KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
HiburanAmazing Art World Hadir Ramaikan Wisata Gambar Tipuan Mata di Indonesia oleh : Stanley Teguh
09-Jan-2017, 05:38 WIB


 
 
Amazing Art World Hadir Ramaikan Wisata Gambar Tipuan Mata di Indonesia
KabarIndonesia - Bandung, Saat ini tidak hanya K-Pop yang menjadi trend hiburan di dunia dan di Indonesia, namun para seniman Korea di era digital ini mulai memunculkan seni lukis modern yang cenderung akan membuat demam baru di
selengkapnya....


 


 
BERITA PROFIL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Lowongan Desain Grafis Freelance 11 Jul 2016 15:53 WIB

 

 
Yang Maha Mendengar 17 Jan 2017 15:26 WIB

Senyuman Sedu Dibalik Hujan 16 Jan 2017 19:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Resep Bakso Ikan Tenggiri 27 Des 2016 13:53 WIB

 

MARIA SARINA ROMA KIA : Menembus Tradisi Lamaholot

 
PROFIL

MARIA SARINA ROMA KIA : Menembus Tradisi Lamaholot
Oleh : Balawala Mansetus | 02-Feb-2016, 17:56:45 WIB

KabarIndonesia - Tegas dan berwibawa dalam menjalankan tugas, itulah sosok Maria Sarina Roma Kia, nama lengkapnya ibu beranak lima. Masyarakat Flores Timur dan Lembata mengenal sosok ibu berperawakan gemuk tinggi sebagai polwan pertama yang lahir dari perut bumi Lamaholot, sebutan untuk Flores Timur-Lembata.

Meski di zamannya, budaya patriarki begitu kuat melekat, namun Sarina kecil tampil percaya diri. Ia mampu membuktikan dirinya, menembus sekat budaya yang memandang perempuan adalah manusia kelas dua. Karena itu akses perempuan ke segala hal sangat dibatasi. Orang tua selalu menomorsatukan anak laki-laki ketimbang anak perempuan. Karena itu, tidak mengherankan ketika ia mengutarakan niatnya untuk menjadi polwan, istri dari Simon SE, EMT ini mendapat tantangan dari ayahnya, Hermanus Romakia.

Konon kedua neneknya pun melarang Erna, demikian nama populer Maria Sarina Roma Kia, untuk melanjutkan studi, apalagi harus menempuh pendidikan polwan.

Kepada media KabarIndonesia, yang mendatangi kediamannya di Kelurahan Lokea, kecamatan Larantuka, Erna mengisahkan bahwa sikap keras kepala kedua neneknya saat itu karena mereka takut kehilangan gading, sebagai mas kawin perempuan Lamaholot.

Kekahwatiran ini boleh jadi beralasan. Pasalnya bila Sarina sekolah ke luar daerah dan mendapatkan jodoh di wilayah lain dengan mas kawin yang bukan gading, maka tentu saja mereka kehilangan satu sampai tiga batang gading. Bisa juga lebih, karena seturut adat Lamaholot, jumlah mahar/mas kawin atau belis sangat bergantung pada status sosial tradisi Lamaholot.

“Nenek saya memang tidak mau saya sekolah, apalagi menjadi polwan. Mereka takut kehilangan gading. Pemikirannya sederhana. Jika saya sekolah dan keluar dari daerah, mereka takut saya mendapat jodoh orang dari daerah lain yang mungkin saja bisa memberikan mas kawin kepada saya tidak dalam bentuk gading. Ini yang menjadi ketakutan opa dan oma saya waktu itu. Saya sangat mengerti karena ketakutan seperti itu terjadi bagi semua orang tua yang memiliki anak perempuan kala itu,” kenang Ipda Erna yang saat ini menjabat sebagai BKO Lantas Polres Flores Timur.

Menghadapi kemauan ayahnya yang demikian, Erna kecil tak putus asa. Cita-cita menjadi polwan yang diimpikannya sejak kecil akhirnya terwujud juga. Ia berangkat ke Kupang mengikuti pendidikan setelah melalui dua kali tes, baik di Kupang maupun di Jakarta sekitar tahun 1980.

Lantas bagaimana dengan pihak keluarga yang saat itu bersikeras melarang Erna menjadi polwan? Erna dengan diplomatis mengatakan, kakek dan neneknya akhirnya bangga juga ketika dirinya berhasil menempuh pendidikan polwan dan kembali ke Waiwerang, Adonara. Saat itu tidak saja orang tuanya merasa bangga tetapi para guru di SMA Syuria Mandala Waiwerang pun bangga dengan prestasi yang diraihnya. Hal itu dibuktikan sekolah dengan mengirim Kepala Sekolah, Oka Korebima untuk turut menjemput ibu lima anak ini. Korebima kemudian mengajaknya ke sekolah untuk memotivasi siswa/i di sekolah yang menjadi almamaternya itu untuk bisa menjadi Polwan. Kebanggaan para guru dan siswa SMA Syuria Mandala ini tentu karena Sarina merupakan salah satu alumnanya.

Polwan Bukan Perkara Mudah

Menjadi Polwan bukanlah sebuah perkara mudah. Banyak hal yang mesti diatur. Setelah sekian lama mengabdi di Bagian Lantas Polres Flores Timur, ia menilai kesadaran berlalu lintas masyarakat Flores Timur umumnya masih sangat rendah. Hal ini terbukti dari banyaknya pengendara yang belum menaati aturan dan rambu lalu lintas. Sebagai contoh, masih banyak orang yang mengenakan helm karena takut ditilang polisi dan bukan karena kesadaran sendiri.

Penilaian Erna ada benarnya, selama menjadi polisi, ia hampir bertugas di semua bagian. Apalagi bagian Lalu lintas (Lantas), hampir setiap hari pada jam-jam keramaian, Erna berada di jalanan mengatur lalu lintas. Terkadang ia berada di antara barisan penjemput pejabat negara yang datang. Dia juga selalu berada di antara kerumunan massa demonstran yang menentang kebijakan pemerintah. Semua itu dijalaninya dengan sungguh-sungguh.

Saat ditanya, soal suka dan dukanya selama menjadi polwan, secara diplomatis Erna mengatakan bahwa lebih banyak suka cita daripada dukacitanya. “Menjadi polwan itu adalah cita-cita saya dari kecil, maka selama bertugas, saya lebih banyak mendapatkan sukacita dari pada dukacitanya. Sukacitanya bahwa masyarakat Flores masih menaruh penghargaan dan kepercayaan yang tinggi terhadap polisi. Tetapi sebagai seorang perempuan, saya juga tentu mengalami dukanya menjadi seorang wanita karier. Betapa tidak, saya juga harus mengurus anak-anak dan suami. Tapi itulah, di saat ada panggilan tugas, perhatian saya terhadap keluarga mau tidak mau ditinggalkan meski untuk sementara. Namun semuanya berjalan baik berkat saling pengertian dalam keluarga,” tutur Erna yang pernah mengikuti Kursus Keterampilan (Susjur) Komputer bersama 21 polwan dari daerah lainnya di Jakarta ini.

Sebagai Polwan yang sudah bertugas selama 35 tahun, ia tentu memiliki segudang pengalaman. Tamat pendidikan polwan tahun 1981, ia pernah bertugas sebagai staf operasi Kapolri yang saat itu dijabat oleh Jend. Polisi Awaludin Jamin selama 13 tahun. Tahun 1992 Erna ditugaskan ke Polres Flores Timur.

Selama empat tahun bekerja, tepatnya pada 1996, ia kembali dimutasi ke Polda Jawa Barat dan kembali lagi ke Polres Flores Timur tahun 2002. Ia juga sempat bertugas sebagai Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Dengan moto “Katakan benar bila benar dan salah jika salah” ia mampu bekerja sama dengan tim di PPA. Saat ini Ipda Erna menjabat sebagai BKO Lantas Polres Flores Timur.

Mewarisi Watak Bapak

Selama menjadi polwan hingga saat ini, sebagian besar masyarakat di Flores Timur dan Lembata menilai Erna sebagai Polwan yang terkesan garang. Ia tegas menindak siapa saja yang melangar aturan. Namun dibalik kesan garang itu, ia adalah sosok seorang perempuan yang sesungguhnya berhati lembut. Hal itu ia tunjukan selama menjabat sebagai Kanit PPA di Polres Flores Timur. Setiap pengaduan yang datang ia layani dengan rasa empati. Banyak perempuan yang menjadi korban berbagai tindak kekerasan fisik maupun psikis. “Hati tertegun manakala menerima laporan tindak kekerasan yang menimpa perempuan dan anak,” tuturnya.

Erna melanjutkan bahwa watak kerasnya itu karena mewarisi sikap ayahnya Hermanus Roma Kia yang notabene adalah seorang polisi. Bapaknya adalah polisi pertama di Flores Timur, dan karena itu di zamannya semua orang kecil besar, tua muda mengenal nama Roma Kia. Ia adalah kebanggaan masyarakat Flores Timur dan Adonara khususnya, karena dialah putra daerah pertama yang menjadi polisi. (*)




Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: http://www.kabarindonesia.com//

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Buffalo Painting Toraja National Art Festival 2016oleh : Eliyah Acantha Manapa
08-Jan-2017, 13:46 WIB


 
  Buffalo Painting Toraja National Art Festival 2016 Seekor Kerbau yang badannya dilukis pada Toraja National Art Festival 2016. Kegiatan Toraja National Art Festival ini dilaksanakan pada tanggal 23 Desember 2016 hingga 3 Januari 2017.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 
Jakarta Butuh Pemimpin Baru! 11 Jan 2017 11:35 WIB

 

 

 

 

 

 
 

 
 
 

 
  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia