KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalWUPID - 2017 Ajang Debat Menantang! oleh : Johanes Krisnomo
20-Okt-2017, 16:38 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, 20 Oktober 2017 - Gaduhnya para mahasiswa saat istirahat makan siang, mengikuti ajang debat WUPID - 2017, tak sejalan dengan keseriusannya berkompetisi. Mereka berdebat mempertahankan argumentasinya, baik pro dan kontra, berdasarkan data akurat dan pola pikir kritis.
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sabar dan Syukur 12 Okt 2017 01:07 WIB

Di Padepokan Om Jin 12 Okt 2017 01:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
"Tangisan" Ridho Irama 12 Okt 2017 10:00 WIB


 

 
 
OPINI

Negara Indonesia akan Gonjang-Ganjing Jika Tidak Laksanakan Dasa Cita Nasional (Penutup)
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 01-Okt-2017, 08:13:01 WIB

KabarIndonesia - Cita (keinginan) kesepuluh tersirat dalam semangat merumuskan Kepentingan Nasional berdasarkan tugas nasional yang dijabarkan menjadi kepentingan nasional yang statis (Kepentingan yang tidak berubah sepanjang masa sejak Proklamasi 17-8-1945, saat ini dan kedepannya) dan Kepentingan Nasional yang dinamis (Kepentingan yang dalam kurun waktu tertentu di masa mendatang).

Kedua kepentingan itu merupakan tugas-tugas (Tasks) bagi setiap pemerintah yang berkuasa di dalam menyusun program pembangunan nasional dalam rangka mengemban amanah seluruh rakyat Indonesia pada masa baktinya.

Kepentingan Nasional yang dinamis secara umum merupakan visi dan misi serta program dari pemenang pemilu yang disampaikan pada saat kampanye.

Kepentingan Nasional bersifat statis terdiri dari:
1. Kepentingan Keamanan Bangsa Indonesia : “Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh Tumpah Darah Indonesia”.
2. Kepentingan Kesejahteraan Bangsa Indonesia : “Memajukan Kesejahteraan Umum dan Mencerdaskan Kehidupan Bangsa”.
3. Kepentingan Hubungan Internasional Bangsa Indonesia : “Ikut Melaksanakan Ketertiban Dunia yang Berdasarkan Kemerdekaan, Perdamaian Abadi dan Keadilan Sosial”

Kepentingan Nasional juga bersifat dinamis merupakan kepentingan dalam kurun waktu tertentu di masa mendatang:
1. Merupakan penjabaran dari Kepentingan Nasional yang bersifat statis untuk mewujudkan tercapainya Cita-cita dan Tujuan Nasional Indonesia.
2. Dapat berubah-ubah berdasarkan tuntutan dan tantangan yang diakibatkan perkembangan lingkungan strategis, baik rlobal, regional maupun Nasional, serta prediksi ancaman dan tekanan-tekanan dari proses globalisasii.
3. Merupakan tugas dan tanggung jawab pemerintah yang berkuasa mengemban amanah rakyat pada masa baktinya.
4. Dilaksanakan di awal masa bakti setiap pemerintahan yang berkuasa, yang ditetapkan dengan persetujuan legislatif dan yudikatif serta diumumkan oleh Presiden (selaku Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan/Eksekutif) kepada seluruh Rakyat Indonesia.
5. Menyangkut aspek Politik, Ekonomi dan Keamanan.

Kepentingan Nasional yang dinamis terdiri dari :

1. Kepentingan Vital.
Hakikat Kepentingan Vital adalah kepentingan survival, ketika bangsa berjuang untuk merdeka dan bernegara kemudian melindungi dan menjaga eksistensi atau kelangsungan hidup bangsa dan negara.
a. Merupakan kepentingan suatu bangsa yang tidak dapat ditawar-tawar.
b. Dapat menyebabkan suatu bangsa berperang.
c. Kepentingan Nasional yang bersifat vital juga mengandung makna :
1) Melindungi keselamatan bangsa dari segala ancaman.
2) Menegakkan kedaulatan negara dari segala ancaman.
3) Menjaga keutuhan wilayah dari segala ancaman.

2. Kepentingan Mayor.
Kepentingan Mayor memiliki hakikat kepentingan untuk Promotion of Values yang merupakan tampilan dari Kesejahteraan Nasional.
Kepentingan Mayor dalam kurun waktu 5 tahun ke depan :
a. Tegaknya Demokrasi dan Hukum.
b. Terwujudnya stabilitas politik.
c. Ketersediaan pangan dan energi.
d. Terwujudnya perluasan lapangan kerja.
e. Terselenggaranya pendidikan yg berkarakter dan multikultural.
f. Terwujudnya pengembangan teknologi transportasi, telekomunikasi & informasi.
g. Terciptanya keharmonisan SARA yang lestari.
h. Terwujudnya lingkungan hidup dan Sumber Daya Alam yang lestari.
i. Terwujudnya perlindungan HAM & Hak Asasi WNI.

3. Kepentingan Marginal.
Hakikat dari Kepentingan Marjinal adalah kepentingan yang belum menjadi prioritas karena terhambat oleh dukungan kemampuan yang dimiliki dan karena tuntutan situasi yang tidak mendesak. Walaupun demikian, Kepentingan Marjinal tetap perlu diperhatikan jika sewaktu-waktu pemerintah memiliki dukungan kemampuan yang memadai atau terjadi desakan dari perubahan situasi Lingkungan Strategi, prediksi ancaman dan tekanan-tekanan dari proses globalisasi.
Kepentingan Nasional yang bersifat marginal dalam kurun waktu tertentu di masa mendatang yaitu:
a. Penguasaan ruang angkasa.
b. Pengendalian Jalur Laut dan Jalur Penerbangan Internasional.

4. Kepentingan Peripheral.
Kepentingan peripheral memiliki hakikat Kepentingan status dan peranan dalam hubungan antar bangsa dan negara di dunia, yang merupakan tampilan dari cara hidup bangsa yang dilandasi budaya, moral dan etika.
Kepentingan Peripheral dalam kurun waktu 5 tahun ke depan:
a. Terwujudnya hubungan kerjasama bilateral dengan negara tetangga dan negara-negara maju.
b. Terwujudnya hubungan multilateral dengan organisasi-organisasi regional dan organisasi PBB.
c. Terwujudnya perdamaian dunia di bawah bendera PBB.

Kesepuluh Cita (Dasacita) Nasional Bangsa Indonesia tersebut merupakan Makna dan Substansi yang tercantum dalam Pembukaan / Preambule Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 adalah sebuah Grand Design yang berisi “Perintah”. Sebagai Grand Design yang berisi Perintah tersebut harus dijabarkan dan dilaksanakan oleh para pemimpin/pemilik partai politik/ormas, penyelenggara negara dan penyelenggara pemerintahan baik yang berada di lembaga Pemerintah maupun yang berada di Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) termasuk Institusi Negara lainnya dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Setiap Strategi dan Program Pembangunan Kekuatan Nasional yang akan dibuat harus bertumpu pada Perintah Pembukaan tersebut.

Kesinambungan dan pengejawantahan Cita-cita tersebut harus dijunjung tinggi dan diimplementasikan secara aktual / nyata dan kontekstual dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di seluruh aspek kehidupan. Pengingkaran / pengabaian terhadap jiwa dan semangat Dasacita Nasional ini akan membawa malapetaka besar yang sangat menyengsarakan rakyat Indonesia dan dipastikan akan menghancurkan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta Jatidiri bangsa Indonesia.

Keberhasilan para pemimpin/pemilik partai politik/ormas, penyelenggara negara dan penyelenggara pemerintahan dapat diukur dari bagaimana Dasacita Nasional Bangsa Indonesia tersebut dapat diwujudkan dalam memimpin bangsa ini dari posisi keterpurukan menuju cita-cita yang termaktub dalam Dasacita tersebut.

Bangsa ini sangat menantikan sosok pemimpin/pemilik partai politik/ormas, penyelenggara negara dan penyelenggara pemerintahan berkarakter nasional dan negarawan yang Pancasilais (The National Leader Must Be) dengan kepemimpinan (Ilmu dan seni serta ketrampilan yang dimiliki/The National Leader Must Know) diharapkan mampu menjabarkan Dasacita Nasional Bangsa Indonesia menjadi bagian Strategi Nasional.

Pemimpin yang mampu untuk memimpin segenap anak bangsa dalam rangka terwujud dan tercapainya Cita-cita Nasional, Tujuan Nasional dan Kepentingan Nasional (The National Leader Must Do).

Akhirul kata bagian akhir dari tulisan ini kita perlu mengingat pesan-pesan yang disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia ke-2, Jenderal Besar H.M. Soeharto pada pidato kenegaraan 15 Agustus 1974. “Usaha memperkokoh pertumbuhan bangsa ini merupakan bagian penting dan tujuan tersendiri daripada pembangunan Indonesia. Lebih-lebih karena masyarakat kita adalah masyarakat majemuk; masyarakat yang serba ganda. Kita terdiri dari bermacam-macam suku; kita memiliki bahasa dan kebudayaan daerah yang beraneka ragam; kita masing-masing mempunyai adat-istiadat kedaerahan yang berbeda-beda; karena kulit dan rambut kitapun tidak semuanya sama, kita menganut agama yang berlain-lainan, kita mendiami kepulauan besar kecil yang tidak terbilang jumlahnya di satu tanah air yang luas dan indah ini. Kita menyadari perbedaan-perbedaan itu. Akan tetapi jauh diatasnya kita lebih menyadari kebulatan tekad kita untuk bersatu padu sebagai bangsa Indonesia, kita telah mengikatkan diri dalam satu bahasa Indonesia”.

Persatuan dalam keaneka-ragaman bagi kita bukanlah hal yang mustahil. Kita telah ditempah oleh perjuangan dan sejarah yang panjang untuk bersatu. Lebih dalam lagi, kita sesungguhnya adalah bangsa yang senantiasa mencari keserasian dan keselarasan.

Izinkan saya mengutip Penjelasan Undang-undang Dasar 1945 yang pasti sudah kita pahami berikut ini :
“Yang sangat penting dalam pemerintahan dan dalam hal hidupnya negara ialah semangat”. Semangat para penyelenggara negara dan semangat para pemimpin pemerintahan. Meskipun Undang-Undang Dasar dibuat yang menurut kata-katanya bersifat kekeluargaan, apabila semangat para penyelenggara negara dan para pemimpin pemerintahan itu bersifat perseorangan maka Undang-undang Dasar tadi tidak ada artinya dalam praktek. Sebaliknya meskipun Undang-undang Dasar itu tidak sempurna, akan tetapi jikalau semangat para penyelenggara pemerintahan baik adanya, maka Undang-undang Dasar tadi tentu tidak akan merintangi kelangsungan hidup bangsa dan negara. Jadi yang paling utama ialah “SEMANGAT”, yaitu “Semangat persatuan dan kesatuan ke-Indonesiaan dalam rangka tetap tegak dan utuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia serta utuhnya Jati diri bangsa yang berdasarkan amanat Ideologi Pancasila dan Amanat konstitusi UUD NRI 1945.”(*)

Penulis: Brigjen TNI (Purn) Junias Marvel Lumban Tobing M. Sc. Kepala Pusat Pengkajian Strategi TNI Periode 2008-2012; Anggota Pengurus Pusat Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas/IKAL Periode 2010-2015 & Periode 2015-2020); Share copy dari kermahudataranews.com

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
WUPID - 2017 Berfoto Bersamaoleh : Johanes Krisnomo
20-Okt-2017, 00:06 WIB


 
  WUPID - 2017 Berfoto Bersama Para peserta, juri dan panitia WUPID Indonesia 2017, Jakarta (14-15/10/17), berfoto bersama di akhir acara. Dua dari 30 tim (berhak mewakili Indonesia di QUIP WUPID (World Universities Peace Invitational Debate) Global 2017, Malaysia (8-12/12/17). Aldwin & Ibrahim - Universitas
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi JK 20 Okt 2017 15:13 WIB


 

 

 

 

 
Pimpinan Redaksi HOKI 2017 09 Okt 2017 20:02 WIB


 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia