KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia – Serang, Guna memaksimalkan peran Balai Latihan Kerja(BLK) yang sudah ada selama ini, Kementerian Ketenagakerjaan terus matangkan penerapan konsep Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK). Pasalnya konsep ini diyakini mampu menjawab kebutuhan tenaga kerja terampil di Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Bubar Riyaya 22 Jul 2017 01:58 WIB

Anak Beranak Kanak 22 Jul 2017 01:56 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
OPINI

Revitalisasi Pendidikan Vokasi Ciptakan Sumber Daya Manusia yang Handal
Oleh : Indra Hartoyo | 11-Apr-2017, 21:14:05 WIB

KabarIndonesia - Pendidikan vokasi telah menjadi salah satu alternatif utama bagi banyak siswa Indonesia. Pendidikan vokasi diyakini akan mampu menciptakan sumber daya manusia yang memiliki kecakapan dalam bidangnya, sehingga dapat bersaing dalam dunia kerja nyata baik di dalam maupun di luar negeri.

Dengan diperluasnya kesempatan bagi tenaga kerja dari berbagai negara untuk memperoleh pekerjaan, kualitas daya saing menjadi keniscayaan. Bagi sebagian orang, hal ini dapat mengancam peluangnya dalam dunia kerja, tetapi bagi sebagian lainnya ini merupakan anugrah karena akses terhadap kesempatan kerja yang lebih baik semakin terbuka lebar.
            
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dalam beberapa tahun belakangan telah memberikan perhatian yang cukup besar terhadap pendidikan vokasi. Dalam sepuluh tahun belakangan, kampanye untuk menarik minat para pelajar begitu gencar dilakukan. Indonesia saat ini bahkan melakukan upaya untuk merevitalisasi pendidikan vokasi melalui perbaikan muatan teori dan praktek di dalam kurikulum menjadi 40 berbanding 60.

Pada masa sebelumnya muatan kurikulum lebih menitikberatkan pada pembelajaran teoritis, sementara pada saat ini lebih menekankan pada kegiatan praktik. Ini merupakan sebuah kemajuan yang sangat substansial mengingat para siswa ini nantinya diharapkan menjadi individu-individu produktif dan dapat memenuhi kebutuhan dunia usaha dan industry, lokal maupun regional.            

Untuk mengoptimalkan output pendidikan vokasi, maka perlu dilakukan upaya-upaya sistematis dan terstruktur guna melengkapi para lulusan nantinya dengan hard skills yang relevan dan soft skills yang mendukung. Seperti diketahui, salah satu sisi lemah tenaga kerja Indonesia di pasar lokal dan global adalah aspek soft skills. Padahal, banyak penelitian sudah membuktikan bahwa soft skills merupakan penentu bagi keberhasilan seseorang di dalam pekerjaannya. Oleh karena itu, penguatan soft skills menjadi salah satu isu sentral dalam pendidikan vokasi dan tidak bisa dianggap hanya sebagai asesoris saja.

Tulisan ini berfokus pada upaya mengoptimalkan proses melatihkan soft skills dalam pendidikan vokasi. Isu soft skills masih sangat relevan pada saat ini karena, secara umum, istilah pendidikan karakter seperti disasar Kurikulum 2013 merepresentasikan pentingnya atribut-atribut soft skills dalam pendidikan, yang tercermin pada kompetensi inti sikap religius dan sikap sosial lulusan.       

Soft Skills dalam Pendidikan Vokasi            

Istilah soft skills sudah jamak digunakan dalam konteks pendidikan Indonesia, khususnya beberapa tahun belakangan. Soft skills merujuk pada keterampilan-keterampilan di luar kecakapan pada bidang yang digeluti. Aspek-aspek seperti etos kerja, rasa tanggungjawab, komitmen, inisiatif, berpikir kritis, kemampuan komunikasi, bekerjasama, dsb., merupakan fondasi penting bagi pengembangan sumber daya manusia yang unggul.

Kesulitan bagi banyak penyedia pekerjaan dan pekerja sering disebabkan oleh faktor-faktor non-teknis seperti ini. Tidak jarang misalnya, tenaga-tenaga kerja yang handal pada bidangnya menemui kesulitan dalam mengomunikasikan gagasan dan aspirasi mereka. Sebagai akibatnya, terkadang pemikiran kritis mereka sering dimanifestasikan dalam bentuk perilaku negatif seperti ‘pemberontakan' dan berujung dengan munculnya konflik.           
Merujuk hasil penelitian Siti Mardiah dan Machmud Sugandi yang dilakukan pada tahun 2009-2010, ditemukan bahwa terdapat kesenjangan sedemikian rupa dalam hal karakter kerja antara harapan pengguna dan tenaga kerja lulusan SMK pada bidang tata busana. Mereka menyebutkan bahwa total skor rata-rata harapan sebesar 4,40, sementara total skor rata-rata kenyataan hanya 2,23. Kesenjangan sebesar 2,17 ini menunjukkan rendahnya kualitas soft skills lulusan.            

Bila ditinjau dari kerangka berpikir Kurikulum 2013, sebetulnya proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah wajib mengembangkan aspek-aspek soft skills. Hanya saja, dalam prakteknya para penyelenggara pendidikan sering menghadapi berbagai kendala dengan beragam penyebab. Untuk mereduksi permasalahan-permasalahan ini, penulis menganggap perlu diambil langkah-langkah yang tepat dan strategis.

Dengan demikian, diharapkan seluruh pemangku kepentingan dapat memberikan peluang yang besar bagi para siswa untuk mengembangkan karakternya.  

Langkah-langkah Strategis                         

Pendekatan-pendekatan pengembangan soft skills bagi siswa sebenarnya sudah banyak diterapkan di berbagai negara. Di Indonesia sendiri, pengembangan secara terkonsep sudah dimulai sejak beberapa dekade yang lalu, baik secara ideologis melalui mata pelajaran maupun terintegrasikan dalam proses pembelajaran. Hanya saja, hasil yang diharapkan belum secara maksimal mampu menjawab tantangan masa kini, terlebih tantangan masa depan yang lebih ketat.            

Di era awal 90-an, Jepang menginisiasi model citizen characters, yang memadukan komponen hard skills dan soft skills dalam proses pendidikan mereka. Kegiatan-kegiatan ko-kurikuler menjadi penjembatan di antara keduanya dan sebagai penyokong kegiatan-kegiatan intra-kurikuler. Model ini bisa saja menjadi salah satu alternatif karena memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkolaborasi dan berinteraksi untuk menyelesaikan sebuah tugas (proyek) dalam waktu yang telah ditentukan.

Kegiatan ini harus dirancang secara terstruktur dengan kendali, pengawasan dan bimbingan yang baik. Tetapi, lebih dari itu, siswa harus dilatih untuk mampu bukan hanya secara bersama-sama menyelesaikan tugas, tetapi juga menemukan dan merasakan manfaat dari keseluruhan proses yang berlangsung dan produk sebagai hasil kerja mereka. Kesadaran ini penting untuk memastikan bahwa mereka dapat memperoleh makna pendidikan dan pembelajaran yang sesungguhnya.            

Menurut hemat penulis, langkah-langkah berikut dapat diambil oleh pembuat kebijakan dan tingkat satuan pendidikan untuk mengoptimalkan aspek-aspek soft skills, seperti:
 
1.   Merancang kegiatan kolaboratif lintas sektoral, baik dalam satu bidang ilmu maupun di luar rumpun ilmu. Sebagai contoh, sekolah dapat mempersiapkan kegiatan berbasis proyek bagi siswa jurusan Multi Media dan Rekayasa Perangkat Lunak. Atau, dua rumpun ilmu berbeda seperti Animasi dan Tata Busana dapat menciptakan karya berisi tokoh-tokoh luhur dengan mengenakan busana yang terinspirasi dari budaya nusantara. Yang terpenting dalam kegiatan kolaboratif ini adalah siswa menyadari bahwa aspek-aspek seperti tanggungjawab, komunikasi, kerjasama, daya juang, dsb. harus mereka munculkan untuk menyelesaikan proyek tersebut.
 
2.   Menyelenggaran workshop yang dipandu langsung oleh praktisi, dalam konteks ini dari kantor atau perusahaan yang menampung siswa-siswa PKL, sehingga para siswa langsung memperoleh gambaran tentang apa dan bagaimana situasi kerja mereka nantinya. Secara langsung ataupun tidak, siswa akan termotivasi untuk meningkatkan kualitas pengetahuan, keterampilan, dan karakternya.
 
3.   Untuk merespons pasar bebas, program Pertukaran Pelajar siswa SMK ke luar negeri harus mencakupi kegiatan pengamatan dan adaptasi terhadap budaya kerja di negara-negara lain. Meskipun kerangka programnya adalah pertukaran pelajar, tetapi porsi untuk melakukan pengamatan dan adaptasi budaya kerja harus dimasukkan sebagai prioritas karena ini bisa menjadi salah satu strategi bersaing pada pasar regional bahkan global.  

Kesimpulan            

Sebagai salah satu penghasil sumber daya manusia yang handal untuk bersaing di pasar kerja, pendidikan vokasi perlu mengedepankan aspek-aspek soft skills dalam proses pendidikan secara keseluruhan.

Kekuatan lulusan pendidikan vokasi bukan hanya pada pengetahuan dan keterampilan pada bidangnya semata tetapi juga ditentukan oleh seberapa tinggi kualitas mereka dalam aspek etos kerja, tanggung jawab, inisiatif, komitment, kemampuan berkomunikasi, bekerjasama, dsb. Atribut-atribut ini bukan asesoris pelengkap tetapi komponen pembangun utama terciptanya lulusan pendidikan vokasi yang lengkap.

Apabila aspek soft skills diabaikan dalam proses pendidikan, dapat dipastikan daya saing tenaga kerja Indonesia akan sangat rendah. Oleh sebab itu, paradigma seluruh pemangku kepentingan harus diubah. Semua harus berkomitmen untuk  memiliki kontribusi dan melakukan pengawasan guna memastikan output yang dicita-citakan benar-benar dapat terwujud.

Langkah-langkah strategis yang diusulkan dalam tulisan ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan, baik bagi pembuat kebijakan maupun pelaksana pada tingkat satuan pendidikan. Bagaimanapun, tujuan kita bersama adalah bukan sekedar bertahan dalam persaingan tetapi menjadi pemenang.*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mensos Khofifah: Kampung Berseri Astra Jadi Role Modeloleh : Rohmah Sugiarti
24-Jul-2017, 06:03 WIB


 
  Mensos Khofifah: Kampung Berseri Astra Jadi Role Model Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa (kedua kanan) menandatangani prasasti Desa Sejahtera Mandiri untuk Kampung Berseri Astra Keputih didampingi oleh Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial Hartono Laras (kanan), Chief of Corporate Communications, Social Responsibility & Security PT Astra International Tbk
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 
Ramadhan 15 Jun 2017 05:55 WIB

 
Awas Anemia! 17 Jul 2017 13:12 WIB

 

 
Hari Media Social 2017 11 Jun 2017 04:40 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia