KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalRudiantara: 4,6 Juta UMKM Sudah Online oleh : Sesmon Toberius Butarbutar
15-Nov-2017, 21:01 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Kementerian Komunikasi dan Informatika menyampaikan berdasarkan data terdapat 4,6 juta UMKM dari target delapan juta UKM hingga 2019 telah masuk akses online.

"Kami punya target mengonlinekan delapan juta UMKM hingga tahun 2019, namun sekarang baru
selengkapnya....


 


 
BERITA POLITIK LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Hujan Tak Pernah Sendiri 13 Nov 2017 20:13 WIB

Ada Saat 08 Nov 2017 13:32 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
POLITIK

Beberapa Faktor Kemenangan Anies/Sandi dalam Pilkada Jakarta
Oleh : Chairil Makmun | 21-Apr-2017, 23:26:14 WIB

KabarIndonesia - Jakarta, Anies Baswedan dan Sandiaga Salahudin Uno telah terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur baru. Demikian menurut hasil hitung cepat (quick count) sejumlah lembaga survey dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) DKI putaran kedua, 19 April 2017. Mereka mengalahkan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)/Djarot Saiful Hidayat.

Ahok/Djarot langsung mengucapkan selamat kepada pasangan calon (paslon) penantangnya itu. "Sambil menunggu pengumuman resmi KPU, kami mengucapkan selamat kepada Pak Anies dan Pak Sandi," kata Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu (19/4/17) sore.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) akan melakukan rekapitulasi hitungan suara mulai 20 April dan hasil finalnya akan diumumkan secara resmi pada 4-5 Mei 2017. Pasangan petahana masih akan bekerja sampai Oktober 2017. Pada bulan itulah serah terima jabatan akan dilangsungkan secara definitif.

Banyak pakar politik tercengang dengan hasil pilkada ibukota ini. Prediksi mereka semula kemenangan akan diperoleh paslon dengan beda angka tipis, mungkin hanya 2%-3%. Kenyataannya, angka kemenangan mencapai 15%-17%. Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kompas, misalnya memenangkan Anies/Sandi dengan skor 58%-42%.

Pertanyaannya, apa yang menjadi faktor kemenangan Anies/Sandi dengan angka sangat signifikan tersebut? Jawaban atas pertanyaan ini setidaknya ada 9 faktor.

Faktor pertama, mayoritas warga Jakarta ingin ganti gubernur. "Mayoritas warga Jakarta menginginkan gubernur baru, menginginkan perubahan," demikian kerap dikatakan Anies dan Sandi dalam banyak kesempatan kampanye.

Sejak awal 2016 hasil survey menunjukkan tingkat elektabilitas Ahok di bawah 50%, yakni pada kisaran 40%-47%. Kala itu Ahok secara pribadi diadu dengan para penantangnya, antara lain, Yusril Ihza Mahendra, Adhyaksa Dault, Ahmad Dhani, Tri Rismaharini, Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo. Rata-rata elektabilitas para penantang ini di bawah 20%.

Keinginan warga ganti gubernur juga tercermin pada pilkada putaran pertama yang diikuti tiga paslon. Paslon petahana hanya meraih suara 43%, sedangkan 57% tersebar ke dua penantang, yakni Anies/Sandi 40% dan Agus/Sylvi 17%. Agus/Sylvi tersingkir di putaran pertama ini.

Pada kontes putaran kedua, kalau suara yang diraih Ahok/Djarot dan Anies/Sandi pada putaran pertama dianggap tak berubah, Ahok/Djarot butuh tambahan 7,5% dan Anies/Sandi 10,5% untuk menjadi pemenang pilkada. Tambahan tersebut harus direbut dari perolehan Agus/Sylvi pada putaran pertama yang 17%.

Ternyata, mayoritas pemilih Agus-Sylvi tersebut mengalihkan pilihan kepada Anies/Sandi, bukan kepada Ahok/Djarot. Dalam quick count Litbang Kompas tadi, 16% suara dari Agus/Sylvi lari ke Anies/Sandi.

Faktor kedua, program yang ditawarkan Anies/Sandi dapat diterima warga. Tiga program utama paslon ini adalah OK-OC (satu kecamatan, satu pusat pembinaan wirausaha); pendidikan terjangkau sampai tuntas; dan bahan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.

Program OK-OC merupakan pembukaan lapangan kerja baru dan penciptaan wirausaha baru. Anies/Sandi berjanji setiap tahun dapat menciptakan ribuan lapangan kerja dan ribuan pengusaha baru. Program ini tampaknya menggiurkan bagi sebagian besar warga yang masih sulit mendapatkan pekerjaan. Mereka berharap Jakarta bakal banjir lowongan kerja.

Faktor ketiga, kepiawaian Anies/Sandi mengkritisi kinerja Ahok/ Djarot, misalnya proyek reklamasi pantai utara Jakarta, penggusuran warga di bantaran sungai, dan penyerapan anggaran dari APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) terendah sepanjang sejarah. Masalah ini pun "dimainkan" Anies dengan efektif dalam debat-debat resmi yang dilaksanakan KPU.

Dalam keseluruhan debat, warga menilai Anies/Sandi mengungguli Ahok/Djarot. Satu-satunya kekalahan Anies/Sandi hanya dalam debat terakhir. Namun, kemenangan dalam debat-debat sebelumnya ternyata sudah membuat warga menetapkan pilihan pada Anies/Sandi.

Faktor keempat, Anies/Sandi tampil dengan mengedepankan citra santun. Inilah yang kontra dengan citra Ahok selama memimpin Jakarta. Salah satu kelemahan Ahok, menurut banyak pengamat, adalah pada aspek kesantunan ini. Ahok dicitrakan sebagai pemimpin yang secara verbal "kasar" dan "kotor" yang dipersepsikan bertentangan dengan nilai budaya timur orang Indonesia.

Faktor kelima, Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dikenal memiliki pendukung loyal dan solid. Kedua partai ini menjadi pengusung utama Anies/Sandi. Mayoritas kader dan simpatisan kedua partai ini dapat digiring memilih Anies/Sandi, yang menurut pakar politik, hingga mencapai 90%. Jadi, kerja Anies/Sandi menjadi lebih ringan dalam merebut suara tambahan untuk merebut kemenangan.

Faktor keenam, isu dugaan penodaan agama oleh Ahok yang di-blow up (diledakkan) dari tingkat elit sampai akar rumput. Isu ini mendapat sambutan bukan saja dari warga Jakarta melainkan juga warga berbagai daerah. Isu ini "digoreng" dari September tahun lalu sampai saat ini.

Bahkan, sidang-sidang kasus penodaan agama ini begitu gegap gempita diwarnai pengerahan massa dua kubu yang berlawanan. Warga yang merasa tersinggung karena agamanya "dinodai" tidak mau memilih Ahok. Semboyan mereka dalam pilkada kali ini adalah "Asal Bukan Ahok".

Isu-isu agama yang lain, misalnya haram memilih pemimpin tidak seiman, yang juga sangat intensif, rasanya kurang signifikan memengaruhi perolehan suara. Sebab, isu seperti ini pernah dimainkan pada pilkada DKI tahun 2012 terhadap paslon Jokowi/Ahok. Nyatanya tidak berpengaruh. Jokowi/Ahok tetap keluar sebagai pemenang mengalahkan petahana Fauzi Bowo/Nahrowi Ramli.

Faktor ketujuh, pengerahan massa besar-besaran dengan mengusung aksi membela agama dengan label Aksi 411 (4 November 2016), Aksi 212 (2 Desember 2016), Aksi 212 (21 Februari 2017), sampai 313 (31 Maret 2017). Panitia mengklaim peserta aksi mencapai jutaan orang.

Aksi-aksi ini berdampak sangat kuat dalam memengaruhi psikologis warga pemilih. Akibatnya, warga tergiring untuk tidak memilih si "penoda". Suara mayoritas warga diberikan kepada penantang petahana.

Faktor kedelapan, Anies-Sandi menggunakan konsultan politik Eep Saifulloh Fatah. Reputasi Eep cukup bagus dalam menangani konsultansi kepala daerah. Sebagai contoh, tahun 2012, Eep menjadi arsitek kemenangan Jokowi/Ahok ketika melawan petahana Fauzi Bowo/Nahrowi Ramli. Sekarang terbukti kembali Eep yang dikenal sebagai pakar marketing politik ini berhasil membawa Anies/Sandi ke tangga juara.

Faktor kesembilan, kasus Novel Baswedan disiram dengan air keras oleh orang tidak dikenal. Simpati publik sangat besar kepada penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ini. Novel dinilai sebagai pihak yang dizolimi.

Rakyat tahu, Novel punya hubungan keluarga dengan Anies. Karena itu, simpati pun ikut menular ke Anies. Rasa simpati itu diterjemahkan dengan memberikan suara ke Anies dalam pencoblosan pilkada pada 19 April 2017.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Mendes PDTT Ajak Astra Lanjutkan Membangun Indonesia dari Wilayah Terluar Mendes PDTT Republik Indonesia Eko Putro Sandjojo melakukan pemeriksaan darah di booth pengobatan gratis yang disediakan dalam acara Festival Kesehatan Inspirasi 60 Tahun Astra di Hotel Rinra Makassar hari ini (18/11). Acara Festival Kesehatan ini mendapatkan respon positif dari masyarakat
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Menjadi Guru Yang Baik 15 Nov 2017 07:00 WIB


 
Memahami Inflasi Lebih Dalam 21 Nov 2017 03:39 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Beriman dan Bijaksana 12 Nov 2017 06:45 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia