KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia – Serang, Guna memaksimalkan peran Balai Latihan Kerja(BLK) yang sudah ada selama ini, Kementerian Ketenagakerjaan terus matangkan penerapan konsep Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK). Pasalnya konsep ini diyakini mampu menjawab kebutuhan tenaga kerja terampil di Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan
selengkapnya....


 


 
BERITA DAERAH LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Bubar Riyaya 22 Jul 2017 01:58 WIB

Anak Beranak Kanak 22 Jul 2017 01:56 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
DAERAH

Tinjauan Potensi Geopark Kaldera Toba di Geoarea Samosir
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 23-Jun-2017, 22:50:02 WIB

KabarIndonesia -  Samosir, Kabupaten Samosir adalah salah satu kabupaten termuda di Sumatera Utara, merupakan pemekaran dari Kabupaten Toba Samosir dan terletak di bagian tengah Kawasan Danau Toba. Kabupaten yang ditetapkan sebagai daerah otonomi ini memiliki wilayah yang sangat luas yakni daratan yakni pulau Samosir (6 kecamatan) dan pulau Sumatera (3 kecamatan) ditambah sekitar 70% permukaan danau toba.
 
Sejak tahun 70-an (Tapanuli Utara), Samosir telah dikenal sebagai daerah kunjungan wisatawan mancanegara. Memasuki tahun 2000-an pasca krisis ekonomi dan terbentuknya menjadi Kabupaten (2003), Samosir semakin dikenal dunia dan ramai dikunjungi wisatawan nusantara, regional Asia Tenggara maupun Eropah. Sebagai satu wilayah dari 7 kabupaten yang mengelilingi Danau Toba, kabupaten ini menjadi kawasan Geopark Toba..

Sebagaimana diketahui bersama bahwa suatu geopark terbagi atas beberapa geoarea, selanjutnya tiap geoarea terdiri diri atas geosite dan seterusnya terbagi menjadi beberapa geopoint. Hal yang unik untuk dicermati adalah lazimnya satu kawasan geopark secara administratif perwilayahan berada di beberapa provinsi atau kabupaten. Kawasan Geopark Toba (Geopark Kaldera Toba) berada di Sumatera Utara meliputi 7 Kabupaten yaitu: Kabupaten Samosir, Kabupaten Simalungun, Kabupaten Toba Samosir, Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Humbang Hasundutan, Kabupaten Dairi, Kabupaten Karo.

Karena luasnya wilayah sebaran geosite Geopark Kaldera Toba maka dalam organisasi pengelolaannya dikelompokkan menjadi 4 (empat) geoarea. Penentuan 4 (empat) geoarea ini didasarkan pada urutan waktu kejadian dan proses geologinya dengan entry point danau toba, yaitu:
1. Geoarea Kaldera Porsea, di sebelah timur meliputi geosite di Parapat (Kabupaten Simalungun) sampai Porsea (Kabupaten Toba Samosir).
2. Geoarea Kaldera Haranggaol, di sebelah utara meliputi geosite di Kabupaten Simalungun, Kabupaten Karo dan Kabupaten Dairi.
3. Geoarea Kaldera Sibandang, di sebelah selatan meliputi geosite di Kabupaten Tapanuli Utara dan Kabupaten Humbang Hasundutan.
4. Geoarea Samosir, yang berada dibagian tengah meliputi geosite di Kabupaten Samosir .

Setelah ditetapkannya Geopark Kaldera Toba menjadi Geopark Nasional oleh Presiden RI pada tahun 2014, telah disusun Masterplan Geopark Toba. Selanjutnya Pusat Informasi/Etalase ditetapkan di Sigulatti Desa Sarimarrihit Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir. Sigulatti yang berada di sebelah barat kaki Gunung Pusuk Buhit, dengan luas areal tanah seluas 22 hektar.

Tahun 2015 Pusat Informasi-etalase GNKT dibangun Pemerintah dan akan ditata sebagai tempat untuk menyimpan dan memajang contoh-contoh material dari semua geosite yang ada di geopark, menyediakan data-data ilmiah disamping informasi tentang letak geografis, jarak dan peta geosite-geosite yang sudah diteliti. Pusat Informasi/Etalase berfungsi sebagai gerbang awal informasi bagi pengunjung tentang Geopark Toba secara keseluruhan, sebelum mengunjungi geosite yang ada. Di Sigulatti, lokasi Pusat Informasi/Etalase juga direncanakan akan dibangun gedung teater sebagai tempat memutar film animasi tentang peristiwa meletusnya Gunung Toba sampai terbentuknya Danau Toba dan Pulau Samosir.

Memahami kabupaten Samosir sebagai salah satu bagian dari Geopark Kaldera Toba yang memiliki beragam potensi alam dan warisan budaya, sejak pembentukannya menjadi daerah otonomi Pemerintah Daerah telah menetapkan visi dan misi pembangunannya berbasis pariwisata dan pertanian. Bahkan para stakeholders menyepakati pengembangan pariwisata dan pertanian berbasis geopark. Kekayaan alam, tinggalan geologi, warisan budaya dan sejarah adalah potensi geopark yang dimiliki Kabupaten Samosir.

Diketahui bahwa pada beberapa tempat di permukaan bumi ditemukan bukti-bukti ilmiah tentang terangkatnya Pulau Samosir dari dasar danau, antara lain terdapat di Huta Tinggi, Salaon, Huta Sidolon-dolon dan di lokasi lain. Lokasi-lokasi tersebut disebut geosite.

Berdasarkan hasil penelitian para ahli geologi, telah diidentifikasi 42 geosite di Kawasan Danau Toba. Di Kabupaten Samosir terdapat 35 geosite, dan sebanyak 8 geosites ditetapkan sebagai unggulan yakni geosite Pusuk Buhit, Tele, Salaon Toba, Hutatinggi, Simpang Gonting, Air panas Simbolon, Ambarita/Siallagan, dan Tomok.

Untuk mengenal lebih jauh tentang geoarea Samosir, berikut ini dipaparkan keanekaragaman geologi/bumi, keanekaragaman hayati (flora dan fauna) dan keanekaragaman sosial budaya (situs-situs sejarah dan budaya) yang selanjutnya dikelola menjadi geowisata.

A. Keanekaragaman Geologi (Geodiversity)
Berdasarkan hasil penelitian ahli geologi, terdapat 8 geosite (situs geologi) sebagai tinggalan geologi (batu, air, tanaman endemik) yakni:
1. Geosite Pusuk Buhit terdiri dari geopoint Aek Rangat (air panas sulfur), batu hobon (batu berlobang dengan tutup besar); desa Sianjur Mula-mula, Sigulatti, Puncak Pusuk Buhit (Situs geo dan bio-cultural, trekking Si Raja Batak 7 kali naik-7 kali turun), 7 mata air di kaki pusuk buhit (aek sipitu dai, aek bintatar), tano ponggol), batu sawan.
2. Geosite Tele terdiri dari geopoint Panatapan Tele, Simanuk-manuk,
3. Geosite Simpang Gonting (batuan 300 juta tahun) dan batu berlapis Simpang Limbong, air terjun Efrata.
4. Geosite Hutatinggi-Sidihoni terdiri dari geopoint danau Sidihoni (endapat/sedimen danau), Hutatinggi (tinggalan tektonik dan patahan bumi/graben)
5. Geosite Salaon Toba terdiri dari geopoint pea Porohan dan geopoint batu bertingkat)
6. Geosite Simbolon yakni dari air panas belerang hingga ke danau;
7. Geosite Ambarita (Siallagan)-Tuktuk yakni batu persidangan, patung batu dan batu berlapis Tuktuk, kampung/museum Batak/sigale-gale Simanindo
8. Geosite Tomok, makam tua Raja Sidabutar, kuburan batu dan sigalegale, batu bernafas, gua batu, danau/aek Natonang, air terjun Garoga;

B. Keanekaragaman Hayati/Flora dan Fauna (Biodiversity)
1. Berbagai jenis ikan asli dan budidaya: Ihan (ikan khas Batak), ikan mas, ikan pora-pora, ikan lele, ikan gabus, ikan undalap;
2. Tanaman rempah/obat: andaliman, bawang, jahe, kunyit, lengkuas, jeruk purut, serai,
3. Hortikultura: cabe, kacang, jagung, kentang, tomat, sayuran
4. Tanaman perkebunan: mangga udang (mangga Toba), kemiri, kopi, vanili, kelapa,
5. Tanaman pertanian: padi sawah/ladang.
6. Peternakan : kerbau, sapi, lembu, ayam, bebek;
7. Unggas (burung), babi hutan, dan hewan/binatang liar;
8. Tanaman/pohon endemik seperti kayu ingul/surian, beringin, hariara, dsb;

C. Keanekaragaman Sosial Budaya, Situs Sejarah, Adat Istiadat dan Kearifan Lokal (Culture Diversity)
1. Situs-Situs Sejarah dan Budaya: Batu Hobon, Batu Sawan, Kuburan Batu marga Sidabutar, Sihaloho, Simarmata dan sebagainya, Patung Guru Tatea Bulan, Puncak Pusuk Buhit (partonggoan si Raja Batak), Pea Porohan, Aek Natonang, Gua batu Malliting, Mual si boru Pareme, siboru Naitang, Air terjun Nan Sogop; Perkampungan Siraja Batak, Sampuran Pangaribuan, Mual ni si Raja Sonang, kuburan Sipiso Somalim, Paromasan, Parhutaan ni raja Isumbaon, Mual ni si raja Tamba, makam tua Raja Sidabutar, batu Persidangan, kuburan di atas pohon Sijabat-Sidabutar. Museum dan Huta/Rumah berciri khas Batak. Lebih dari ribuan situs sejarah dan budaya yang pernah diidentifikasi serta hasil penelitian yang disusun dalam buku tradisi megalitik di Samosir. Tugu, makam, dengan berbagai bentuk;
2. Komunitas Budaya: Forum Komunikasi Tokoh Masyarakat, Lembaga Konservasi Situs dan Budaya, 22 Bius Samosir;
3. Sanggar Seni Budaya asuhan Peri Sagala,; Marlita Simbolon; Zico Mardo Harianja, opera pimpinan Gultom di Onanrunggu; Sanggar Seni Budaya 9 Kecamatan dan SSB Sekolah; Sanggar Budaya Tradisional;
4. Kelompok musik tradisional gondang batak; kelompok seni tari dan entertain tradisional di Tomok, Hutabolon Simanindo, Siallagan;
5. Kelompok musik kontemporer : Marsada Band, Batakustik, Fun Gora; dsb.
6. Kelompok pengrajin tenunan (ulos), ukiran/gorga, anyaman tikar pandan, gerabah, di kawasan Lumbansuhi, Hutanamora,Siallagan, Sosortolong, Simanindo.
7. Tradisi dan kearifan lokal yang masih tumbuh dan berkembang, semisal acara adat kelahiran, perkawinan, kematian, atau pesta lainnya, termasuk tersedianya kuliner tradisional.

D. Geo Wisata (Wisata Bumi/Alam)
Geopark tidak sekedar membicarakan masalah tinggalan erupsi –letusan gunung (batuan, mineral) tetapi juga berbicara tentang makhluk hidup (manusia, hewan, tumbuhan) dan ekosistem bumi. “Geopark tidak hanya berbicara mengenai batuan saja, tetapi juga manusia. Keduanya saling menyatu, sehingga manusia dapat menikmati keindahan dan keunikan tatanan geologi di suatu tempat. Tujuan geopark adalah mengoptimalkan geowisata yang dapat mendatangkan keuntungan bagi pertumbuhan ekonomi lokal, selain membantu orang memahami evolusi atau perkembangan bentang alam di daerahnya” sebut Chris Woodley-Stewart, manajer geopark di North Pennines AONB, Inggris.

Hanang Samodra, Peneliti Pusat Survei Geologi, Badan Geologi, Kementerian ESDM,
pada bimbingan teknis Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Daya Tarik Wisata Berwawasan Lingkungan di Jakarta (12-15 Juli 2010), memaparkan bahwa titik berat Geowisata adalah:
• Pemanfaatan nilai ilmiah geopark, dengan harapan setelah mengunjungi geopark dan memahami sejarah pembentukan bumi akan tumbuh kepedulian untuk melindungi alam warisan bumi
• Pendalaman informasi aneka ragam bentangalam ketika menikmati keindahan alam
• Penggalian pengalaman ketika mengamati fenomena alam dan budaya masyarakat setempat di dalamnya Geowisata diproyeksikan dapat menjadi sarana Penggalian, penumbuhan, dan pengembangan nilai ekonomi geopark secara berkelanjutan Sebagai wadah pengembangan, geopark bersifat konservatif.

Disampaikannya pula bahwa berdasarkan makna geologi, kelangkaan dan keindahan yang dimiliki, geopark merupakan kawasan lindung. Fenomena itu mewakili sejarah, kejadian dan proses bumi seperti Taman Nasional, geopark dikelola oleh pemerintah lokasi situs itu berada. Dengan demikian peran geopark sangat strategis bagi masyarakat dan pemerintah yakni membuka peluang bagi penelitian dan pendidikan.

Selain itu geopark memiliki potensi usaha penumbuhan dan pengembangan ekonomi lokal yang akan menciptakan lapangan kerja dan penumbuhan ekonomi baru. Peran tersebut dapat diwujudkan dengan pemanfaatan dan pengembangan potensi Geopark menjadi objek dan daya tarik wisata (geowisata). Geopark dapat dirancang menjadi lokasi usaha perdagangan atau pembuatan barang kerajinan seperti cetakan fosil sebagai cinderamata (geoproduct).

Hanang Samodra menyimpulkan bahwa geopark perlu diciptakan sebagai apresiasi terhadap bumi dan lingkungannya, serta pemanfaatan nilai ekonominya melalui geowisata & ekowisata. Menurut penulis, apresiasi yang dimaksudkan adalah dengan melakukan upaya pemulihan untuk pelestarian, pemuliaan dan kontinuitas tinggalan sejarah, potensi alam, budaya dan tradisi kehidupan bagi kesejahteraan masyarakat. Pemulihan dari situasi dan kondisi sakit-rusak yang dilakukan untuk pembangunan tanpa memikirkan kesinambungan dan dampaknya pada masa depan generasi bumi dan segala isinya.

Sesungguhnya secara bertahap sejak terbentuknya Kabupaten Samosir dengan visi dan misi berbasis pariwisata, potensi geopark telah dibangun dan dimanfaatkan menjadi geowisata (daya tarik wisata) di Samosir. Walaupun dalam skala kecil tetapi pondasi pembangunan kepariwisataan bergerak maju (kembali) sejak tahun 2008, hingga Samosir telah menjadi destinasi dan objek :
1. Wisata alam dan lingkungan
2. Wisata sejarah dan tradisi
3. Wisata adat dan budaya
4. Wisata olahraga tantangan
5. Fasilitas kepariwisataan.

Saat ini Pemerintah Kabupaten Samosir melalui Badan Pengelola Geopark Kaldera Toba (GKT) Geoarea Samosir terus berupaya melaksanakan berbagai kegiatan untuk memenuhi 5 rekomendasi Unesco, namun sangat disadari bahwa pengusulan GKT menjadi anggota Unesco Global Geopark (UGG) haruslah bersama-sama dengan 3 geoarea lainnya. Karenanya, segenap pemangku keptenentingan perlu memahami latar belakang pembangunan Geopark Kaldera Toba terutama karena di kawasan ini masyarakatnya terdiri dari beberapa sub-etnis yang memiliki perbedaan sejarah, tradisi, adat-istiadat dan bahasa.

Disebut sebagai Geopark Kaldera Toba bukan karena suku Batak Toba atau ada Danau Toba, tetapi karena kekayaan dan potensi geologi di kawasan danau yang terletak di bagian tengah Provinsi Sumatera Utara itu. Danau Toba sebagai danau vulkanik terbentuk karena erupsi gunung Toba puluhan sampai ribuan tahun lalu. Danau Toba adalah danau terluas di Asia Tenggara itu adalah obyek yang menarik karena keindahan alamnya dilengkapi kekayaan adat budaya serta dianggap sebagai asal leluhur suku Batak. Lokasi Geopark Danau Toba menjadi obyek wisata andalan di Sumatera Utara. Karena itu Geopark Kaldera Toba mengambil tema Supervolcano Toba.

Danau Toba adalah danau kaldera terbesar di dunia yang terletak di Provinsi Sumatera Utara, berjarak 176 km ke arah Barat Kota Medan. Danau Toba (2,88o N – 98,5o 2 E dan 2,35o N – 99,1o E) adalah danau terluas di Indonesia (90 x 30 km2) dan juga merupakan sebuah kaldera volkano-tektonik (kawah gunungapi raksasa) Kuarter terbesar di dunia. Kaldera ini terbentuk oleh proses amblasan (collapse) pasca erupsi supervolcanogunungapi Toba Purba, kemudian terisi oleh air hujan.

Danau Toba mempunyai ukuran panjang 87 km berarah Baratlaut-Tenggara dengan lebar 27 km dengan ketinggian 904 meter di atas permukaan laut (dpl) dan kedalaman danau yang terdalam 505 meter. Di tengah Danau Toba terdapat Pulau Samosir dengan ketinggian berkisar antara 900 hingga 1.600 meter dpl, yang terbentuk akibat pengangkatan dasar danau pasca erupsi kaldera yang terjadi pada 74.000 tahun yang lalu, sebagai akhir dari proses pencapaian kesetimbangan baru pasca-erupsi kaldera supervolcano.

Kawasan dinding Kaldera Toba memiliki morfologi perbukitan bergelombang sampai terjal dan lembah-lembah membentuk morfologi dataran dengan batas caldera rim watershed DTA Danau Toba dengan luas daerah tangkapan air (catchment area) 3.658 km² dan luas permukaan danau 1.103 km². Daerah tangkapan air ini berbentuk perbukitan ( 43%), pegunungan (30 %) dengan puncak ketinggian 2.000 meter dpl (27%) sebagai tempat masyarakat beraktifitas.

Dengan uraian di atas, sudah seharusnya ketujuh Kabupaten di kawasan Danau Toba bangkit dan melakukan kegiatan pembangunan untuk melengkapi persyaratan pengusulannya menjadi anggota Geopark Unesco. Perbedaan yang terjadi dapat dikoordinasikan dan dipersatukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dalam hal ini Gubernur Sumatera Utara.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mensos Khofifah: Kampung Berseri Astra Jadi Role Modeloleh : Rohmah Sugiarti
24-Jul-2017, 06:03 WIB


 
  Mensos Khofifah: Kampung Berseri Astra Jadi Role Model Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa (kedua kanan) menandatangani prasasti Desa Sejahtera Mandiri untuk Kampung Berseri Astra Keputih didampingi oleh Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial Hartono Laras (kanan), Chief of Corporate Communications, Social Responsibility & Security PT Astra International Tbk
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 
Ramadhan 15 Jun 2017 05:55 WIB

 
Awas Anemia! 17 Jul 2017 13:12 WIB

 

 
Hari Media Social 2017 11 Jun 2017 04:40 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia