KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalPakar Jerman Tentang Hasil Pilpres 2019: Konservatisme Bakal Makin Kuat oleh : Kabarindonesia
18-Apr-2019, 08:00 WIB


 
 
KabarIndonesia - Pasangan Jokowi - Ma'ruf Amin berdasarkan hitung cepat tampaknya menang jauh dalam Pilpres 2019. Apa artinya bagi perkembangan politik di Indonesia? Wawancara DW dengan pengamat Indonesia asal Jerman, Timo Duile.

Hasil awal hitung cepat dari lima
selengkapnya....


 


 
BERITA SERBA SERBI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pasangan Abadi 13 Apr 2019 04:16 WIB

Sepenggal Kisah dari Menoreh (2) 24 Mar 2019 06:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
 
SERBA SERBI

Hari Raya Tahun Baru Imlek Tradisi Yang Tak Pernah Ditinggalkan
Oleh : Drs Melani Butarbutar, Mm | 01-Feb-2019, 15:43:04 WIB

KabarIndonesia - Kata "Imlek" berasal dari dialek bahasa Hokkian yang berarti "penanggalan bulan" atau "yinli" dalam bahasa Mandarin. Tahun Baru Imlek di Tiongkok lebih dikenal dengan sebutan "ChunJie" (perayaan musim semi). Kegiatan perayaan itu disebut "Guo nian" (memasuki tahun baru), sedangkan di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan "konyan".

Konon, di Indonesia mereka merayakan tahun baru Imlek sebagai perayaan hari lahirnya Khong Hu Chu yang lahir di tahun 551 SM. Dengan demikian penanggalan Imlek dan penanggalan Masehi itu berselisih 551 tahun. Jika tahun Masehi saat ini 2006, maka tahun Imleknya menjadi 2006 + 551 = 2557. 

Sayangnya di kebanyakan negara lain di luar Indonesia, mereka merayakan tahun baru Imlek bukannya tahun 2557 melainkan tahun 4643. Maklum dalam sejarah tercatat bahwa penanggalan Imlek dimulai sejak tanggal 8 Maret 2637 SM, sewaktu Kaisar Oet Tee / Huang Ti (2698-2598 SM) mengeluarkan siklus pertama pada tahun ke-61 masa pemerintahannya.

Jadi tepatnya ialah 4643 tahun yang lampau, karena bagi mereka Tahun Baru Imlek hanya berdasarkan perayaan budaya saja, dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan Khong Hu Chu.

Angpau

Apabila orang ingat Imlek otomatis ingat Angpau (Hokkian) atau Hong Bao (Mandarin) yang artinya amplop merah berisi uang. Angpau ini bukan hanya digemari oleh anak-anak saja bahkan para pejabat jaman sekarang ini juga senang sekali mendapatkan angpau. 

Konon angpau ini dipercaya bukan hanya sekedar membawa keberuntungan saja, bahkan dapat melindungi anak-anak dari roh jahat, sebab uang (qian) secara harfiah berarti dapat "menekan kekuatan jahat" atau "ya sui qian".

Masalahnya ada roh jahat yang bernama Sui yang selalu hadir setahun sekali untuk mengganggu anak-anak kecil, maka dari itu diusulkan sebagai penangkal roh tersebut. Sebaiknya ditaruh koin yang dibungkus dengan kertas merah sebagai tumbal di bawah bantal anak kecil.

Dimaklumi, unsur api yang membakar pada warna merah dapat melindungi dari pengaruh jahat, sama seperti kalau Dracula lihat Salib begituu lho.

Adat Tahun Baru Imlek

Menurut adat kuno, yang boleh pergi keluar bersilaturahmi di hari pertama Tahun Baru Imlek, hanya kaum pria saja, tetapi sekarang adat ini sudah tidak berlaku lagi. Dan yang kudu dikunjungi secara berturut-turut adalah orang tua suami, setelah itu barulah orang tua istri. Lalu ke sanak keluarga lainnya.

Perlu diketahui bukan hanya orang Jawa saja yang melakukan adat sungkem, orang Tionghoa juga demikian yang disebut tee-pai. Dan adat sungkem Tionghoa itu dilakukan utamanya pada hari raya Imlek.

Tahun ini adalah tahun Anjing-Api.

Budaya Cap Ji Shio/ Chinese Horoscopes adalah kebiasaan bangsa Cina yang menetapkan Tahun Baru Imlek dengan 12 jenis binatang. Untuk semua bayi yang dilahirkan pada tanggal 5 Februari 2019 hingga tahun berikutnya akan memiliki shio Babi. Kebiasaan bangsa China ini sudah bersejarah lebih dari 2000 tahun.

Alkisah Sang Buddha memanggil binatang-binatang yang ada di hutan untuk menghadap. Dikisahkan secara berurutan ada 12 binatang yang datang menghadap Sang Buddha, yakni: tikus, kerbau, harimau, kelinci, naga, ular, kuda, kambing, monyet, ayam, anjing, dan babi.

Walaupun itu mungkin hanya sekedar dongengan belaka. Tetapi anehnya banyak sekali orang yang percaya bahwa nasib seseorang berhubungan erat dengan tahun kelahirannya. Oleh sebab itulah dalam soal mengambil keputusan untuk menikah, 'tahun kelahiran' ini mempunyai pengaruh yang berat.

Sebagai contoh sebaiknya lelaki yang lahir pada tahun ayam tidak cocok dengan perempuan yang lahir pada tahun anjing, begitu juga dengan lelaki yang lahir pada tahun naga tidak cocok dengan perempuan yang lahir pada tahun harimau.

Makanan dan Kue Tahun Baru Imlek

Makanan yang berkaitan erat dengan hari raya Tahun Baru Imlek adalah kue keranjang (nian gao). Kata "kue" atau gao memberikan makna yang sama dengan kata dan arti "tinggi", sedangkan kata nian berarti "tahun", jadi secara simbolis diharapkan jabatan maupun kemakmuran semakin tahun dapat naik semakin tinggi.

Oleh sebab itulah juga di Kelenteng banyak kue keranjang yang dijadikan 'sesajen' disusun secara bertingkat.

Kue keranjang mulai dipergunakan sebagai sesaji pada upacara sembahyang leluhur, enam hari menjelang Tahun Baru Imlek (Jie Sie Siang Ang), dan puncaknya pada malam menjelang Tahun Baru Imlek.

Kue keranjang yang dijadikan sesaji sembahyang ini, biasanya dipertahankan tidak dimakan sampai Cap Go Meh (malam ke-15). 

Di malam Tahun Baru Imlek, orang-orang biasanya bersantap di rumah atau di restoran. Setelah selesai makan malam mereka bergadang semalam suntuk dengan pintu rumah dibuka lebar-lebar agar rejeki bisa masuk ke rumah dengan leluasa.

Disamping itu berdasarkan mitos atau dongeng Dewa yang paling bisa mengetahui keadaan kita di rumah adalah Dewa Dapur "Zao Wang Ye" (Ciao Ong Ya = Hokkian) sebab segala macam gosip banyak disebar-luaskan pada saat sedang kongkouw di dapur.

Dari makanan yang disajikan kita bisa mengetahui keadaan keluarga tersebut, apakah mereka keluarga mampu ataukah miskin. 

Setahun sekali sang Dewa Dapur ini pulang mudik cuti untuk sekalian laporan ke Sorga. Sang Dewa Dapur ini terkesan reseh dan bawel. Maka dari itu untuk menghindari agar ia tidak memberikan laporan yang ngawur, sebaiknya mulutnya disumpal terlebih dahulu dengan "kue keranjang". Dengan kue keranjang, mulut sang Dewa Dapur jadi lengket dan akhirnya tidak bisa banyak bicara dan kalau bisa bicara sekalipun pasti hanya hal yang manis-manis saja.

Oleh sebab itulah juga di atas altar dari Dewa Dapur sering diletakkan kertas yang bertuliskan: "Dewa yang mulia, ceritakanlah hanya kebaikan kami saja di langit dan bawalah berkat kembali apabila anda turun dari langit".

Makanan lainnya yang sering disajikan menjelang Tahun Baru Imlek adalah ikan bandeng, yang dimaklumi melambangkan rejeki. Dalam logat Mandarin, kata "ikan" sama bunyinya dengan kata "yu" yang berarti rejeki. 

Selain ikan bandeng yang juga kudu disuguhkan adalah jeruk kuning yang lazim disebut sebagai "jeruk emas" (jin ju). Kalau bisa dicarikan jeruk yang ada daunnya sebab itu melambangkan kekayaannya akan bertumbuh terus.

Kata "jeruk" dalam bahasa Tionghoa bunyinya hampir sama dengan "Da Ji", sedangkan arti kata dari "Da Ji" itu sendiri berarti besar rejeki.  Buah "apel" (pin guo) mempunyai arti "ping ping an an" sama artinya dengan " Da li" yang berarti besar kesehatannya dan keselamatannya dan untuk buah pear melambangkan kebahagiaan yang artinya "Sun Sun li li". 

Karenanya sangat lazim jika ketiga macam buah ini selalu menghiasi meja sembahyangan yang mengartikan " Da Ji Da Li Sun sun li li" = "Besar rejeki, besar kesehatan dan keselamatannya, dan besar pula kebahagiaannya"

Adat kebiasaan bangsa Tionghoa, dalam memberikan sesuatu, entah itu uang ataupun barang maupun buah-buah sebaiknya dalam kelipatan dua, jadi angka genap begitu. Maklum terdapat sebuah pepatah Tionghoa terkenal yang berbunyi "Hao Shi Cheng Shuang", yang secara harafiah dapat diartikan "semua yang baik harus datang secara berpasangan".

Dan agar rejekinya tidak tersapu habis keluar, maka diwajibkan menyembunyikan sapu, karena ada pantangan dimana tidak boleh menyapu dalam rumah pada hari Tahun Baru Imlek dan dua hari sesudahnya.

Hal lain yang perlu kita ketahui, bahwa pada hari raya Imlek sebaiknya pasang petasan, karena ini bisa mendatangkan keberuntungan dan perdamaian sepanjang tahun. Petasan sudah ada sejak dinasti Tang (618-907).

Konon menjelang Tahun Baru Imlek sering berkeliaran monster jahat yang bernama Guo Nien. Hanya sayangnya monster ini masih kurang sakti, sehingga selalu ngacir terbirit-birit ketakutan apabila mendengar bunyi mercon (petasan) apalagi kalau melihat cahaya kilat yang keluar dari ledakan mercon tersebut.

Inilah adat-kebiasaan-keyakinan Tionghoa yang tidak dapat mereka tinggalkan saat merayakan Tahun Baru Imlek. Jadi mari melek di hari raya Imlek, agar kita tidak berfikiran jelek. (*)
Salam untuk Mang Ucup yang lahir dan besar di Jln Kelenteng Jakarta.

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Hanya Satu Produk Indonesia di Asia Society and Museumoleh : Fida Abbott
21-Apr-2019, 05:24 WIB


 
  Hanya Satu Produk Indonesia di Asia Society and Museum Asia Society and Museum berlokasi di 725 Park Ave, New York, NY 10021; berukuran tidak besar; memiliki dua lantai dan lantai bawah tanah. Lantai pertama untuk pendaftaran para tamu yang berkunjung, kafe, dan toko suvenir. Lantai dua untuk museum
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia