KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniTeologi Inklusif Sebagai Alternatif oleh : Gunoto Saparie
18-Des-2017, 07:04 WIB


 
 
KabarIndonesia - Mendengar istilah "teologi inklusif", saya langsung teringat kepada Nurcholish Madjid. Nurcholish adalah salah seorang cendekiawan muslim yang concern cukup mendalam terhadap persoalan hubungan agama-agama dan dialog antaragama. Ia secara teoritis mengedepankan pencarian dan konsep titik temu agama-agama secara eksplisit
selengkapnya....


 


 
BERITA PROFIL LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Jatuh Cinta Kepada Telaga 26 Nov 2017 11:31 WIB

Dunia Imitasi 23 Nov 2017 15:40 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

DR. YALVEMA MIAZ, MA: Mantan Wartawan yang Jadi Kepala Dinas Pendidikan Bukittinggi

 
PROFIL

DR. YALVEMA MIAZ, MA: Mantan Wartawan yang Jadi Kepala Dinas Pendidikan Bukittinggi
Oleh : Muhammad Subhan | 24-Apr-2008, 10:22:43 WIB

PENGANTAR:

KabarIndonsia - Di era tahun 80-an hingga 90-an, masyarakat Sumatera Barat, saban hari selalu menanti tulisan sosok tokoh satu ini disuratkabar harian Haluan. Siapa lagi kalau bukan DR. Yalvema Miaz, MA, yang sekarang menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan Kota Bukittinggi. Tulisan-tulisannya yang berrnas membuat ia cukup dikenal orang, khususnya di kalangan pejabat pemerintahan. Di Bukittinggi, Yalvema Miaz adalah wartawan senior. Bagaimana kisah hidup Pak Yal yang murah senyum ini dan apa motivasinya menjadi wartawan dulu? Berikut petikan riwayat hidup Pak Yal yang ditulis reporter KabarIndonesia Muhammad Subhan, di Bukittinggi. Selamat membaca.

OBSESI saya sejak kecil adalah agar bisa menjadi seorang intelektual, atau guru dan pimpinan masyarakat. Dengan pengetahuan yang ada ingin turut bersama memajukan masyarakat untuk menjadi cerdas dan sejahtera. Tentu cita-cita itu sangat tinggi dan berat. Untuk itu, jalan pertama saya terlebih bermotivasi untuk mengasah dengan pengetahuan dan keterampilan dalam proses pendidikan dan pengalaman yang panjang. Obesi ini sangat didorong ayah/ibu, Abdul Miaz Maliky/Rostiam, mungkin karena beliau seorang tokoh masyarakat dan ibu saya, guru SD yang sudah punya pengalaman panjang.

Mungkin nama saya agak "aneh", banyak teman-teman yang bertanya bahkan ada yang mengatakan nama ini mungkin hanya satu-satunya di dunia. Itu ada benarnya. Nama itu sebenarnya adalah singkatan yang diberikan ayah bunda. Beliau bercita-cita kelak bila saya dewasa diimpikan beliau menjadi seorang pemimpin masyarakat. Beliau menuliskan di secarik kertas begitu saya lahir, "iYalah Perubah Masyarakat", singkatannya menjadi "Yalpema". Ketika di sekolah nama itu direvisi huruf "p" menjadi "v", maka menjadi "Yalvema" dan ditambah dengan nama ayah, "Miaz".

Keinginan menjadi cendikiawan yang intelektual atau pengarang, dimotivasi pula oleh salah seorang famili saya DR. Alfian yang menamatkan S3 di Universitas Wissconsin Amerika. Dia meraih gelar Ph.D dalam usia muda 30-an tahun. Pada masa itu yang punya titel DR boleh dihitung dengan jari di Indonesia. Terakhir beliau menjabat ketua LIPPI di Jakarta dan meninggal tahun 1980-an. Saya berfikir, kapan pula saya bisa menyandang gelar seperti abang saya itu?. Nah, terus terang itulah yang menjadi motivasi utama saya untuk melanjutkan pendidikan ke tingkatan (strata) yang paling tinggi.

Ketika kecil, saya memang tidak seberuntung anak-anak sekarang. Penderitaan mendera kehidupan bangsa kita dan tentu juga kami sekeluarga. Menjelang peristiwa G30S/PKI, daerah ini dilanda oleh pergolakan daerah, perang saudara antara pemerintah pusat dengan PRRI/Permesta. Kami bersekolah di bawah desingan peluru, tak terhitung kerabat yang tewas dalam perang yang menakutkan itu. Ayah dituduh pula sebagai PRRI (istilah populernya Peri-peri) dan bergerilya bersama teman-teman beliau di hutan belantara. Akibatnya ibu yang guru SD tidak lagi menerima gaji layaknya guru sekarang, kenapa?. Ya, itu tadi ayah kami di cap sebagai pemberontak. Rumah kami diberi tanda silang (X) dengan cat tebal, dibawahnya ditulis dengan huruf capital "MIAZ", artinya ayah saya harus ditangkap oleh tentara "pusek" (pusat) baik dalam keadaan hidup atau mati.
 
Hidup di bawah tekanan dan ketakutan itulah, justeru membuat saya menjadi lebih arif memaknai kehidupan ini. Begitu usai perang dan sayapun tamat SD, berdua dengan ayah kami harus berangkat meninggalkan kampung halaman tercinta di Sumani-Solok menuju kota Padang dengan kereta api. Walaupun Presiden Soekarno sudah memberikan amnesti kepada para "pemberontak", namun ketidaknyamanan hidup di kampung mendorong ayah untuk pergi. Ayah sejak kecil menimba pengetahuan dan bersekolah di Parabek dekat Bukittinggi. Begitu tamat sekolah beliau menjadi guru di Manna Bengkulu, pindah ke Balai Selasa Pesisir Selatan. Kemudian menjadi PNS pada Departemen Sosial di Bangko Jambi dan akhirnya pindah ke Batusangkar, dan saat itulah saya lahir.
 
Ketika pecah perang dan beliau tinggalkan kota kecil itu untuk bergabung dengan teman-teman, saya sungguh tak mengerti kenapa tiba-tiba ayah pergi meninggalkan kami dengan ibu. Sama sekali kami tidak paham apa itu "PRRI", "Dewan Banteng", "Jauhkan Diri dari PKI" dan sebagainya. 

Saya dengan dua kakak (Ratna Juita dan Nasri) dan adik saya Nadra harus berjuang untuk hidup dalam suasana yang amat kontradiktif dengan keadaan sebelumnya. Bayangkan ayah waktu itu adalah seorang pejabat penting (setingkat kepala dinas sekarang), ibu seorang guru, tentu kehidupan kami lumayan baik dibanding orang lain apalagi dengan petani masa itu. Kini, semua lenyap sudah entah kemana. Kami bersama ibu harus berjuang hidup, tapi nasib baik masih ada bersama kami, sebidang sawah dan ladang masih ada untuk digarap, walaupun hasilnya tidak mencukupi. Hama dan tikus bagaikan berebut makanan dengan kami. Bila bulir-bulir padi berisi, hama itu lebih akan duluan menyerbu. Mereka juga butuh makan. Ya, lapar. Ibu harus menambah penghasilan dengan membuat macam-macam kue termasuk bika yang proses masaknya dipanggang dengan bara api dari atas dan bawah wadahnya.
 
Tiap pagi seusai shalat subuh, abang dan saya harus berkeliling kampung menjualnya dengan menjaja sambil berteriak, "kue..., kue..., oi rang kampuang balilah ciek" (Oi, orang kampung belilah kue--red) teriak saya dengan suara kanak-kanak (waktu itu saya kelas 3 SD). Kadang-kadang untuk menghilangkan rasa bosan atau grogi dilihat teman-teman sepermainan, teriakan saya sorak soraikan dengan irama bagaikan lagu minang yang terkenal masa itu, "bika oi bika, balilah bika...., bika si mariana... (bika oi bika, belilah bika si mariana--red)

Sekelumit kepahitan perjuangan hidup itu pulalah yang memberi inspirasi dan semangat saya untuk merubah corak kehidupan. Saya harus bersekolah Menimba pengetahuan. Saya harus tinggalkan kampung ini, merantau ke kota Padang. Saya harus melanjutkan ke SMP sampai pergurauan tinggi. Sejak menjadi pelajar SMP itulah saya belajar berorganisasi. Sayapun menjadi pengurus OSIS, KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia-Angkatan 66), menjadi pengurus Ikatan Pelajar Muhammadiyah, kantor saya di lantai II Masjid Muhammadiyah Padang. Kantor itu runtuh dan nasib baik saya ketika itu sedang tidak berada disana. Ketika di IKIP Padang (sekarang UNP), saya makin aktif dan menjadi pengurus Senat Mahasiswa dan terakhir Dewan Mahasiswa (sekarang istilahnya BEM) bersama Makmur Hendrik, Harris Effendi Thahar dan lain-lain.
 
Selama menjadi mahasiswa saya ikut masuk latihan dasar kemiliteran di Dodiklat Kodam III. Disitu pula saya banyak memperoleh pengetahuan kedisiplinan, ketangguhan fisik, self confidence, tentu juga keterampilan menggunakan senjata apabila terjadi perang. Kami tergabung dalam Resimen Mahasiswa Sumbar. Wadah itu kemudian dikenal dengan Menwa (Resimen Mahasiswa). Dengan pakaian tentara berlogo Kodam III, pelatih kami menyatakan, apabila tamat dan mau masuk tentara aktif akan langsung diberi pangkat Letnan Satu. Rupanya, ada diantara teman yang betul-betul masuk dinas ketentaraan, sekarang malah ada yang sudah menjadi Dan Dim bahkan Jenderal.

Masuk Dunia Jurnalistik

Ada satu bakat terpendam yang tiba-tiba muncul dalam diri saya dipicu ketika masih di bangku SLTA di Padang. Suatu hari, saya membaca rubrik remaja di koran "Aman Makmur" Pemred-nya Marthias Doeski Pandoe. Rubrik itu menampilkan karya-karya remaja seperti cerpen, puisi, karikatur remaja, klub pembaca remaja lengkap memuat nama, alamat, tempat bersekolah, hobi, dan tentunya juga ada foto diri. Awalnya saya kurang tertarik, namun ada sebuah keinginan bagaimana saya bisa menulis sebuah puisi dan dimuat di koran. Suatu malam saya mencoba menulis sebuah sajak berjudul "Peperangan". Isinya,
"Di kampungku terjadi peperangan hebat
Huru hara di mana-mana, letusan berdetak seperti kacang goreng. Semua orang saling membunuh. Nenekku tertawa..., aku menyandang pelepah".
 
Itulah sajak saya pertama yang kemudian betul-betul dimuat di surat kabar itu, kemudian sajak itu saya revisi lagi dan ditambah beberapa judul sajak-sajak lain dan di muat pula di harian Haluan Padang. Sajak-sajak itu di hari yang sama dikomentari dalam sebuah resensi oleh penyair Rusli Marzuki Saria. Hati sayapun berbunga-bunga. Bersamaan dengan itu RRI Bukittinggi yang siarannya juga dapat ditangkap di Padang seminggu sekali menyiarkan "Puisi Album Angkasa Nada" di asuh "tante". Saya makin tertarik, karena puisi-puisi saya sering diudarakan. Sebagai penulis selain merasa sangat bangga, yang pasti telah memberikan motivasi untuk menulis lebih banyak lagi. 

Ketika koran Haluan terbit kembali tahun 70-an, para mantan penulis muda koran Aman Makmur yang dibredel oleh rezim berkuasa waktu itu ramai-ramai pindah menulis ke harian Haluan tersebut. Saya dengan Wall Paragoan, Darman Moenir dan Masri Marjan (alm), Suhasril Sahir mulai menulis lagi. Tapi saya dan Wall Paragoan (terakhir wartawan Sinar Harapan Jakarta) boleh dikatakan sebagai "anak muda" yang dianggap paling kreatif menulis, tapi bukan sekadar puisi atau cerpen, malahan berita dan features. Berita yang saya kumpulkan hampir setiap hari dimuat pada halaman depan, tidak jarang selalu menjadi berita Headline (berita utama).
 
Mungkin berkat kinerja seperti itu, saya dan Wall Paragoan langsung diangkat menjadi wartawan/karyawan Haluan dan tidak lama kemudian diangkat pula menjadi angota PWI. Sebagai wartawan, tugas utama adalah sebagai reporter kota (Padang). Nama sayapun telah tercantum dalam box redaktur dengan jabatan Dewan Redaksi Haluan, dengan Pemimpin Redaksi, Annas Lubuk.

Kalau boleh saya sedikit bangga, hidup saya sudah berkecukupan (mulai tahun 1974), mungkin sudah agak berlebihan, padahal saya masih sedang kuliah. Gaji awalnya Rp350.000/bulan, ditambah uang beras, 6 kaleng susu cap Nona, satu pak sabun cuci cap Tombak dan sebuah kendaraan dinas Vespa. Rasanya masa itu orang yang pakai sepeda motor apalagi Vespa masih dapat dihitung dengan jari di kota Padang. Ini membuat saya menjadi pede dan bangga sebagai seorang wartawan. Saya tidak tahu kenapa pak Kasoema (Pemimpin Umum Haluan, alm) begitu "sayang" kepada saya, sementara rekan-rekan wartawan yang lain, termasuk Wall Paragoan, Darman Moenir dan Masri Marjan masih mengayuh sepeda "Unto", mereka belum diberi kendaraan dinas seperti itu. Akibatnya saya merasa tanggung jawab semakin berat, areal kerja saya semakin meluas di wilayah Sumatera Barat.
 
Kebanggaan bertambah, mulai gubernur, pejabat sampai bupati walikota, pemuka masyarakat bahkan kusir bendi masa itu kenal dengan saya. Karena selain wartawan pak Kasoema menambah pekerjaan sambilan untuk saya yaitu; mencari langganan koran dan tentu saja iklan. Pekerjaan itu bagaikan salesman yang keluar masuk kantor atau rumah orang. Yang difikirkan tiap hari, cari berita atau cari langganan koran. Ayah dan ibu sering saya beri uang dari hasil pencaharian saya itu.

Suatu hari pak Kasoema dan Pemimpin Redaksi Bang Annas Lubuk memanggil saya. Kesimpulannya saya akan dimutasikan ke Bukittinggi untuk membuka Kantor Perwakilan Haluan wilayah Sumatera Barat bagian utara, sebelumnya sudah ada Perwakilan (Biro) Riau dan Jambi. Maka, 2 Januari 1974 dengan sedan Holden-nya pak Kasoema bersama nyonya dengan sopir Alfian Kasoema, sayapun diantarkan ke kota sejuk ini. Hari itu tak seorangpun yang saya kenal di kota ini, kecuali petugas rumah makan ACC di dekat Jam Gadang atau Simpang Raya di sebelah Masjid Raya Pasar Atas, disini tempat saya minum dan makan tiap hari. Tentu, dalam usia yang masih terbilang muda (23 tahun) saya harus memikul tanggung jawab manejer, sebagai kepala kantor membawahi beberapa orang wartawan. Selain itu, tidak kurang dari 3.000 eksemplar koran Haluan harus tidak bersisa, didistribusikan untuk pelanggan atau dijual secara eceran.

Itulah awal dari hidup mandiri jauh dari orang tua dan teman-teman sebaya di Padang. Sebagai wartawan yang berpantang menyerah dalam situasi dan kondisi apapun, saya makin kreatif menulis berita. Bahkan ketika terjadi peristiwa Galodo di Agam dan di Tanah Datar, selain saya jadikan laporan berita, juga saya tulis dari sisi lain yang menyentuh emosional pembaca. Pernah saya menulis peristiwa ini sebanyak 64 kali penerbitan bersambung setiap hari di Haluan. Koran saya luar biasa laris, sampai di cetak ulang dua, tiga kali sehari. Bahkan pak Djufri (waktu itu bertugas di Batusangkar, dan sekarang Walikota Bukittinggi) mengenal saya justeru dari tulisan-tulisan saya itu. Akhirnya kami suatu masa jumpa juga di Bukittinggi, beliau menjadi walikota dan saya diambil menjadi stafnya memimpin Dinas Pendidikan.

Apakah ada korelasi "ketertarikan" dengan tulisan itu sehingga pak Djufri memberikan kepercayaan kepada saya menjadi kepala dinas, sayapun tak tahu. Logikanya tentu tidak mungkin itu yang menjadi pertimbangan pak Djufri. Mungkin yang agak tepat karena latar pengalaman kerja di dunia pendidikan yang sebelumnya yaitu menjadi guru di SPG dan dosen UNP, wallahu ‘alam.

Dunia Pendidikan

Ayah dan ibu menginginkan saya agar belajar agama secara intensif sebelum masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Selama di kampung semasa di SD, tiap malam dengan berbekal kain sarung yang lusuh (karena hanya itu yang ada), tiap malam saya belajar membaca Alquran dengan guru Ustadz Bulidar dan Mohamad Amin. Tiap malam belajar dan tidur di surau "Parak Pisang", atapnya ijuk, lantai papan dengan penerangan sebuak lampu petromax. Sekitar jam 22.00 WIB selesai mengaji, langsung tidur di surau itu dengan diterangi lampu togok (lampu kecil minyak tanah dengan sumbu dari kain asapnya hitam). Selesai salat subuh pulang ke rumah dan siap-siap pergi ke sekolah tak jauh dari rumah.

Tamat SD itu, saya melanjutkan pendidikan ke Padang mencari sekolah umum tapi pelajaran agamanya lebih intensif. Waktu itu belum ada MTs atau MA, maka dipilihkan SMP Islam dibawah naungan Yayasan Persatuan Guru-guru Agama Islam (PGAI) sebuah sekolah yang didirikan oleh H. Abdullah Achmad. Disini belajar sangat ketat, dengan kurikulum ilmu umum dan agama seperti Madrasah Tsanawiyah (MTs) sehingga ada 18 mata pelajaran tiap hari. Setamat SMP Islam, saya coba masuk ke Sekolah Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) masih di Jati Padang, kemudian gedungnya pindah ke Gunung Pangilun. Oleh karena di PGA ini pelajaran agamanya lebih  tinggi lagi, saya cukup susah mengikutinya, karena langsung meloncat dan diterima di kelas 5 PGA itu, apa boleh buat pelajaran yang agak sulit terutama bahasa Arab dengan nahu saraf, ilmu mantiq, ilmu hadits, dan lain-lain. Tapi syukur saya berhasil juga tamat.

Tamat PGAN itu, saya sangat bersyukur kepada Allah SWT karena amanah pesan ayah/ibu agar saya mesti tahu dasar-dasar pengetahuan agama sebagai bekal kelak apabila dewasa sedikit sudah terisi. Ada lagi dua cita-cita untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi, ingin menjadi sarjana teknik elektro atau guru bidang teknik tersebut. Apadaya kandas sudah karena syarat masuk harus berijazah SMA bidang IPA baik ke Universitas atau ke IKIP. Dengan setengah kecewa, saya cari-cari jurusan yang mungkin mendekati dan sesuai cita-cita di IKIP Padang. Sekali lagi bagi tamatan PGA hanya bisa masuk ke Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP (Jurusan BK, Kurikulum, Administrasi Pendidikan).

Setelah bolak-balik di tengah terik matahari di kampus Air Tawar Padang, rupanya ada dibuka jurusan baru, Geografi di Fakultas Keguruan Pengetahuan Sosial. Mulanya saya ditolak karena hanya menerima tamatan SMA atau SPG, kepada panitia penerimaan calon mahasiswa baru, saya memohon agar diberi pengecualian kepada saya yang berijazah PGA itu. Setelah mereka berembuk (mungkin juga dengan Dekan atau Rektor) akhirnya saya lolos diterima sekadar untuk pendaftaran sebagai peserta Ujian Masuk PTN itu.
 
Setelah dilakukan seleksi dan ujian, tentu menunggu hasilnya sangat mendebarkan. Kalau tidak diterima, saya harus melanjutkan kemana?. Sebagian besar teman-teman di PGA telah melanjutkan ke IAIN Padang atau Jakarta. Cita-cita saya rasanya hampir sampai ketika nama saya diumumkan lulus seleksi, saya diterima sebagai mahasiswa baru di Fakultas tersebut. Dengan motivasi besar dan belajar yang intensif, akhirnya saya berhasil menempatkan diri sejajar dengan teman-teman yang semuanya dari lulusan sekolah menangah atas. Walaupun pada semester pertama nilai saya sangat amburadul, tetapi semester berikutnya tanpa disadari saya termasuk kelompok mahasiswa yang nilainya rata-rata baik. Ketika kuliah banyak juga pertanyaan dosen yang membuat saya kikuk, "Tamat PGA kok bisa masuk ke sini, ha?" (maksudnya jurusan Geografi yang kajiannya banyak mengenai sains geologi, klimatologi, kartografi, oceanografi dan kajian sosial lainnya). Terus terang ilmu-ilmu (IPA) itu secara konsep tidak pernah saya pelajari semasa di PGA.

Untuk mengejar "ketertinggalan" dasar-dasar pengetahuan terutama ilmu sains tadi, saya belajar dengan teman-teman termasuk yang berjasa mengajar saya adalah Drs. Zaini (sekarang Pengawas di Dinas Pendidikan Sumbar, Karni Dt. Tumbijo (alm) bekas Kepala SMPN 6 Bukittinggi dan lain-lain). Tapi ironisnya teman-teman saya itu akhirnya berhasil saya "kalahkan", bahkan saya lebih dahulu diwisuda menjadi sarjana.
Dengan langkah mantap saya bulatkan tekad untuk menjadi guru Geografi ketika SK pertama di tempatkan mengajar di SMA Negeri Muara Labuh Solok Selatan. Di balik kegembiraan itu dengan berat hati saya tak sempat melaksanakan tugas disana secara penuh, karena Muara Labuh waktu itu terasa sangat jauh jaraknya dari Padang. Kota kecil itu indah dan menyenangkan, tapi saya masih ingin dekat dengan orang tua. Maka dengan permohonan kepada Kakanwil P dan K Sumbar akhirnya saya dimutasikan ke SPG Negeri Bukittinggi (1976). Sekali lagi tentu syukur kepada Allah SWT tidak putus-putusnya saya panjatkan kepada-Nya. 

Sebagai guru di SPG saya tentu akan mengajar Geografi, tapi saya kecewa lagi di SPG ini tidak ada mata pelajaran itu. Kepala Sekolah menugaskan saya mulanya mengajar olahraga, kemudian bahasa Inggeris dan terakhir PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Sekali lagi saya harus belajar ketiga mata pelajaran itu sebelum mengajar siswa. Praktis selama bertugas di SPG tidak pernah saya mengajar Geografi itu. Tetapi ketika saya memutuskan untuk mutasi pindah menjadi dosen di Universitas Negeri Padang (UNP) tahun 1991, barulah saya memberikan mata kuliah yang sesuai dengan latar berlakang akademis saya Geografi dan Sains Sosial.

Entah ide dari mana, Walikota Bukittinggi (waktu itu) Drs. H. Oemar Gafar menelpon saya ketika saya sedang asik mengajar di SPG Belakang Balok. Tidak lama datang sebuah mobil Toyota Hardtop merah maron yang sehari-hari digunakan Sekda Drs. H. Hawari Siddik menjemput saya. Apa pula gerangan?. Ringkasnya, saya diminta pak Oemar Gafar dilantik menjadi anggota DPRD kota Bukittinggi sebagai mengisi kursi kelompok wakil rakyat dari "non ABRI". Saya tidak bisa berfikir banyak karena waktu pelantikan anggota DPRD periode 1982-1987 hasil Pemilu 1982 akan dilakukan seminggu lagi. 

Dari 20 orang anggota DPRD itu, 4 orang diangkat sesuai undang-undang Pemilu waktu itu, tiga orang berasal dari ABRI (TNI AD dan Polri) dan saya dari kelompok Non ABRI. Pada Pemilu 1987, Undang-undang Pemilu berubah, tidak ada lagi kelompok non ABRI, yang diangkat semua harus dari ABRI. Waktu itu Golkar menawarkan agar saya ikut bertarung sebagai calon anggota DPRD periode 1987-1992, dan Golkar menang mayoritas lalu jadilah saya kembali melanjutkan pengabdian di DPRD kota Bukittinggi. Artinya, saya cukup lama mengabdikan diri sebagai wakil rakyat, 10 tahun!

Sayapun sampai tidak bisa membagi waktu, bayangkan tiga pekerjaan dalam satu hari harus dilaksanakan, anggota DPRD, guru SPG dan wartawan Haluan. Rupanya, karena aturan yang berlaku bagi PNS yang menjadi anggota DPR/D, membolehkan saya meninggalkan tugas di SPG. Sekarang saya memfokuskan diri dengan tugas wakil rakyat dan wartawan, tentu ini sangat sesuai dan saling mendukung.

Bagaimanapun, awal tahun 1990 SPG Bukittinggi dan SPG lain dibubarkan pemerintah. Teman-teman saya, guru-guru SPG tersebut terpaksa harus pindah tugas ke sekolah sederajat di Bukittinggi seperti ke SMA, SMEA (SMKN 2), STM (SMKN1) dan lain-lain. Tapi, saya dengan beberapa teman mencoba untuk bisa dimutasi ke IKIP Padang, rupanya diterima. Setelah mengalami proses administrasi dan kelayakan akademis, akhirnya saya menjadi dosen IKIP  Padang sejak tahun 1991.

Saya fikir dengan S1 suatu saat kelak saya pasti akan kalah bersaing dengan dosen senior yang sudah ada di lingkungan IKIP (sekarang UNP) terutama dari latar belakang akademis dan pengalaman. Ratusan Profesor dan Doktor sudah ada di UNP. Keinginan melanjutkan studi makin bertambah. Maka tiga tahun kemudian dengan izin Rektor saya melanjutkan pendidikan S2 ke Universiti Kebangsaan Malaysia dengan biaya sendiri. Setamat S2 (MA) tanpa pikir panjang saya teruskan melanjutkan S3 (Phillosophy Doctor).

Ketiadaan beasiswa untuk belajar membuat saya kembali mengalami kesulitan biaya hidup apalagi biaya kuliah dan penelitian di luar negeri. Akhirnya saya teringat petuah orang alim bahwa setiap kesulitan pasti ada jalan keluarnya. Maka saya mencoba membuka usaha/bisnis restoran di kampus UKM Malaysia. Modal?, saya pinjam dari seorang teman warganegara Malaysia yang sangat baik hati. Pendeknya, bisnis restoran itu maju pesat. Menunya saya sediakan untuk lidah internasional, tentu tidak lupa dengan masakan minang. Saya tidak hanya mampu hidup baik dan membiayai kuliah, bahkan dua orang anak turut saya bawa untuk mengambil S1 dan S2 di Universitas tersebut. Sekarang kedua anak tersebut sudah tamat Master of Sciences (M.Sc) bidang teknik dan Pharmasi (apoteker).

Di UNP selain saya mengajar, juga banyak menulis karya-karya ilmiah yang dimuat dalam jurnal atau menjadi narasumber terutama yang menyangkut masalah pendidikan. Waktu itu saya juga mendapat tugas tambahan sebagai kepala PGSD UNP dan pimpinan kampus V UNP di Bukittinggi.

Suatu hari bulan April 2003, saya dipanggil Walikota Bukittinggi pak Dufri untuk berbincang-bincang mengenai pengembangan pendidikan di kota ini. Waktu itu beliau juga menawarkan untuk menjabat Kepala Dinas Pendidikan. Tentunya ibarat pepatah, jika manis tentu tidak langsung ditelan, jika pahit tidak pula harus dibuang cepat-cepat. Beberapa hari kemudian ibarat pikir itu pelita hati, saya akhirnya menyatakan sikap dan siap untuk memangku jabatan mulia itu.
 
Pertama kali memangku jabatan, walau sangat berat tapi saya optimis, tugas utama untuk memimpin tidak kurang dari 140 sekolah dengan 34.000 pelajar dan guru 2000 orang lebih. Saya harus melakukan pembenahan administrasi perkantoran dan manajerial sekolah sesuai visi dan misi serta aturan yang ada. Saya melihat tugas kepala dinas tak obahnya sebagai guru atau kepala sekolah.

Di dalam membuat program kemajuan pendidikan kota Bukittinggi, saya banyak terinspirasi dengan teori-teori selama menjadi dosen UNP dan studi banding yang pernah saya lakukan ke luar negeri termasuk ke Amerika Serikat berdua dengan pak Sekda Drs. H. Khairul. Akumulasi pengalaman itu kemudian diaplikasikan dalam manjemen pendidikan yang muaranya peningkatan mutu pendidikan kota ini secara menyeluruh di setiap jenjang pendidikan kita.

Mutu dan kualitas pendidikan kota Bukittinggi harus yang terbaik di tanah air ini. Oleh karena itu kita harus maju dan kerja keras. Untuk itu sarana dan prasarana pendukung sekolah, kualitas guru harus ditingkatkan. Apabila kompetensi guru meningkat, dia akan lebih profesional. Proses Belajar Mengajar yang baik dan menyenangkan dengan ketersediaan alat praktik akan mampu membangkitkan minat dan kompetensi pelajar. Ujungnya kualitas dan tingkat kecerdasan siswa akan pula naik. Oleh karena itu dimana-mana saya minta seluruh guru dan murid di Bukittinggi harus cerdas, terampil, kritis dan kompetitif. Seluruh guru dan siswa selain menguasai ilmu pengetahuan, dia juga harus mampu berkomunikasi dengan bahasa asing, mereka harus mampu pula menguasai Teknologi Informasi Komputer.

Semboyan dan tekad itu saya masukkan dalam visi dan misi pendidikan. Kita harus maju bersama, sekolah umum, sekolah kejuruan, madrasah, baik negeri atas swasta harus saling mendahului dalam kualitas dan mutu lulusan. Selain itu saya harus pula memperhatikan anak-anak yang usia sekolah tapi tidak bersekolah. Kita kumpulkan dimasukkan kembali ke sekolah formal dan non formal. Usaha itu berhasil bahkan APK (Angka Partisipasi Kasar) jenjang SLTP Bukittinggi tertinggi di Sumbar dan masuk 10 besar di Indonesia bersama kota Jogyakarta, Jakarta Selatan dan sebagainya.

Ujian Nasional yang penuh kontroversi di kalangan tertentu, bagi kita tidak menjadikan semangat mengendur. Seluruh jenjang pendidikan sekolah menengah/madrasah dipacu terus PBM-nya sehingga hasil UN sejak tahun 2003 sampai 2007 kota Bukittinggi tetap berada pada posisi teratas berbanding 19 kota/kabupaten di Sumbar. Keadaan itu bertahan terus sampai pra UN 2008, bahkan pra UAS BN yang digelar untuk pertama kali untuk SD kota Bukittinggi juga masih memperoleh yang terbaik seperti "kakaknya" SLTP dan SLTA.

Banyak lagi prestasi yang yang sudah ditoreh oleh dunia sekolah dan pendidikan umumnya di kota Bukittinggi dalam lomba-lomba akademis siswa, guru berprestasi, seni dan olah raga. Saya menjadi bangga sebagai guru, saya paling bahagia apabila anak-anak didik maju dan berhasil. Saya tetap komit dengan cita-cita yang masih panjang, suatu hari, kita akan bahagia lagi, bila ada pemimpin dunia, pemimpin bangsa, pemimpin masyarakat yang dulunya bekas murid yang berasal dari kota Bukittinggi.

BIODATA

DR. Yalvema Miaz, MA
  • Karir Dunia Pendidikan:
  • 1. Guru Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Negeri Bukittinggi (1976-1990).
  • 2. Dosen Universitas Negeri Padang (1991-sekarang).
  • 3. Dosen Universitas Kebangsaan Malaysia (1995-1997).
  • 4. Dosen STAIN Bukittinggi (1998-2003).
  • 5. Kepala Dinas Pendidikan Kota Bukittinggi (2003-sekarang)
  • Karir Dunia Jurnalistik:
  • 1. Koresponden Majalah berita Mingguan "Tribun" Jakarta (1977-1980)
  • 2. Koresponden Majalah "Selecta Group" Jakarta (1980-1984)
  • 3. Dewan Redaksi/Wartawan "Haluan" Padang (1974-1993)
  • Karir Dunia Politik:
  • 1. Anggota DPRD Kota Bukittinggi (1982-1987)
  • 2. Anggota DPRD Kota Bukittinggi (1987-1992)
  • Pendidikan terakhir :
Phillosophy of Doctor (Ph.D) National University of Malaysia.                            
  • Kunjungan Studi Luar Negeri :
  • - Negara-negara Asean (1978).
  • - Jepang (2004)
  • - Amerika Serikat (2004).
  • Menulis artikel :
Surat Kabar dan Majalah Padang dan Jakarta
  • Karya Ilmiah:
Jurnal ilmiah UNP, Univ.Padjadjaran dan UKM  Malaysia Karya Penelitian:
- Hubungan Kelistrikan Desa dengan Pendapatan Pengrajin Industri Kecil di Kec. IV Angkat Candung Kab. Agam (UNP).
- Difusi Ruang Penyebaran Informasi Kesehatan di Kota Bukittinggi (UKM).
- The Voting Patterns of Bukittinggi General Election Between New Order and Reformation Order (UKM)

Isteri:        Ny. Yusni Yalvema, BA.
  • Anak                              :
    1. Donny Wahyudi Miaz, B.Sc Eng.
    2. Mira Febrina Miaz, S.Si, Apt, M.Sc Pharm.
    3. Okki Trinanda Miaz, SE.
    4. Febbi Abdul Mukti Miaz.
  • Menantu
  • 1. Zosmel Zuly, ST, M.Sc. Eng.
  • 2. Devitri, SE, Akt.
  • Cucu
  • 1. Athiyya Izzatul Syauqia.
  • 2. Adhib Razzaqul Aufa
Keterangan foto: DR. Yalvema Miaz, MA, bersama istri Ny. Yusni Yalvema, BA


Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera: www.kabarindonesia.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Kumpul Akbar Wirausahawan Suzuki 2017oleh : Rohmah Sugiarti
16-Des-2017, 22:18 WIB


 
  Kumpul Akbar Wirausahawan Suzuki 2017 PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) bersama main dealer di 36 kota Indonesia gelar kembali Kumpul Akbar Wirausahawan Suzuki (KAWIR). KAWIR pada tahun ini merupakan penyelenggaraan yang ketiga kalinya, setelah sebelumnya diadakan pada tahun 2014 dan 2015 lalu. Kali ini
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Mengenang Hari Juang Kartika 13 Des 2017 11:39 WIB

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia