KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Berita RedaksiTol Laut, Tol Langit dan Tol Media (Sebuah Kesaksian Untuk HUT ke-13 HOKI) oleh : Wahyu Ari Wicaksono
12-Nov-2019, 01:10 WIB


 
 
KabarIndonesia - Sekarang ini perkembangan teknologi media telah berkembang dengan luar biasa. Apalagi ketika muncul teknologi yang disebut sosial media. Kemunculan sosial media telah membuat banyak hal berubah. Mulai dari industri, bisnis, kehidupan sosial, gaya hidup dan banyak lainnya. Salah
selengkapnya....


 


 
BERITA NASIONAL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Komedi Politik 02 Okt 2019 11:10 WIB

Antara Jarak dan Doa 21 Sep 2019 10:40 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

KETAKUTAN ADALAH DASAR AGAMA?

 
NASIONAL

KETAKUTAN ADALAH DASAR AGAMA?
Oleh : Tonny Djayalaksana | 17-Aug-2019, 14:18:27 WIB

KabarIndonesia - Erick Tohir sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi - Ma'ruf Amin yang secara lugas dan sangat rasional, mampu menggambarkan apa kelebihan Jokowi dibanding rivalnya. Melalui perbandingan langsung (head to head), Erick Tohir mampu memberikan alasan kenapa kita harus memilih Jokowi dibandingkan rivalnya dalam kontestasi Pilpres 2019 sekarang. Dan terbukti, akhirnya pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin memang menjadi pemenang Pilpres 2019.

Ketika pada tanggal 21 Mei 2019 KPU secara resmi mengumumkan bahwa pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden dengan nomor urut 01 Joko Widodo-Ma'ruf Amin sebagai pemenang Pilpres periode 2019-2024, kubu paslon 02 Prabowo-Sandi langsung menolak atas keputusan KPU tersebut. Alasannya adalah karena menurut kubu paslon 02, paslon nomor urut 01 telah melakukan kecurangan yang Terstruktur, Sistematis dan Masif (TSM).     

Adapun narasi kecurang-kecurangan ini sebenarnya sudah dibangun oleh kubu paslon 02, dari sejak masa kampanye pilpres dimulai. Mereka memainkan isu yang dinamakan "post truth", yaitu narasi yang diucapkan secara berulang-ulang serta terus-menerus, sekalipun awalnya adalah hanya sebuah berita kebohongan, namun pada akhirnya bisa dianggap sebagai sebuah kebenaran. Teori ini sudah terbukti ampuh. Salah satu contoh yang berhasil dengan teori "post truth" ini adalah ketika Donald Trump memenangi Pilpres di Amerika Serikat pada tahun 2016.        

Sebagai kelanjutan dari penolakan hasil Pilpres tersebut, maka pada tanggal 21-22 Mei 2019, para pendukung paslon 02 yang "militan" bergabung bersama alumni persaudaraan 212, menggelar aksi demo ke Bawaslu. Dimana demo yang awalnya berlangsung secara damai, namun karena adanya pihak-pihak yang berkepentingan yang ikut menunggangi, akhirnya berujung menjadi anarkis sehingga mengakibatkan 7 orang meninggal dunia serta ratusan pendemo maupun aparat yang terluka. Begitulah kalau agama dijadikan sebuah komoditi yang digunakan untuk mencapai tujuan politik.       

Berikut ini ada kata-kata bijak dari seorang filsuf pada zamannya Bertrand Russell yang menyinggung persoalan tersebut: "MENURUTKU, AGAMA UTAMANYA DIDASARKAN PADA RASA TAKUT, SEBAGIAN MERUPAKAN KETAKUTAN PADA TEROR YANG DITIMBULKAN OLEH SESUATU YANG TIDAK DIKETAHUI, DAN SEBAGIAN LAIN MERUPAKAN ANGAN-ANGAN BAHWA MEREKA MEMPUNYAI SEJENIS SAUDARA TUA YANG AKAN SELALU MENJAGA DAN MENYELESAIKAN MASALAH MEREKA. KETAKUTAN ADALAH DASAR AGAMA: TAKUT HAL-HAL MISTERIUS, TAKUT KALAH, TAKUT MATI. TAKUT MERUPAKAN INDUK DARI KEKEJIAN, OLEH KARENA ITU TIDAK MENGHERANKAN JIKA KEKEJIAN DAN AGAMA SENANTIASA BERJALAN SEIRING."        

Setelah aparat yang berwajib menelusuri peristiwa yang terjadi pada 21-22 Mei di atas, ternyata tidak sesederhana yang masyarakat biasa pikirkan. Di balik peristiwa tersebut, ada skenario besar yang dirancang untuk membuat negara jadi chaos. Berikut saya lampirkan artikel yang ditulis oleh Denny Siregar berdasarkan laporan Utama dari majalah Tempo:  

NEGERI INI HAMPIR SAJA TERBAKAR API      

Membaca laporan utama Tempo tentang temuan-temuan di lapangan saat demo 22 Mei 2019, sungguh mengerikan.    

Tempo dengan detail menjabarkan, bagaimana peran eks Danjen Kopassus, Soenarko, merancang kerusuhan dengan metode "bunuh senyap". Sudah ada dua eksekutor yang terdeteksi, dan mereka sekarang sedang dikejar polisi.     

Rencana Soenarko dengan memanfaatkan sniper untuk membunuh beberapa orang supaya demo semakin rusuh, rupanya hanya Plan A. Meski Soenarko ditangkap, Plan B tetap berjalan.     

Kuncinya, harus ada korban jiwa.      

Dan bergelimpanganlah nyawa 8 orang dari pihak pendemo terkena tembakan peluru tajam. Siapa yang melakukan itu, sedangkan Soenarko sudah ditangkap?         

Hermawan Sulistyo, Profesor LIPI, menemukan bukti yang mencurigakan dari 8 korban yang meninggal itu. "Semua tembakan single bullet, atau mati dengan satu peluru saja."        

Bayangkan, ketika mereka sedang asik-asik demo, tiba-tiba dari belakang ada yang menempelkan pistol di leher mereka, belakang telinga dan "dor!" Satu tembakan langsung di tempat mematikan. Mereka dieksekusi jarak dekat. Bajingan!        

Dari jenis pelurunya, diduga pistol yang menembak jenis Glock, pistol yang sering dipakai para Jenderal. Dan menariknya lagi, kata Hermawan, pihak Rumah Sakit ketika dibawakan korban meninggal asal main terima saja. Tidak bertanya dengan curiga kepada pembawa mayatnya.        

Sesudah ada korban mati, Plan C pun dilaksanakan. Ratusan selongsong peluru disebarkan di jalan dan difoto oleh banyak orang dengan narasi di media sosial, "Lihat peluru tajam polisi!"        

Anehnya, selongsong itu dibawa dengan kantong kresek plastik. Jelas ada yang ingin melakukan propaganda bahwa polisi memang menggunakan senjata tajam.       

Sebelum demo 22 Mei, polisi sendiri sudah membekuk puluhan teroris yang siap meledakkan diri di tengah para pendemo yang dibayar 300 ribu sampai 500 ribuan. Bayangkan jika polisi tidak bertindak cepat, ada berapa ratus korban jiwa di tengah aksi karena ledakan bom bunuh diri dimana-mana?        

Aksi 22 Mei ternyata tidak sesederhana situasi yang terlihat di lapangan. Begitu banyak pergerakan berbahaya sebelum hari H yang semua akan berujung pada kepanikan dan kerusuhan.        

Apa tujuannya situasi panik dan rusuh itu?       

Tentu menjadikan Indonesia seperti tragedi 1998. Korban jiwa ratusan, api menyala dimana-mana, perkosaan terhadap etnis Tionghoa kembali berlangsung dan berdampak pada larinya sebagian orang keluar negeri. Ekonomi kolaps dan Jokowi akan dipaksa mundur dari jabatan.       

Jika itu terjadi, diharapkan institusi militer terbelah dan situasi negara dianggap darurat sehingga kekuasaan diambil alih. Dahsyat....       

Situasi ini melengkapi teori saya sebelumnya, bahwa ada 4 unsur kekuatan yang sudah lama dibangun untuk membuat rusuh Indonesia.        

Yang pertama kekuatan umat, yang dibangun melalui ormas-ormas radikal. Dan kedua kekuatan di dalam militer melalui oknum, sebagai pengambil alih kekuasaan. Ketiga, kekuatan politik sebagai partner melalui partai dan politikus. Dan keempat kekuatan dana, melalui pengusaha hitam yang sedang was-was uang mereka di luar negeri disita negara.       

Ulama palsu, oknum militer, politikus busuk dan pengusaha jahat bergabung menjadi satu untuk melakukan kudeta besar.      

Para ormas radikal dengan membawa nama "umat" ini dibangun oleh Hizbut Thahrir sebagai bagian dari melegitimasi kekuasaan yang diambil secara tidak sah oleh kekuatan lainnya..       

Jadi paham kan, kenapa sebagian dalangnya pada lari ke Saudi sebelum aksi?       

Alhamdulillah, Indonesia masih kuat menahan gempuran itu. Kita harus berterimakasih pada kepolisian termasuk Densus 88, aparat militer yang masih cinta NKRI, para intelijen yang memasok informasi dan rekan-rekan silent majority yang siap turun ke lapangan jika situasi menjadi tidak aman.       

Dan kita wajib berterimakasih pada Tuhan yang Maha Esa atas berkatNya dalam melindungi negara tercinta.       

Seruput kopinya..       

Denny Siregar       

Penulis: Tonny Dayalaksana - Mualaf Zaman Now       ENTLIGHTENDED Convert Will Bring ELIGHTENMENT   www.djayalaksana.com         

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utaraoleh : Sesmon Toberius Butarbutar
25-Sep-2019, 15:25 WIB


 
  Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara Camat Nassau Timbul Sipahutar (kiri) meninjau Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara, Kecamatan Nassau, Kabupaten Toba Samosir, Rabu (25/09/2019)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia