KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalForum Promoter 2018 POLRI: Indonesia Menuju Lumbung Pangan Dunia 2045 (1) oleh : Rohmah S
23-Mei-2018, 12:15 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Pangan tidak hanya merupakan komoditas dan kebutuhan pokok dalam kehidupan setiap orang. Tetapi pangan juga menjadi kepentingan nasional dan keamanan nasional bagi sebuah negara.

Pangan memiliki peran dan fungsi vital bagi bangsa dan Negara Indonesia.
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Laju 10 Kilometer 22 Mei 2018 14:44 WIB

Ranting Putih 22 Mei 2018 14:41 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Rajin atau Malaskah Kita dalam Melakoni Kehidupan?

 
OPINI

Rajin atau Malaskah Kita dalam Melakoni Kehidupan?
Oleh : Jamiel Loellail Rora | 10-Sep-2017, 08:56:19 WIB

KabarIndonesia - Hidup ini sungguh singkat. Hampir semua kita tahu akan hal itu. Lantas, apa yang kita lakukan untuk mengisi ‘masa hidup' yang singkat itu? Banyak jawaban dari beragam realitas kehidupan yang masing-masing kita jalani.  

Ada yang sibuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Ada yang sibuk bekerja agar bisa menjadi kaya raya. Ada pula yang sibuk bekerja agar bisa menjadi pengusaha sekaligus penguasa. Yang jelas, semuanya bekerja untuk menjalankan kodratnya sebagai manusia yang hidup. Karena ‘hidup' itu sendiri adalah kata kerja.  

Lantas, bagaimana dengan yang pengangguran?  
Menurut hemat saya, tak ada pengangguran di dunia ini, semuanya bekerja sesuai dengan kodratnya sebagai manusia. Bila ada orang yang tidak memiliki gaji karena dia tidak bekerja pada orang lain itu bukan berarti pengangguran. Dia hanyalah bukan seorang pegawai. Orang semacam itu banyak kita temui di sekitar kita. Mereka termasuk orang yang mandiri; mencari uang dengan tidak menjual tenaganya kepada orang lain. Ada yang menjadi pedagang, ada yang menjadi seniman, ada yang menjadi pemulung, dan banyak lagi.  

Jadi bila ada orang yang dicap pengangguran karena tidak bekerja menjadi pegawai dan tidak bekerja mandiri, buat saya itu lebih tepat disebut sebagai pemalas dan bukan pengangguran. Orang macam ini cenderung lebih senang menjalani hidup semaunya. Tak punya orientasi masa depan, tak punya sesuatu yang dibanggakan, bahkan kerap terperosok pada perilaku tak punya harga diri.  

Orang malas yang menyebut dirinya pengangguran banyak di sekeling kita. Dengan alasan belum dapat kerjaan akhirnya kerjaannya nongkrong dengan orang malas lainnya. Membentuk sebuah komunitas dan pada akhirnya kerap terjebak pada pekerjaan yang bertentangan dengan hukum positif maupun hukum agama.  

Mulutnya asem ingin merokok mereka ‘ngompas' alias minta agak memaksa. Minta agak memaksa ini pekerjaan. Mereka memilih pekerjaan itu daripada memunguti sampah yang bisa jadi duit. Atau pekerjaan lain yang jauh lebih mulia ketimbang ‘ngompas'. Alasannya malu, tidak level kalau dirinya harus jadi pemulung. Padahal kalau punya orientasi hidup yang jelas, ada orang yang berhasil meraih gelar sarjana dengan menjalani pekerjaan sebagai pemulung.  

Kemalasan memang salah satu penyakit kehidupan yang banyak diderita oleh kita. Namun, penderitanya terkadang tak sadar sehingga tak pernah melakukan pengobatan terhadap penyakit yang dideritanya. Walhasil, semakin lama penyakit itu semakin kronis dan semakin sulit untuk diobati. Puncak dari hasil penyakit malas itu adalah kesulitan dalam hidup, baik sulit secara sosial maupun secara ekonomi.  

Kesulitan sosial adalah kurangnya mendapat kepercayaan dari orang lain. Tak ada yang mau bekerjasama atau mengajaknya bekerja karena cap malas yang sudah tertera padanya. Sebuah kondisi yang pada akhirnya menciptakan kehidupan yang pahit. Itu disebabkan orang malas hanya bisa diterima bergaul oleh orang malas pula.  

Sementara kesulitan ekonomi akan kerap menderanya hari demi hari. Seiring dengan perjalanan waktu semuanya berubah. Itu juga termasuk pada harga barang. Sehingga kian hari kebutuhan kita kian meningkat. Bila yang rajin bekerja saja kerap tersandung kesulitan ekonomi, apalagi yang malas bekerja.  

Jadi, amatlah merugi bila kita termasuk orang yang menderita penyakit malas. Kita akan senantiasa menjalani kesulitan dalam hidup yang singkat ini. Tak mampu mengisi hidup kita yang singkat agar menjadi insan yang bermanfaat. Sebab, mustahil kita bisa bermanfaat buat orang lain apabila buat diri kita sendiri saja kita kurang bermanfaat.  

Semoga tulisan singkat ini bisa bermanfaat. Dapat mengantarkan kita pada refleksi diri. Menimbang-nimbang, apakah kita termasuk orang yang menderita penyakit malas atau tidak. Bila kita sadari kita memiliki penyakit itu, obati segera. Bukankah tak ada kata terlambat untuk berbenah diri? (*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Rayakan Ramadhan, Shopee Ajak Pengguna Berbelanja dan Beramal di Bulan Suci Rezki Yanuar, Brand Manager Shopee Indonesia memaparkan kampanye Ramadhan Shopee dalam menyambut bulan suci Ramadhan tahun 2018.
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 
Sang Perancang Mode Batik 14 Apr 2018 18:54 WIB


 

 

 

 
Tempat Sampah Pintar 17 Mei 2018 22:48 WIB


 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia