KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalForum Promoter 2018 POLRI: Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia 2045 (1) oleh : Rohmah S
23-Mei-2018, 12:15 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Pangan tidak hanya merupakan komoditas dan kebutuhan pokok dalam kehidupan setiap orang. Tetapi pangan juga menjadi kepentingan nasional dan keamanan nasional bagi sebuah negara.

Pangan memiliki peran dan fungsi vital bagi bangsa dan Negara Indonesia.
selengkapnya....


 


 
BERITA DAERAH LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Laju 10 Kilometer 22 Mei 2018 14:44 WIB

Ranting Putih 22 Mei 2018 14:41 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Kejutan PKB di Pilgub Jateng

 
DAERAH

Kejutan PKB di Pilgub Jateng
Oleh : Gunoto Saparie | 09-Jan-2018, 22:34:25 WIB

KabarIndonesia - Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) akhirnya menjalin koalisi dengan Partai Gerindra, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Amanat Nasional (PAN) dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah 2018. Ketua Fraksi PKB DPR RI Ida Fauziah akan mendampingi calon gubernur Sudirman Said. Tentu saja koalisi empat partai ini cukup mengejutkan, karena selama ini PKB intens menjalin komunikasi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Kita tahu, PKB yang memiliki jumlah kursi DPRD terbanyak kedua di Jawa Tengah  sejak awal tarik ulur dengan PDIP untuk mendapatkan kursi wakil gubernur. Akan tetapi, penjajakan cukup panjang PKB dan PDIP ternyata berakhir tanpa titik temu. Ketua Umum DPP PDIP Megawati Sukarnoputri justru mengumumkan menggadang calon gubernur petahana Ganjar Pranowo berdampingan dengan dengan Taj Yasin (anggota DPRD Jateng dari Partai Persatuan Pembangunan, PPP). Akibatnya, para elite PKB kecewa dan merasa ditinggalkan PDIP, sehingga merapat ke Gerindra, PKS, dan PAN yang telah mendeklarasikan dukungannya ke Sudirman Said, namun tak kunjung mendapatkan cawagub yang pas.

Manuver Gerindra, PKS, dan PAN untuk berkoalisi dengan PKB sesungguhnya mudah ditebak, yaitu untuk memenangkan suara kaum nahdliyin di Jawa Tengah. Kita tahu, preferensi pemilih di Jawa Tengah yang punya kedekatan dengan NU cukup besar. Padahal Ganjar saat ini telah berpasangan dengan Yasin yang merupakan anak pengasuh Pondok Pesantren Sarang, Rembang, KH Maimun Zubair. Oleh karena itu, untuk dapat menyaingi Ganjar, Sudirman dinilai tepat memilih Ida. Ida merupakan Ketua Umum Pengurus Pusat Fatayat NU. Selain itu, Ida saat ini juga menjabat sebagai Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nadhlatul Ulama (LKKNU).

Meskipun demikian, peluang Sudirman-Ida melawan Ganjar-Yasin sesungguhnya tidak gampang pula. Ganjar saat ini merupakan gubernur petahana Jawa Tengah. Di samping itu, basis pemilih PDIP di Jawa Tengah cukup besar, dan PDIP merupakan pemilik kursi terbesar di Jawa Tengah saat ini. Apalagi parpol ini juga didukung oleh Partai Nasdem, Partai Demokrat (PD), dan Partai Golkar (PG). Taj Yasin sendiri putera dari KH Maimoen Zubair yang kini menjabat sebagai Mustasyar PBNU. Ia juga merupakan satu dari sedikit kiai sepuh NU yang disegani di Jawa Tengah. 

Memang, selama ini PKB lebih diidentikkan dengan NU, bahkan boleh dikatakan organisasi kemasyarakatan Islam terbesar ini pendirinya. Namun, sesungguhnya suara nahdliyin tidak monolitik. Bukankah PPP merupakan salah satu partai yang juga banyak menampung dan mengakomodasi kader-kader NU? Secara historis, NU bahkan pernah bergabung dengan PPP di zaman Orde Baru.      

Apakah peta kekuatan politik dalam Pilgub Jateng akan tetap didominasi oleh calon petahana Ganjar Pranowo? Benarkah Sudirman lawan tanding cukup kuat untuk menghadapi Ganjar? Jawa Tengah, kita tahu, merupakan kandang banteng atau lumbung suara PDIP. Oleh karena itu, kemungkinan besar Ganjar akan terpilih kembali sebagai Gubernur Jawa Tengah. Bukankah mesin PDIP di Jawa Tengah selama ini telah teruji? Akan tetapi, bukan tidak mungkin perilaku pemilih di Jateng mengalami perubahan. Siapa tahu, ada kejenuhan terhadap gubernur lama dan masyarakat Jateng menghendaki perubahan atau penyegaran kepemimpinan. Bahwa popularitas Sudirman-Ida masih di bawah Ganjar, itu jelas. Oleh karena itu, Sudirman-Ida membutuhkan perjuangan berat, apalagi waktu untuk bersosialisasi tidak begitu longgar.

Harus diakui,  pengurus organisasi seperti NU memang tidak bisa serta merta mengarahkan aspirasi warga nahdliyin. Hal ini karena kenyataannya ketaatan warga NU justru pada kiai-kiai dan tokoh-tokoh lokalnya. Oleh karena itu, baik Ganjar-Yasin maupun Sudirman-Ida perlu lebih intensif menjalin pendekatan melalui kunjungan ke pondok-pondok pesantren dan mendatangi komunitas-komunitas pengajian. Kelebihan Ganjar yang tidak dimiliki Sudirman adalah di jaringan birokrasinya. Sebagai petahana, Ganjar lebih mungkin membangun basis jaringan ke berbagai kabupaten/kota dengan mesin birokrasinya. Memang, untuk menggerakkan kepala daerah (bupati/walikota) pun tak mudah karena mereka berafiliasi dengan partai pengusung masing-masing. Namun PDIP memiliki 14 kepala daerah yang pasti mendukung Ganjar. Selain itu, mungkin ada baiknya Ganjar merangkul Heru Sudjatmoko, wakil gubernur petahana, yang konon telah menyusun jaringan relawan hingga level kabupaten/kota.

Apa yang terjadi di Pilgub Jateng memang hampir sama dengan peta perpolitikan di Pilgub Jatim. Perbedaannya di Pilgub Jatim para cagub saling berebut suara nahdliyin, sementara di Pilgub Jateng justru cawagub yang berebut suara warga NU. Harus kita akui, kaum nahdliyin sebagian besar masih berpandangan tradisional yang tergantung kepada fatwa kiai. Barangkali perhitungan para tokoh partai politik pengusung seperti itu. Para politisi masih beranggapan bahwa politik aliran masih efektif dalam memobilisasi massa di kalangan NU.

*Gunoto Saparie adalah Fungsionaris Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Jawa Tengah
       

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Sinergi Kemitraan DJI dan Halo Robotics Hadirkan Teknologi Pencitraan Udara Mutakhir Untuk Dunia Usaha Indonesia DJI, perusahaan industri drone sipil dan teknologi pencitraan udara (aerial imaging), umumkan kemitraan strategis mereka dengan Halo Robotics, distributor teknologi drone komersial terkemuka di Indonesia. Kemitraan ini diharapkan mampu memberikan solusi komersil DJI sehingga bisa diakses oleh para profesional dan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Antara Peradaban Barat dan Timur 22 Mei 2018 13:51 WIB


 

 

 

 

 
Sang Perancang Mode Batik 14 Apr 2018 18:54 WIB


 

 

 

 
Tempat Sampah Pintar 17 Mei 2018 22:48 WIB

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia