KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalRudiantara: 4,6 Juta UMKM Sudah Online oleh : Sesmon Toberius Butarbutar
15-Nov-2017, 21:01 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Kementerian Komunikasi dan Informatika menyampaikan berdasarkan data terdapat 4,6 juta UMKM dari target delapan juta UKM hingga 2019 telah masuk akses online.

"Kami punya target mengonlinekan delapan juta UMKM hingga tahun 2019, namun sekarang baru
selengkapnya....


 


 
BERITA KESEHATAN LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Hujan Tak Pernah Sendiri 13 Nov 2017 20:13 WIB

Ada Saat 08 Nov 2017 13:32 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Clinical Update 2009: Tic

 
KESEHATAN

Clinical Update 2009: Tic
Oleh : Dr. Dito Anurogo | 24-Des-2008, 02:52:47 WIB



"No happy, secure child ever develops tics."
Leo Kanner

----------------------------------------------------------------------------
Pendahuluan
----------------------------------------------------------------------------
Di dalam scientific article (artikel ilmiah) berikut ini akan dibahas tentang "Clinical Update 2009: Tic" yang akan menguraikan segala sesuatu tentang tik, meliputi:
1. Sinonim
2. Definisi
3. Penyebab
4. Patofisiologi
5. Epidemiologi
6. Manifestasi Klinis
7. Penatalaksanaan
8. Prognosis
9. Tahukah Anda?
10 Referensi
11. Tentang Penulis

Tics termasuk salah satu bentuk hyperkinetic movement disorders, disamping athetosis, chorea, dystonia, myoclonus, dan tremor.
----------------------------------------------------------------------------
Sinonim
----------------------------------------------------------------------------
Tik, tic, tics.
----------------------------------------------------------------------------Definisi
----------------------------------------------------------------------------
1. Gerakan yang involunter, mendadak, cepat, berulang,
    tidak ritmis, atau berbentuk vokalisasi.
2. Gerak motorik yang tiba-tiba, cepat, berulang, tidak ritmis,        
    atau vokalisasi yang stereotip.
3. Gerakan involuntar yang sifatnya berulang, cepat, singkat,
    stereotipik, kompulsif, dan tak berirama, dapat merupakan
    bagian dari kepribadian normal.
4. Menurut Leo Kanner (1935):
    "Kejang kebiasaan (jelek) yang timbul tiba-tiba, cepat, involunter,
     dan sebagai letupan kontraksi sekelompok otot
".
5. Brief, repeated, stereotyped muscle contractions that are often
    suppressible. Can be simple and involve a single muscle group
    or complex and affect a range of motor activities
.
6. Involuntary twitching of the muscles (usually in the face).
7. A local and habitual twitching especially in the face.
----------------------------------------------------------------------------
Penyebab (Etiologi)
----------------------------------------------------------------------------
A. Herediter/diwariskan (inherited)
1. Distonia torsi.
2. Neuroakantosis.
3. Penyakit Huntington.
4. Penyakit Wilson.

B. Didapatkan/diperoleh (acquired)
1. Infeksi (misal: chorea sydenham, ensefalitis).
2. Obat-obatan
    Dicetuskan misalnya oleh:
    a. Stimulan.
    b. Levodopa.
    c. Antikonvulsan (antikejang): karbamazepin, lamotrigin.
    d. Neuroleptik.
3. Pertumbuhan/perkembangan (developmental)
4. Stroke
5. Toksin (misal: karbon monoksida)
6. Trauma kepala
----------------------------------------------------------------------------
Patofisiologi
----------------------------------------------------------------------------
Gerakan involuntar pada tik timbul akibat lesi difus pada putamen dan globus palidus; disebabkan oleh terganggunya kendali atas refleks-refleks dan rangsang yang masuk, yang dalam keadaan normal ikut memengaruhi putamen dan globus palidus. Ini disebut release phenomenon, yang berarti hilangnya aktivitas inhibisi yang normal.
----------------------------------------------------------------------------
Epidemiologi
----------------------------------------------------------------------------
Tik sering dijumpai di dalam kehidupan sehari-hari.
Gejala awal muncul sekitar usia 5-10 tahun.
Prevalensi tertinggi usia 9-11 tahun.
Rasio pria:wanita = 3:1.
----------------------------------------------------------------------------
Manifestasi Klinis
----------------------------------------------------------------------------
Ciri khas tik:
1.Bergelombang; menguat dan melemah.
2. Di-eksaserbasi (diperburuk) oleh stres, cemas, kelelahan.
3. Berkurang beristirahat, berkonsentrasi, relaksasi.
4. Tidak terjadi saat tidur, namun terdeteksi dengan pemeriksaan 
    polisomnogram. Pendapat lain mengatakan bahwa tik dapat
    muncul saat tidur dengan intensitas yang lebih ringan.
5. Meskipun dapat ditekan atau dicegah sebentar, namun
    berakibat meningkatnya "dorongan dari dalam".
    Dengan kata lain, tik sering didahului oleh "sensasi aneh",
    dorongan beraksi yang sulit ditahan. "Sensasi aneh" yang
    merupakan sensasi sensoris ini mungkin melibatkan sistem
    limbik dalam interaksi jalur motorik dan sensorik.
6. Setelah tik muncul, penderita merasa lebih lega.

Perwujudan tik:
1. Mengangkat bahu.
2. Sering batuk-batuk kecil.
3. Memejam-mejamkan mata.
4. Menggerak-gerakkan hidung.
5. Suka menjilati telapak tangan.
6. Menggeleng-gelengkan kepala.
7. Memiliki kebiasaan mendehem.
8. Suka memegang-megang kemaluan.
9. Suka menarik-narik nafas dari hidung
10. Memiliki kebiasaan batuk seolah membersihkan 
      kerongkongan.

* Tik motor sederhana
- Sinonim: tik motor ringan, tik motor simpel.
- Merupakan gangguan sementara, berlangsung < 12 bulan.
- Ciri khasnya:
   1. Hanya meliputi satu grup otot.
   2. Involunter.
   3. Tidak memiliki arti.
   4. Mendadak.
   5. Cepat, kurang dari satu detik.
   6. Berulang.
   7. Tidak ritmis.
   8. Stereotipik.
- Contoh gerakannya:
  1. Mengedip.
  2. Menyeringai.
  3. Gerakan mulut.
  4. Mengangkat bahu.
  5. Gerak sentakan kepala atau tangan dan kaki.

* Tik motor kronis
- Sinonim: tik motor kronik.
- Berlangsung > 12 bulan, bahkan bertahun-tahun.
- Ciri khasnya:
  1. Gerakannya kompleks.
  2. Urutan gerakannya jelas.
  3. Muncul secara spontan atau tiba-tiba.
  4. Gerakannya lebih lama dibandingkan tik motor sederhana.
  5. Gerakannya seperti bertujuan, meskipun sebenarnya
      tidak bertujuan.
- Contoh gerakannya:
  1. Mendehem.
  2. Gerakan wajah.
  3. Tubuh menjadi melengkung.
  4. Menggeleng-gelengkan kepala.
  5. Menyentuh, memukul, mencium, melompat.

* Tik vokal
- Muncul lebih lambat.
- Berupa:
  1. Batuk.
  2. Bersin.
  3. Menyalak.
  4. Ekolalia (mengulang apa yang didengar).
  5. Koprolalia (memaki dengan kata-kata kotor dan jorok)

* Sindrom Tourette
- Sinonim: sindrom Gilles de la Tourette, tics konvulsif,
   tics herediter multipleks.
- Definisi: tik motor kronis disertai tik vokal dengan syarat tertentu, misalnya: multipel, sering berubah, terjadi beberapa kali dalam sehari, usia < 18 tahun, tidak disebabkan oleh obat-obatan (seperti stimulan), tidak ada penyakit yang memicu.
- Gejala telah ada selama > 1 tahun.
- Gejalanya berupa:
  1. Gerakan involuntar kompleks, misalnya:
      a. Echolalia (suka meniru/mengulangi suara yang didengar)
      b. Menggerutu, batuk-batuk.
      c. Suara menggonggong/bersiul.
  2. Perubahan kepribadian: suka marah/mengomel.
  3. Coprolalia (berkata kotor, jorok, cabul).
----------------------------------------------------------------------------
Penatalaksanaan
----------------------------------------------------------------------------
1. Benzodiazepin (untuk penderita tik sederhana).
2. Haloperidol (0,5-40 mg/hari atau 3 dd 1-2 mg)
    Untuk penderita sindrom Gilles de la Tourette.
3. Tetrabenazine, pimozide (efektif untuk tik).
4. Psikoterapi dan hipnotis.
5. Jika disertai kelainan tingkah laku, pertimbangkan operasi:
    thalamotomy, tracheotomy, cingulotomy.

Terapi yang diusulkan Singer (2001)
Lini pertama: klonidin, guanfasin, baklofen, dan klonazepam.
Lini kedua:
1. Neuroleptik tipikal:
    pimozid, flufenazin, haloperidol, trifluoperazin.
2. Neuroleptik atipikal:
    risperidon, olanzapin, ziprasidon.
Obat lainnya:
tetrabernazin, pergolid, nikotin, mekamylamin, donepezil,
delta-9-tetrahydrocannabinol, botulinum toxin.

Terapi yang diusulkan Higgins (2003)
A. Dopaminergik
    1. Antagonis, misalnya:
        a. Haloperidol
            Dosis inisiasi: 0,25 mg.
            Dosis maintenance: 5-15 mg/hari.
        b. Pimozid
            Dosis inisiasi: 1 mg.
            Dosis maintenance: 5-10 mg/hari.
        c. Olanzapin
            Dosis inisiasi: 2,5 mg.
            Dosis maintenance: 5-10 mg/hari.
        d. Ziprasidon
            Dosis inisiasi: 5 mg.
            Dosis maintenance: 20-40 mg/hari.
   2. Agonis, misalnya:
       - Pergolid
         Dosis inisiasi: 0,025 mg.
         Dosis maintenance: 0,15-0,30 mg/hari.
   3. Yang lainnya, misalnya:
       - Selegilin
         Dosis inisiasi: 5 mg.
         Dosis maintenance: 5 mg/hari.

B. Kolinergik
    1. Agonis, misalnya:
        - Patch (dosis inisiasi: 7 mg)
    2. Antagonis, misalnya:
        - Mekamilamin
          Dosis inisiasi: 2,5 mg.
          Dosis maintenance: 2,50-6,25 mg/hari.

C. Adrenergik
    Alfa2-agonis, misalnya:
    - Klonidin (clonidine)
      Dosis inisiasi: 0,05 mg.
      Dosis maintenance: 0,2-0,4 mg/hari.
   - Guanfasin
      Dosis inisiasi: 1 mg.
      Dosis maintenance: 2-4 mg/hari.

D. Lain-lain, misalnya:
    - Klonazepam
      Dosis inisiasi: 0,5 mg.
      Dosis maintenance: 2-6 mg/hari.

Rekomendasi PERDOSSI (2006)
untuk dopamine-receptors blockers dan starting dose:
1. Fluphenazine (1 mg/hari).
2. Pimozide (2 mg/hari).
3. Haloperidol (0,5 mg/hari).
4. Risperidone (0,5 mg/hari).
5. Ziprasidone (20 mg/hari).
6. Trifluperazine (1 mg/hari).
7. Molindone (1 mg/hari).

Prinsip Farmakoterapi
1. Mulai dari dosis kecil, naikkan perlahan-lahan.
2. Evaluasi efektivitas dan efek samping.
3. Gunakan monoterapi.
4. Gunakan obat lini pertama terlebih dahulu.
5. Tak ada patokan kapan harus menghentikan obat.
    Bila akan menghentikan obat, hentikan perlahan-lahan.

Prinsip terapi pada penderita tik
* Tik motor ringan tidak memerlukan terapi, akan hilang
   dalam 12 bulan.
* Penderita sindrom Tourette yang tidak mengalami gangguan
   psikososial atau fisik belum memerlukan terapi.
* Penderita tik tanpa sindrom Tourette harus diobati bila:
   1. Rasa percaya diri berkurang.
   2. Sulit berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Perhatian Khusus
1. Mengobati anak dengan tik berarti menasihati orang tuanya untuk mendidik anak secara bijaksana. Jangan banyak melarang anak, banyaklah memberi contoh yang baik. Jangan banyak marah atau memarahi anak, banyaklah bergaul dengan anak.

2. Banyak anak dengan tik memiliki orang tua yang:
a. Perfeksionis (ingin segalanya sempurna).
b. Sangat keras mendidik anaknya.
c. Sering/suka marah-marah, ngomel, bawel, atau cerewet.
Tik yang dialami anak sebenarnya merupakan "bahasa isyarat" untuk memprotes orangtuanya.

3. Terapi obat tidak dapat menghilangkan semua gejala. Terapi obat bertujuan untuk mengurangi gejala tik tanpa efek samping obat yang berat.
----------------------------------------------------------------------------
Prognosis
----------------------------------------------------------------------------
Baik.
----------------------------------------------------------------------------
Tahukah Anda?
----------------------------------------------------------------------------
a. Obat yang paling sering digunakan untuk tik adalah
    clonidine, haloperidol, pimozide, dan risperidone.

b. Umumnya tik berkurang saat bersenggama atau
    saat melakukan aktivitas yang mengasyikkan,
    seperti memainkan alat musik.

c. Di Indonesia terdapat banyak mitos kedokteran, salah satunya
   adalah "tik disebabkan oleh infestasi cacing".

d. Pemeriksaan EEG dapat membedakan tik dari
    juvenile myoclonic epilepsy.

e. Jika kedua orang tua mengalami tik, maka kemungkinan
    anaknya menderita tik sebesar 6-15%.

f. Sindrom tik fasialis (sudut mulut terangkat, kelopak mata 
   memejam berlebihan) yang disertai koprolali (berkata jorok)
   dikenal juga sebagai tic Gilles de la Tourette.
   Tik fasialis ini disebabkan oleh suatu rangsang iritatif
   di ganglion genikulatum.
----------------------------------------------------------------------------
Referensi
----------------------------------------------------------------------------
Fauci AS, Kasper DL, Braunwald E, Hauser SL, Longo DL, Jameson JL, Loscalzo J. Harrison's Principles of Internal Medicine. 17th Edition. The McGraw-Hill Companies, Inc. USA. 2008. Part 16. Chapter 367.

Harsono (Ed.). Buku Ajar Neurologi Klinis. Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia-Gadjah Mada University Press. 2005:220-222.

Lumbantobing SM. Gangguan Gerak. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK UI). Jakarta. 2005:3-18.

Mardjono M, Sidharta P. Neurologi Klinis Dasar. PT Dian Rakyat. Jakarta. 2003:162-163.

Perdossi (Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia). Buku Pedoman Standar Pelayanan Medis (SPM) & Standar Prosedur Operasional (SPO) Neurologi Koreksi Tahun 1999 & 2005. Perdossi. 2006:144-145.


Pusponegoro HD. Tic dan Sindrom Tourette. Dalam: Pediatric Neurology and Neuroemergency in Daily Practice. Pusponegoro HD, Handryastuti S, Kurniati N (Ed.). Pendidikan Kedokteran Berkelanjutan Ilmu Kesehatan Anak (PKB IKA) XLIX FKUI-RSCM. 2006:103-108.

Sidharta P. Neurologi Klinis dalam Praktek Umum. PT Dian Rakyat. Jakarta. 1979:379-380.

Singer HS. The Treatment of Tic. Curr Neurol Neurosci 2001;1(25)195-202.


Watts R, Koller W (eds): Movement Disorders: Neurologic Principles and Practice, 2d ed. New York, McGraw-Hill, 2004.
----------------------------------------------------------------------------
Sumber Gambar
----------------------------------------------------------------------------
http://healthy2life.blogspot.com/2008/06/tourette-syndrome.html
----------------------------------------------------------------------------
Tentang Penulis
----------------------------------------------------------------------------
Dito Anurogo

- An active and extraordinary student in School of Medicine, Sultan Agung
  Islamic University (UNISSULA),
Semarang, Central Java, Indonesia.
- A member of International Federation of Medical Students'
  Associations (IFMSA).
- A member of Center for Indonesian Medical Students' Activities
  (CIMSA).
- A member of
Forum Lingkar Pena (FLP) Semarang, Indonesia.

----------------------------------------------------------------------------

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com  
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com
 

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Mendes PDTT Ajak Astra Lanjutkan Membangun Indonesia dari Wilayah Terluar Mendes PDTT Republik Indonesia Eko Putro Sandjojo melakukan pemeriksaan darah di booth pengobatan gratis yang disediakan dalam acara Festival Kesehatan Inspirasi 60 Tahun Astra di Hotel Rinra Makassar hari ini (18/11). Acara Festival Kesehatan ini mendapatkan respon positif dari masyarakat
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Menjadi Guru Yang Baik 15 Nov 2017 07:00 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Beriman dan Bijaksana 12 Nov 2017 06:45 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia