KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalWUPID INDONESIA 2017: Pemilihan Dua Tim Debat Bahasa Inggris untuk Mewakili Indonesia di WUPID Global oleh : Redaksi-kabarindonesia
18-Okt-2017, 01:37 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, 18 Oktober 2017 – Ruang kuliah 7-6 dan 7-7 Sampoerna University Jakarta seketika berubah hening dan suasana menegang sebab Muqriz Mustafa Kamal selaku Chair Adjudicator Final round akan mengumumkan
selengkapnya....


 


 
BERITA PROFIL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sabar dan Syukur 12 Okt 2017 01:07 WIB

Di Padepokan Om Jin 12 Okt 2017 01:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
"Tangisan" Ridho Irama 12 Okt 2017 10:00 WIB


 

 

Sayur untuk Hidup

 
PROFIL

Sayur untuk Hidup
Oleh : | 13-Jun-2016, 09:27:25 WIB

KabarIndonesia - Di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta, arus globalisasi semakin menipiskan masa tradisional. Seperti pasar tradisional yang harus bersaing dengan pasar-pasar modern yang dikuasai oleh para kapitalis. Apalagi bagi orang-orang yang tak pernah duduk di bangku pendidikan, semakin sulit untuk bersaing untuk mempeorleh pekerjaan.

Namun, hal ini berbeda dengan pria berkepala empat yang bekerja sebagai pedagang sayur di pasar tradisional. Ya, setiap pagi ia sudah berada di Pasar Timbul, Tegal Alur. Ia sudah bersiap menjajakan sayurannya untuk pelanggannya meski mata masih sayup-sayup mengantuk.

Rahman, demikianlah panggilan serta nama pria ini yang berdagang sayur di Pasar Timbul. Ia mempunyai dua orang anak, keduanya sudah bersekolah. Anak pertama sudah memasuki pendidikan tingkat menengah (SMP), dan yang kedua masih di tingkat sekolah dasar (SD).

Inilah skenario hidup dari Tuhan yang harus ia hadapi untuk membiayai sekolah dan kehidupan sehari harinya, Pak Rahman harus banting tulang menjual sayuran dari subuh hingga matahari berada tepat di atas kepalanya. Demi menghidupi keluarganya, ia pantang menyerah dan tak mengenal letih. Itu semua demi anak-anaknya juga agar kelak tidak seperti ia yang tidak merasakan pendidikan yang tinggi.

Ia tinggal bersama keluarganya di gang sempit, Jalan Sukatani, Tegal Alur. Setiap hari ia berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarganya. Giatnya bekerja, agar anak-anaknya melihat bahwa kerja kerasnya demi cita-citanya untuk menyekolahkan anaknya hingga di tingkat teratas, menjadi mahasiswa.

Karena ia berkata, "Tidak ada yang lebih berharga selain pendidikan, karena itu akan menaikkan strata sosial kami." ucapnya. Kata-kata ini membuat anak-anaknya semakin bersemangat untuk meraih pendidikan yang lebih tinggi. Ia tidak ingin seperti dirinya yang tidak sempat merasakan pendidikan perkuliahan.

Dari penjualan sayur, per hari ia bisa menabungnya dan cukup untuk makan sehari-hari. Kalau tidak habis, penghasilannya hanya cukup untuk makan saja. Maka dari itu ia harus pantang menyerah berjualan sayur, demi cita-citanya serta hidup keluarganya yang menunggunya di rumah.

Menjadi seorang tukang sayur memang bukan cita-citanya sejak ia kecil. Ia sebenarnya ingin menjadi seorang guru. Hanya saja pada saat itu faktor ekonomi menjadi penghalang sehingga ia tidak bisa melanjutkan untuk menggapai cita-citanya. Menjadi tukang sayur menurutnya sudah cukup, karena apa yang diberikan oleh Tuhan selalu ia syukuri dan nikmati.

Menurutnya, segala sesuatu jika dikerjakan dengan ikhlas, semua akan terasa nikmat. Menjadi seorang tukang sayur merupakan sebuah anugerah baginya. Hidup dalam kesederhanaan membuatnya menjadi lebih bersemangat untuk menjalani hari-harinya bersama keluarga di dalam ketenangan. (*)

 


Blog: http://www.pewarta.kabarindonesia.blogspot.com/ 
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com 
Berita besar hari ini..!!!.  Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Sandy dan Syagung, Sukses di Ajang Debat - WUPID 2017oleh : Johanes Krisnomo
19-Okt-2017, 13:37 WIB


 
  Sandy dan Syagung, Sukses di Ajang Debat - WUPID 2017 Sandy Sanjaya Awaluddin (kiri) dan Syagung Gunawan May (kanan) dari Universitas Gajah Mada, terpilih sebagai 1st breaking team, dalam ajang debat Bahasa Inggris WUPID - World Universities Peace Invitational Debate, di Jakarta (14-15/10/17). Bersama Aldwin dan Ibrahim dari
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Skenario Menjatuhkan TNI 19 Okt 2017 00:54 WIB

Danau Toba Bukan Danau Tuba 14 Okt 2017 05:14 WIB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia