KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia - Pada Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar Janji bagian (6) kita telah melihat, berbagai upaya untuk menyerang dan menjatuhkan Jokowi ternyata justru sering berbalik menjadi bumerang yang menjadikan elektabilitas Prabowo-Hatta terdegradasi. Jokowi-JK
selengkapnya....


 


 
BERITA LINGKUNGAN HIDUP LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
JENUH 17 Jul 2019 15:06 WIB

Sayapku Telah Patah 08 Jul 2019 10:34 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Industri Pertanian Ciptakan Kelaparan

 
LINGKUNGAN HIDUP

Industri Pertanian Ciptakan Kelaparan
Oleh : Redaksi-kabarindonesia | 17-Des-2007, 03:33:31 WIB

KabarIndonesia - Industri pertanian yang bertumpu pada produksi massal merugikan penduduk desa negara-negara berkembang. "Untuk pertama kali dalam sejarah manusia, industri agraris berkembang pesat tapi saat bersamaan jumlah orang kelaparan juga meningkat," kata Vandana Shiva, aktivis lingkungan India.

Ini usahanya melawan perusahaan multinasional seperti Monsanto yang ingin mengembangkan tanaman hasil rekayasa genetik. Menurut Dr. Shiva, pola pertanian modern dengan penggunaan pupuk, bahan bakar dan irigasi skala massal harus diubah. Produksi monokultur juga harus dihentikan.

"Industri pertanian saat ini tidak menghasilkan makanan bervariasi," ujar Shiva. "Yang diproduksi komoditas makanan tertentu dalam jumlah besar seperti padi, gandum, jagung dll. Tapi, makanan punya lebih banyak variasi."

Ekspor kekeringan

Konsumen negara Barat dewasa ini bisa makan makanan apa saja sepanjang tahun. Asia dan Afrika menjadi "ladang" memenuhi permintaan makanan negara-negara kaya. Ada anggapan, ini menguntungkan negara-negara berkembang. Tapi menurut dr. Shiva, itu anggapan salah.

"Industri pertanian global saat ini mengakibatkan erosi keragaman hayati. Petani kecil sangat dirugikan. Masyarakat Masai misalnya, kekurangan air karena sebagian besar dipakai irigasi perkebunan selada dan bunga untuk ekspor ke Eropa. Ini namanya mengekspor kekeringan ke Afrika," kata dr. Shiva.

Dr. Shiva berpendapat, pola pertanian dunia harus diubah. "Kita harus menemukan pola tanam ramah dan sinambung," ujarnya. Pola pertanian  tradisional bisa menjadi alternatif. Bercocok tanam dalam skala kecil untuk menghasilkan berbagai jenis makanan, bukan komoditas, adalah sistem lebih baik. Dengan cara itu para petani bisa pula menikmati hasil bumi mereka.

Sumber:  Radio Nederland Wereldomroep (RNW)

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia