KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia - Berbagai serikat pekerja yang merupakan afiliasi global unions federations menyatakan kekecewaannya terhadap hasil pembahasan Omnibus Law RUU Cipta Kerja tingkat pertama pada Sabtu malam (3/10). Mayoritas fraksi di DPR RI dan pemerintah sepakat untuk melanjutkan pembahasan ke tingkat
selengkapnya....


 


 
BERITA POLITIK LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
M E R D E K A !!! 17 Aug 2020 06:01 WIB

Terbunuh Cinta Sendiri 05 Jul 2020 14:46 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Hidup Untuk Pilpres, Pilpres Untuk Hidup

 
POLITIK

Hidup Untuk Pilpres, Pilpres Untuk Hidup
Oleh : Berthy B Rahawarin | 26-Jul-2020, 12:42:22 WIB

KabarIndonesia - Tanpa banyak disadari, legislator kita, ya wakil-wakil rakyat di Senayan, telah menghipnotis rakyat untuk membuat agenda hidup kita jadi padat dan terasa singkat. "Belum kering tanah makam pengurus Pemilu legislative-pilpres 2019" - bahasa sinical di kampung-halaman beta - gaung "pilkada serentak nan rasa pilpres 2024" kembali bergema.

Di jaman rejim Pak Harto, presiden RI ke-2, isu suksesi adalah tabu, pun bahkan sudah di tahun penyelenggaraan Pemilu Presiden, yang dialami dan didebat setinggi, "Siapa yang akan jadi wakil presiden selanjutnya", ya wakil pak Harto.
Waktu bergulir, demokrasi, sistem terbaik dari terburuk, harus kita lalui. Senayan masih menjadi dapur demokrasi pengolah-rasa, mulai dari pemilihan tingkat er-te/er-we hingga puncaknya pemilu presiden dan pemilu legislatif, yang terakhir ini menelan ratusan nyawa akibat kelelahan.

Kesan "hidup untuk pilpres(pileg) dan pilpres untuk hidup" muncul dari padatnya siklus perhelatan itu, baik tahapan pilpres dan pilkada, maupun semua "ritual" yang mengiringinya. Impian "pesta rakyat" yang murah-meriah mungkin mimpi yang terus tertunda; pilpres-pileg akan tetap menjadi sesuatu yang mewah dan mahal, sebuah wilayah transaksional dan koruptif sulit terhindarkan.   

*** 

Itulah demokrasi, "pilihan terbaik dari terburuk". Republik berbentuk kerajaan-kerajaan tradisional, bisa saja tidak lebih buruk, bisa saja opsional di masa depan, jika lebih baik dan lebih murah. Kalo ayahanda baik, putera mahkota baik, rakyat setuju, ya monggo, kerajaan bertahan untuk mendukung republik atau kerajaan lebih besar, daripada menjadi "Demokrasi rasa Nano-nano". Yang dibangun adalah sebatas hasrat akan kekuasaan dengan pembalut demokrasi.

Etika di negara hukum jadi bab yang disampahkan, kata Machiavelli. Hukum ada hanya untuk melanggengkan kekuasaan atau sekedar memuluskannya, melayani pemberi kredit. Para Penegak hukum bisa dibeli dengan uang di depan mata kita. Tepatnya bahasa kini, "Nobar" (nonton bareng), lagi dilarang karena Covid, padahal ada sinetron seru berjudul ala Warkop DKI, "Kesempatan dalam Kesempitan". 

Dinasti dalam demokrasi seolah menjadi kebutuhan dan kemutlakan, sehingga sahabat saya Ade Armando dan Denny Siregar,  harus berjuang memberi "rasionalisasi" mengapa Pak Harto dengan Tommy berbeda dengan Jokowi dan Gibran. Sementara yang lain berbisik, "Dinasti yah, dinasti saja. Amerika, ya, Indonesia, kalo ada juga di Mars, dynasty is dynasty

Mempertahankan hak-hak warga di desa yang sudah dibeli kekuasaan, uang cukong, Absurditas dunia yang aromanya tercium hingga meja-meja kekuasaan spiritual atau memang diaduk bersama. Apalagi!, tanpa guyon kita mau lelang tanah (-air) lebih murah, setelah melelang "anak-cucu benur", ya benur berorangtua Lobster, karibnya teh  Susi Pudjiastuti.

Cetak biru negeri maritim terbesar dunia. Impian dedengkot bajak-laut. Cetak biru, putih, merah. Lampu kuning arah ekonomi kerakyatan. Selamat mengelus jagoan Anda. Maaf, memang bursa Pilpres 2024. Tapi itu konstitusional, saya ikut menjaga. Tapi, saya ikut mengawal,   bukan lagi sebagai relawan kelak. Happy jadi relawan. Happy lagi untuk lomba elus jago berikut. Bedanya, kita harus deal dengan jagoan 2024.Dimulai dengan "pilkada rasa pilpres" hingga pilkades rasa pilkada".

Begitulah kekuasaan. Lord Acton mungkin berbisik lain kepada KH Abdurahman Wahid, ya Gus Dur": Kekuasaan  enak juga koq, Gus". Monggo siapa sudah mau dielus lagi untuk Pilpres 2024? Saya juga mau latah mengelus dan mengulas jago saya. Maharnya, bayarlah dengan keteladanan dan sukacita rahakyat. Berkompetisi kebaikan, semboyan bersama (dengan Wakil rakyat): Hidup untuk pilpres, pilpres untukhidup.(*)

Penulis adalah Dosen Filsafat Negara di President University, Jababeka, Cikarang    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Obyek Wisata Rohani Salib Kasih Dibuka Kembalioleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
10-Jun-2020, 09:39 WIB


 
  Obyek Wisata Rohani Salib Kasih Dibuka Kembali Obyek wisata rohani Salib Kasih di pegunungan Siatas Barita, Tapanuli Utara dibuka kembali sejak Jumat (5/6), setelah dua bulan lebih ditutup akibat wabah Covid-19. Lokasi wisata ini salah satu destinasi unggulan yang dibangun bupati Lundu Panjaitan tahun 1993. Puluhan ribu
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
MENJAGA INTEGRITAS INTELEKTUAL. 19 Okt 2020 01:59 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia