KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Pelatihan Menulis Online Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
OpiniIslamophobia di Amerika, “Christianophobia” di Indonesia oleh : Kabarindonesia
21-Mar-2019, 16:44 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jika sebagian penduduk di AS dan barat mengidap Islamophobia, maka sebagian penduduk Indonesia dan kawasan mayoritas Muslim di berbagai belahan dunia mengalami gangguan penyakit "Christianophobia". Opini Sumanto al Qurtuby.

Islamophobia atau Islamfobia mengacu pada pengertian ketakutan atau
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sepenggal Kisah dari Menoreh (2) 24 Mar 2019 06:12 WIB

Kucinta Danau Toba 23 Mar 2019 08:01 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
OPINI

Urgensi Mengemballikan Pelajaran PMP di Sekolah
Oleh : Adolf Roben Lanapu | 17-Feb-2019, 21:19:39 WIB

KabarIndonesia - Dalam satu dekade ini terjadi perubahan besar pada lingkungan budaya di masyarakat, yang dipengaruhi oleh perkembangan pesat teknologi informasi dan persaingan industri elektronik. Murah dan mudahnya memiliki gadget canggih seperti smartphone berperan merubah perilaku masyarakat yang awalnya lebih humanis menjadi cenderung egosentris. Anak-anak dan orang dewasa saat ini, cenderung mengurangi interaksi dengan sekitar dan sibuk dengan game atau aplikasi media sosial di smartphone mereka. Dampak lain dari kemajuan teknologi ini adalah mudahnya sebuah perilaku buruk yang sedang “tenar” di media sosial untuk ditiru oleh massa yang sering disebut sebagai subscribber, follower, atau fans.

Proses imitasi perilaku ini rentan terjadi pada orang dalam usia remaja dalam tahap pencarian identitas yang kebanyakan adalah siswa Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas. Saat ini dampaknya bisa dirasakan, salah satunya dari bertambah banyaknya remaja yang mengumbar foto bermesraan di media sosial karena terinspirasi oleh orang lain melakukan tindakan serupa, tindakan yang merupakan hal tabu di masyarakat kita sepuluh tahun lalu. Saat ini seakan-akan hal itu merupakan sesuatu yang biasa.

Perubahan persepsi moral

Sama halnya dengan peristiwa seorang guru yang ditantang oleh siswanya usai menegur saat siswa tersebut merokok di dalam kelas.  Mendikbud mengeluarkan pernyataan yang membuat saya merasa resah. Dalam pernyataan tersebut Mendikbud mengatakan bahwa sikap tidak patut yang dilakukan siswa tersebut adalah kejadian biasa, sebuah pernyataan yang menggambarkan betapa merosotnya kondisi moral di dunia pendidikan saat ini.

"Kejadian-kejadian itu biasa, bukan saya bilang itu dibolehkan. Bahwa itu suatu pelanggaran berat iya, tetapi justru pendidikan harus segera melakukan proses pemulihan atau perbaikan mental anak seperti itu. Justru tugas kita di sekolah bagaimana terjamin bahwa anak-anak yang memiliki perilaku khusus seperti itu harus ditangani dengan baik," kata Mendikbud, Muhadji Effendy, seperti dilansir dari Detiknews, Senin (11/02).

Sangat disayangkan, pernyataan seorang penanggungjawab pendidikan justru meligatnya sebagai hal biasa. Sebuah hal menjadi biasa bukan karena hal itu merupakan sesuatu yang sering terjadi, akan tetapi juga karena hal tersebut berada dalam posisi “normal” dalam persepsi kita. Dalam proses perkembangannya sangat mungkin hal biasa tersebut menjadi sesuatu yang kita “terima”. Oleh karena itulah saya menganggap pernyataan Mendikbud tersebut sebuah kesalahan fatal dan perlu diluruskan.

Sudah cukupkah alat pedoman moral di dunia pendidikan saat ini? 
Siswa berani bersikap kasar dan melawan guru ketika diingatkan untuk perbuatannya yang nyata-nyata buruk (merokok di dalam kelas) adalah tindakan amoral. Sikap amoral tersebut jika dibiarkan dapat menginspirasi siswa lain untuk melakukan hal yang sama, oleh karena itu solusi atas kejadian tersebut bukan hanya merekonsiliasi hubungan antara pelaku dan gurunya, atau pemberian sangsi, akan tetapi juga diperlukan langkah pemulihan moralitas bagi siswa.

Pertanyaannya adalah, apa alat pedoman pembelajaran moral yang tersedia di dunia pendidikan saat ini sudah cukup memadai?Saat ini bagi siswa Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Atas tersedia mata pelajaran agama yang menyediakan materi moralitas dan etika hubungan antar manusia dari sudut pandang agama, dan Pendidikan Kewarganegaraan yang melihat hal yang sama dalam sudut pandang Pancasila dan kewarganegaraan. Moralitas yang disediakan oleh kedua sudut pandang tersebut kurang memadai karena bukan merupakan subjek utama mata pelajaran. Oleh karena itu masih dibutuhkan sarana lain sebagai alat pembelajaran moral bagi siswa.

Urgensi menghidupkan kembali mata pelajaran PMP

Mata pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) dihapuskan pada tahun 1994, digantikan oleh PPKN (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) yang kemudian pada era refomasi diubah menjadi Pendidikan Kewarganegaraan karena sentimen terhadap produk orde baru. PMP berisikan pedoman moral bagi warganegara Indonesia berdasarkan Pancasila sebagai dasar negara kita. PMP merupakan alat pembelajaran moral yang memadai sebagai pedoman moralitas karena Pancasila dirumuskan dari nilai-nilai luhur budaya bangsa yang juga mencakup sudut pandang agama, kemanusiaan, kebangsaan, sosial, dan keadilan.

Wacana menghidupkan kembali PMP sudah dicetuskan oleh Kemendikbud, seperti yang disampaikan oleh Supriano selaku Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan, ”PMP kita akan kembalikan lagi karena ini banyak yang harus dihidupkan kembali, bahwa Pancasila ini luar biasa buat bangsa kita, itu mungkin yang akan kita lakukan”, seperti dilansir dari Detiknews, Senin (26/11/2018). Akan tetapi masih akan dilakukan proses penyesuaian materi PMP agar sesuai dengan perkembangan jaman.

Mewujudkan wacana tersebut jelas merupakan sebuah urgensi untuk mencegah kemerosotan moral di masa mendatang. Dibutuhkan waktu untuk menanamkan moralitas kepada generasi muda kita, merubah perilaku lingkungan dan persepsi tentang perilaku amoral yang sudah terlanjur ada saat ini, tentu dibarengi usaha yang tidak sedikit dari Kemendikbud. Untuk itu Kemendikbud harus segera merealisasikan wacana hidupnya kembali PMP di jenjang SD–SMA.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Berkah TMMDoleh : Agus Rizal
10-Mar-2019, 16:26 WIB


 
  Berkah TMMD TMMD ke-104 Kodim 0601/Pandeglang membawa berkah bagi para pemilik warung di lokasi tersebut. Anggota Satgas TMMD pada saat istirahat meluangkan waktu untuk melaksanakan kegiatan komsos dengan warga masyarakat di salah satu warung milik warga sambil menikmati jajanan di kampung Saluyu,
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
AGAMA Vs ATHEIS 22 Mar 2019 16:46 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia