KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia - Pada Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar Janji bagian (6) kita telah melihat, berbagai upaya untuk menyerang dan menjatuhkan Jokowi ternyata justru sering berbalik menjadi bumerang yang menjadikan elektabilitas Prabowo-Hatta terdegradasi. Jokowi-JK
selengkapnya....


 


 
BERITA NASIONAL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sayapku Telah Patah 08 Jul 2019 10:34 WIB


 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar Janji (3)

 
NASIONAL

Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar Janji (3)
Oleh : Tonny Djayalaksana | 06-Jul-2019, 14:10:47 WIB

KabarIndonesia - Pada tulisan Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar Janji bagian (2), saya telah menuliskan cerita bagaimana Jokowi secara bijak menyikapi perseteruannya dengan Bibit Waluyo secara rendah hati.

Untuk melengkapi, berikut saya ungkapkan cerita yang menarik lainnya, ketika beliau dicalonkan untuk menjadi Gubernur DKI, meninggalkan jabatan Wali Kota Solo, oleh partainya sendiri yaitu PDIP.       

Sepanjang yang saya ketahui, ceritanya sampai beliau dicalonkan PDIP menjadi Gubernur DKI  adalah sebagai berikut:  Suatu saat ketika Jusuf Kalla, menolak mendukung Fauzi Bowo untuk menjadi Gubernur pada periode kedua, beliau memikirkan kira-kira figur siapa yang bisa menggantikan Fauzi Bowo untuk menjadi Gubernur DKI.       

Suatu ketika, tanpa direncanakan Jusuf Kalla bertemu dengan Jokowi di sebuah bandara. Singkat cerita, pada saat itu terjadi pembicaraan mengenai pencalonan Gubernur DKI. JK pun mengusulkan untuk mencalonkan Jokowi sebagai salah satu kandidat calon Gubernur DKI. Bersambut positif, waktu itu Megawati sebagai Ketua Umum PDIP pun setuju untuk mencalonkan Jokowi sebagai salah satu calon Gubernur DKI yang diusung oleh PDIP berkoalisi dengan partai-partai lainnya. Diantaranya ada partai Gerindra.       

Dalam hal ini, saya hanya ingin memberikan keterangan yang berimbang, karena selama ini Jokowi diberitakan oleh beberapa pihak sebagai manusia yang tidak tahu diri, kacang lupa sama kulitnya, manusia yang paling munafik dan sebagainya. Orang-orang yang memframing demikian itu, dasarnya hanya karena satu alasan saja. Yaitu Jokowi bisa menjadi Gubernur DKI itu karena jasanya Prabowo yang membawa beliau dari Solo ke Jakarta.     

Begitu pula biaya untuk kampanye. Semua biaya tersebut dari Pak Prabowo. Namun, setelah menjadi Gubernur selama dua tahun, kemudian Jokowi dicalonkan oleh partainya yaitu PDIP untuk menjadi capres. Padahal saat itu lawannya adalah Prabowo. 

Akibatnya hujatan-hujatan sebagai orang yang tidak tahu diri, kacang lupa sama kulitnya, orang paling munafik dan seterusnya digoreng tiada henti-hentinya hingga saat ini.       Menurut pemahaman saya, peristiwa tersebut memang bukan sesuatu yang kebetulan, karena semua peristiwa yang terjadi di Semesta ini sudah ada dalam skenario-Nya Sang Maha Pencipta.       

Sepanjang yang saya dengar, sesungguhnya cerita sebenarnya adalah seperti apa yang saya tulis di atas. Sesungguhnya orang pertama yang mencalonkan Jokowi untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta adalah JK. Beliaulah yang melobi untuk meyakinkan Ibu Megawati sebagai Ketua Umum PDIP agar beliau berkenan memilih Jokowi sebagai calon Gubernur DKI yang diusung partainya.     

Konon berdasar berita yang berseliweran saat itu, saya dengar sebenarnya PDIP sudah ada beberapa calon kandidat. Bahkan diantara calon-calon itu tidak ada nama Jokowi. Tapi pada akhirnya, seperti yang sudah kita ketahui bersama justru Jokowi lah satu-satunya yang dicalonkan oleh PDIP.       

Bagaimana peristiwa di atas bisa terjadi? Kalau menurut pandangan saya secara spiritualitas, hal tersebut semata-mata hanya karena Semesta menggunakan tangan JK untuk mengantarkan Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta.       

Ketika menjabat Gubernur DKI, Jokowi berpasangan dengan Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama yang lebih dikenal dengan nama Ahok. Sungguh-sungguh mereka telah membuat wajah Ibu kota Jakarta berubah drastis. Kemajuan-kemajuan di segala lini terasa betul perubahannya. Semua mengarah kepada perbaikan.     

Prestasi tersebut telah membuat seluruh masyarakat Indonesia simpatik dan menaruh harapan besar terhadap pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur tersebut, bisa membawa Jakarta sebagai Ibu Kota negara Republik Indonesia menjadi Kota yang lebih maju. Prestasi pasangan tersebut juga telah mengundang perhatian masyarakat dunia.     

Maka tidaklah mengherankan tatkala Pilpres 2014, banyak masyarakat Indonesia berharap kepada Megawati agar berkenan mencalonkan Jokowi sebagai calon Presiden yang diusung oleh PDIP. Tentunya dengan harapan Jokowi bisa membawa negara Republik Indonesia lebih maju lagi, dan bisa bersaing dengan negara-nagara di dunia yang sudah lebih dahulu tingkat kemajuannya.       

Padahal pada saat itu kesempatan Megawati untuk ikut tampil lagi diajang pilpres terbuka sangat luas. Pasalnya, saat itu beliau adalah ketua umum partai yang memperoleh suara terbanyak pada Pileg. Ternyata Semesta sudah memiliki skenario lebih dahulu. Sehingga Megawati dengan jiwa besarnya, berkenan memberikan kesempatan serta mendukung Jokowi untuk maju sebagai capres yang diusung oleh partainya yaitu PDIP.       

Lalu setelah itu tiba saatnya untuk mencari pasangan yang ideal untuk bisa mendampingi  Jokowi sebagai Wakil Presiden, saat itu banyak calon yang digadang-gadang untuk mendampingi Jokowi sebagai Wakil Presiden, beredar nama-nama seperti Puan Maharani, Ryamizard Ryakudu, Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla, dan beberapa nama tokoh lainnya.       

Saat itu saya mendengarkan suara hati nurani. Berdasarkan cerita di atas bahwa Jokowi bisa sampai di Jakarta dikarenakan perantaraan Jusuf Kalla, dan melihat akhlak Jokowi yang sangat baik dan beliau mewarisi sifat Rasulullah yaitu, Sidig, Amanah, Tablig, Fatonah, maka menurut saya yang paling tepat adalah Jusuf Kalla.     

Apalagi jika dilihat dari pengalaman dan track rekornya, JK memenuhi kriteria keduanya. Dan yang lebih penting lagi, jika mau diukur dari budi pekerti sebagai akhlaknya Jokowi, memang JK-lah yang paling tepat. Ini sekaligus juga untuk membuktikan bahwa Jokowi adalah orang yang mengerti balas budi. Hingga akhirnya memang JK yang terpilih.       

Semesta kembali membuktikan orang yang diutus itu mempunyai akhlak yang nyaris sempurna. Bukankah Rasullulah diturunkan ke muka bumi ini juga semata-mata untuk memperbaiki akhlak manusia?        

Sebagai referensi QS Al-Qalam ayat 4 : Allah berfirman : “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi yang agung”  Dan Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh HR. Al-Baihaqi. Rasulullah bersabda : “Sesungguhnya Aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (Bersambung)       

  Penulis: Tonny Dayalaksana - Mualaf Zaman Now       ENTLIGHTENDED Convert Will Bring ELIGHTENMENT   www.djayalaksana.com          

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia