KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia - Pada Nukilan Buku Jokowi Utusan Semesta: Sekali Lagi Semesta Membuktikan Tidak Pernah Ingkar Janji bagian (6) kita telah melihat, berbagai upaya untuk menyerang dan menjatuhkan Jokowi ternyata justru sering berbalik menjadi bumerang yang menjadikan elektabilitas Prabowo-Hatta terdegradasi. Jokowi-JK
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sayapku Telah Patah 08 Jul 2019 10:34 WIB


 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
OPINI

Mengapa Harus Kecewa Dengan Sistem Zonasi Sekolah?
Oleh : Adis Setiawan | 01-Jul-2019, 13:06:01 WIB

KabarIndonesia - Seperti yang sudah pernah saya bahas ditulisan sebelumnya, bahwa saya termasuk orang yang masa bodoh dengan sekolah favorit, karena dari dulu saya sudah mengamalkan sekolah dengan sistem zonasi, tidak peduli lagi favorit atau unggulan walapun ada beberapa macam sekolahan swasta yang termasuk kategori difavoritkan oleh masyarakat. Tapi saya masuk sekolahan swasta tersebut tidak mengejar favorit itu.

Yang saya kejar adalah efektif dan efisien, tentang jarak tempuh perjalanan karena maklum saya tidak punya kendaraan pribadi pada waktu itu. Sebagai mahasiswa manajemen saya sekarang harus mengamalkan ilmu pengaturan minimal untuk diri sendiri dan kelak untuk anak saya tentang pilihan efisien dan efektif.

Waktu TK, saya Sekolah di TK Asyiyah Bustanul Athfal 05 Tlangu (ABA 05 Tlangu) Sukorejo.  Tempat tersebut masih dalam satu zona Kampung termasuk tidak jauh. Walapun rumah saya dulu di Tlangu Tengah sedangkan TK ABA 05 berada di Tlangu Barat tapi masih kategori dekat dan jalan kaki juga sampai. Mengurangi polusi udara oleh kendaraan bermotor.

Waktu SD saya sekolah di MI Al Islam Kauman Sukorejo, sebetulnya bukan paling dekat dari rumah tapi MI Al Islam termasuk sekolah yang jaraknya masih dekat, masih dizona Sukorejo jalan kaki juga sampai. Melewati kantor pos, kantor Polisi dan Alun-alun Sukorejo. Iya sekolah tersebut disamping Alun-alun Sukorejo. Gedung sekolahannya bertingkat, dari atas bisa melihat keramaian alun-alun bunderan Sukorejo.

Waktu SMP saya sekolah di SMP Muhammadiyah 04 Sukorejo, yang berada di Sumber kebumen. Saat sekolah SMP, rumah saya pindah dari Tlangu Tengah ke Tlangu Barat jadi lebih dekat dengan Kebumen. Walaupun berangkat sekolah jalan kaki lewat Papringan (kebun bambu) dan kuburan serta menyeberang kali, tapi masih masuk kategori dekat jalan kaki juga sampai, Karena pada saat itu saya berangkat sekolah jalan kaki, sudah saya buktikan tidak menganggu proses pendidikan.

Waktu SMK saya sekolah di SMK Muhammadiyah 04 Sukorejo (Mupat) yang lokasi berada disamping perempatan Kebumen  dibawah terminal Sukorejo, tapi masih dalam satu zona dari tempat tinggal tidak jauh. Saya sering jalan kaki walapun lumayan sedikit lama jaraknya -+ 3 KM, tapi saya lebih sering jalan kaki lewat jalan tikus  lewat Tlangu Barat yang ada kebun jadi lebih dekat.

Lalu, apa yang mau diributkan soal sistem zonasi ini?  Saya mengamalkan dari dulu tidak ada rasa penyesalan, justru biasa saja masa bodo. Lulusan sekolah tidak favorit pun saya bisa mendaftar kerja, alhamdulillah punya uang, bisa menikah dan dikaruniai dua orang anak cewek dan cowok. Setelah kerja dan menikah saya lanjut kuliah, juga masih bisa hidup normal hasil didikan zonasi.

Oke.....misalkan, kalau seandainya sekolah ditempat yang tidak favorit karena dampak sistem zonasi. Apa akhirnya tidak pandai seperti lulusan sekolah favorit, tidak bisa mendapatkan beasiswa kuliah?. Apakah ini karena sekolah diswasta dianggap kurang nilainya, atau statusnya tidak dianggap. Apatah lagi dari keluarga tidak mampu bagaimana mau kuliah?

Justru yang harus kalian cari adalah teman relasi, bayangkan dulu saya beberapa kali mau diberi beasiswa kuliah oleh beberapa orang. Tapi saya menolaknya lebih memilih perguruan tinggi yang masih baru belum terkenal dengan biaya sendiri dan yang penting lokasi masih dalam satu zona dari tempat tinggal saya sekarang. Karena, saya pribadi punya kelainan sifat, dapat beasiswa selalu jadi orang nakal, bolosan dan sudah punya pengalaman waktu dulu mendapatkan beasiswa. Jadi menurut saya, lebih baik pakai uang sendiri, kalau rugi ya rugi sendiri. Akhirnya berpikir, sayang benar kerja keras buat bayar kuliah kalau akhirnya malah jadi mahasiswa tidak benar.

Jadi buat apa mengejar-ngejar tipe favorit capek doang, ngejar gengsi tidak akan ada habisnya kata orang tua sih. Sekali kali hidup prihatin ( menyamar jadi orang susah )
Banyak pasti sekolahan swasta yang favorit di zona tempat tinggal anda, apa lagi yang islami. Kalau yang non muslim lebih ke Yayasan-yayasan non muslim kan juga banyak. Memang tidak ada sekolah Swasta yang berkualitas? Sampai segitunya memandang sekolah swasta misalkan, sehingga harus ribut dengan sistem zonasi yang mengakibatkan kita tidak bisa masuk sekolah favorit. WaAllahu Alam Bishowab. Penulis
Adis Setiawan, adalah mahasiswa STIT Nusantara Bekasi.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mekanisasi Pertanian di Tanah Batakoleh : Leonardo Tolstoy Simanjuntak
14-Jun-2019, 06:38 WIB


 
  Mekanisasi Pertanian di Tanah Batak Petani di Tanah Batak sekarang merasa lega. Semakin sulitnya mendapatkan tenaga kerja untuk mengelola pertanian padi, membuat mereka kewalahan. Untunglah mekanisasi pertanian itu beberapa tahun terakhir sudah hadir. Untuk panen raya, petani di kawasan Silindung Tapanuli Utara umumnya sudah menggunakan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia