIndonesia - Pada Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar Janji bagian (5) kita telah melihat bagaimana Jokowi-JK yang saya istilahkan sebagai penumpang gelap Pilpres 2014 ternyata bisa mematahkan analisa dan prediksi banyak orang dengan memenangkan kontestasi tersebut. Tentu saja itu semua merupakan salah satu wujud dari skenario semesta itu sendiri.

Kita bisa buktikan bagaimana skenario Semesta bekerja. Setidaknya ada beberapa peristiwa yang menyebabkan elektabilitas paslon nomor satu Prabowo-Hatta terdegradasi, diantaranya terbongkarnya kasus tabloid Obor Rakyat.       

Kasus Tabloid Obor Rakyat adalah sebuah cermin yang mana kubu paslon satu, Prabowo-Hatta disinyalir telah menghalalkan segala cara untuk menang. Sungguh cara-cara yang digunakan mereka itu sangat keji. Menurut sahabat saya, hal itu sudah berada di luar koridor demokrasi. Tapi akhirnya perbuatan-perbuatan yang mereka lakukan itu menuai hasil yang sangat merugikan pihak mereka sendiri.       

Lalu terkuaklah peristiwa yang lain lagi. Tanpa disengaja, musisi Ahmad Dhani sebagai pendukung Prabowo-Hatta yang militan, menggunakan lambang Nazi ketika kampanye di suatu kesempatan. Hal ini langsung menimbulkan antipati dari masyarakat Indonesia yang juga mengakibatkan elektabilitas paslon nomor satu, Prabowa-Hatta terdegradasi.       

Ditambah lagi kasus Fahri Hamzah, salah satu pendukung Prabowo-Hatta yang militan dari kader PKS. Fahri melecehkan makna dari Hari Santri sebagai hari libur Nasional, yang dijanjikan oleh Jokowi jika beliau terpilih menjadi presiden RI yang ke-7 nanti, untuk kepentingan masyarakat Muslim pada umumnya. Adanya komentar dari Fahri Hamzah tersebut, pada akhirnya menjadi bumerang untuk paslon nomor Satu Prabowo-Hatta.       

Dan yang terakhir adalah peristiwa ketika debat terakhir capres dan cawapres digelar. Cawapres Hatta Rajasa yang menyerang secara tajam ke Jokowi dalam debat terakhir ternyata berujung fatal. Hatta yang bermotivasi menyerang Jokowi, tanpa disadari justru membuka kedoknya sendiri, karena yang ditanyakan ternyata malah tidak dipahaminya.       Ternyata Hatta yang sudah 13 tahun berada di pemerintahan secara naif tidak bisa membedakan antara Kalpataru dan Adipura. Serangan tajam Hatta yang ditujukan ke Jokowi justru berujung fatal. Hatta salah memberikan pertanyaan karena tidak mampu membedakan apa itu Adipura dan Kalpataru.       

Latar belakang pertanyaan Hatta tersebut hanya karena informasi sesat. Ia berpikir seolah Kota Solo dan DKI Jakarta tidak pernah menerima Kalpataru. Padahal Kalpataru adalah penghargaan untuk pejuang lingkungan.       

Hatta Rajasa sebagai pejabat negara, seharusnya mampu membedakan penghargaan Kalpataru dan Adipura. Maka JK pun tampil dengan tegas, Pertanyaan Pak Hatta salah, jadi tidak perlu dijawab ujarnya.   Publik paham, penghargaan Kalpataru diberikan untuk Pelestari Lingkungan sedangkan Adipura untuk penghargaan kota terbersih. Sebuah pertanyaan yang fatal bagi seorang calon Wakil Presiden. Solo dan Jakarta ketika dipimpin oleh Jokowi memang tidak akan pernah mendapatkan Kalpataru.       

Hanya demi menyerang Jokowi, seluruh lubang kemungkinan dicari. Maka tiada rotan akar pun jadi. Dicarilah kelemahan Jokowi. Namun Kalpataru-Adipura justru menjadi senjata makan tuan sendiri.       

Dari rangkaian cerita beberapa peristiwa diatas tadi, sebuah bukti bahwa Semesta selalu bekerja dengan skenarionya dan hukum tabur-tuai, sebab-akibat tidak pernah diingkari-Nya. (Bersambung)   

  Penulis: Tonny Dayalaksana - Mualaf Zaman Now       ENTLIGHTENDED Convert Will Bring ELIGHTENMENT   www.djayalaksana.com             

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 
Investasi Dengan Uang Receh 20 Aug 2019 12:01 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 
Apakah (Cukup) Anda Senang? 16 Aug 2019 11:04 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia