KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalRudiantara: 4,6 Juta UMKM Sudah Online oleh : Sesmon Toberius Butarbutar
15-Nov-2017, 21:01 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Kementerian Komunikasi dan Informatika menyampaikan berdasarkan data terdapat 4,6 juta UMKM dari target delapan juta UKM hingga 2019 telah masuk akses online.

"Kami punya target mengonlinekan delapan juta UMKM hingga tahun 2019, namun sekarang baru
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Hujan Tak Pernah Sendiri 13 Nov 2017 20:13 WIB

Ada Saat 08 Nov 2017 13:32 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Nama Baik dan Harga Diri

 
OPINI

Nama Baik dan Harga Diri
Oleh : Denni Candra | 03-Nov-2017, 03:11:25 WIB

KabarIndonesia - Dengan memperhatikan data yang dirilis oleh Southeast Asia Freedom of Expression Network (Safenet), sebuah organisasi nirlaba yang fokus dalam kegiatan mendorong kebebasan berekspresi dan berpendapat, maka semenjak era Presiden Jokowi berkuasa dari tanggal 20 Oktober 2014 sampai dengan sekarang tercatat sekitar 150 lebih laporan pidana berkaitan dengan UU ITE yang ditangani oleh pihak kepolisian. Sebagian besar laporan tersebut menjerat para terlapor dengan tuduhan menyebarkan ujaran kebencian dan pencemaran nama baik.

Kasus terbaru yang sedang menjadi sorotan adalah ditangkapnya Dyann Kemala Arrizqi, salah seorang kader salah satu partai politik di Tangerang-Banten karena mengunggah meme Setyo Novanto di akun instagramnya. Keisengan yang bertujuan sebagai candaan tersebut dianggap pencemaran nama baik terhadap Sang Ketua Dewan Yang Terhormat. Sebelumnya Dhandy Dwi Laksono, video maker dari WatchDoc juga mengalami nasib serupa karena dilaporkan oleh Abdi Edison, Ketua Dewan Pengurus Daerah Relawan Perjuangan Demokrasi (DPD Repdem) Jawa Timur, organisasi sayap PDI Perjuangan, karena dianggap memposting sesuatu yang merupakan ujaran kebencian dan mencemarkan nama baik Megawati Soekarno Putri yang notabene adalah Ketua Umum PDI Perjuangan.

Mundur beberapa waktu ke belakang ada juga kasus yang dialami oleh komedian tunggal Muhadkly MT atau Acho yang merasa dirugikan pihak manajemen Apartemen Green Pramuka. Namun kritikan tersebut dianggap sebagai pencemaran nama baik oleh pihak pengelola Apartemen Green Pramuka, dan berakibat Acho dilaporkan serta harus berurusan dengan pihak kepolisian. Begitu juga Ravio Patra, periset dan pemerhati isu sosial. Ia mempertanyakan inkonsistensi rekam jejak Wempy Dyocta Koto, motivator bisnis. Sama seperti cerita-cerita yang disampaikan diatas, semuanya berakhir dengan pelaporan ke pihak kepolisian serta dijerat dengan tuduhan pencemaran nama baik.

Berkaitan dengan kasus-kasus tersebut terutama tentang pencemaran nama baik, mendadak pikiran usil saya mempertanyakan, kalau ada nama baik berarti ada nama jelek. Apakah orang yang merasa nama baiknya dicemarkan itu sudah begitu yakin kalau namanya memang baik? Jangan-jangan memang namanya itu sudah jelek tapi karena tidak mau mengakui sehingga akhirnya menuduh orang lain mencemarkan nama baiknya yang memang sudah jelek itu. Bagaimana dengan nama saya ya? Apakah nama saya sudah baik sehingga sampai saat ini saya tidak pernah merasa kalau ada orang yang menjelekkan atau jangan-jangan memang nama saya sudah jelek sehingga orang jadi bingung untuk menjelek-jelekkannya?

Dan kalau disebut-sebut harga diri berarti bisa diperjual belikan dong? Sebab kalau sesuatu yang ada harganya berarti bisa dibeli dan kalau harga diri bisa dibeli berarti ada orang yang tidak mempunyai harga diri sehingga dia mau membeli untuk mendapatkan harga diri tersebut. Lagi-lagi saya melihat ke diri pribadi, apakah saya mempunyai harga diri atau tidak? Kalau saya mempunyainya berarti diri saya juga bisa dibeli dong, tetapi saya tidak tahu harganya berapa dan mau jualnya kemana? Kalau pun ada yang mau membeli saya tidak akan mau juga untuk menjualnya. Karena kalau sesuatu yang sudah dijual itu berarti hak kepemilikannya juga berpindah tangan, Jadi kalau saya menjual harga diri saya sendiri berarti diri saya jadi milik orang lain sehingga saya tidak bebas lagi tetapi diatur oleh orang yang telah membeli tadi.

Menurut pendapat saya pribadi, nama baik itu tergantung kepada tingkah laku dan perbuatan kita sendiri. Kalau kita selalu bertindak dan berbuat yang baik sesuai dengan norma dan peraturan yang berlaku maka penilaian orang pun akan baik kepada kita dan dengan sendirinya nama kita pun akan ikut baik begitu pula sebaiknya. Jadi kalau ada orang yang menurut kita mencemarkan nama baik kita maka langkah pertama kita harus introspeksi diri dulu. Apakah perbuatan dan tindakan kita sudah sesuai belum dengan norma yang berlaku? Jangan-jangan kita sendiri yang secara tidak sadar membuat nama kita jelek tetapi kita menyalahkan orang lain.

Begitu juga dengan harga diri, kita menyalahkan orang lain karena telah menjatuhkan harga diri kita padahal kita sendiri yang menyodorkan dan menjual murah harga diri kita kepada orang lain. Jadi jangan dulu keburu marah atau menuntut lewat jalur hukum kalau ada orang yang mencemarkan nama baik dan menjatuhkan harga diri kita. Padahal kita juga sering mencemarkan nama orang lain bahkan kadang-kadang baik disengaja atau tidak kita malah mencemarkan nama Tuhan melalui sumpah palsu yang kita gunakan untuk menutupi kesalahan yang kita perbuat. Coba bayangkan kalau Tuhan menuntut kita saat itu juga ketika kita mencemarkan nama-Nya ?

Jadi yang penting sekarang kita bertindak dan berbuat sesuai dengan norma yang berlaku dan segala perbuatan kita baik di mata Tuhan. Kalau nama kita sudah baik di mata Tuhan maka dengan sendirinya orang lain pun akan menilai baik kepada kita tetapi kalau dimata Tuhan nama kita sudah jelek bagaimana pun juga orang menyanjung kita tetap tidak akan ada gunanya.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Inspirasi 60 Tahun Astra Makassar Semarak, Target Revitalisasi 600 Halte Tercapai Senior Journalist Rappler Indonesia Uni Lubis (kanan) berinteraksi dengan 400 peserta dalam bedah buku Astra on Becoming Pride of the Nation bersama Chief of Corporate Human Capital Development PT Astra International Tbk Aloysius Budi Santoso (tengah), dipandu oleh Zilvia Iskandar
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Beriman dan Bijaksana 12 Nov 2017 06:45 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia