KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalOJK Umumkan Pemenang Annual Report Award (ARA) 2016: ANTAM Kembali Sabet Predikat Juara Umum oleh : Wahyu Ari Wicaksono
19-Sep-2017, 18:18 WIB


 
 
KabarIndonesia – Jakarta, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), bekerja sama dengan Kementerian BUMN, Direktorat Jenderal Pajak, Bank Indonesia, Bursa Efek Indonesia, Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG), dan Ikatan Akuntan Indonesia kembali menggelar Annual Report Award (ARA) 2016.   Mengusung
selengkapnya....


 


 
BERITA KESEHATAN LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Surat Cinta Kepada-Nya 18 Sep 2017 14:09 WIB

Komputer 17 Sep 2017 09:59 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Awal Melawan Flu Burung di Desa Landom

 
KESEHATAN

Awal Melawan Flu Burung di Desa Landom
Oleh : Muhammad Nizar | 26-Des-2008, 13:00:52 WIB

KabarIndonesia - Akhir Desember 2005, musim hujan yang menimbulkan genangan air di mana-mana. Zulfahmi, 18 tahun, bersama kawan-kawannya kaget melihat sejumlah ayam mengapung mati di atas genangan air. Mereka segera memberi tahu kepada masyarakat lainnya. Sontak warga terkejut, ada apa gerangan? Beberapa warga berinisiatif mencari tahu ayam-ayam tersebut milik siapa.

Setelah melalui pertemuan dengan beberapa warga sekitar, akhirnya ditemukanlah pemilik ayam yang telah mati itu. Ternyata ayam yang ditemukan mengapung mati secara tiba-tiba saja. Pemiliknya sendiri pun tidak tahu ada apa dengan ayamnya. Kemudian berturut warga lainnya yang juga memiliki ayam, melaporkan kematian ayamnya tiba-tiba. Saat itu, Zulfahmi dan warga lainnya belum ada prasangka apapun atas kematian begitu banyak ayam secara mendadak.

Akhirnya salah seorang warga yang merupakan seorang jurnalis televisi nasional, Mukhtar, berinisiatif cepat melaporkan kejadian aneh tersebut ke Dinas Perternakan Kota Banda Aceh. Petugas pun datang mengambil sampel darah dari bangkai ayam. Seingat Zulfahmi, butuh waktu seminggu sehingga kemudian hasil pengujian sampel diumumkan ke warga yang menanti dengan cemas. “Ayam-ayam yang mati beberapa waktu lalu positif terkena flu burung atau Avian Influenza” ujar petugas dari dinas. Warga tidak begitu mengerti apa itu flu burung. Hal ini menjadi
perbincangan hangat di warung-warung kopi, tempat warga sering berkumpul.

Mereka dengan heran bertanya-tanya kenapa nama penyakitnya flu burung? Bukankah yang terkena adalah ayam, bukan burung? Walhasil sejak diumumkan hasil uji ayam secara resmi, Desa Lamdom ditabalkan sebagai tempat pertama kali ditemukannya flu burung untuk provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Pemerintah Aceh sigap bertindak sebelum virus menyebar lebih jauh. Melalui dinas peternakan bekerja sama dengan dinas kesehatan setempat diadakan pengarahan bagi warga. Kepada masyarakat diminta untuk tidak panic namun
harus tetap waspada terhadap unggas-unggas peliharaan mereka.

Pemerintah meminta ayam-ayam yang dicurigai berpotensi terkena flu burung untuk dimusnahkan dengan cara dibakar lalu ditanam. Kepada masyarakat juga diminta untuk tidak menjual ayam-ayam tersebut hidup-hidup apalagi menjual bangkai ayam. Seratusan ekor ternak unggas hidup milik warga Desa Lamdom, Kecamatan
Lueng Bata Kota Banda Aceh, dipotong dan dibakar serta ditanam di tanah.

Ini lah cara terbaik untuk memusnahkan ayam-ayam yang telah terkena virus avian influenza(AI). Zulfahmi mengenang kejadian lucu saat pemusnahan ayam AI berlangsung. ”Waktu itu warga yang tidak mengetahui persis bagaimana cara penyebaran virus
AI dengan tenang membawa ayam tanpa memakai sarung tangan ke halaman mushalla. Padahal kepada mereka telah diberikan peralatan sarung tangan dan masker” katanya tersenyum. Kondisi yang sama juga terlihat saat warga yang bertugas untuk mengeksekusi 100-an ekor unggas, tidak menggunakan masker dengan benar. Masker dipakai tapi ditarik kebawah dagu atau dinaikkan ke atas hidung. “Saya heran melihatnya, selain tidak memakai masker juga tidak ada sarung tangan. Padahal kontak langsung kan berbahaya. Mereka seperti potong ayam kenduri saja,” kata Zulfahmi.

Saat itu memang sosialiasasi bahaya flu burung masih seadanya. Seharusnya masyarakat memakai sarung tangan ketika memegang bangkai ayam dan memasang masker di wajah. Ayam-ayam itu setelah disembelih dikumpulkan dalam satu liang, lalu dibakar dan ditanam. Setiap ayam yang dimusnahkan diberi ganti rugi oleh pemerintah sebesar Rp.12.500,-. Ini merupakan upaya pemerintah memberikan rasa aman kepada masyarakat dan menciptakan dukungan dari masyarakat dalam mengendalikan flu burung. Hal ini di kemudian hari sangat terbukti manfaatnya. Zulfahmi sendiri harus merelakan sebanyak 20 ekor ayamnya untuk disembelih. ”Tapi saya ikhlas karena ini memang untuk kebaikan bersama” ucapnya mantap.

Desa Lamdom, Kecamatan Lueng Bata, terletak hanya 5 km dari pusat kota Banda Aceh mempunyai luas sekitar 73 ha. Dihuni oleh sekitar 285 KK dan 1375 penduduk, lingkungannya masih sangat rimbun oleh pepohonan keras. Umumnya warga memiliki lahan luas, sekitar 400 m2, sehingga memudahkan sangat cocok bagi warga untuk melakukan menggeluti kegiatan peternakan. Tanah dataran yang diatasnya ditanami pohon mangga, sawo, pisang bahkan masih ada pohon nipah di beberapa tempat. Jika kita berada di desa ini seolah-olah kita sedang mengunjungi sebuah desa di pedalaman Aceh yang makmur, sebab masih banyak rumah panggung serta dikombinasi dengan rumah beton. Padahal desa Lamdom masih termasuk dalam wilayah kota Banda Aceh, yang kini menggeliat mengejar pembangunan di berbagai bidang.

Bagi warga yang memelihara ayam, mereka menempatkan kandang di bagian belakang rumah sekitar 3 meter dari rumah. Dengan lahan halaman yang luas, masyarakat umumnya melepaskan ayamnya begitu saja. Pak Keuchik, (lurah
dalam istilah Aceh-red) H. Usman Basyah, 60 tahun, menceritakan kondisi gampong (desa dalam istilah Aceh-red) Lamdom. Terdapat sekitar 40 rumah yang memelihara unggas, termasuk ayam dan itik. “Dulunya desa kami kurang dikenal di Banda Aceh, kalau ada yang mendengar Lamdom, mereka pikir ini sebuah desa di pedalaman entah dimana”katanya. Ia melanjutkan ceritanya. “Ada hikmahnya juga ditemukan flu burung disini, sejak itu desa kami menjadi lebih dikenal, lebih diperhatikan, bahkan sekarang terpilih mewakili Provinsi Aceh untuk mengikuti lomba “Gerakan Sayang Ibu” tingkat Nasional” katanya dengan tersenyum.

Ia mengatakan sejak ditemukan kasus flu burung pertama di desanya, banyak instansi terkait datang ke desa mengadakan penyuluhan. “Ada yang mengadakan penyuluhan di Meunasah (mushalla dalam bahasa Aceh-red). Dari situlah kami mengetahui bahwa sebaiknya ayam itu dikandangkan, flu burung menyebar melalui liur, lender dan kotoran ayam” Pak Keuchik dengan mahfum menjelaskan.

Ia kini menjadi lebih ahli dalam hal penanganan AI. “kita di Gampong mana ada membersihkan kandang ayam dengan menyiramnya dan desinfektan tapi kini setelah ada sosialiasasi ternyata hal ini sangat penting” ujarnya. Selain pengetahuan tentang bagaimana mengendalikan AI telah diperoleh
warga, sikap syukur kepada Allah SWT atas terbebasnya kampung dari flu burung tetap ditunjukkan. Ini menunjukkan sebagai seorang muslim, manusia menyadari bahwa setelah berusaha ada Allah SWT yang menentukan. Simak saja ucapan Saiful, 38 tahun, pria dengan 2 anak yang sejak lahir memang sudah tinggal di desa Lamdom. Dengan bahasa Aceh yang kental ia menjawab “Alhamdulillah hana le Tuhan brie jinoe (Alhamdulillah kini Tuhan tidak memberi flu burung lagi-red)"jawabnya. Saiful bersyukur karena flu burung sudah tidak ada lagi di desanya. Sebelumnya Saiful takut dengan flu burung. Ia takut sewaktu-waktu makan daging ayam yang terkena flu burung. Namun kini setelah mendapat pengarahan ia kini jadi tahu kalau daging ayam dimasak dengan matang aman untuk dikonsumsi.

Saiful merasakan kesusahan secara psikologis akibat munculnya flu burung di desanya. Banyak pemberitaan yang tidak benar dan simpang siur. Sampai-sampai beredar gossip di salah satu media bahwa ada seorang warga yang meninggal terkena flu burung. Padahal menurutnya hal itu sama sekali tidak ada. Akibatnya muncul opini macam-macam dalam pikiran masyarakat luar desa Lamdom. “Seharusnya Koran bisa menyampaikan informasi tentang flu burung secara proporsional sehingga menciptakan rasa aman” katanya. Tapi kini ia sendiri sudah siap menghadapi isu flu burung berbekal pengetahuan yang telah dimilikinya.

Masih banyak salah persepsi terhadap flu burung di kalangan masyarakat umum. Ini berarti masih kurangnya sosialisasi pemerintah terhadap masyarakat tentang flu burung. Butuh penyuluhan yang berkesinambungan hingga akhirnya
masyarakat mudah memahami. Seperti pemuda Zulfahmi, yang merupakan seorang pemuda yang mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi. Menganggap penyuluhan yang dilakukan tidak mencukupi, ia mencari tahu dari berbagai sumber yang ada seperti poster, leaflet dan majalah. Dari bacaan-bacaan tersebut ia mendapat informasi yang akurat dan sesuai dengan perkembangan lapangan. Tapi syukurlah, di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sampai hari ini belum ada laporan kasus konfirmasi flu burung pada manusia.

Awal tahun 2008, masyarakat kembali menemukan ayam mati secara tiba-tiba. Namun kini masyarakat telah sigap, segera melapor kepada dinas peternakan untuk segera di periksa. Masyarakat pun sudah tidak panik lagi seperti peristiwa
ditemukan ayam mati secara massal pertama kali. Setelah bangkai ayam diperiksa, ditemukan positif flu burung pada ayam di desa Lamdom. Kali ini, karena tindakan yang sudah jauh lebih cepat, tidak memakan korban ayam yang begitu banyak. Hanya 15 ekor ayam yang terkena pemusnahan flu burung segera dibakar dan dikuburkan. Dan kalo tidak ada kehebohan yang menyertai. Semua berlangsung seperti biasa alias sudah bisa dikendalikan secara teknis dan psikologis. Kandang-kandang segera didesinfektan, ayam-ayam untuk sementara dikurungkan. Umumnya masyarakat adalah peternak ayam rumahan atau backyard farm.

Walhasil, kerugian dapat ditekan sekecil mungkin. Lamdom, desa dimana kami memulai melawan flu burung menjadi pelajaran bagi semua orang baik di Aceh maupun di Indonesia. Didalamnya terdapat berbagai pelajaran tentang bagaimana sikap masyarakat, sikap pemerintah dan sikap kalangan swasta lainnya. Sehingga dengan demikian, tanggap flu burung dapat diterapkan dengan baik dimana pun.



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Inspirasi 60 Tahun Astra Untuk Aman Berlalu Lintas di Medanoleh : Rohmah Sugiarti
18-Sep-2017, 21:14 WIB


 
  Inspirasi 60 Tahun Astra Untuk Aman Berlalu Lintas di Medan Head of Public Relations PT Astra International Tbk Yulian Warman didampingi Ketua Koordinator Wilayah Grup Astra Medan Sutadi (kanan) dan Ketua Panitia HUT ke-60 Astra di Medan Badrun Radhi (kiri) berdialog dengan rekan-rekan wartawan pada acara media gathering HUT ke-60
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia