KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalForum Promoter 2018 POLRI: Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia 2045 (1) oleh : Rohmah S
23-Mei-2018, 12:15 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Pangan tidak hanya merupakan komoditas dan kebutuhan pokok dalam kehidupan setiap orang. Tetapi pangan juga menjadi kepentingan nasional dan keamanan nasional bagi sebuah negara.

Pangan memiliki peran dan fungsi vital bagi bangsa dan Negara Indonesia.
selengkapnya....


 


 
BERITA DAERAH LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Laju 10 Kilometer 22 Mei 2018 14:44 WIB

Ranting Putih 22 Mei 2018 14:41 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
DAERAH

Gerhana Bulan Total 31 Januari 2018 Tidak Berpengaruh di Samosir dan Kawasan Danau Toba
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 04-Feb-2018, 06:45:39 WIB

KabarIndonesia - Samosir, Hari Rabu, 31 Januari 2018, warga masyarakat di Indonesia akan mendapat suguhan alam dengan fenomena gerhana bulan total. Akan terlihat tiga fenomena sekaligus yang disebut lembaga antariksa Amerika Serikat NASA dengan sapaan 'Super Blue Blood Moon'.

Fenomena ini dikabarkan oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melalui akun jejaring sosial Twitter @infoBMKG.
Siaran Pers #BMKG 29/01/2018 meliputi
1. Fenomena langka Super Blue Blood Moon, diikuti
2. Gerhana Bulan Total (GBT) terlama di abad ini (31/01/2018)
3. Waspada banjir Rob ketika Supermoon, dan
4. Hujan lebat dan angin kencang hingga sepekan ke depan di sebagian wilayah Indonesia. 8:47 PM - Jan 29, 2018 · Indonesia.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menuliskan agar tetap waspada bagi masyarakat yang tinggal di beberapa daerah saat terjadi Super Blue Blood Moon (gerhana bulan total). Gerhana bulan total adalah posisi matahari, bumi dan bulan berada pada satu garis lurus, dan kejadian ini dapat diamati di sebagian besar wilayah Indonesia.

Fenomena ini merupakan fenomena langka karena akan terulang lebih dari 100 tahun untuk di Amerika, sementara di wilayah Indonesia 36 tahun lu pernah terjadi 30-31 Desember 1982) sehingga masyarakat diharapkan melihat atau mengamati fenomena ini dan bukan dijadikan sesuatu yang menakutkan.

Sebagaimana dilansir berbagai media, Kepala BMKG, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, M.Sc., Ph.D. menjelaskan di depan media massa, Senin (2/1) siang, bahwa pengamatan ini dapat dilihat secara ideal dari daerah perbatasan mulai dari perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur hingga daerah yang berada di sebelah barat Sumatera, yaitu melintas di Samudera Hindia yang berada sebelah barat Sumatera yang merupakan zona bulan terbit saat fase gerhana penumbra berlangsung.

Lebih lanjut Dwikorita mengingatkan bahwa meskipun fenomena ini merupakan sesuatu yang langka, namun masyarakat diharap mewaspadai beberapa kejadian alam yang akan terjadi akibat gerhana bulan total ini, antara lain tinggi pasang maksimun hingga mencapai 1,5 meter karena adanya gravitasi bulan dengan matahari.

Fenomena ini pun juga dapat mengakibatkan surut minimum mencapai -100-110 cm yang terjadi pada 30 Januari-1 Februari 2018 di Pesisir: Sumatera Utara, Barat, Sumatera Barat, Selatan Lampung, utara Jakarta, utara Jawa Tengah, utara Jawa Timur, dan Kalimantan Barat.

Ditegaskannya, bahwa tinggi pasang maksimum ini akan berdampak pada terganggunya transportasi di sekitar pelabuhan dan pesisir, aktivitas petani garam dan perikanan darat, serta kegiatan bongkar muat di Pelabuhan.

Berdasarkan analisis BMKG, untuk potensi hujan dengan intensitas sedang-lebat dalam jangka waktu seminggu ke depan (29 Januari-3 Februari) masih terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Hal ini disebabkan pada posisi saat ini, matahari berada di belahan bumi selatan akibatnya suhu udara di belahan bumi selatan lebih tinggi daripada belahan bumi utara.

Kondisi ini mengakibatkan adanya tekanan rendah di belahan bumi selatan sehingga terjadi aliran udara dingin dari belahan bumi utara tepatnya dari daratan Asia, termasuk Samudera Pasifik di sekitar Filipina atau bagian utara barat pasifik serta aliran udara dingin dari arah Samudera Hindia. Aliran udara tersebut semuanya menuju ke belahan bumi selatan tepatnya ke arah Australia, akibatnya beberapa wilayah Indonesia bagian barat dan selatan terlewati aliran udara dingin asia Samudera Hindia, dan Filipina.

Kondisi inilah yang memicu terjadinya potensi hujan dan angin dengan kecepatan tinggi, terutama di Aceh, Jambi, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tengah, Sulawesi selatan, Papua Barat, dan Papua.

Dwikorita menambahkan kondisi ini membawa uap air baik dari Samudera Pasifik maupun Hindia dari arah barat sehingga mengakibatkan potensi hujan lebat disertai angin kencang dengan kecepatan 25 knot atau berkisar 36 km/jam hingga 35 knot atau 70 km/jam di daerah tersebut.

Selain itu juga terjadi gelombang tinggi Laut Jawa, Samudera Hindia Selatan Pulau Jawa, Selat Sunda, Perairan Utara Jawa Tengah, Perairan Utara NTB hingga NTT, serta Pesisir Utara Pulau Jawa.

Gelombang tinggi 4.0-6.0 meter (very Rough Sea) berpeluang terjadi di Samudera Hindia Selatan Jawa hingga NTT, Perairan Selatan P. Sumba-P. Sawu-P. Rote-Laut Timor, dan Laut Arafuru. Sementara tinggi gelombang 2.5-4.0 meter (Rough Sea) berpeluang terjadi di Perairan Enggano, Perairan Barat Lampung, Selat Sunda Bagian Selatan, Perairan Selatan Jawa, Perairan Kep. Sermata-Leti, Perairan Kep. Babar-Tanimbar.

Secara umum, masyarakat diimbau agar mewaspada potensi genangan, banjir maupun longsor bagi yang tinggal di wilayah berpotensi hujan lebat terutama di daerah rawan banjir dan longsor. Waspada terhadap kemungkinan hujan disertai angin yang dapat menyebabkan pohon maupun baliho tumbang/roboh. Tidak berlindung di bawah pohon jika hujan disertai kilat/petir. Waspada kenaikan tinggi gelombang, potensi rob dan dampaknya. Waspada hujan lebat disertai angin kencang yang berbahaya bagi kapal berukuran kecil. Menunda kegiatan penangkapan ikan secara tradisional hingga gelombang tinggi mereda.

Samosir, kawasan Danau Toba tidak terpengaruh

Sementara itu, dikabarkan dari Samosir bahwa pra terjadinya fenomena gerhana bulan total ternyata tidak terlalu mempengaruhi alam kawasan Danau Toba. Menurut Edison Ambarita, pensiunan BUMN, warga Bandung yang sedang pulang kampung ke Ambarita, bahwa sejak dulu juga fenomena alam gerhana tidak mempengaruhi kondisi alam di kawasan danau toba khususnya Samosir.

"Kita perhatikan beberapa hari ini sejak ada informasi BMKG tentang akan terjadinya gerhana bulan total tanggal 31 Januari ini, tidak ada kejadian alam yang berubah, angin berhembus seperti biasa, cuaca normal tapi mendung" katanya kepada pewarta kabarindonesia dan beberapa rekannya di Ambarita, Rabu (31/1) pagi.

"Yang paling nyata, kita lihat di lapangan, posisi air danau toba tidak berubah, tidak pasang juga tidak surut," tambah beberapa orang warga yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan tradisional di dana toba, yang mengaku kalau ikan hasil tangkapannya makin berkurang.

Banyak peristiwa yang terjadi di belahan bumi Indonesia seperti ombak besar, banjir, tanah longsor dan sebagainya, namun sebelum dan sesudah gerhana bulan total ini, pantauan kabarindonesia di Samosir memang tidak ada perubahan alam yang terjadi.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Rayakan Ramadhan, Shopee Ajak Pengguna Berbelanja dan Beramal di Bulan Suci Rezki Yanuar, Brand Manager Shopee Indonesia memaparkan kampanye Ramadhan Shopee dalam menyambut bulan suci Ramadhan tahun 2018.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Antara Peradaban Barat dan Timur 22 Mei 2018 13:51 WIB


 

 

 

 

 
Sang Perancang Mode Batik 14 Apr 2018 18:54 WIB


 

 

 

 
Tempat Sampah Pintar 17 Mei 2018 22:48 WIB


 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia