KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniTeologi Inklusif Sebagai Alternatif oleh : Gunoto Saparie
18-Des-2017, 07:04 WIB


 
 
KabarIndonesia - Mendengar istilah "teologi inklusif", saya langsung teringat kepada Nurcholish Madjid. Nurcholish adalah salah seorang cendekiawan muslim yang concern cukup mendalam terhadap persoalan hubungan agama-agama dan dialog antaragama. Ia secara teoritis mengedepankan pencarian dan konsep titik temu agama-agama secara eksplisit
selengkapnya....


 


 
BERITA SERBA SERBI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Jatuh Cinta Kepada Telaga 26 Nov 2017 11:31 WIB

Dunia Imitasi 23 Nov 2017 15:40 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

Kisah Auki Membawa Misionaris Pater Tillemans ke Meeuwo

 
SERBA SERBI

Kisah Auki Membawa Misionaris Pater Tillemans ke Meeuwo
Oleh : Mateus A Tekege | 18-Sep-2017, 16:08:06 WIB

KabarIndonesia - Papua, Bedoubainawi adalah anak bungsu dari keluarga pertama. Ia disebut Bedoubainawi karena semasa muda si anak ini mempunyai hobby berburu burung. Ia selalu mengoleksi berbagai jenis burung. Sebagian besar dari burung yang dikoleksi adalah burung Cenderawasih 

Bedoubainawi rupanya mempunyai maksud tertentu dibalik kegiatan koleksi burung Cenderasih itu. Ia sering kali berjanji kepada masyarakat sekitar bahwa pada suatu saat ia akan menghadirkan Ogai-makiyo (Dunia Modern). Janji Bedoubainawi kepada masyarakatnya.


Kini saat menginjak usia dewasa, Bedoubainawi mulai berburu keluar daerahnya Modio. Daerah yang sering ia lalui adalah daerah Isago-doko (diantara Mapia dengan Kokonao). Di daerah Isago ini ia berkenalan dengan seorang pemuda bernama Ikoko Nokuwo. Mereka sering jalan bersama, berdua berjualan hasil bumi seperti ubi, burung cenderawasih, tembakau dan hasil bumi lain kepada orang-orang Kamoro di kokonau (Pantai Selatan). Hasil bumi diganti dengan kulit bia "Mege" sebagai alat pembayaran, sambil latihan bahasa kamoro kepada kepala suku Kamoro. Hari demi hari mereka berdua mulai belajar bahasa kamoro dan akhirnya menjadi fasih. Bedoubainawi sudah lupa dengan kampung kelahirannya di Modio.
Beberapa tahun kemudian ia kembali ke kampung Modio tanpa membawa sesuatu apapun. Kedatangan Bedoubainawi tidak disenangi masyarakat Modio yang ditinggalkan bertahun-tahun. Orang-orang Modio bertanya kepada Bedoubaunawi: "dimana Ogai-makiyo" yang dari dulu kau janji itu? 

Akhirnya masyarakat Modio memberi dan memanggil dirinya Tapehaugi yang artinya "orang yang tidak beruntung". Pada waktu itu hampir di seluruh daerah Mapia terjadi perang. Perang itu terjadi antar marga dan antar kampung akibat pencurian, perzinahan yang berbuntut pada pembunuhan yang sifatnya melanggar hukum Totamanaa. Sistim sanksi hukum pun tak berlaku, hanya nyawa ganti nyawa. Tapehaugi hampir setiap hari berpikir, bagaimana caranya sehingga masyarakat bisa hidup aman, damai dan rukun berdasarkan ajaran-ajaran Totamana dan Kabomana.

Pada suatu hari Tapehaugi memutuskan pergi mengunjungi rekannya Ikoko Nokuwo di daerah Isago. Beberapa tahun kemudian, Tapehaugi bersama istrinya Kesaimaga Gobay, mulai berjalan menuju pantai selatan. Selama 1 minggu mereka mulai berjalan dari kampung bermalam di Bidau, lalu mereka bertemu Ikoko Nokuwo. Keesokan harinya mereka bertiga menuju Kampung Dawudi. dan malam berikutnya mereka sampai dikampung Makaiyawido.

 
Di kampung itu Tapehaugi mereka menetap lama dan membuat rumah. Tak lama kemudian, Tapehaugi bersama Ikoko Nokuwo pergi menjual hasil buminya ke Ugoubado (Pronggo) untuk ditukarkan dengan hasil bumi dari pantai. Sampai di Ogoubado mereka berdua masuk ke rumah kepala suka Kamoro. Pada malam hari kepala suku kamoro menceritakan tentang orang-orang barat yang sedang mewartakan Injil di daerah Kokonau.

Tapehaugi sangat tertarik dan ingin berjumpa dengan para misionaris tersebut. Namun, Kepala suku tidak menceritakan keberadaan para misionaris itu. Tapehaugi mengetahui maksud hati kepala suku Kamoro, hingga kemudian Tapehaugi berjanji bahwa setelah 3 bulan ia akan membawa hasil buruan dan makanan. Janji Tapehaugi itu diterima baik oleh kepala suku Kamoro.

Tiga bulan kemudian Tapehaugi membawa 40 ekor burung cenderawasih (Tune mepia) yang sudah dikeringkan sebelumnya, ditambah makanan dan tembakau. Kepala suku Kamoro pun sudah mempersiapkan kulit bia, 40 buah kampak batu (Maumi) dan hasil laut lain sesuai perjanjian sebelumnya. Setelah pertukaran barang selesai, kepala suku Kamoro berjanji akan membawa para Misionaris untuk perkenalkan dengan Maihora di Wigikunu.  Maihora itu adalah panggilan orang kamoro kepadaTapehaugi. Dengan hati yang senang dan gembira Tapehaugi kembali ke Wagikunu. 
Pada suatu hari, sementara Tapehaugi sedang membuat kebun, tiba-tiba istri Kesaimaga memanggilnya dengan nada yang terkejut. "Hey, Orang tobousa, jangan melamun, sahabat-sahabatmu sedang datang, Mari jemput mereka". Tapehaugi pun bergegas menjemput mereka. Sesampai dirumah ia berkenalan  dengan orang-orang berkulit putih termasuk beberapa orang Kamoro yang dikomandoi oleh kepala suku kamoro. Orang-orang berkulit putih tersebut Persis seperti anak yang baru lahir. Kepala suku kamoro berkata kepada Tapehaugi: "Maihoga, Inilah orang-orang yang mewartawan kabar gembira. Maka mereka saling berkenalan sama satu lain."
Orang-orang berkulit putih itu antara lain, Pater Tillemans Msc dan dr. Bijmler. Pada waktu itu tepat bulan April 1932 Tapehaugi menceritakan banyaknya orang seperti dia yang sedang berdiam di balik gunung. "Saya minta supaya kabar Injil diwartakan kepada rakyat saya yang berada dibalik gunung sana itu", ungkap Tapehaugi berharap. Pater Tillemans berjanji setelah 3 (tiga) tahun kemudian dirinya akan datang mengunjungi rakyat di balik gunung tepatnya di Modio.

Selanjutnya Tapehaugi bersama istrinya Kesaimaga kembali ke Modio. Dalam perjalanan pulang Tapehaugi mendapat nama baru dari seorang malaikat di gunung Makabike. Nama yang diberikan adalah Auki artinya laki-laki yang hebat. Sesampainya di Modio, Auki menceritakan perjalanannya ke kokonao termasuk nama yang baru di berikan dari Malaikat itu. Orang yang turut mendengar cerita Auki adalah Menasaitawi Tatogo, Megetaibi Kedeitoko, Dekeugi Makai, dan teman-teman lainnya.  

Pada suatu hari, rombongan Pater Tillemans tiba di Modio setelah 5 hari dalam perjalanan. Pada waktu itu, Ikoko Nokuwo memakai topi yang dibuat dengan rotan. Mereka disambut dengan tupe/wani dan memotong 2 (dua) ekor babi sebagai sambutan dan pengucapan syukur atas kehadiran dua orang barat tersebut.

Selanjutnya Auki memerintahkan kepada Minesaitawi Tatogo dan Dakeugi Makai untuk memanggil seluruh pimpinan masyarakat (Tonawi) yang ada di seluruh pedalaman Paniai. Sepuluh hari kemudian, para Tonawi tersebut tiba dengan rombongannya dengan membawa babi untuk pesta perdamaian (Tapa Dei/ Kamuu taii). 

 

Mereka yang turut hadir antara lain: Zoalkiki Zonggonao dan Kigimozakigi Zonggonao dari Migani, Gobai Pouga Gobai dari Paniai, Itani Mote dan Timada Badii dari Tigi, Papa Goo dari Kamuu, Tomaigai Degei dari Degeiwo, Pisasainawi Magai dari Piyakebo, Dekeigai Degei Dari Putapa, Enagobi Gobai dari Pogiano, Tubasawi Tebai dari Toubay, Mote Pouga Mote dari Adauwo, dan Dakeugi Makai dari Piyaiye. "Pada tanggal 07 Januari 1936"

Pater Tillemans memimpin misa Kudus dan membuka Injil di atas batu di depan rumah Auki. Itulah misa pemberkatan pertama. Setelah misa kudus, dilanjutkan dengan doa perdamaian (Tapa Dei) yang dipimpin oleh Auki. Dalam doa inti, Auki meminta Minesaitawi dan Dakeugi untuk membunuh dua ekor babi yang telah di persiapkan (Degekina dan Bunakina).

Ketika membunuh Babi Hitam (Bunakina)  Minesaitawi berkata: Akii mogaitaitage Mee (Bagi yang akan berbuat Zinah), Akii omanaitage Mee (Bagi yang akan mencuri), Akii pogogoutage Mee (Bagi yang akan membunuh), Akii Mee ewegaitage Mee (Bagi yang akan menceritakan orang lain) Akii puya mana wegaitagee Mee (Bagi yang akan menipu) Kou ekinadani koudani kategaine. Artinya: Saya samakan kamu yang akan melanggar ajaran- ajaran Totamana dengan babi yang saya bunuh ini agar tidak terulang lagi.

 

Selanjutnya Dakehaugi membunuh babi putih (Yegee Ekinaa) yang sudah diikat di pohon Otikai. Setelah itu Dakehaugi memotong pohon Otikai dan mengeluarkan darah merah bertanda persembahan diterima. Setelah Upacara perdamaian selesai, rombongan Pater Tillemans pun kembali ke Kokonao.(*)

Tulisan ini kutipan dari Buku Frans IGN Bobii yang berjudul "Herman Tillemans "Awee Pitoo". Kemudian kutipan ini menjadikan pementasan Drama oleh IPMANAPANDODE Bandung pada Momentum Natal IPMANAPANDODE Sejawa dan bali di Jakarta.Dikutip menjadi naskah drama adalah Mateus Tekege

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Kumpul Akbar Wirausahawan Suzuki 2017oleh : Rohmah Sugiarti
16-Des-2017, 22:18 WIB


 
  Kumpul Akbar Wirausahawan Suzuki 2017 PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) bersama main dealer di 36 kota Indonesia gelar kembali Kumpul Akbar Wirausahawan Suzuki (KAWIR). KAWIR pada tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ketiga kalinya, setelah sebelumnya diadakan pada tahun 2014 dan 2015 lalu. Kali ini
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Mengenang Hari Juang Kartika 13 Des 2017 11:39 WIB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia