KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalRudiantara: 4,6 Juta UMKM Sudah Online oleh : Sesmon Toberius Butarbutar
15-Nov-2017, 21:01 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Kementerian Komunikasi dan Informatika menyampaikan berdasarkan data terdapat 4,6 juta UMKM dari target delapan juta UKM hingga 2019 telah masuk akses online.

"Kami punya target mengonlinekan delapan juta UMKM hingga tahun 2019, namun sekarang baru
selengkapnya....


 


 
BERITA POLITIK LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Hujan Tak Pernah Sendiri 13 Nov 2017 20:13 WIB

Ada Saat 08 Nov 2017 13:32 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
POLITIK

Jokowi Terima SBY, Siapa Diuntungkan?
Oleh : Chairil Makmun | 21-Mar-2017, 22:31:55 WIB


KabarIndonesia - Jakarta, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menerima Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis siang pekan lalu (9/3/17). Ini sebuah pertemuan agak mendadak karena wartawan baru tahu pagi harinya.

Bagi SBY, pertemuan ini sangat penting, sebab banyak isu yang dikaitkan antara dirinya sebagai mantan presiden dengan Jokowi yang sedang menjabat presiden. Kasus terakhir adalah perseteruannya dengan Antasari Azhar, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada era dirinya sebagai Presiden periode kedua, tahun 2009-2014.

Antasari merasa dikriminalisasi dan meminta SBY mengungkap semuanya secara jujur. SBY menangkis tudingan itu. Menurut dia, saat memegang jabatan presiden, dia tidak ikut campur masalah hukum. Sayang, dalam kasus yang sebenarnya hanya urusan Antasari-SBY ini, ternyata pemerintah ikut dibawa-bawa. SBY menyatakan, Antasari diperalat pemerintah untuk menyerang dirinya. Banyak analis berpendapat, pemerintah yang dimaksud di sini adalah Presiden Jokowi.

Sebelumnya, pada November 2016, tatkala ramai unjuk rasa yang mengatasnamakan Bela Islam berlangsung di Jakarta, nama SBY ikut diseret-seret. Merebak berita bahwa SBY menjadi dalang gerakan tersebut. Purnawirawan Jenderal ini sudah membantah, tapi opini terus bergulir menyudutkan dirinya. Begitu pula ketika dia mendapat bisikan dari orang dekatnya bahwa Presiden sudah siap bertemu muka dengannya, namun apa mau dikata, orang di lingkaran dekat Jokowi menjegalnya. Hal ini dipublikasi SBY secara luas sehingga menjadi polemik ramai di kancah politik nasional.
Dalam kontes Pilkada Jakarta, orang memosisikan Jokowi berseteru dengan SBY. Presiden berada di kubu pasangan calon (paslon) nomor 2 Ahok-Djarot yang diusung PDIP, partai tempat presiden bernaung, sedangkan SBY di kubu paslon nomor 1 Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni karena Demokrat menjadi penyokong utama.
Nah, itulah beberapa contoh kasus betapa Jokowi-SBY ditempatkan dalam posisi berlawanan. Menurut persepsi publik, semua kasus ini dapat dicairkan jika keduanya dapat bertemu empat mata di satu meja. Dalam pertemuan ini SBY dapat blak-blakan mencurahkan isi hati, Jokowi pun memperoleh penjelasan langsung dari tangan pertama, bukan melalui pembantunya yang bisa saja terjadi bias atau distorsi.

Dalam peta seperti ini SBY mungkin berada dalam posisi kurang menguntungkan. Karena itu, dia perlu memanfaatkan pertemuan ini secara efektif untuk menuai keuntungan politik. Kalau tidak, menyongsong Pilpres dua tahun ke depan, dia dan partainya sulit bersaing dengan lawan. Partai Demokrat yang dipimpinnya belum dapat diandalkan untuk mendongkrak popularitasnya. Justru sebaliknya, SBY-lah yang masih jadi penentu naik-turun pamor partainya. Jika reputasi SBY memudar, Demokrat diduga akan ikut layu melunglai.

Pertemuan dengan Presiden berdampak positif secara politik. Dalam dunia politik, pimpinan partai oposisi yang dapat diterima Presiden merupakan nilai plus sendiri. Bagi Jokowi, pertemuan ini pun menghasilkan manfaat tidak kecil. Dia telah menunjukkan diri sebagai Presiden seluruh rakyat Indonesia Ketua partai oposisi yang jadi lawan politiknya pun dia terima di Istana.Langkah ini merupakan investasi politik besar menyongsong Pilpres dua tahun ke depan.

Sebelum dengan SBY, Presiden sudah lebih dulu bermesraan dengan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, seterunya paling sengit dalam Pilpres 2014. Poin-poin ini menjadi daya dongkrak elektabilitasnya sebagai petahana.
 
Jadi, pertanyaan "Jokowi Terima SBY, Siapa Diuntungkan?". Jawabannya adalah kedua pihak sama-sama diuntungkan. Siapa yang menangguk manfaat lebih besar? Belum ada yang tahu pasti mengingat belum ada yang melakukan survey.*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Mendes PDTT Ajak Astra Lanjutkan Membangun Indonesia dari Wilayah Terluar Mendes PDTT Republik Indonesia Eko Putro Sandjojo melakukan pemeriksaan darah di booth pengobatan gratis yang disediakan dalam acara Festival Kesehatan Inspirasi 60 Tahun Astra di Hotel Rinra Makassar hari ini (18/11). Acara Festival Kesehatan ini mendapatkan respon positif dari masyarakat
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Menjadi Guru Yang Baik 15 Nov 2017 07:00 WIB


 
Memahami Inflasi Lebih Dalam 21 Nov 2017 03:39 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Beriman dan Bijaksana 12 Nov 2017 06:45 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia