KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
HiburanAmazing Art World Hadir Ramaikan Wisata Gambar Tipuan Mata di Indonesia oleh : Stanley Teguh
09-Jan-2017, 05:38 WIB


 
 
Amazing Art World Hadir Ramaikan Wisata Gambar Tipuan Mata di Indonesia
KabarIndonesia - Bandung, Saat ini tidak hanya K-Pop yang menjadi trend hiburan di dunia dan di Indonesia, namun para seniman Korea di era digital ini mulai memunculkan seni lukis modern yang cenderung akan membuat demam baru di
selengkapnya....


 


 
BERITA PROFIL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Lowongan Desain Grafis Freelance 11 Jul 2016 15:53 WIB

 

 
Yang Maha Mendengar 17 Jan 2017 15:26 WIB

Senyuman Sedu Dibalik Hujan 16 Jan 2017 19:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Resep Bakso Ikan Tenggiri 27 Des 2016 13:53 WIB

 

Protes Remaja Pelajar Daerah Kumuh

 
PROFIL

Protes Remaja Pelajar Daerah Kumuh
Oleh : Redaksi-kabarindonesia | 22-Des-2008, 00:04:59 WIB

KabarIndonesia - Uskup Agung Desmond Tutu, Kamis lampau, di Den Haag, telah menyerahkan Hadiah Perdamaian Anak-anak 2008, pada Mayra Avellar Neves. Gadis berusia 17 tahun ini, tumbuh di wilayah kumuh Rio de Janeiro, tempat berkecamuknya perang narkoba. Peluru yang berterbangan menghalangi perjalanan anak-anak ke sekolah. Kadang, selama berbulan-bulan mereka tidak bisa ke sekolah. Mayra menyelenggarakan protes mars pelajar.

"Di tempat pemukiman kami sering terjadi baku tembak. Seringkali, kami tidak bisa pergi ke luar rumah, karena terlalu berbahaya. Tahun lalu, sekolah kami yang terletak di daerah kumuh Vila Cruceiro, selama tujuh bulan terpaksa tutup, karena ada perang narkoba. Jalan-jalan ditutup, sehingga guru-guru yang tinggal di luar wilayah pemukiman, tidak bisa bekerja. Dua tahun lalu, saya menyelenggarakan mars perdamaian. Bersama tiga ratus remaja lainnya, kami menghimbau polisi agar jangan bertindak terlalu keras, dan jangan terlalu sering berpatroli di sekitar sekolah. Agar sekolah kami bisa buka kembali. Anak-anak berhak mendapat pendidikan. Tanpa pendidikan, mereka akan mudah menjadi sasaran bujukan mafia narkoba," demikian tandas Mayra Avellar Neves.

Tumbuh besar di lingkungan penuh kekerasan, ia tampak bersemangat dan penuh harapan, mengenakan topi beludru biru berbunga-bunga, menutupi rambut keritingnya.

Nanko van Buuren, seorang warga Belanda, Direktur Yayasan Ibiss, sudah bertahun-tahun memperjuangkan nasib penduduk dan anak-anak jalanan di wilayah kumuh Brasil. Pria ini pula yang mengusulkan agar Mayra mendapat penghargaan. "Ia selalu berdiri di depan, dan berupaya agar gerak jalan protes bisa berlangsung. Ia melakukan apa yang diperjuangkan oleh Hadiah Perdamaian Anak-anak," jelasnya. 

Setelah masa diktator militer selama tahun delapan puluhan berlalu, menurut Van Buuren, remaja Brasil sekarang lebih berani berbicara, "Warga Brasil sekarang sangat sadar politik. Juga anak-anak yang lahir setelah tahun 1984, seperti Mayra. Gadis ini beruntung. Ia berasal dari keluarga dengan orang tua masih hidup. Sebagian besar keluarga yang tinggal di pemukiman kumuh, terdiri dari orang tua tunggal. Orang tua lainnya, tewas karena terkena peluru nyasar, atau karena ikut bertempur dalam perang bandit."

Orang tua Mayra ingin agar gadis mereka sekolah setinggi mungkin. Karena itu, mereka mengirim Mayra ke sebuah sekolah, di luar wilayah pemukiman. Berikut penjelasan Nanko van Buuren, "Mayra memang tinggal di wilayah kumuh. Tapi, ia duduk di sekolah relatif bagus, di daerah Aspal. Sebagaimana penduduk di sini menyebut wilayah di luar pemukiman kumuh. Karena itu mereka melihat perbedaan yang ada dan menolak menerima kenyataan, penduduk di luar pemukiman kumuh mempunyai hak lebih banyak. Itu sebabnya, mereka sejak muda, sudah mulai menuntut persamaan hak bagi anak-anak di wilayah kumuh."

Sementara itu, sekolah di wilayah pemukiman Mayra sudah dibuka kembali. Dengan hadiah yang diperolehnya, Mayra berharap bisa berbuat lebih banyak bagi remaja di wilayahnya. Hadiah ini diberikan oleh organisasi Hak-hak Anak-anak, yang berusaha membantu anak-anak, yaitu anak-anak yang memperjuangkan hak-hak mereka. Anak-anak yang menentang praktek tenaga kerja anak, pelacuran anak-anak, dan hak-hak pengungsi anak-anak.


Ruang Kelas Baru

Pada tahun 2007, hadiah ini dianugerahkan kepada Thandiwe Chama dari Zambia, yang memperjuangkan hak pendidikan bagi anak-anak. Hadiahnya, uang sebesar 100.000 euro. Pada tahun 2007, lembaga Hak-hak Anak-anak menyerahkan uang tersebut pada sekolah di mana Thandiwe belajar. Untuk membangun ruang kelas baru dan perpustakaan. Selanjutnya, Thandiwe diterima mentri urusan remaja, olah raga dan perkembangan anak Zimbabwe.

Setelah menerima Hadiah Perdamaian Anak-anak ini, Mayra Avellar Neves akan diterima oleh Gubernur Rio de Janeiro, Mentri Pendidikan dan Perkembangan Sosial, serta Mentri Muda Keamanan. Mayra berharap, ia dapat meyakinkan para pejabat, bahwa remaja harus punya masa depan lebih baik. Untuk mencegah, agar mereka tidak terjerumus ke dalam organisasi kriminal. "Banyak anak-anak di wilayah kumuh berpendapat, memang sudah nasib mereka hidup di dunia hitam, miskin dan penuh kekerasan. Saya ingin menunjukkan, bahwa mereka bisa mengubah nasib mereka sendiri," kata Mayra.


Sambil Bermain

Maya ikut aktif dalam suatu grup teater, yang berupaya membangkitkan rasa percaya diri pada anak-anak. Sambil bermain, menunjukkan berbagai peluang yang ada. Orang tua Mayra kini ingin pindah rumah. Tapi Mayra menolak. Ia baru saja lulus ujian masuk universitas dan ingin tampil sebagai teladan bagi anak-anak lain. Sebagai penutup, Mayra menyanyikan sebuah lagu, "Kalian dapat menangkapku, memukulku, dan membiarkan aku lapar selama berhari-hari. Tapi, aku tidak akan pergi dari lereng bukit ini, aku tidak akan meninggalkan tempat tinggalku ini. Tempatku di sini. Dan kami akan mengubahnya menjadi tempat yang nyaman."

Gagasan penganugerahan hadiah ini muncul pada tahun 2005, dalam pertemuan para peraih Hadiah Nobel, di Roma. Syarat-syarat untuk dipilih menjadi pemenang, di antaranya:
- usia antara 12 hingga 18 tahun;
- remaja yang pantas menjadi teladan;
- sudah beberapa lama aktif memperjuangkan hak-hak anak-anak;
- kegiatannya sudah terbukti membuahkan hasil nyata;
- pemilihan pemenang dilakukan oleh Yayasan Hak-hak Anak-anak di Belanda.



Sumber:  Radio Nederland Wereldomroep (RNW)



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Buffalo Painting Toraja National Art Festival 2016oleh : Eliyah Acantha Manapa
08-Jan-2017, 13:46 WIB


 
  Buffalo Painting Toraja National Art Festival 2016 Seekor Kerbau yang badannya dilukis pada Toraja National Art Festival 2016. Kegiatan Toraja National Art Festival ini dilaksanakan pada tanggal 23 Desember 2016 hingga 3 Januari 2017.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 
Jakarta Butuh Pemimpin Baru! 11 Jan 2017 11:35 WIB

 

 

 

 

 

 
 

 
 
 

 
  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia