KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
PolitikLolos Kemenkumham RI, Partai Rakyat Segera Tampung Aspirasi Masyarakat oleh : Rohmah Sugiarti
24-Sep-2017, 17:58 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, Partai Rakyat yang pertama kali deklarasi pada 15 Agustus 2015 di Ancol berhasil lolos Kemenkumham RI dan resmi berbadan Hukum dari Kemenkumham (Kementerian Hukum & Ham) RI.

Partai Rakyat yang dilahirkan dengan slogan "rakyat berkuasa
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
KOMUNIS 23 Sep 2017 03:41 WIB

Kisah Negeri Antah Berantah 22 Sep 2017 09:23 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Memiliki Impian Membuat Hidup Semakin Berarti

 
OPINI

Memiliki Impian Membuat Hidup Semakin Berarti
Oleh : Jamiel Loellail Rora | 02-Sep-2017, 22:47:05 WIB

KabarIndonesia - Air beriak tanda tak dalam, tong kosong nyaring bunyinya. Pasti kita semua sudah memahami benar apa makna yang terkandung dalam dua pribahasa itu.Ya, orang yang banyak omong biasanya kemampuannya sedikit, dan untuk menutup ‘kesedikitannya' itu dia pun mengumbar omongan agar kelihatan memiliki banyak kelebihan. Di sekeliling kita atau mungkin kita, pernah terjebak pada perilaku itu untuk menutupi kelemahan kita.  

Orang yang banyak omong, biasanya termasuk orang yang panjang angan-angan. Memiliki impian, tapi hanya sebatas omongan. Tak terlihat kesungguhannya dalam menggapai impian itu agar menjadi sesuatu yang nyata. Berkaitan dengan hal ini muncullah istilah NATO, No Action Talk Only. Yang dalam istilah anak gaul, "Gak ada aksi cuma omong doang!"  

Sesungguhnya, menutupi kelemahan adalah dengan cara mengatasi kelemahan itu sendiri. Tak mungkin kelemahan yang kita miliki dapat sirna dan berganti dengan kekuatan bila kita hanya mengumbar omongan. Orang yang kerap mengumbar omongan untuk menutupi kelemahannya sendiri adalah orang yang malas. Malas untuk berbuat dan bekerja agar kekurangan yang ada pada dirinya semakin berkurang. Atau kalau mungkin, hilang dan kelemahan itu berganti dengan kekuatan.  

Ada kisah menarik dari hasil pengamatan terhadap dua orang teman. Sebut saja namanya Pailul dan Paijo. Mereka sama-sama memiliki seorang putra yang masih balita. Si Pailul pengangguran dan dapat julukan ‘omongan sebakul'. Sementara si Paijo pendiam, waktu yang dimilikinya habis untuk hal-hal yang positif. Mulai dari mencari nafkah, hadir di majelis taklim, dan bercengkerama dengan keluarga.   

Jarang sekali terlihat Paijo memanfaatkan waktunya untuk bermain. Tidak seperti Pailul yang selalu bertamu kesana kemari. Bertamu hanya sekedar ngobrol tanpa ujung pangkal, yang terpenting dapat kopi dan rokok gratis. Syukur-syukur kalau ditawari makan. 

Bila diledek teman-temannya, sambil tertawa si Pailul berdalih bahwa silaturahmi itu akan memperpanjang umur dan memperbayak rejeki. "Buktinya biar nggak kerja gue masih lancar urusan makan, ngopi, sama ngerokok. Itu buah dari silaturahmi. Makanya rajin-rajin silaturahmi kayak gue," ungkap Pailul yang biasanya langsung dilanjuti dengan tertawa ngakak.  

Si Pailul tidak merasa bersalah sama anaknya, apalagi sama isterinya. Benar dia bisa makan, minum kopi, dan merokok buah dari silaturahmi. Tapi giliran anaknya mau jajan, uang yang dipakai adalah uang isterinya yang bekerja sebagai pramuniaga pada sebua mini market.  Keenakan menganggur, merasa cukup dengan apa yang didapat dan dinikmatinya, membutakan hatinya akan kewajiban yang harus dia penuhi.  

Berbeda dengan Paijo yang sebelum shubuh sudah berangkat ke pasar untuk membeli sayur mayur. Sementara isterinya berdagang sayur mayur, si Paijo membuka kios kecilnya. Hasil kerja mereka, ketekunan mereka, dan usaha untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Sang Khalik, kini dia telah memiliki rumah sendiri. Beda dengan si Pailul yang tetap saja tinggal menumpang pada mertua.

Mau menjalani pola hidup seperti Pailul atau Paijo, suka-suka kita. Namun jika dalam hidup ini kita ingin memiliki arti, tentu kita memilih pola hidup seperti si Paijo. Lantas, apa yang membuat Paijo bisa menempuh pola hidup seperti itu? Pola hidup dari Zero menjadi Hero? Jawabannya simpel, fokus pada keinginan atau cita-cita dan berjuang keras untuk mendapatkannya. 

"Bapak kan tahu sendiri bagaimana kehidupan keluarga saya. Tinggal berenam dalam rumah petak yang dikontrak ayah saya terasa begitu sumpek. Berdasarkan pengalaman pahit itu saya bercita-cita ingin punya rumah sendiri. Memang, saat saya menikah saya belum mampu membeli sebidang tanah dan membangun rumah diatasnya. Tapi cita-cita saya untuk memiliki rumah sendiri itu tak pernah padam," begitu ungkap si Paijo .  

Tinggal di rumah kontrakan, Paijo yang  hanya tamatan SD itu membuka warung kecil-kecilan. Lantas untuk menambah penghasilan isterinya berdagang sayur mayur. Kini cita-cita untuk memiliki rumah sendiri itu mereka perjuangankan bersama. Saling bahu membahu. Alhamdulillah, berkat kerja keras dan kegigihan yang ada pada mereka, kini mereka telah berhasil mewujudkan keinginannya.  

"Keinginan yang besar untuk mewujudkan cita-cita itu mendorong saya untuk mengorbankan banyak hal. Saya tak sempat bercengkrama dengan teman-teman di pos ronda atau di warung kopi. Waktu yang ada saya gunakan untuk mencari uang. Menambah uang celengan agar segera bisa merealisasikan keinginan untuk memiliki rumah sendiri," beber Paijo.  

Kalau bersilaturahmi, tambah Paijo, ya paling saat ia dan isterinya datang ke majelis taklim yang biasa dia ikuti. Majelis Taklim Majelis Rasulullah dan Majelis Taklim Nurul Mustofa. Biasanya di tempat mulia itu dia bertemu dengan teman-temannya. Sekembalinya dari majelis, kembali dalam rutinitas mengumpulkan uang halal seperak demi seperak untuk ditabung.  

Ditanya sekarang apa lagi yang menjadi impiannya, Paijo menyunggingkan senyum. Lalu katanya diujung senyum, "Impian saya dan isteri adalah memberikan pendidikan yang baik kepada anak saya. Kami tak ingin anak yang Allah titipkan pada kami hanya bisa mengecap pendidikan sampai SD saja seperti kami. Anak kami harus berpendidikan  tinggi. Minimal dia harus punya gelar sarjana," sahut Paijo pelan namun penuh semangat.  

Luar biasa, begitu kuatnya impian yang kita perjuangankan menjadikan hidup kita menjadi penuh makna. Memanfaatkan waktu semaksimal mungkin baik untuk urusan akhirat maupun untuk urusan duniawi. Sehingga kita tidak termasuk orang-orang yang merugi. Sehingga tidak banyak waktu yang terbuang sia-sia.

Kembali ke diri kita, cita-cita apa yang tengah kita perjuangkan dalam hidup kita. Atau kita tak punya cita-cita dan harapan indah masa depan seperti si Pailul?  

Berbahagialah apabila saat ini kita tengah berjuang keras meraih cita-cita yang menjadi impian kita. Karena  itu pertanda hati dan jiwa kita masih hidup. Karena seseorang yang sudah tidak lagi memiliki cita-cita, laksana orang yang telah wafat meski ruh masih bersemayan dalam raganya. (*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Menhub Budi Karya Ajak Terus Gemakan Keselamatan Berlalu Lintasoleh : Rohmah Sugiarti
24-Sep-2017, 17:56 WIB


 
  Menhub Budi Karya Ajak Terus Gemakan Keselamatan Berlalu Lintas Siswa-siswa SDN 028067 Kota Binjai selesai mewarnai gambar dengan tema keselamatan lalu-lintas (24/9). Menteri Perhubungan Republik Indonesia Budi Karya Sumadi membuka kegiatan Inspirasi 60 Tahun Astra sekaligus mencanangkan Kampung Berseri Astra Cengkeh Turi, Binjai, Sumatera Utara sebagai Kampung Ramah Anak
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia