KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalKemnaker Beri Contoh Ruangan Laktasi dan Daycare Ideal Bagi Perusahaan BUMN dan Swasta oleh : Rohmah Sugiarti
21-Aug-2017, 04:31 WIB


 
 
KabarIndonesia – Tepat sehari setelah hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 (18/8), Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri, meresmikan Taman Penitipan Anak dan Ruang Laktasi yang dibangun di lantai M Gedung B, Gedung Kementerian Ketenagakerjaan di Jalan Gatot Subroto, Jakarta.
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Cindai 19 Aug 2017 19:43 WIB

Lirih Rindu 19 Aug 2017 19:41 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
OPINI

Undang-Undang Terorisme dan Penguatan Peran TNI
Oleh : Iin Suwandi | 07-Jun-2017, 18:23:18 WIB

KabarIndonesia - Gonjang ganjing keterlibatan TNI dalam menangani teroris kini sedang bergulir dan digodok di DPR. Wacana keterlibatan secara aktif TNI di dalam pemberantasan terorisme di Indonesia kini sedang direvisi dan disesuaikan dengan kondisi situasi yang berkembang. Revisi Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Terorisme hingga tulisan ini diturunkan belum rampung dibahas di DPR RI. Jika kita cermati  UU Anti-Terorisme yang hendak direvisi itu memang sudah tidak relevan lagi di masa sekarang.

Perlu diketahui bahwa secara historis, UU Anti-Terorisme yang berlaku saat ini, dibuat dalam rangka mempermudah dan mempercepat proses penyelidikan dan penyidikan perkara bom Bali. Oleh karena itu, fokus UU Anti-Terorisme adalah penindakan, sedangkan aksi terorisme saat ini semakin berkembang sehingga perlu disesuaikan dengan kondisi Indonesia.   

Alangkah ruginya kita selaku bangsa Indonesia jika masih tetap mempertahankan UU yang sudah usang dan tidak sesuai dengan kondisi bangsa saat ini. Kalau kita masih menggunakan UU itu, ya tinggal tunggu saja teroris akan berpesta pora, karena Indonesia merupakan tempat yang paling aman untuk melakukan aksi brutalnya. Kalau ingin anak cucu kita aman, harus benar-benar jelas siapa berbuat apa karena teroris adalah musuh negara.
  
Sudah sewajarnya kita berikan kewenangan kepada TNI untuk memberantas teroris. Melalui RUU Terorisme ini kita harapkan kewenangan TNI lebih diperluas lagi. Tentu saja dengan alasan-alasan yang sudah dirancang sedemikian rupa. Masyarakat berharap agar RUU Teroris ini bisa segera selesai dengan cepat guna memberikan payung hukum kepada aparat kita yang akan bertindak di lapangan.
   
Kita sangat mengapresiasi apa yang diungkapkan oleh Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Alfret Denny Tuejeh yang mengatakan bahwa TNI AD siap jika memang dilibatkan dalam penanganan teroris. Menurutnya kesiapan TNI AD tidak hanya dari aspek sumber daya manusia, tetapi juga pada aspek persenjataan. "Kami sangat-sangat siap. Kalau dari segi senjata, teroris itu terlalu kecil untuk berhadapan dengan TNI AD," ujar Alfret di Media Center TNI AD, Jakarta Pusat, Rabu (31/5) lalu.  
Lebih lanjut Kadispenad itu menjelaskan bahwa kelompok teroris di Indonesia berbeda dengan teroris yang ada di Filipina. Sebab, teroris di Filipina telah menyatu dengan kelompok separatisme yang ada di daerah setempat. Sehingga, senjata yang dimiliki lebih banyak dan beragam. Sementara kelompok teroris di Indonesia bergerak sendiri. "Mereka (teoris di Filipina) punya persenjataan yang luar biasa." tegasnya
                
Kesiapan TNI menangkal terorisme juga dapat dilihat dari aspek pendukung lainnya, seperti pembangunan posko-posko TNI di kota dan daerah. Pembangunan Posko didasarkan pada hakikat ancaman yang akan masuk. Hal ini akan mempersulit teroris melakukan ancaman. Dengan demikian keterlibatan TNI menanggulangi terorisme tidak akan memperkeruh huhungan baik dengan Kepolisian.
                
Oleh karenanya kita berharap ke depan agar sinergitas TNI-Polri harus berjalan sebagaimana yang diharapkan. Karena kita ketahui bersama sebelumnya telah dibuktikan dengan tewasnya Santoso, pimpinan teroris di Poso saat kontak senjata pada Senin 18 Juli 2016 lalu. Santoso berhasil ditangkap berkat kerja sama yang baik antara TNI-Polri. Jadi kalau dikatakan TNI memperkeruh suasana sebagaimana yang dituduhkan oleh kelompok LSM, berarti tidak belajar dari pengalaman sebelumnya.

Pembahasan Rancangan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana terorisme yang baru diharapkan menghasilkan revisi yang dapat menjaga keselamatan rakyat dan bangsa dari gangguan dan rongrongan terorisme yang masih bercokol di Indonesia.(*)    

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Astra Pertahankan Tradisi Upacara di HUT ke-72 Kemerdekaan RI 2017 Upacara pengibaran bendera menjadi tradisi seluruh direksi dan karyawan anak perusahaan dan kantor cabang Astra di seluruh Indonesia. Ini merupakan wujud kecintaan Astra terhadap bangsa dan negara. Nampak Presiden Direktur PT Astra International Tbk Prijono Sugiarto bertindak sebagai pembina upacara
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 
Beda Hemat dan Pelit 15 Aug 2017 02:01 WIB

 

 

 

 

 

 

 

 
Uang Bukanlah Sumber Kebahagiaan 26 Jul 2017 16:09 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia