KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia – Serang, Guna memaksimalkan peran Balai Latihan Kerja(BLK) yang sudah ada selama ini, Kementerian Ketenagakerjaan terus matangkan penerapan konsep Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK). Pasalnya konsep ini diyakini mampu menjawab kebutuhan tenaga kerja terampil di Indonesia yang sesuai dengan kebutuhan
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Bubar Riyaya 22 Jul 2017 01:58 WIB

Anak Beranak Kanak 22 Jul 2017 01:56 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
OPINI

Menghidupkan Nilai-Nilai Persatuan dalam Kebhinekaan melalui Pendidikan
Oleh : Indra Hartoyo | 18-Apr-2017, 13:28:47 WIB

KabarIndonesia - Pendahuluan, Kehidupan berbangsa dan bernegara membutuhkan semangat persatuan dan kebersamaan serta kesamaan visi untuk mewujudkan cita-cita bersama. Semangat ini harus hadir dalam diri setiap warga bangsa dan melandasi segala tindakan dan perbuatannya.

Hidup dalam kebinekaan bukan berarti bahwa kita harus membeda-bedakan atau dibeda-bedakan karena suku, agama, ras, atau golongan. Kebinekaan justru dapat membawa dampak positif dan secara signifikan mengawal perjalanan kita sebagai bangsa yang besar. Keberhasilan menunjukkan persatuan dalam keberagaman, menjadi sebuah keunggulan di antara bangsa-bangsa lain di dunia.

Sejak dilahirkan Indonesia sudah dalam keadaan bineka. Akan terlalu lelah bila kemudian kita berseteru hanya untuk menonjolkan bahwa satu kelompok jauh lebih berjasa dibanding kelompok lain. Akan terlalu naïf bila kita menafikkan adanya sumbangsih dari kelompok-kelompok tertentu. Perdebatan atas persoalan itu hanya akan membawa kemunduran bagi persatuan yang telah diperjuangkan sejak dulu.

Namun pada kenyataannya, saat ini nilai-nilai persatuan dan kebinekaan kita tengah menghadapi badai cobaan yang cukup serius. Bila tidak sesegera mungkin diantisipasi, pada akhirnya bom waktu disintegrasi bangsa akan terjadi. Oleh karena itu, diperlukan upaya-upaya mendasar untuk mencegah kerusakan lebih jauh yang menggerogoti keutuhan kita. Salah satu upaya tersebut dapat dilakukan melalui penguatan dan perbaikan kualitas pendidikan, baik formal, non-formal, maupun informal.  

Pendidikan dalam Masyarakat
Sebagian masyarakat terkadang abai akan kewajibannya menjadi bagian dalam proses pendidikan secara umum. Masih banyak yang berpandangan bahwa institusi pendidikan menjadi satu-satunya elemen yang bertanggungjawab atas keberhasilan pendidikan. Kekeliruan ini mengakibatkan semakin sulitnya menemukan solusi terhadap permasalahan yang terjadi. Padahal, kehidupan sehari-hari di lingkungan sosial justru memberikan dampak yang sangat masif terhadap upaya menumbuhkan rasa berbangsa dan bernegara.

Kehidupan sosial sehari-hari memberikan contoh dan pengalaman langsung kepada setiap individu untuk memahami cara bersikap dan bertindak dengan menunjukkan toleransi dan menghargai berbagai perbedaan. Friksi dan keretakan dapat dengan mudahnya dipicu hanya karena kegagalan merespons fenomena-fenomena yang hidup di tengah masyarakat.  

Sebagai individu yang tengah tumbuh dan berkembang, anak-anak dan remaja membutuhkan model sikap dan perilaku. Mereka tidak akan mengambil contoh jauh-jauh dari lingkungannya sebab di sekitar mereka ada orang-orang dewasa sebagai panutan dan dapat didengar. Kehidupan sosial mereka dimulai dari lingkungan keluarga. Orang tua yang perduli, demokratis, berpikiran terbuka, dan menjalankan etika dan moralitas akan sangat membantu dalam masa tumbuh-kembang mereka.

Role relations
yang dibangun dalam konteks keluarga akan memunculkan kesadaran bahwa mereka menjadi bagian penting dalam upaya saling menjaga dan saling melindungi untuk menghadirkan kebersamaan dan persatuan. Orang tua harus menyadari bahwa anak hidup pada masa kini dan bukan masa lalu, sehingga realitas masa kini akan sangat relevan dan harus dijadikan dasar bagi pendidikan mereka. (Zurayk, 1997).  

Pada sisi lain, sikap dan perilaku masyarakat dalam lingkungan sosial juga menjadi faktor penentu. Perbedaan dan kebinekaan dalam skala yang lebih luas ini dapat menjadi hambatan dan memunculkan sikap negatif dari para individu yang sedang berkembang tersebut bila tidak dikelola dengan baik. Sikap tepa selira dan semangat untuk menjadi bagian dari solusi akan menghadirkan motivasi dan keinginan untuk selalu melakukan yang terbaik bagi kemaslahatan bersama. Setiap pelanggaran terhadap norma-norma sosial harus mendapatkan sanksi, dan ini menjadi kepastian.

Seringkali ‘keengganan' orang mematuhi norma atau aturan sosial dipicu karena tidak adanya kepastian (ketegasan) terhadap pelanggaran yang terjadi. Dalam kondisi terburuk, hal ini dapat menciptakan apatisme dan sikap individualistik sehingga pada satu fase akan membentuk masyarakat perusak diri sendiri (self-destructive society).

Oleh karena itu, masyarakat secara umum perlu menyadari bahwa pendidikan merupakan salah satu tanggung jawab mereka, dan nilai-nilai persatuan dalam kebinekaan itu ditentukan salah satunya oleh sikap dan perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari. Kelanjutan hidup generasi berikutnya ditentukan oleh mereka yang hidup saat ini. Tjut Nyak Dhien menegaskan ‘Penjagaan terbaik bagi generasi muda adalah contoh yang baik bagi generasi tua.'                           

Sekolah Sebagai Miniatur Kehidupan Sosial
Sebagai institusi formal sekolah memegang peranan sentral dan fundamental dalam mengembangkan karakter pemersatu dan pemberi solusi untuk mereduksi perkembangan sikap individualistik dan sektoral.

Sekolah merupakan perpanjangan tangan pemerintah dalam pelaksanaan berbagai kebijakan bidang pendidikan. Semakin menyentuh akar persoalan dan memenuhi kebutuhan sebuah kebijakan atau program tentu akan semakin baik dampak yang akan dihasilkan. Hanya saja, permasalahan kerap muncul ketika pemerintah dan institusi-institusi pendidikan tidak satu pandangan tentang konsep berpikir dan implementasi sebuah kebijakan atau program. Hal ini disebabkan oleh apakah kurang relevan dan efektifnya kajian akademis, proses sosialiasi atau resistennya pihak-pihak yang ‘mapan' dengan status quo. Ini mengimplikasikan bahwa setiap elemen dalam sistem memiliki pengaruh pada setiap kebijakan atau program yang dirancang dan dijalankan.

Dalam sub judul ini, penulis akan menjelaskan bagaimana lingkungan sekolah sebagai miniatur kehidupan sosial dapat berkontribusi pada pembangunan karakter anak didik berkaitan nilai-nilai persatuan dalam kebinekaan.  

Hampir tidak mungkin kita menemukan sebuah sekolah yang benar-benar homogen. Meskipun terdapat sekolah-sekolah berbasis agama misalnya, tetap saja di dalamnya ada situasi bineka dari sisi budaya, kelompok-kelompok suku atau sub-suku. Ini mengindikasikan bahwa lingkungan sekolah akan selalu diisi oleh individu-individu dengan latar belakang yang berbeda-beda dari sisi sosial, budaya, ekonomi, dan sebagainya. Perbedaan ini tidak boleh menjadi hambatan bagi peserta didik untuk saling berinteraksi.

Salah satu dari enam pilar penting karakter yang harus dikembangkan dalam konteks pendidikan yaitu citizenship. Pilar ini mencakupi pegembangan beberapa perilaku seperti kemamauan untuk berkontribusi, mampu saling bekerjasama, menghormati aturan, dsb. Karakter ini juga diperkuat oleh satu dari empat pilar pendidikan UNESCO, yaitu learning to live together. Pendidikan formal harus mampu menciptakan individu-individu yang memahami pentingnya menjadi bagian dari kelompok masyarakat untuk menghadirkan semangat kebersamaan dan saling berbagi yang pada akhirnya menciptakan kedamaian dan kesejukan bagi semua.

Nilai-nilai ini harus diintegrasikan dalam dalam proses pembelajaran di kelas dan dicontohkan dalam perilaku-perilaku di luar kelas. Dalam lingkup lingkungan sekolah secara umum, skenario terencana dan terkoordinir perlu dirumuskan oleh pembuat dan pelaksana kebijakan.     

Melihat urgensi character building peserta didik dalam kerangka nation building yang dicita-citakan, maka setiap komponen di sekolah harus menunjukkan keinginan untuk terlibat di dalamnya. Beban ini tidak boleh dilepaskan kepada para guru semata. Dari tingkat pimpinan sekolah sampai penjaga kantin, petugas keamanan dan kebersihan wajib menjadi model bagi peserta didik.

Setiap komponen di sekolah merupakan kepingan-kepingan mata rantai yang membentuk sebuah sistem. Rangkaian sistem ini adalah perwujudan kecil dari sistem kehidupan sosial masyarakat yang lebih luas. Jadi, tidak salah bila sekolah diyakini menjadi bentuk miniatur kehidupan sosial dimana peserta didik dapat mengadopsi nilai-nilai kebersamaan dalam perbedaan.  

Kesimpulan

NKRI tidak dapat ditawar-tawar lagi oleh setiap warga negara Indonesia. Kebinekaan di Indonesia merupakan ciri khas yang sudah hidup jauh hari sebelum masa kemerdekaan. Kebersamaan dan persatuan dalam kebinekaan pula yang membentuk Indonesia saat ini. Kita perlu menyadari bahwa setiap individu memegang tanggung jawab dalam memertahankan kebersamaan dan persatuan demi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

Lingkungan sosial dan lingkungan pendidikan formal harus menjadi wadah bagi anak-anak Indonesia untuk belajar dan mangadopsi sistem nilai yang berlaku. Semangat persatuan dalam kebinekaan diantara generasi penerus inilah yang akan memastikan kekuatan dan daya tahan bangsa terhadap intervensi, upaya-upaya agitasi dan disintegrasi dari kelompok kepentingan tertentu.

Oleh karena itu, pemerintah harus menyediakan instrumen yang tepat dan memberi kepastian kepada setiap warga negara untuk menjaga nilai-nilai kebersamaan dan persatuan. Sementara, kelompok masyarakat dan institusi-institusi pendidikan harus memberikan ruang yang cukup dan memfasilitasi berkembangnya nilai-nilai sosial dan budaya kepada para generasi masa depan bangsa.*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mensos Khofifah: Kampung Berseri Astra Jadi Role Modeloleh : Rohmah Sugiarti
24-Jul-2017, 06:03 WIB


 
  Mensos Khofifah: Kampung Berseri Astra Jadi Role Model Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa (kedua kanan) menandatangani prasasti Desa Sejahtera Mandiri untuk Kampung Berseri Astra Keputih didampingi oleh Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial Hartono Laras (kanan), Chief of Corporate Communications, Social Responsibility & Security PT Astra International Tbk
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 
Awas Anemia! 17 Jul 2017 13:12 WIB

 

 

 
Uang Bukanlah Sumber Kebahagiaan 26 Jul 2017 16:09 WIB


 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia