KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Serba SerbiJababeka Senior Living Luxury Retirement Home oleh : Kabarindonesia
08-Des-2019, 09:41 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jababeka Senior Living mempersembahkan Luxury Retirement Home, suatu konsep konsep layanan hunian bagi Senior (lansia) dengan standar hotel bintang empt tetapi perhatian dan kepeduian team Care sebagaiman layaknya tinggal di rumah sendiri yg penuh kasih sayang. Home Sweet
selengkapnya....


 


 
BERITA BERITA REDAKSI LAINNYA




 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Opera Afeksi 08 Des 2019 14:27 WIB

Perih Paling Parah 26 Nov 2019 19:35 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Tol Laut, Tol Langit, dan Tol Media (Sebuah Kesaksian untuk HUT ke-13 HOKI)

 
BERITA REDAKSI

Tol Laut, Tol Langit, dan Tol Media (Sebuah Kesaksian untuk HUT ke-13 HOKI)
Oleh : Wahyu Ari Wicaksono | 12-Nov-2019, 01:10:15 WIB

KabarIndonesia - Sekarang ini perkembangan teknologi media telah berkembang dengan luar biasa. Apalagi ketika muncul teknologi yang disebut sosial media. Kemunculan sosial media telah membuat banyak hal berubah. Mulai dari industri, bisnis, kehidupan sosial, gaya hidup dan banyak lainnya. Salah satu yang menonjol adalah munculnya budaya "selfie" atau menunjukkan eksistensi diri pada komunitas sosialnya.

Melalui keberaniannya untuk menunjukkan diri secara berani, unik, nekat, gila-gilaan bahkan vulgar, maka banyak orang menjadi terkenal. Mereka akhirnya disebut selebgram yang bisa hidup dan menikmati penghasilan yang besar dari situ. Namun yang menghkawatirkan adalah tak jarang untuk bisa menjadi selebgram dan menghasilkan uang tersebut, banyak orang yang nekat bertindak bodoh, gila-gilaan, memalukan, pornografi, pornoaksi, dan hal-hal yang sebenarnya bersifat destruktif lainnya.

Beruntung, saya tidak mengalami masa puber eksistensi di zaman sekarang ini. Saya sedang haus-hausnya menunjukkan eksistensi ketika internet belum begitu bagus, smartphone canggih belum ada, dan media-media utama seperti radio, teve, koran dan majalah-majalah masih merajai kehidupan sosial. Karena itu, untuk menunjukkan eksistensi, kita harus menulis atau berkarya melalui media-media tersebut.

Ketika kuliah, saya sempat menjadi penulis opini lepas, esai, cerpen, dan puisi di media-media lokal maupun nasional. Setelah wisuda, saya pun terjun menjadi jurnalis di beberapa media lokal maupun nasional tersebut, sebelum akhirnya tergoda menjadi seorang penulis naskah iklan atau "copywriter".

Ketika menjadi jurnalis itulah saya menyaksikan lahirnya media-media online seperti detikcom, Mweb, astaga dotcom dan beberapa grup media online lainnya. Sayangnya waktu itu media online hanya menjadi seperti trend sesaat. Kecuali detik, saya melihat banyak grup media online lainnya gulung tikar. Karena daya survival-nya itulah maka sekarang detikcom berhasil menjadi pemimpin pasar (leader market) media online di Indonesia.

Saat sudah menjadi "copywriter", gairah saya untuk menulis berita masih tetap tinggi. Sementara itu, saya tidak memiliki media lagi. Karenanya saya pun sulit mendapatkan media untuk menyalurkan hobi tersebut. Sampai akhirnya saya menemukan Harian Online Kabar Indonesia (HOKI). Luar biasa, media ini memberikan kesempatan lebar bagi kita untuk menjadi "citizen journalist" (pewarta warga).

Setelah mendaftar sebagai penulis di HOKI, maka kita pun bisa dengan leluasa menuliskan informasi/berita yang kita dapatkan, dan membaginya kepada seluruh pembaca baik di daerah kita, seluruh pelosok Indonesia maupun di seluruh dunia. Di tengah hegemoni media-media utama (mainstream) yang tidak sembarang orang bisa menulis di sana, waktu itu saya memandang HOKI menjadi semacam oase dunia media/jurnalisme yang menyegarkan kehausan kita. Dus, jika Presiden Jokowi bisa mengistilahkan adanya proyek “Tol Laut” dan “Tol Langit”, maka bolehlah saya sebut kehadiran HOKI tersebut sebagai hadirnya sebuah “Tol Media”. Kehadiran HOKI seperti membuka sebuah jalan tol yang lebar dan bebas hambatan bagi para penulis/reporter/pewarta warga di mana pun berada untuk membuat berita tentang apapun yang dimilikinya.

Dengan konsep gotong-royong, “dari kita, oleh kita, dan untuk kita”, maka penulis-penulis/reporter HOKI boleh memberitakan apa saja secara bebas dan tentunya bertanggung jawab. Mereka bisa memberitakan tentang daerahnya yang tidak pernah diberitakan oleh media utama, membahas apa saja yang tak pernah dibicarakan media umum, dan sebagainya. Prinsipnya adalah demokratisasi informasi yang dimaksudkan agar masyarakat umum melek informasi, tidak hanya sekedar sebagai pengonsumsi informasi, melainkan juga sekaligus sebagai pemroduksi dan pengawas berita/informasi itu sendiri. Tujuan akhirnya adalah tumbuhnya kesadaran ideologis dari setiap orang bahwa dirinya merupakan agen perubahan bagi kemajuan Indonesia.

Karena bersifat probono alias sukarela, maka hal ini juga membebaskan penulis HOKI dari tekanan apapun semisal dari pemberi modal, pemegang saham, pengiklan dan lain-lainnya. Sehingga HOKI memiliki independensi yang juga bisa berperan sebagai anjing penjaga (watchdog) dari adanya berita-berita tidak benar, pesanan atau yang diselewengkan. Jika ada berita-berita yang dianggap tidak benar di media umum, penulis HOKI bisa mengklarifikasinya asalkan memiliki bukti-bukti kuat dan benar tentangnya.

Kini, sejak dilahirkan bertepatan dengan Hari Pahlawan, 10 November 2006 lampau, usia HOKI telah mencapai 13 tahun. Boleh jadi angka 13 adalah angka sakral dan zaman telah berubah. Media-media utama banyak yang berguguran. Sebagian lainnya beralih rupa menjadi media baru yang mengadaptasi perkembangan teknologi yang ada. Hampir semua media yang ada, kini telah hadir secara online. Bahkan banyak di antara mereka yang yang memberikan ruang bagi jurnalisme warga untuk berkarya di dalamnya. Bahkan tidak cuma-cuma. Mereka juga memberikan insentif/imbalan bagi karya-karya jurnalisme warga yang tayang di sana.

Ibarat jalan tol yang telah terbuka dan berkembang operasionaalnya, kini media yang melintasinya sudah bukan HOKI saja. Namun HOKI tetap seperti dulu kala. Tetap setia kepada penulis dan pembacanya dengan idealisme yang terjaga. Berbekal semangat, pengorbanan, dedikasi, dan keikhlasan tokoh-tokoh di dalamnya, seperti Robert Nio sang pendiri dan pemilik HOKI, Fida Abbott sebagai direktur, Wahyu Ari Wicaksono sebagai pemimpin redaksi, Danny Melani Butar-Butar sebagai redaktur pelaksana, Munir Werlin sebagai admin dan webmaster, HOKI tetap eksis dan memberikan ruang bagi kita agar terus berbagi infiormasi, karya, pemikiran, dan berita yang bermanfaat bagi kemajuan Indonesia.

Konon kata pepatah, mereka yang disebut Pahlawan bukanlah mereka yang paling berani. Melainkan mereka yang mampu mempertahankan keberaniannya lima detik lebih lama dari yang lain-lainnya. Semoga saja, karena HOKI dilahirkan di hari Pahlawan, HOKI memiliki keberuntungan untuk melayani Anda semua (penulis dan pembacanya) lebih lama dan lebih demokratis dari media-media lainnya.

Salam jurnalisme warga, salam demokratisasi informasi dan tentunya HOKI selalu untuk Anda semua. (*) 

 

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utaraoleh : Sesmon Toberius Butarbutar
25-Sep-2019, 15:25 WIB


 
  Peninjauan Proses Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara Camat Nassau Timbul Sipahutar (kiri) meninjau Pendaftaran Pilkades di Desa Lumban Rau Utara, Kecamatan Nassau, Kabupaten Toba Samosir, Rabu (25/09/2019)
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Pemilu Spanyol Diulang 18 Nov 2019 12:05 WIB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
LILIN ADVENT-NATAL 08 Des 2019 16:13 WIB

Kesehatan Manusia Dalam Alkitab 05 Des 2019 11:08 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia