KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
ProfilHikmah Nurida, Pustakawan yang Suka Menulis dan Aktif Bersukarelawan oleh : Redaksi-kabarindonesia
14-Feb-2017, 09:34 WIB


 
 
Hikmah Nurida, Pustakawan yang Suka Menulis dan Aktif Bersukarelawan
KabarIndonesia - Hikmah Nurida adalah pemenang I Lomba Tulis HOKI 2016 bertema Aku Ingin Menjadi Penulis Cerita Anak-Anak. Ia berprofesi sebagai seorang pustakawan di layanan Koleksi Umum Perpustakaan Nasional RI yang membuat perempuan murah senyum ini banyak bergelut dengan
selengkapnya....


 


 
BERITA PROFIL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Ayah 11 Feb 2017 17:13 WIB

Kisah Februari 11 Feb 2017 17:12 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
PROFIL

Daniel Johan, Pribumi Tulen Berdarah Tionghoa
Oleh : Adi Jaya | 25-Des-2008, 12:32:48 WIB

KabarIndonesia - Tjong Nyuk Hao adalah generasi ke-4 sejak leluhurnya meninggalkan Moyan, Guangdong. "Himbauan" almarhum Jenderal Soeharto agar orang-orang Tionghoa memiliki "nama Indonesia" membuat Nyuk Hao memiliki identitas tambahan. Sekarang ia dikenal dengan nama Daniel Johan. Ia adalah Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Kebangkitan Bangsa sekaligus Direktur Institute of National Leadership and Public Policy (INLAPP).

"Saya pribumi Indonesia berdarah Tionghoa. Sama seperti Indonesia Jawa atau Batak. Karena saya lahir di Indonesia", kata Daniel Johan di suatu malam yang juga mantan Sekretaris Jenderal Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDHI).

Daniel Johan dilahirkan di Jakarta, 10 April 1972.  Ia tinggal di daerah Pekojan yang dikenal sebagai perkampungan Arab di masa kolonial Belanda. Saat itu Pekojan adalah salah satu ghetto Arab di mana kebijakan passen stelsel dan wijken stelsel diterapkan. "Sampai sekarang masih ada sisa-sisa keluarga Arab di sini", kata Daniel.

Di dekat daerah Pekojan terdapat Kali Angke. Nama Kali Angke muncul setelah etnis Tionghoa dibantai selama tiga hari oleh VOC di Batavia pada tanggal 9 Oktober 1740. Mayat-mayat Tionghoa dibuang ke kali hingga membuat warna air sungai berubah menjadi merah oleh darah. Istilah Angke berasal dari dialek Hokkian, berarti Kali Merah.

Di daerah itulah, Daniel Johan tumbuh dan berkembang. Ia adalah bungsu dari enam bersaudara. Lahir dari keluarga Hakka Totok. Daniel kecil dikenal oleh teman-temannya sebagai anak yang aktif dan berani. Selain gemar membaca, ia juga mengoleksi berbagai jenis hewan peliharaan.

Jejak militansi gerakan Daniel sudah terlihat sejak usia 15 tahun. Waktu itu ia masih duduk di bangku SMP kelas dua. Terjadi penyimpangan praktik keuangan oleh Yayasan Sekolah. Daniel memimpin sekitar 30 murid SMP untuk melakukan boikot, semacam demonstrasi kecil-kecilan.

Akibat aksi itu, Daniel remaja hampir dipecat. Sekalipun pada akhirnya, pihak yayasan merasa perlu melakukan perbaikan sistem manajemen keuangannya. Daniel dkk berhasil menekan yayasan untuk memperbaiki diri.

"Alhamdulilah, tidak dikeluarkan. Jadi bisa sampai lulus SMP", kata Daniel mengenang masa-masa SMP itu. Menurut Ivana, aktivis Budhis, Daniel menghabiskan masa SMA yang kontemplatif. Lewat OSIS, ia merintis majalah sekolah, ekskul teater,  vokal grup dsb.

Krisnanda WM, seorang pentolan Buddhis, menulis bahwa saat masih pelajar (SMP/SMA Tri Ratna), Daniel sudah mempertanyakan soal menampilkan wajah Buddhisme yang hidup. Bukan Buddhisme sebatas simbol. Dia sadar betul tentang arti perjuangan dan pengorbanan, dan menurutnya, tanpa kepedulian sosial, tanpa adanya keadilan sosial, tidak ada Buddhisme.

Setelah memasuki dunia kampus, Daniel aktif di Keluarga Mahasiswa Buddhis Indonesia (KMBJ). Ia menyebut dua nama yang sangat mempengaruhi dirinya untuk benar-benar menjadi aktivis. Mereka adalah Krishnanda WM dan Eric Eresen. Pemahaman "dialektika" diketahui lewat penjelasan Eric Eresen. Di titik ini, Daniel Johan yang semula sekedar aktif akhirnya menjadi seorang aktivis.

Menurut Daniel, "dialektika" adalah proses yang digambarkan sebagai dua gerigi yang harus berputar saling menggesek supaya dapat menggerakkan sesuatu agar menjadi lebih maju.
Pada tahun 1994, Daniel bersama Agus Tjandra, Agus Hartono, Yabin Yap dkk sepakat mengubah haluan gerakan KMBJ.

Sebelumnya, KMBJ adalah organisasi mahasiswa yang bersifat religius-ritual. Di tangan para pemuda "revolusioner" ini, KMBJ mulai berorientasi sosial-politik yang didasarkan pada nilai-nilai spiritual humanis. Simbol perubahan ini diwujudkan dengan pergantian nama organisasi, dari KMBJ menjadi Himpunan Mahasiswa Buddhis Indonesia (HIKMAHBUDHI), mengambil nama majalah yang telah diterbitkan KMBJ sejak 1971.

HIKMAHBUDHI sendiri telah berdiri sejak 1988 meski kemudian tidak aktif. Kuliah diselesaikan dengan IP 3,2. Daniel semakin aktif dalam gerakan politik. Daniel kemudian dikenal sebagai seorang pemuda pengkritik fundamental kapitalisme. "Persoalan kapitalis. Itu yang menguras waktu saya banyak banget, sampe sekarang," katanya.

Desember 1997, Indonesia mulai masuk pusaran krisis moneter. Rupiah anjlok. Dunia usaha panik. Kasus-kasus penculikan aktivis sudah terjadi sejak menjelang pemilu Mei 1997. Atmosphere politik mulai memanas.

Di situasi yang semakin memanas itu, Daniel dkk berencana menggelar seminar Aksi Cinta. Seminar ini recananya menghadirkan tokoh-tokoh penentang Soeharto seperti Romo Sandyawan, Permadi, Sabam Sirait dsb. Pihak intelijen bereaksi. Pemantauan dilakukan hingga menciptakan suasana intimidatif. Tokoh-tokoh Buddhis bereaksi dengan meminta pembatalan rencana seminar.

Saat itu, Biku Mahaghosananda datang ke Jakarta dan akan menghadiri seminar tersebut. Beliau adalah nominator Hadiah Nobel Perdamaian. Namanya sedang dibicarakan oleh dunia dan ditunggu-tunggu apakah tahun itu terpilih sebagai pemenang Hadiah Nobel Perdamaian.

Kedatangan Bhikkhu Kamboja yang amat dihormati ini menebalkan tekad Daniel dkk. Asumsinya, pihak militer Indonesia tidak akan gegabah untuk menangkapi mereka di depan mata seorang nominator Nobel Perdamaian. Tekanan makin gencar, Daniel dkk mengambil langkah melawan dengan mengundang Wapres Jenderal Try Sutrisno untuk membuka seminar.

Kebimbangan belum reda, tiga hari sebelum hari H panita mengadakan rapat teknis. Sebagian anggota panitia mulai takut, Daniel bersikeras untuk meneruskan agenda seminar.
Hari berikutnya, Daniel mengundang Mahaghosananda untuk menerima dana makanan di rumahnya.

Setelah Mahaghosananda selesai membaca paritta, Daniel menerima fax surat dari Istana Wakil Presiden. Isinya, Jenderal Try tidak dapat menghadiri undangan seminar. Tetapi mantan ajudan Presiden Suharto ini bersedia menerima audiensi panitia guna mengetahui hasil-hasil seminar. Di akhir surat, Jenderal Try secara pribadi memberi bantuan dana sebesar 2 juta rupiah.

Surat Wapres itu ditempel di pintu gedung seminar. Para intel menjadi bimbang dan selamatlah nasib acara seminar ini. Namun sejak itu, menurut info sejumlah kawan dan jaringan militer yang properubahan, nama Daniel Johan terdaftar sebagai pihak yang harus "diamankan" (diculik) bersama sejumlah nama lainnya.Di tahun 1998, Suharto mengeluarkan kebijakan melikuidasi bank-bank bermasalah. Kepanikan semakin menjalar membakar keresahan. Sembako semakin langka. Demonstrasi mahasiswa terjadi di seantero Indonesia. Tuntutannya agar Suharto mundur.  Di tahun 1998 ini, HIKMAHBUDHI bersama dengan organisasi mahasiswa lain seperti PMII, GMNI, PMKRI, GMKI (kelompok Cipayung) membentuk sebuah aliansi bernama Forum Kebangsaan Pemuda Indonesia (FKPI) sebagai bentuk protes terhadap kelompok Cipayung yang dianggap pro-kemapanan. Lewat forum ini, Daniel mulai berkenalan dengan Muhaimin Iskandar (Wakil Ketua DPR-RI sekarang), Baskara (Sekjend GMNI), Anton Doni (Ketua PMKRI) dan aktivis lain dari spektrum kebangsaan. Penembakan mahasiswa Trisakti oleh sniper aparat keamanan Indonesia memicu kerusuhan Mei 98. Toko-toko milik Tionghoa dijarah. Korban berjatuhan di Jakarta, Medan, dan Solo. 13-15 Mei, Jakarta dicekik ketakutan dan diwarnai oleh amuk massa. Sentimen anti-tionghoa dihembuskan oleh pihak-pihak tertentu. Selama 3 hari itu, Daniel Johan tidak pulang ke rumah. Mamanya kuatir. Di situasi gawat itu, Daniel berkeliling Jakarta. Bersama aktivis FKPI lain, ia mendatangi Komnas HAM, menggelar rapat-rapat, dan mengunjungi tokoh-tokoh nasional termasuk militer yang pro-perubahan seperti kelompok Edy Sudrajat. Daniel dan aktivis mahasiswa mempertanyakan mengapa militer menghilang dan tidak melindungi masyarakat.
 
Daniel menuturkan bahwa ia pun saat itu mengkhawatirkan mama dan keluarganya selama hari-hari mencekam itu. Tetapi kekuatiran itu hilang ketika Daniel mengetahui mama dan keluarganya malah bersorak bangga ketika melihat dirinya muncul dalam liputan televisi. Bahkan kemudian mamanya membuat kue-kue untuk dibagikan kepada mahasiswa yang sedang menduduki gedung DPR. "Salut dengan keberanian mama", kata Daniel.

Tekanan mahasiswa terhadap Soeharto semakin menguat. Tanggal 21 Mei 1998, Suharto menyatakan berhenti. Meninggalkan bara api yang belum padam dan kehancuran. Mundurnya Soeharto disambut kegembiraan oleh masyarakat luas. Ada yang membuat syukuran, bakar kambing, dan sorak-sorai kemenangan menyambut era baru.

Dan Daniel Johan bersama para pemuda Tionghoa seperti Yap Yun Hap, Hendrawan Sie, Suma Mihardja, Ali Sutra, dsb menjadi saksi sekaligus berpartisipasi menjadi aktor dalam proses perubahan tersebut. Lalu bagaimana Daniel memandang kondisi Indonesia paska-Suharto? Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Soedjatmoko, menurut ingatannya Daniel berkata, masyarakat menjadi bermasalah, karena rakyatnya tidak punya kepekaan dan tidak punya selera lagi terhadap persoalan nilai.

Bila hal ini terjadi pada masyarakat Indonesia, maka menurut Daniel, berarti kita telah kehilangan sebagian kemanusiaan kita. Dan imbasnya, pemerintah yang baik sekalipun dapat menjadi buruk. Kemerosotan nilai tampak nyata saat masyarakat bersikap apatis terhadap penyelewengan-penyelewengan. "Kalau semua orang berpikiran apatis ya sama saja membiarkan kejahatan berkuasa," katanya.

Sense
terhadap nilai lebih-lebih lagi tidak tampak dimiliki oleh para petinggi negara ini. "Yang parah itu kita udah nggak punya kedaulatan. Paska-reformasi 1998, seluruh kekayaan rakyat paling mendasar yang dalam konstitusi UUD 1945 disebutkan ‘Bahwa seluruh sumber daya alam dan cabang-cabang produksinya yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat pemilik sumber daya alam tersebut. Sekarang negara sudah tidak menguasai lagi. Kalau negara tidak lagi menguasai sumber kekayaan strategis itu, bagaimana negara mampu menyejahterakan rakyatnya?" Daniel mempertanyakan. Ini gambaran akibat dari kapitalisme yang dirisaukannya sejak lama.

Dan ini belumlah bagian terburuknya. "Kalau undang-undang tidak berpihak ke rakyat tapi justru berpihak ke pihak asing, repot dong. Kasihan sekali rakyat kita! Bayangkan, undang-undang justru memberikan alasan dan landasan hukum buat penguasa negeri ini menjual negaranya ke luar, bahkan Undang-undang negeri ini memberikan legalitas landasan hukum sah buat asing untuk ngerampok negeri ini, gawat banget kan," tukasnya diwarnai penyesalan.

"Saya termasuk kelompok yang percaya pendekatan struktural karena artinya masyarakat itu pun dibentuk, dikonstruksi. Yaitu oleh sistem kepemimpinan yang berlaku," kata Daniel. Maka, meski kurang senang hati, jalur politik menjadi jawaban yang harus ditempuhnya. Perubahan struktural ini menurutnya memang tetap harus dibarengi penyadaran moral dan politik masyarakat, sehingga setiap orang punya peran masing-masing.

Perjalanan panjang bangsa yang tidak kunjung menunjukkan titik terang, membuat banyak warga yang skeptis bahkan pesimis pada upaya-upaya untuk merintis perubahan. Apalagi mereka sudah begitu jenuh dengan janji-janji politikus menjelang pesta demokrasi. Daniel berpendapat, "Mau optimis mau pesimis, yang kita lakukan (untuk perubahan) belum tentu berhasil. Kalau kita lakukan saja belum tentu berhasil, bagaimana kalau kita diam? Itukan sama saja dengan membiarkan negara dirampok dan rakyat miskin."

"Jadi tantangan Indonesia saat ini adalah kita harus mengubah begitu banyak UU yang memiskinkan rakyat. Juga memperjuangkan penetapan APBN yang berorientasi menjamin kesejahteraan social rakyat dan penguatan ekonomi dan industri dalam negeri yang mengandalkan kekuatan mandiri bangsa kita sendiri," jelas Daniel Johan menutup wawancara. (*)



Curriculum Vitae
Nama  : Daniel Johan
Tempat tanggal lahir  :
Jakarta, 10 April 1972
Website:
http://www.daniel-13-2.com
Lulusan Universitas :Universitas Tarumanegara
Rekam Jejak :
  • Wasekjen DPP PKB
  • Ketua OSIS Tri Ratna dan Pendiri Majalah Pertama Sekolah Tri Ratna
  • Pabbaja Samanera (1991)
  • Sekjend HIKMAHBUDHI (1995)
  • Anggota Aktif International Network of Engaged Buddhists (INEB) 1995-sekarang
  • Anggota Aktif The Alternative to Consumerism (1997)
  • Pendiri dan Anggota Forum Kebangsaan Pemuda Indonesia - FKPI (1998)
  • Pendiri dan Anggota Indonesian Interfaith Youth - Gemari (1999)
  • Pemimpin Umum dan Redaktur Senior Majalah Hikmahbudhi (1995-sekarang)
  • Pendiri dan Anggota Dewan Direktur National Institute for Democracy and Peace - INDeP (1999)
  • Pendiri dan Direktur Yayasan Pencerahan (1995-sekarang)
  • Pendiri dan Anggota Dewan Pengurus Prokader (2006-sekarang)
  • Penasehat HIKMAHBUDHI 2000-sekarang
  • Pendiri dan Anggota Dewan Direktur Institute of National Leadership and Public Policy (INLAPP) dan Yayasan Kader Indonesia (2008) sebagai lembaga yang peduli melahirkan kader-kader muda sebagai pimpinan nasional yang visioner, nasionalis, dan pro rakyat

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
www.kabarindonesia.com


 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Buffalo Painting Toraja National Art Festival 2016oleh : Eliyah A M S
08-Jan-2017, 13:46 WIB


 
  Buffalo Painting Toraja National Art Festival 2016 Seekor Kerbau yang badannya dilukis pada Toraja National Art Festival 2016. Kegiatan Toraja National Art Festival ini dilaksanakan pada tanggal 23 Desember 2016 hingga 3 Januari 2017.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 
 

 

 

 

 
 
 
 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia