KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalPemerintah Nyatakan Tiga Hari Berkabung Nasional atas Wafatnya Habibie oleh : Danny Melani Butarbutar
11-Sep-2019, 14:48 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Dikabarkan, pada hari ini Rabu (11/9/2019) sekitar pukul 18,05 WIB, Presiden ke-3 RI Bacharuddin Jusuf Habibie (B J Habibie), telah meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta, pada usia 83 tahun. Jenazah almarhum telah diberangkatkan dari
selengkapnya....


 


 
BERITA NASIONAL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Antara Jarak dan Doa 21 Sep 2019 10:40 WIB

Siapa Kau Siapa Aku? 02 Sep 2019 10:28 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

DUNIA ADALAH LELUCON

 
NASIONAL

DUNIA ADALAH LELUCON
Oleh : Tonny Djayalaksana | 30-Aug-2019, 16:21:48 WIB

KabarIndonesia - Proses perjalanan Pilpres 2019 yang akhirnya selesai dengan antiklimaks di persidangan MK tersebut, merupakan berkah dan pelajaran berharga bagi kita untuk memahami Hukum Semesta Tabur Tuai, sebab-akibat yang tidak pernah diingkarinya. Tentu saja hal itu sesuai dengan kehendak Sang Keberadaan menciptakan Alam Semesta ini, yang hanya dengan satu tujuan yaitu: Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan ciptaan-ciptaan untuk mengenali-Ku.

Jadi kita sebagai manusia, tujuan dihadirkan di Semesta ini tidak ada yang lain, kecuali hanya untuk mengenali-Nya.   

Perihal demikian di atas tadi mengingatkan saya kepada pertanyaan yang ingin ditanyakan kepada Tuhan, oleh seorang genius ahli Fisika legendaris yang terkenal sepanjang masa, yaitu Albert Einstein. Bila Einstein diberikan kesempatan untuk bertanya kepada Tuhan, berikut ini pertanyaan yang diajukannya:   
"Ketika seseorang bertanya kepada Einstein, pertanyaan apa yang akan diajukan kepada Tuhan bila dia dapat mengajukan pertanyaan itu, dia menjawab; "Bagaimana awal mula jagat raya ini? Karena segala sesuatu setelahnya hanyalah masalah matematika". Tapi setelah berpikir beberapa saat dia mengubah pikirannya lalu bilang, bukan itu. Saya akan bertanya; "Kenapa dunia ini diciptakan? Karena dengan demikian saya akan mengetahui makna hidup saya sendiri."             

 --- Albert Einstein ---    

Seandainya Albert Einstein pada saat itu sudah menemukan penjelasan dari Hadits Qudsi yang menjelaskan: Bahwa "Aku (Tuhan/Allah) ingin dikenal, maka Aku ciptakan ciptaan-ciptaan, untuk mengenali-Ku." Maka niscaya pertanyaan dari Albert Einstein di atas tadi tidak akan pernah ada. Sebab dengan adanya penjelasan Hadits Qudsi mengenai kenapa Tuhan/Allah menciptakan dunia ini sudah terjawab, yaitu karena Aku ingin dikenal. Untuk selanjutnya beliaupun akan paham dan mengetahui makna dari hidupnya sendiri.    

Setelah mencermati peristiwa demi peristiwa yang terjadi di sepanjang perjalanan kehidupan saya selama ini, serta berdasarkan pemahaman yang saya dapatkan saat ini, ada poin penting yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini.    

Bahwa sesungguhnya semua kehidupan yang ada di dunia ini, tidak ubahnya seperti sebuah lelucon atau panggung sandiwara saja. Persis dengan sebuah lagu yang berjudul: Panggung Sandiwara karya dari seorang musisi legendaris yang bernama Ian Antono. Ia adalah gitaris dari sebuah grup band Indonesia yang terkenal sepanjang masa. 

Nama grup band tersebut adalah: God Bless. Saya sangat meyakini Ian Antono bisa mengarang lagu dengan judul: "Panggung Sandiwara" ini sifatnya bukan sebuah kebetulan. Karena semua peristiwa yang terjadi di semesta ini sifatnya tidak ada yang kebetulan. Semua sudah dalam perencanaan-Nya, Sang Keberadaan sebagai Kecerdasan Semesta Tanpa Batas.   

Lagu tersebut selaras juga dengan keterangan di dalam Al-Quran surat Muhamad ayat 36, di mana Allah berfirman: "Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu."   

Dalam hal ini menurut pemahaman saya, Tuhan/Allah telah menggunakan Ian Antono sebagai perpanjangan tangan-Nya untuk menyampaikan pesan kepada seluruh manusia, tentang makna dari lagu Panggung Sandiwara tersebut. Tidak berbeda dengan lagu Imagine melalui John Lenon, dan We are the World melalui Michael Jackson, dan banyak lagi lagu-lagu yang mempunyai makna sejenis yang diciptakan para penyanyi atau musisi lainnya. Ada kalanya juga melalui manusia-manusia dengan berbagai macam profesinya. Bukankah sejatinya semua peran dari berbagai jenis profesi yang ada di semesta ini semuanya juga dari Dia (Tuhan/Allah) semata?   

Mari kita renungkan serta cermati bersama. Bukankah sifat Tuhan/Allah itu Esa=Tunggal? Laisa kamitslihi syai'un (tidak ada satupun yang menyerupai-Nya). Begitu juga saya (Tonny) atau manusia-manusia lainnya yang ada di dunia ini. Bukankah semuanya juga Esa=Tunggal? Tidak ada satupun yang sama atau menyerupainya? Demikian juga dengan seluruh entitas yang ada di seluruh Alam Semesta ini. Bukankah semuanya juga Esa=Tunggal dan tidak ada satupun yang sama atau menyerupainya? 

Lalu pertanyaannya, apakah di Alam Semesta ini ada yang bukan Dia (Tuhan/Allah)? Bukankah semuanya adalah Dia (Tuhan/Allah)? Selaras juga dengan firman Allah dalam Al-Quran Surat Al-Hadid ayat 3: Dia yang awal, Dia yang akhir, Dia yang nyata, Dia yang tidak nyata, dan Dia Maha Mengetahui.   

Jadi sesungguhnya semua peran dari seluruh profesi yang ada di Alam Semesta ini semuanya adalah Dia. Karenanya, setiap saat, Dia bisa melalui siapa saja, entitas apa saja serta peristiwa apa saja, untuk menyampaikan pesan-pesan Semesta tersebut. Namun para manusia yang ada di Dunia ini saking sudah disibukkan oleh hal-hal yang sifatnya rutinitas, maka kebanyakan manusia abai terhadap pesan-pesan dari Semesta tersebut.

Mari kita lanjutkan lagi pembahasan tentang kehidupan: Bahwa sesungguhnya hidup adalah sebuah lelucon atau panggung sandiwara. Bagaimana tidak? Kita (manusia) seolah-olah hidup dalam kerumunan-kerumunan, misalnya seperti kerumunan keluarga, organisasi, komunitas, partai politik, kebangsaan, dan sebagainya. 

Namun dalam kenyataannya, justru sejatinya kita (manusia) itu hidup dalam kesendirian. Lahir ke dunia ini sendiri dan kembali ke tempat asal nantipun sendiri. Hadir tanpa membawa apa-apa, begitu juga ketika pulang nanti tidak membawa apa-apa. Adapun semua kerumunan-kerumunan tadi, sifatnya hanya sebuah "kepura-puraan" belaka.     

Padahal sewaktu hidup di dunia ini, kita telah mengalami segala kondisi dan perasaan dualitas yang bermacam-macam. Ada susah-senang, sehat-sakit, kaya-miskin, menang-kalah, baik-buruk, bahagia-sedih dan seterusnya. 

Namun pada kenyataannya, sangat sedikit sekali yang mempunyai kesadaran, bahwa sesungguhnya yang namanya hidup itu adalah: hari ini, saat ini, dan tempat ini. Hari kemarin sudah berlalu tidak mungkin kembali serta hari esok tidak pernah tiba. Lucunya, kebanyakan manusia merasa atau menyangka bahwa hidup itu harus mengejar serta bisa meraih sesuatu yang telah menjadi impiannya.     

Padahal sejatinya, di semesta ini tidak ada satupun yang bisa kita (manusia) miliki. Baik apakah itu ayah, ibu, istri, anak, kakak, adik, kekayaan, harta, benda, dan lain sebagainya. Semuanya milik Dia/Tuhan/Allah. Sang Keberadaan sebagai Kecerdasan Semesta Tanpa Batas. Termasuk diri kita (manusia) sendiri.    

Setelah kita masing-masing mengalami dan menyadari perihal tersebut di atas tadi, bukankah memang hidup itu ibarat sebuah lelucon atau panggung sandiwara belaka? Karena semua itu sifatnya cuma sementara saja yaitu : hari ini, saat ini, dan tempat ini.      

Hakikat makna dari kata-kata: saat ini dan tempat ini, adalah sama dengan istilah yang sering kita dengar yaitu: "ruang dan waktu"   Maka sesungguhnya, sehebat-hebatnya kemampuan seorang manusia tetap mempunyai keterbatasan. Pasalnya semua aktivitas profesi yang diperankannya terkungkung di dalam kesadaran "ruang dan waktu"-nya masing-masing. Sebab itulah, kita sering mendengar nasihat: "Jangan mau tertipu dengan kenikmatan di dunia yang sifatnya hanya sesaat". 

Nyatanya nasihat tersebut sungguh benar adanya. Dan kenikmatan sesaat itu akan terus berulang-ulang selama manusia belum bisa melampaui segala sesuatu yang sifatnya "dualitas". Manusia-manusia tersebut bisa kembali menyatu dengan Sang Keberadaan, setelah kembali menjadi Monolitas.     

Manusia yang ketika dilahirkan dalam keadaan suci, maka kembali pun harus dalam keadaan suci. Itulah hakikatnya makna dari ayat: INNA LILLAAHI WA INNA ILAIHI RAAJI'UUN (SESUNGGUHNYA DARI ALLAH, MAKA SUNGGUH AKAN KEMBALI KEPADA ALLAH).   

Untuk bisa kembali dalam keadaan suci, maka setiap manusia dituntut untuk selalu ikhlas dan bersyukur dalam keadaan apapun juga. Selalu berbuat di dalam kebaikan, agar bisa melepas semua perbuatan karma-karma buruk, sehingga terhindar dari hukum tabur-tuai, sebab-akibat. Dengan demikian dia (manusia) tersebut bisa kembali ke pangkuan Tuhan/Allah. Sang Keberadaan sebagai Kecerdasan Semesta Tanpa Batas. (*)   

Penulis: Tonny Dayalaksana - Mualaf Zaman Now       ENTLIGHTENDED Convert Will Bring ELIGHTENMENT   www.djayalaksana.com          

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Kacang Panjang Terpanjang Tumbuh di Pennsylvania, USAoleh : Fida Abbott
21-Sep-2019, 10:58 WIB


 
  Kacang Panjang Terpanjang Tumbuh di Pennsylvania, USA Kacang panjang ini saya tumbuhkan dari biji saat musim panas di Coatesville, Agustus 2019, salah satu kota di negara bagian Pennsylvania, USA. Panjangnya mencapai 95 cm sehingga dapat dikalungkan. Tak ada perlakuan khusus dalam menanamnya, hanya cukup ditanam di tanah
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia