KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
HukumRUU Omnibus Law Inskonstitusional Buruh Minta Stop Pembahasan Sidang Paripurna DPR RI oleh :
05-Okt-2020, 04:26 WIB


 
 
KabarIndonesia - Berbagai serikat pekerja yang merupakan afiliasi global unions federations menyatakan kekecewaannya terhadap hasil pembahasan Omnibus Law RUU Cipta Kerja tingkat pertama pada Sabtu malam (3/10). Mayoritas fraksi di DPR RI dan pemerintah sepakat untuk melanjutkan pembahasan ke tingkat
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
M E R D E K A !!! 17 Aug 2020 06:01 WIB

Terbunuh Cinta Sendiri 05 Jul 2020 14:46 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Pendidikan Keluarga di Masa Pandemi

 
OPINI

Pendidikan Keluarga di Masa Pandemi
Oleh : Romi Febriyanto Saputro | 21-Aug-2020, 16:17:47 WIB

KabarIndonesia - Wabah Covid-19  memang menimbulkan berbagai kerugian di berbagai sektor kehidupan. Namun selalu ada hikmah di balik setiap musibah. Hikmah terbesar corona bagi dunia pendidikan di tanah air adalah memberi kesempatan  semua kepala keluarga di tanah air bahkan mungkin di segala penjuru dunia untuk lebih peduli dengan keluarga. Tagar yang popular dengan sebutan "di rumah saja"untuk memutus rantai penularan covid 19 adalah peluang emas bagi setiap keluarga untuk menjalin komunikasi yang lebih berkualitas sekaligus berkuantitas.

Covid 19 seolah mengabulkan permintaan anak-anak sekolah yang merasa jenuh dengan suasana belajar di sekolah untuk belajar di rumah dalam waktu yang paling lama. Ini adalah rekor "liburan" terpanjang yang pernah mereka rasakan. Awalnya merasa senang karena terbebas dari aktivitas segera bangun pagi untuk pergi sekolah. Tahap berikutnya merasa lelah dengan tugas online yang diberikan oleh bapak/ibu guru. Tahap akhir mereka sangat merindukan pergi ke sekolah sembari mengharap uang saku dari orang tua setiap pagi. 

Covid 19 mengalihkan semua beban pekerjaan di luar rumah untuk masuk ke rumah saja. Ayah atau ibu dipaksa untuk menjadi guru dadakan semua mata pelajaran dari matematika, IPA, PKN, sampai agama. Mulai detik ini mungkin angka orang tua yang sering protes pada bapak dan ibu guru boleh jadi akan menghasilkan grafik yang landai. Merasakan beban berat bapak dan ibu guru adalah pelajaran berharga bagi orang tua untuk lebih memberikan apresiasi kepada guru. Melihat guru dengan kacamata yang lebih manusiawi dan penuh empati. 

Pendidikan keluarga yang optimal adalah salah satu mitigasi bencana untuk menghentikan daya rusak covid 19. Menurut Ki Hajar Dewantara (1961), keluarga merupakan sekumpulan individu yang diikat oleh kepentingan bersama dan  pengabdian tanpa rasa  pamrih. Keluarga adalah pendidikan pertama bagi setiap insan. Orang tua memiliki tugas sebagai penuntun, pengajar, pendidik, dan pembimbing bagi anak-anak. 

Klaus Mollenhaur  dalam M Imron Abdullah (2003)  membagi tiga fungsi keluarga dalam pendidikan anak. Pertama, fungsi kuantitatif. Keluarga bukan sekedar untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, dan papan melainkan untuk  membentuk karakter  dasar kebaikan.  Seperti kejujuran, keadilan, kedisiplinan, gotong royong, sopan santun, dan berbudi luhur.  Keluarga adalah penjaga  moral bagi anggota keluarga agar tidak salah jalan dan langkah dalam mengarungi samudera kehidupan.

Kedua, fungsi selektif. Fungsi ini merupakan filter bagi anak untuk membedakan kebaikan dan keburukan yang pada hari ini sangat tipis  bedanya. Anak perlu dibekali oleh orang tua bahwa keburukan itu tidak sama dengan kebaikan meskipun kita sangat menginginkan dan menyukainya. Keluarga adalah benteng informasi bagi anak sehingga anak mempunyai pengetahuan dan pengalaman dalam membaca informasi. Tidak membaca dengan tergesa-gesa agar tidak tergesa-gesa pula dalam mengambil kesimpulan. 

Ketiga, fungsi pedagogis, yaitu mewariskan nilai dan norma kehidupan. Nilai dan norma yang diterapkan dalam keluarga akan tercermin ketika sang anak terjun dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara kelak di masa depan.  

Bagaimana menerapkan tiga fungsi keluarga di atas?  Saya teringat film The Croods yang menceritakan keluarga yang hidup pada masa pra-sejarah, suatu masa yang penuh ancaman dan ketidakpastian. Grug nama Sang Ayah dalam keluarga manusia gua ini adalah sosok yang sangat tegas dalam menerapkan  isolasi mandiri. Boleh keluar rumah (baca gua) hanya ketika ada kegiatan ekonomi  yaitu mencari dan berburu makanan. 

Kebijakan isolasi mandiri ini terbukti ampuh sehingga keluarga yang terdiri dari ayah (Grug), ibu (Ugga), si sulung (Eep), anak ke-2 (Thunk), si bungsu (Sandy) dan nenek (Gran) ini dapat bertahan hidup atau dalam bahasa Eep, sekedar tidak mati saja. Tetangga mereka semua meninggal dunia karena nekat berada di luar gua sehingga menjadi santapan binatang buas atau terkena bencana alam.  

Setiap hari Si Ayah selalu memberikan menu dongeng kepada semua anggota keluarga bahwa terlalu lama di luar rumah sangat berbahaya. Semua anggota keluarga pra-sejarah ini sangat percaya dengan nilai-nilai dan norma-norma yang diberikan oleh kepala keluarga kecuali Eep. Eep sangat bosan dengan suasana rumah yang sangat monoton dan selalu ingin untuk menikmati dunia luar. Kombinasi konsep Eep (anak)  dan Grug (ayah) ini diakhir cerita membuat mereka menemukan tanah harapan yang bebas dari bencana. 

Grug dengan konsep yang selalu menyuarakan kehati-hatian  atau protokol keselamatan akhirnya merestui keinginan Eep untuk menemukan cahaya di luar rumah bersama sang pemandu perjalanan Guy. Keputusan keluarga inilah yang hari ini mirip dengan istilah kenormalan baru. Suatu istilah yang lahir ketika manusia merasa lelah menunggu Sang Wabah pergi dari kehidupan mereka.

Kisah manusia gua di atas menunjukkan bahwa pendidikan keluarga di masa pandemi memerlukan kepemimpinan kepala keluarga yang melek literasi bencana. Grug tidak pernah nongkrong di luar rumah ketika masa tanggap darurat bencana. Teladan Grug ini sangat dipatuhi Thunk, sang anak lelaki.  Bahkan  ketika jadwal ke luar gua datang, Thunk tidak tergesa-gesa keluar rumah sebelum mendengar aba-aba dari sang ayah. Grug sering mengingatkan putra-putrinya untuk lekas masuk gua ketika keperluan di luar rumah sudah selesai. 

Sebelum wabah Covid 19 datang tentu banyak yang mengatakan bahwa Grug bukanlah tipe ayah yang ideal karena tidak memberi kebebasan kepada putra-putrinya untuk berinteraksi dengan dunia luar.  Mungkin banyak pula yang berpendapat Grug terlalu mengekang anak dan terlalu takut dengan dunia luar. Tetapi ketika wabah corona datang, tipe ayah seperti Grug sangat dibutuhkan. Ingat, meskipun Grug selalu menganjurkan #di Gua Saja# Grug adalah model ayah yang sangat pintar menghidupkan suasana rumah sehingga Thunk dan Sandy merasa merdeka belajar bersama keluarga di rumah saja. 

Sayang Grug tidak pernah bertemu dengan kenormalan baru  di abad 21 ! Kenormalan baru yang masih diwarnai dengan ancaman penulalaran Covid-19 yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Bahkan kini sudah menembus angka di atas seratus ribu yang terkonfirmasi positif Covid-19.(*)

*Romi Febriyanto Saputro, Kasi Pembinaan dan Pengembangan Perpustakaan Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Sragen.

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Obyek Wisata Rohani Salib Kasih Dibuka Kembalioleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
10-Jun-2020, 09:39 WIB


 
  Obyek Wisata Rohani Salib Kasih Dibuka Kembali Obyek wisata rohani Salib Kasih di pegunungan Siatas Barita, Tapanuli Utara dibuka kembali sejak Jumat (5/6), setelah dua bulan lebih ditutup akibat wabah Covid-19. Lokasi wisata ini salah satu destinasi unggulan yang dibangun bupati Lundu Panjaitan tahun 1993. Puluhan ribu
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia