KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalRudiantara: 4,6 Juta UMKM Sudah Online oleh : Sesmon Toberius Butarbutar
15-Nov-2017, 21:01 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Kementerian Komunikasi dan Informatika menyampaikan berdasarkan data terdapat 4,6 juta UMKM dari target delapan juta UKM hingga 2019 telah masuk akses online.

"Kami punya target mengonlinekan delapan juta UMKM hingga tahun 2019, namun sekarang baru
selengkapnya....


 


 
BERITA PROFIL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Hujan Tak Pernah Sendiri 13 Nov 2017 20:13 WIB

Ada Saat 08 Nov 2017 13:32 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Tim Redaktur HOKI, Badiyo, Tak Kenal Lelah Menimba Ilmu dan Belajar Menulis

 
PROFIL

Tim Redaktur HOKI, Badiyo, Tak Kenal Lelah Menimba Ilmu dan Belajar Menulis
Oleh : Redaksi-kabarindonesia | 04-Nov-2017, 19:03:31 WIB

KabarIndonesia - Badiyo lahir di Desa Kembangan, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah pada tanggal 24 Januari 1966. Selepas SMA di tahun 1987, dia sempat kuliah di Fakultas Biologi, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto. Namun karena ketiadaan biaya, dia hanya bisa bertahan sampai semester ketiga.

Meski berhenti kuliah, bukan berarti dia berhenti belajar. Kecintaan membaca yang tumbuh sejak di bangku SD membuatnya selalu bersemangat untuk terus belajar. Dia belajar dari apa saja yang dibaca, dilihat dan dialaminya. Keinginan untuk kuliah lagi suatu saat kelak dia pendam di lubuk hati yang paling dalam.

Tahun 1990, saudara sepupu mengajaknya merantau ke Jakarta. Pekerjaan pertamanya di ibu kota adalah sebagai operator foto copy di sebuah toko di depan kampus ISTN Srengseng Sawah, Jakarta Selatan. Hanya dua minggu bekerja sebagai tukang foto copy di toko itu. seorang pelanggang foto copy menawarinya pekerjaan sebagai pramubakti di SMP-SMA Bintara Depok.

Dua tahun Badiyo menjalani profesi sebagai pramubakti di sekolah swasta favorit di Depok itu. Melihat hasil kerjanya yang baik dan dinilai punya kemampuan, Kepala Sekolah mengangkatnya menjadi Pustakawan pada tahun 1992.

Saat itulah dia merasa bagai itik dilepas di sawah. Dia ditempatkan di tempat yang sangat ia sukai, yaitu perpustakaan. Di sela-sela waktu melayani para siswa, dia manfaatkan untuk menikmati koleksi buku yang ada. termasuk juga di hari Minggu dan malam hari karena dia tinggal dan menginap di sekolah.

Selain buku koleksi perpustakaan, dia juga sangat gemar membaca koran. Setiap pagi usai shalat subuh, dia selalu mendahului Satpam mengambil koran yang diselipkan di gerbang sekolah. Dia sempatkan setengah jam membaca koran sambil minum kopi sebelum memulai aktifitasnya. Bekerja dan tinggal di sekolah selama enam tahun lebih membuatnya kenyang akan bacaan, buku, maupun koran.

Saat itu bersama teman-teman kerja, Badiyo sempat mencoba kuliah di Universitas Terbuka (UT) mengambil jurusan Administrasi Negara. Namun lagi-lagi dia harus berhenti dan hanya bertahan dua semester. Selain jurusan yang dirasa kurang cocok, belajar di Universitas Terbuka saat itu boleh dibilang sangatlah sulit. Untuk mendapatkan nilai C saja butuh perjuangan yang tidaklah mudah.

Profesi Pustakawan dia jalani selama dua tahun sebelum akhirnya Kepala Sekolah memindahkannya ke bagian Tata Usaha pada tahun 1994. Sebagai staf Tata Usaha dijalaninya hingga tahun 2001. Di tahun itu, dia memutuskan berhenti bekerja dari SMP-SMA Bintara setelah 11 tahun mengabdi di yayasan tersebut. Alasan berhenti bekerja saat itu adalah ingin mencari pengalaman baru.

Badiyo sempat bekerja sebagai staf Tata Usaha di SMK Islam Al Muhajirin Depok di tahun 2002 namun hanya 3 bulan. Sejak Juni tahun 2002 dia bekerja di Sekolah Islam Al Syukro Ciputat – Tangerang Selatan sebagai staf administrasi.

Kegemaran membaca akhirnya memperkenalkannya dengan dunia tulis-menulis. Tanggal 11 Juli 2003 dia membaca sebuah artikel berjudul "Ada Cerpenis di Lantai Enam" ditulis oleh Irwan Kelana di harian Republika. Tulisan yang mengupas tentang lima pemuda yang bekerja sebagai "office boy" untuk belajar menulis telah menggugah jiwanya. Tulisan itu telah menggugah kesadarannya bahwa sesungguhnya dia juga memiliki ketertarikan dengan karang-mengarang semenjak Sekolah Dasar.

Sejak saat itu dia terus belajar menulis secara otodidak di tengah-tengah kesibukannya sebagai staf administrasi. Dia berburu berbagai buku dan artikel tentang kepenulisan. Pembelajaran menulis yang dijalaninya semakin menemui titik terang tatkala dia mengenal internet pada tahun 2006.

Berbagai artikel tentang menulis dengan mudah didapatkannya dari berbagai situs kepenulisan. Beberapa milis kepenulisan juga dia ikuti untuk menambah wawasan tentang menulis. Dia juga membuat blog untuk belajar sekaligus menampung lisan-tulisannya. Ada beberapa blog yang dia kelola. Dua di antaranya adalah http://badiyo.blogspot.com, http://badiyo.wordpress.com.

Selain di blog pribadi, tulisan-tulisannya juga dia kirimkan ke berbagai media online. Salah satunya adalah Harian Online Kabar Indonesia. Bulan Agustus 2007, dia mendapat penghargaan sebagai "Citizen Reporter of the Month, August 2007" oleh Harian Online KabarIndonesia (HOKI).

Tulisan-tulisannya tentang perhelatan Piala Asia 2007 menjadi tulisan yang paling banyak diklik oleh pembaca Harian Online Kabar Indonesia. Atas prestasi itu, Manajemen HOKI mengangkatnya menjadi salah satu editor di harian online tersebut.

Setahun kemudian, yaitu di bulan Agustus 2008, dia berhasil memperoleh beasiswa untuk belajar menulis di Sekolah Menulis Online (SMO). Dengan mengirimkan sebuah karya tulis, dia berhasil terpilih menjadi salah satu di antara lima orang untuk belajar menulis secara gratis di Sekolah Menulis Online (SMO).

Bulan Januari 2010, dia kembali mendapatkan kesempatan untuk belajar menulis secara online di PMOH (Pelatihan Menulis Online HOKI) melalui beasiswa yang diberikan Harian Online KabarIndonesia. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk memperdalam dunia kepenulisan. Lima belas minggu dia mengikuti pelatihan tersebut tanpa kenal lelah. Dia selalu mengerjakan tugas-tugas dari pembimbing di sela-sela kesibukannya.

Selain itu, pria penggemar sepak bola ini juga kembali ke bangku kuliah atas beasiswa yang diperolehnya dari pimpinan lembaga tempat dia bekerja, Sekolah Islam Al Syukro Ciputat. Dia mengambil jurusan Program Studi Ilmu Komunikasi di Universitas Terbuka (UT).
Alhamdulillah berkat perjuangan, kegigihan, kerja keras dan pantang menyerah, Badiyo lulus sebagai Sarjana Ilmu Komunikasi di tahun 2014 pada saat usianya sudah 48 tahun. Baginya, usia bukan hambatan dan batasan untuk terus belajar. Selagi masih hidup, itulah waktu untuk belajar.

Saat ini dia merasa prihatin terhadap kondisi masyarakat Indonesia yang menurutnya gagap informasi. Di saat tingkat literasi masyarakat Indonesia yang masih rendah, tiba-tiba dihadapkan dengan derasnya arus informasi dari berbagai media, khususnya media sosial. Akibatnya mudah ditebak, banyak masyarakat terombang-ambing dengan berbagai informasi yang bisa jadi saling bertentangan satu sama lain.

Informasi bisa dibuat dengan tujuan dan maksud tertentu seperti kepentingan politik, bahkan untuk memfitnah dan mengadu domba masyarakat. Masyarakat dengan tingkat literasi yang rendah sangat sulit untuk membedakan mana berita yang benar dan yang sesuai dengan data dan fakta, dan mana berita palsu alias "hoax". Jika dibiarkan kondisi itu jelas berbahaya bagi keharmonisan masyarakat bangsa Indonesia.

Kondisi tersebut menjadi motivasi tambahan bagi Badiyo untuk memantapkan diri menjadi seorang penulis. Dengan menulis dia bisa menyumbangkan ide dan gagasan untuk mengatasi kondisi dan berbagai persoalan masyarakat dan bangsa Indonesia.

Selain menjadi penulis, Badiyo saat ini juga menjadi salah satu Tim Redaktur di Harian Online KabarIndonesia (HOKI). Kesehariannya Badiyo bekerja di Sekolah Islam Al Syukro Universal Ciputat Tangerang Selatan sebagai Kepala Unit Pusat Data dan Informasi. Kesibukannya tak menyurutkan semangatnya untuk tetap menulis.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Inspirasi 60 Tahun Astra Makassar Semarak, Target Revitalisasi 600 Halte Tercapai Senior Journalist Rappler Indonesia Uni Lubis (kanan) berinteraksi dengan 400 peserta dalam bedah buku Astra on Becoming Pride of the Nation bersama Chief of Corporate Human Capital Development PT Astra International Tbk Aloysius Budi Santoso (tengah), dipandu oleh Zilvia Iskandar
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Menjadi Guru Yang Baik 15 Nov 2017 07:00 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Beriman dan Bijaksana 12 Nov 2017 06:45 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia