KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalHumas Indonesia Butuh Dewan Kehumasan oleh : Rohmah Sugiarti
10-Des-2017, 23:29 WIB


 
 
KabarIndonesia – Profesi Hubungan Masyarakat (Humas) atau Public Relations (PR) di Indonesia butuh sebuah lembaga independen yang bertugas membina pertumbuhan dan perkembangan kehumasan nasional. Kebutuhan ini semakin relevan dan mendesak dengan dibukanya keran Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang membuka akses
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Jatuh Cinta Kepada Telaga 26 Nov 2017 11:31 WIB

Dunia Imitasi 23 Nov 2017 15:40 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
OPINI

Memutus Rantai Kemiskinan Melalui Pendidikan Pembebasan
Oleh : Esha Wadahnia Nurfathonah | 26-Nov-2017, 11:25:42 WIB

KabarIndonesia - Miskin atau kemiskinan bukanlah sebuah pilihan, namun itu adalah sebuah musuh yang harus di lawan.  Indonesia yang konon katanya adalah sebuah negara yang kaya akan sumber daya alamnya, namun sangat ironi jika kita melihat data statistik dunia. Negara Indonesia merupakan negara termiskin yang ke 68 dari 100 negara di dunia dihitung berdasarkan jumlah GDP (Gross Domestic Product).

Menurut pakar ekonomi, Rahman Herry B Koestanto S.E, bahwa kemiskinan indonesia disebabkan kurangnya Sumber Daya Manusia (SDM) dalam mengelola Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di negara ini. Disebutkan demikian bukan berarti orang Indonesia bodoh, namun diartikan disini kita belum mampu mengelola negaranya sendiri dengan baik dan benar. Adanya budaya yang sudah tertanam kuat dalam struktur birokrasi kita. Mental korupsi, individualisme, nepotisme, kolusi serta sikap mental untuk memperkaya diri, seakan sudah menggurita dan mendarah daging.

Lalu apa kaitannya kemiskinan dan pendidikan? Mungkin yang terlintas dalam pikiran kita, orang miskin itu disebabkan oleh malasnya untuk berkerja atau memang sudah takdirnya miskin. Tidak, sekali lagi tidak, itu bukanlah alasan yang tepat, miskin adalah buah dari penindasan yang dilakukan oleh mereka yang mengenakan dasi dan jas serta jubah-jubah kebesaran dan di atas podium. Mereka sangat pandai berbicara atas nama agama, berbicara tentang moral tapi dari tangan merekalah lahirnya sebuah kemiskinan.

Dalam teori Hegel mengatakan bahwa kaum borjuis selalu ingin menjadi penindas dan kaum tertindas selalu saja tenggelam dalam mitos, mengidap sikap mendua yang tumbuh di dalam diri mereka yang paling dalam, mereka sadar bahwa mereka membutuhkan sebuah pembebasan. Namun, rintangan terberat untuk mencapai kebebasan adalah realitas yang menindas dapat memukau mereka yang berada di dalamnya dan oleh karena itu menundukan alam pikiran mereka. Secara fungsional penindasan berarti penjinakan. Agar tidak berlarut larut menjadi korban penindasan, maka seseorang harus bangkit dan melawannya.

Qian Tang dari United Nation Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), dalam peluncuran Global Education Monitoring (GEM) Report 2016 mengatakan, bahwa jumlah partisipasi pedidikan di Indonesia  dalam laporan itu memang tercatat terus meningkat. Akan tetapi kendala yang dihadapi pemerintah Indonesia saat ini adalah memastikan seluruh anak yang bersekolah mendapatkan kualitas pendidikan yang sama atau tidak. 
Artinya pendidikan di Indonesia saat ini terlalu fokus pada angka partisipasi masyarakat terhadap pendidikan, baik dari tingkat dasar sampai menengah atas bahkan sampai pada perguruan tinggi. Padahal angka partisipan tidak akan mampu mengubah perekonomian umat atau bahkan memutus rantai kemiskinan itu sendri. Akan tetapi yang harus dikedepankan adalah bagaimana kualitas atau mutu pendidikan yang di dapatkan oleh peserta didik.
Kualitas pendidikan di indonesia sangat tertinggal bahkan jika dibandingkan dengan negara-negara yang lebih miskin. Ini di buktikan pada data yang dilaporkan oleh UNESCO 2016 hasil perbandingan dari 76 negara tentang kualitas pendidikan, Indonesia berada pada posisi yang ke 69 atau 8 dari bawah. Sedangkan di tingkat ASEAN berada pada peringkat 5. Ini artinya terjadi problematika yang serius yang sedang dihadapi oleh pendidikan Indonesia. Jika kualitas pendidikan rendah maka akan menyebabkan runtuhnya  sebuah kebudayaan dan akan mempengaruhi bekembangnya suatu peradaban sehingga akan menghambat pertumbuhan perekonomian.

Mari kita merefleksikan bagaimana proses pendidikan yang terjadi di Indonesia. Penerapan proses pendidikan di Indonesia cenderung sangat tidak membebaskan. Artinya sangat terpaku dengan perubahan kurikulum yang sangat signifikan sekali, atau proses transfer knowledge yang dilakukan seperti gaya bank. Guru adalah subyek yang akan melakukan deposit pengetahuan dan murid adalah tempat deposit atau hanya obyek belaka. Dalam proses belajar seperti itu murid semata-mata sebagai obyek. 

Praktik pendidikan semacam itu merupakan sebuah bentuk penindasan dan cenderung tidak membebaskan. Sadar atau tidak, pendidikan yang terjadi di Indonesia menjadi sebuah kegiatan menabung, maka murid sebagai celengan dan guru sebagai penabung. Yang terjadi bukanlah kegiatan komunikasi melainkan hanya sebatas kegiatan menerima, mencatat, dan menyimpan. Pengetahuan tidak akan lahir tanpa usaha mencari dan usaha praksis.
Dalam konsep pendidikan gaya Bank, pengetahuan merupakan sebuah anugerah yang di hibahkan oleh mereka yang menganggap diri berpengetahuan kepada mereka yang tidak berpengatahuan. Menganggap bodoh orang lain merupakan ciri dari ideologi penindasan. Ketika guru berada di depan murid-murid dan menganggap dia bodoh disitulah terjadinya sebuah penindasan dalam proses pendidikan sehingga mengakibatkan kurangnya dialektika yang terjadi dalam proses pembelajaran. Murid pun tidak pernah sadar bahwa mereka merupakan kaum tertindas sehingga yang terjadi adalah segala sesuatu yang diberikan oleh guru kepadanya merasa semuanya 'benar' dan hal itu mengakibatkan critical thinking siswa semakin rendah. Itulah sebabnya mengapa kualitas pendidikan Indonesia semakin rendah karena daya cipta, daya ubah dan pengetahuan yang dimiliki sangat rendah sekali.
 
Paulo Freire (pendidikan kaum tertindas) memberikan suatu konsep pendidikan yang melawan segala bentuk penindasan yang dilakukan dalam pendidikan. Menurutnya hakikat dari pendidikan adalah "proses memanusiakan manusia" artinya pendidikan adalah usaha humanisasi sebagai fitrah ontologis manusia.
 
Sebagai alternatif untuk merontokan pendidikan gaya bank, freire menciptakan sistem yang bernama "Problem-posing education"  atau "Pendidikan Hadap Masalah". Pada konsep ini yang menjadi titik tolak yaitu manusia itu sendiri. Manusia tidak mengada secara terpisah dari dunia dan realitasnya, tetapi ia berada dalam dunia bersama-sama dengan realitas dunia. Realitas itulah yang harus diperhadapkan kepada peserta didik supaya lahirlah kasadaran terhadap realitas.
 
Konsep paedagogis yang demikian didasarkan pada pemahaman bahwa manusia mempunyai potensi untuk berkreasi dalam realitas dan untuk membebaskan diri dari penindasan budaya, ekonomi dan politik. Kemiskinan adalah bukti otentik dari bentuk penindasan. Untuk melawan sebuah penindasan  agar bisa berada dalam posisi yang sejajar artinya tidak ada kaum tertindas dan tidak ada penindas maka manusia harus memiliki kesadaran terhadap realita yang dihadapinya.
 
Freire membagi empat tingkatan kesadaran manusia. Pertama, Kesadaran intransitif dimana seseorang hanya terikat pada kesadaran jasmani, tidak sadar akan sejarah dan tenggelan dalam masa kini yang menindas. Kedua, Kesadaran Magiskesadan ini adalah fatalistis, hidup dibawah kekuasaan orang lain atau hidup ketergantungan. Ketiga, Kesadaran Naif dimana seseorang sudah memiliki kemampuan untuk mempertanyakan dan mengenali realitas, akan tetapi masih primitif dan naif. Keempat, Kesadaran Kritis Transitif dimana seseorang sudah mampu menafsirkan masalah-masalah, percaya diri dalam berdiskusi, mampu menerima dan menolak.
 
Kemudian seperti apa sih Pendidikan yang membebaskan itu? 
Bagi Freire pendidikan yang membebaskan itu adalah pendidikan yang menumbuhkan kesadaran kritis transitif. Bukan berarti peserta didik langsung berada pada kesadaran ini akan tetapi belajar adalah proses bergerak, mencari, bukan hanya menerima, mencatat dan menyimpan. Artinya dalam proses pembelajaran guru bukanlah subyek dan murid adalah obyek, melainkan keduanya adalah subyek yang sama-sama memecahkan sebuah permasalahan sehingga melahirkan ilmu pengetahuan.
 
Guru bertindak sebagai koordinator yang memperlancar percakapan dialogis sehingga peserta didik sampai kepada kesadaran kritis transistif. Miskin bukanlah alasan untuk tidak mengenyam pendidikan, justru karena kemiskinanlah kita harus berpendidikan setinggi-tingginya. Penindasan akan tetap merajalela jika kita hanya diam. Pendidikan hadir hanya untuk membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan. Kesadaran itu penting, Kritis itu boleh dan bersikap solutif itu harus.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Kemeriahan Konser Akhir Tahun JOOX Festival Hura Ceria 2017oleh : Rohmah Sugiarti
10-Des-2017, 23:02 WIB


 
  Kemeriahan Konser Akhir Tahun JOOX Festival Hura Ceria 2017 Kota Bandung sempat diguyur hujan deras sejak siang, rupanya animo kaum muda dan pecinta musik tidak ikut surut sesudah hujan. Sesuai jadwal, tepat pukul 16.00, panggung “JOOX Live Festival Hura Ceria”, yang diadakan pada Sabtu, 9 Desember 2017 di Lapangan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Peta Pilgub Jateng 2018 12 Des 2017 12:44 WIB

 

 

 

 
Hasapi dan Sarune Batak 05 Des 2017 02:46 WIB

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia