KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalDI ATAS LANGIT ADA LANGIT oleh : Tonny Djayalaksana
23-Aug-2019, 14:03 WIB


 
 
KabarIndonesia - Pengacara 02 dalam Sidang Sengketa Pilpres 2019 di Mahkamah Konstitusi (MK) yaitu Bambang Widjojanto seperti menyimpan agenda tersendiri. Hal itu terlihat dari kejanggalan-kejanggalan yang saya ungkapkan sebelumnya.

Sidang pun berlanjut dengan acara mendengarkan saksi dan ahli dari
selengkapnya....


 


 
BERITA NASIONAL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
AMOR 16 Aug 2019 10:58 WIB


 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar Janji (13)

 
NASIONAL

Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar Janji (13)
Oleh : Tonny Djayalaksana | 28-Jul-2019, 17:13:56 WIB

KabarIndonesia - Pada Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar janji bagian (12), telah saya sampaikan bahwa sesuai analisa berdasar perjalanan hidup dan karir mereka, saya mendapatkan keyakinan bahwa paslon nomor urut 01, yaitu Jokowi-Ma’ruf Amin akan memenangkan Pilpres 2019. 

 Agar fair dan obyektif, selanjutnya mari kita lihat analisa untuk pasangan paslon nomor urut 02, yaitu Prabowo-Sandi. Kalau mengamati perjalanan karirnya Pak prabowo sejak beliau menjadi menantunya mantan Presiden Soeharto, hampir semua nilai rapornya merah. Perihal ini saya tidak perlu tuliskan lagi karena sudah menjadi rahasia umum. Lalu ketika ia menjabat sebagai Ketua Umum HKTI pun tidak ada prestasi yang menonjol. 

Setelah itu pada tahun 2004 ia mengikuti konvensi calon Presiden yang diusung oleh partai Golkar. Ia juga belum behasil. Saat itu ia dikalahkan oleh Wiranto. Selanjutnya beliau mendirikan partai Gerindra, maksudnya ingin ikut serta dalam Pilpres 2009, akan tetapi karena suara perolehan partai Gerindra saat itu masih kecil, maklum sebagai partai yang baru muncul, ia tidak bisa mencalonkan diri menjadi capres. Akhirnya ia berpasangan dengan Megawati Soekarno Putri, menjadi cawapresnya Mega. Namun saat itu juga mereka, dikalahkan oleh pasangan SBY-Budiono.     

Berikutnya pada pilpres tahun 2014, Prabowo menjadi capres berpasangan dengan Pak Hatta Rajasa. Namun kembali lagi ia belum berhasil mengalahkan pasangan Jokowi-JK. Sejumlah peristiwa belum berhasilnya Prabowo memenangkan pertandingan tersebut, menurut saya karena Prabowo ini tipikal yang mempunyai kesadaran rendah.        

Selama perjalan karirnya ia hanya terfokus kepada kepentingan dirinya sendiri. Prabowo belum sadar bahwa sesungguhnya di kehidupan ini kita harus bisa bermanfaat untuk seluruh penghuni Semesta. Padahal ia dipandang oleh para pendukungnya sebagai sosok yang mempunyai empati tinggi terhadap masyarakat luas.        

Mungkin sayalah salah satu orang yang meragukan hal itu. Kalaupun ia kelihatannya sudah banyak kebaikan-kebaikan yang dikerjakan, saya meyakini dibalik kebaikannya itu masih mangandung muatan-muatan untuk kepentingan dirinya sendiri. Tidak tulus. Maka itu kembali lagi Semesta membuktikan bahwa hukum tidak pernah diingkari-Nya.     

Setelah mengamati perjalan karir Prabowo yang sudah saya uraikan sedikit di atas dan melihat pola yang ia pakai untuk menghadapi Jokowi di Pilpres 2019, saya sangat meyakini bahwa ia akan mengulang lagi kebelumberhasilannya.       

Lalu Sandiaga Salahudin Uno adalah sosok seorang pengusaha muda sukses yang karirnya sangat cemerlang. Orangnya sangat humble, friendship, tapi juga sangat ambisius. Saya pernah mendengar sebuah cerita bahwa dahulu ia pernah di sekolahkan oleh Edward Suryajaya ke USA. Sayangnya, akhirnya mereka berdua jadi berseteru. Saya tidak ingin memberikan penilaian lebih lanjut, karena saya tidak terlibat langsung. Kalau bicara tentang karir di organisasi, Sandi pernah menjabat sebagai Ketua HIPMI, dan mungkin ada lagi lainnya yang kurang saya ketahui. 

Ketika Sandi terpilih sebagai cawapresnya Pak Prabowo, ada sahabat yang meminta pendapat saya. Ketika itu saya katakan, Sandi akan menuai hasil apa yang sudah ia tabur di Pilgub DKI Jakarta. Artinya ketika Pilgub DKI Jakarta, ia telah mendompleng permainan yang dimainkan oleh pertai-partai pendukung serta ormas-ormas Islam garis keras yang mendukungnya. Menghalalkan segala cara yang intinya Ahok harus disingkirkan. Ia betul-betul terlibat dan ikut memanfaatkannya hingga akhirnya mendapatkan hasil sebagi Wakil Gubernur DKI Jakarta, walaupun tidak sesuai harapannya.         

Pasalnya target semula yang diinginkannya adalah jabatan sebagai Gubernur DKI Jakarta. Karena kesadarannya juga tergolong rendah, maka yang dikejar adalah jabatan dan kekuasaan yang lebih tinggi. Sandi merasa memiliki pengalaman waktu pilgub, sehigga pola atau salah satu senjata yang digunakan pilpres pun sama seperti apa yang dilakukannya di pilgub.       

Saya melihat strategi yang digunakan tidak jauh berbeda. Karenanya saya katakan pada sahabat saya tadi, di pilpres nanti Sandi akan merasakan senjata makan tuannya sendiri. Artinya ia bukan hanya belum bisa memenangkan petandingan pilpres, bahkan ia akan termakan oleh eks para pendukungnya di pilgub yang baru lalu.       

Saya juga sempat mengamati tokoh-tokoh siapa saja yang ada di belakang kubu paslon 02. Diantaranya ada Amien Rais sebagai penasehat. Lalu ada Rizal Ramli mantan Menko Kemaritiman di kabinet Jokowi-JK, Sudirman Said mantan Menteri ESDM di kabinet Jokowi-JK, Ferry Mursyidan Baldan mantan Menteri Agraria, Said Didu mantan Sekjen Kementerian BUMN di kabinet SBY-JK, Rachmawati Soekarno Putri, adik kandung dari Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri, dan ada pengusaha sukses Maher Algadri yang juga eksponen angkatan 66, dan termasuk kelompok keluarga Cendana.        

Kalau bagi mantan-mantan Menteri di kabinetnya Jokowi, sudah jelas ada unsur sakit hati sehingga tidak segan dan malu lagi langsung bergabung besama pihak lawan. Adapun perseteruan Rachmawati dan Megawati juga sudah berlangsung lama. Begitu juga kelompok Cendana dan kroni-koninya yang ingin kembali tampil berkuasa sebagai pewaris dari Orde Baru.   

Khusus mengenai Amien Rais, di tulisan saya yang lain pernah juga saya sedikit membahas tentang sepak terjang beliau di dunia perpolitikan Indonesia. Ia adalah seorang tokoh politik yang punya ambisi besar untuk bisa berkuasa di negeri tercinta ini. Ia bisa menghalalkan segala cara untuk memenuhi hasratnya. Namun usahanya selalu belum berhasil sesuai dengan apa-apa yang  dicita-citakannya selama ini. Karenanya, beliau juga merupakan salah satu orang yang tingkat kesadarannya sangat rendah. Jiwanya terkubur oleh pikiran dan egonya sendiri. Ia membiarkan pikiran dan egonya menjadi majikan di tubuhnya.       

Banyak cerita tentang sepak terjang Amien Rais di dunia perpolitikan yang bisa kita pelajari bahwa sesungguhnya di setiap peradaban manusia, Semesta ini mengulang cerita-cerita karakter orang-orang hidup di kurun waktu ribuan tahun yang lalu. Itu karena sifat dan karakter adalah bagian dari akhlak manusia yang tidak berubah dan tidak terpengaruh oleh perkembangan zaman.       

Ada cerita dari almarhum Probosutejo, adik kandungnya Pak Harto Presiden RI ke-2. Ceritanya sedikit membuka takbir seperti apakah akhlak seorang Amien Rais tersebut. Dalam buku yang berjudul "Habis Manis Sepah Dibuang", ada catatan Probosutejo di halaman 94, sebagai berikut: Amien Rais memang dikenal tokoh yang paling vokal dalam menghujat Pak Harto. 

Namun mungkin sedikit orang yang tahu, bahwasanya Pak Harto sesungguhnya pernah ikut andil dalam membantu dan mendukung Amien Rais menjadi ketua umum Muhamaddiyah dalam muktamar Muhamaddiyah di Aceh tahun 1995. Bukan saja bantuan moril, tapi juga bantuan materiil yang diberikan Pak Harto menurut Probosutejo, untuk melaksanakan muktamar Muhamaddiyah di Aceh tersebut.        

Amien Rais menghadap Pak Harto di Cendana dan meminta bantuan dana sebesar 1 Milyar untuk acara tersebut dan Pak Harto memberikan bantuan dana sebesar 500 juta. Kemudian Amien Rais juga datang ke kediaman Probosutejo di jalan Diponegoro untuk minta bantuan yang sama. Dengan disaksikan Rektor UMB dan Rektor Universitas Muhamaddiyah, saat itu Probosutejo memberikan 250 juta. Bahkan Probosutejo juga membantu Amien Rais dengan cara meminta Pak Harto untuk membuka acara muktamar dan mendukung Amien Rais menjadi Ketua Umum Muhammadiyah.”          

Membaca tulisan Pak Probosutejo di atas, jelas awal karir politik Amien Rais itu dimodali oleh pak Harto. Akan tetapi di akhir kekuasaan Pak Harto, justru Amien Rais sambil mendompleng kekuatan demo mahasiswa dan rakyat bersatu di seluruh penjuru tanah air, seolah-olah Amien Rais yang berteriak paling vokal untuk melawan sekaligus menggulingkan rejim pemerintahan yang dipimpin Pak Harto. Bisa kita bayangkan sendiri akhlak semacam apa yang dimiliki tokoh sekelas Pak Amien Rais?       

Setelah Pak Harto lengser beliau berteriak lantang untuk segera menangkap Prabowo yang diduga sebagai pelanggar HAM berat ketika mertuanya masih berkuasa. Tapi itu semua cerita zaman dulu. Realitanya sekarang beliau menjadi tim penasihat Badan Pemenangan Nasional (BPN) untuk Prabowo-Sandi.       

Ketika Pilpres tahun 2014, ia mencoba melobi PDIP dan Jokowi untuk menjadikan Hatta Rajasa sebagai cawapres pasangannya Jokowi. Namun lobi itu tidak digubris oleh PDIP. Akibatnya beliau marah, terus berbalik mendukung pasangan Prabowo-Hatta, dan menjadi lawan PDIP dan Jokowi. Disitulah awalnya perseteruan Amien Rais dan Jokowi. Seperti sudah kita ketahui bersama, Pilpres 2014, dimenangkan pasangan Jokowi-JK. Sejak pemerintahan Jokowi-JK dilantik, beliau hampir tiada hari yang tidak mengkritik kebijakan pemerintah Jokowi-JK selama 4 tahun.       

Ketika saatnya pilgub DKI Jakarta, ia juga salah satu tokoh yang ikut andil mengalahkan sekaligus memenjarakan Ahok. Hingga tiba saatnya pilpres tahun 2019. Seperti mengulang pertandingan pilpres tahun 2014 (Rematch) antara Jokowi melawan Prabowo. Ia memerankan strategi yang sama dan melawan lawan yang sama pula, tetapi ingin mendapatkan hasil yang berbeda. Tetapi semesta sudah punya skenario yang tidak berpihak kepada Prabowo. Akhirnya seperti yang sudah kita saksikan bersama Prabowo harus menerima kekalahan untuk kesekian kalinya.       

Melihat semua pendukung Prabowo itu  adalah kelompok dari orang-orang yang kesadarannya sangat rendah. Jiwa-jiwa mereka semua terkubur oleh pikiran dan ego dirinya sendiri. Maka selama mereka-mereka masih tidak berusaha meningkatkan kesadaran dirinya masing-masing, maka selama itu juga mereka akan tersiksa akibat dari perbuatan mereka sendiri (Karma, Tabur-Tuai, Sebab-Akibat).       

Hal ini bisa kita buktikan dalam perjalanan kehidupan para tokoh yang ada di belakang kubu Prabowo tersebut. Yang mana mereka-mereka ini, masih menonjolkan sifat ke-AKU-annya. Merasa paling benar dan paling hebat, belum selesai dengan dirinya sendiri, itulah salah satu ciri dari orang-orang yang tingkat kesadarannya masih rendah.    

Hasil akhir dari pilpres 2019, sudah kita saksikan bersama, yang menjadi pemenang atas pertandingan tersebut adalan pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin.  (Bersambung). 

Penulis: Tonny Dayalaksana - Mualaf Zaman Now       ENTLIGHTENDED Convert Will Bring ELIGHTENMENT   www.djayalaksana.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 
Investasi Dengan Uang Receh 20 Aug 2019 12:01 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 
Apakah (Cukup) Anda Senang? 16 Aug 2019 11:04 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia