KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalDr Ir H Salahuddin Wahid (Gus Sholah) Adik Kandung Presiden ke-4 RI Tutup Usia oleh : Danny Melani Butarbutar
02-Feb-2020, 18:29 WIB


 
 
KabarIndonesia  - Breaking News Kompas tv kemarin (2/2) sekitar pkl. 23.00 dan Dandy Bayu Bramasta KOMPAS.com memberitakan jika KH Salahuddin Wahid atau biasa disapa Gus Sholah, meninggal dunia pada Minggu (2/2/2020) malam.

Almarhum  Gus Sholah yang juga pengasuh
selengkapnya....


 


 
BERITA SERBA SERBI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Opera Afeksi 08 Des 2019 14:27 WIB

Perih Paling Parah 26 Nov 2019 19:35 WIB

 
Menu Aceh Sie Asap Localeco 20 Feb 2020 04:53 WIB



 
BERITA LAINNYA
 

 
 
SERBA SERBI

CAP GOMEH DAN BARONGSAY
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 03-Feb-2020, 23:53:35 WIB

KabarIndonesia - Cap Go Meh adalah lafal dialek Tio Ciu dan Hokkian, artinya malam ke -15. Sedangkan lafal dialek Hakka Cang Njiat Pan, artinya pertengahan bulan satu. Di daratan Tiongkok dinamakan Yuan Xiau Jie dalam bahasa Mandarin artinya festival malam bulan satu.

Capgomeh mulai dirayakan di Indonesia sejak abad ke 17, ketika terjadi migrasi besar dari Tiongkok Selatan. Kepercayaan dan tradisi budaya ini berlanjut turun menurun, baik didaratan Tiongkok maupun diperantauan diseluruh dunia. Ini adalah salah satu versi darimana asal muasalnya CAPGOMEH.

Di barat Capgomeh dinilai sebagai pesta karnivalnya etnis Tionghoa, karena adanya pawai yang pada umumnya dimulai dari Klenteng.  Klenteng adalah penyebutan secara keseluruhan untuk tempat ibadah “Tri Dharma” (Buddhism, Taoism dan Confuciusm).

Nama Klenteng sekarang ini sudah dirubah menjadi Vihara yang sebenarnya merupakan sebutan bagi rumah ibadah agama Buddha. Hal Ini terjadi sejak pemerintah tidak mengakui keberadaannya agama Kong Hu Chu sebagai agama.

Sedangkan sebutan nama Klenteng itu sendiri, bukannya diserap dari bahasa China, melainkan berasal dari bahasa Jawa. Kata ini diserap dari perkataan “kelintingan” – lonceng kecil. Maklum bunyi-bunyian inilah yang sering keluar dari Klenteng.

Orang Tionghoa sendiri menamakan Klenteng itu, sebagai Bio (baca: Miao). Wen Miao adalah bio untuk menghormati Confucius dan Wu Miao adalah untuk menghormati Guan Gong.

Cagomeh juga dikenal sebagai acara pawai menggotong joli Toapekong untuk diarak keluar dari Klenteng. Toapekong (Hakka = Taipakkung, Mandarin = Dabogong) berarti secara harfiah eyang buyut untuk makna kiasan bagi dewa yang pada umumnya merupakan seorang kakek yang udah tua.

“Da Bo Gong” . Sebutan ini sebenarnya adalah sebutan untuk para leluhur yang merantau atau para pioneer dalam mengembangkan komunitas Tionghoa. Jadi istilah Da Bo Gong itu sendiri tidak dikenal di Tiongkok.

Cagomeh tanpa adanya BARONGSAY dan liong (naga) rasanya tidaklah komplit. Barongsai sebenarnya sudah populer sejak zaman periode tiga kerajaan (Wu, Wei Shu Han) tahun 220 – 280 M.

Tarian Barongsay atau tarian singa biasanya disebut “Nong Shi”. Sedangkan nama “barongsai” sudah jelas BUKAN 'murni' adaptasi dari bhs Mandarin (Wu Long Sai), karena dalam bhs Mandarin tidak ada bunyi 'SAI'.

Kata 'barongsay' berasal dari 'barong' dari bahasa Bali, yang merupakan nama tarian dari Bali yang dimainkan oleh dua orang, yang satu memainkan kepala, yang satu lagi memainkan ekor. Tarian Barong ini mirip dengan 'barongsai' Tionghoa.

SAI adalah bhs Hokkian (bukan Mandarin) yang berarti singa / lion. Maklum Singa menurut orang Tionghoa ini melambangkan kebahagiaan dan kegembiraan. Jadi salah besar kalau tarian barongsay ini disebut sebagai Dragon Dance (Tarian Naga) (Mandarin: longwu/wulong, Hokkian: lang leng).

Ada dua macam jenis macam tarian barongsay yang satu lebih dikenal sebagai Singa Utara yang penampilannya lebih natural sebab tanpa tanduk, sedangkan Singa Selatan memiliki tanduk dan sisik jadi mirip dengan binatang Qilin (kuda naga yang bertanduk).

Seperti layaknya binatang-binatang lainnya juga, maka barongsai juga harus diberi makan berupa Angpau yang ditempeli dengan sayuran selada air yang lazim disebut “Lay See”.
Untuk melakukan tarian makan laysee (Chai Qing) ini para pemain harus mampu melakukan loncatan tinggi.

Oleh sebab itu para pemain barongsai, hanya dimainkan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan silat “Hokkian = kun tao” yang berasal dari bahasa Mandarin Quan Dao (Kepala kepalan atau tinju). Namun sekarang lebih dikenal dengan kata Wu Shu, padahal artinya Wu Shu sendiri itu adalah seni menghentikan kekerasan.

Didepan barongsai selalu terdapat seorang penari lainnya yang menggunakan topeng sambil membawa kipas. Biasanya disebut Shi Zi Lang dan penari inilah yang menggiring barongsai untuk meloncat atau bermain atraksi serta memetik sayuran. Sedangkan penari dengan topeng Buddha tertawa disebut Xiao Mian Fo.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Judika Sihotang Berduet dengan Bupati Taput Nikson Nababanoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
04-Jan-2020, 04:31 WIB


 
  Judika Sihotang Berduet dengan Bupati Taput Nikson Nababan Artis papan atas, Judika Sihotang, menyedot ribuan pengunjung dalam acara hiburan terbuka Old and New 2020 yang dikemas oleh Pemkab Tapanuli Utara di lapangan Serbaguna Tarutung, Kamis (2/1) malam. Massa membludak di lokasi sehingga pengunjung berdesakan di lapangan. Bupati Nikson
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 
MANG UCUP ITU CHINA BANANA 28 Jan 2020 00:52 WIB

 
IMLEK AGAR KITA MELEK 23 Jan 2020 05:21 WIB

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia