KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalWUPID - 2017 Ajang Debat Menantang! oleh : Johanes Krisnomo
20-Okt-2017, 16:38 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, 20 Oktober 2017 - Gaduhnya para mahasiswa saat istirahat makan siang, mengikuti ajang debat WUPID - 2017, tak sejalan dengan keseriusannya berkompetisi. Mereka berdebat mempertahankan argumentasinya, baik pro dan kontra, berdasarkan data akurat dan pola pikir kritis.
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sabar dan Syukur 12 Okt 2017 01:07 WIB

Di Padepokan Om Jin 12 Okt 2017 01:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
"Tangisan" Ridho Irama 12 Okt 2017 10:00 WIB


 

 
 
OPINI

Marginalisasi Perempuan dalam Perkawinan Lamaholot
Oleh : Mansetus Balawala | 20-Mei-2011, 19:01:50 WIB

KabarIndonesia - Surga di bawah telapak kaki ibu. Ungkapan klasik ini sekaligus menggambarkan betapa mulianya seorang ibu yang nota bene adalah perempuan. Terlepas dari baik atau buruk perlakuan terhadap kaum perempuan dalam kehidupannya, namun pasti bahwa ungkapan tersebut menempatkan perempuan sebagai makhluk yang istimewa dan itu diakui secara umum termasuk laki-laki.

Dalam budaya Lamaholot yang dianut masyarakat Flores Timur dan Lembata, di Nusa Tenggara Timur (NTT), ungkapan di atas menjadi nyata dalam kehidupan keseharian pelapisan social yang memandang wanita sebagai sentral kehidupan masyarakat dan tinggi nilainya. Karena itu, meski masyarakat menilai seorang wanita tidak secara material, mereka tetap mencari materi pembanding dalam bentuk belis.

Belis merupakan unsur penting dalam lembaga perkawinan. Selain dipandang sebagai tradisi yang memiliki nilai-nilai luhur dan bentuk penghargaan terhadap perempuan, namun di satu sisi juga sebagai pengikat pertalian kekeluargaan dan simbol untuk mempersatukan laki-laki dan perempuan sebagai suami istri. Belis juga dianggap sebagai syarat utama pengesahan berpindahnya suku perempuan ke suku suami.

Di NTT ada beragam belis yang digunakan berupa emas, perak, uang, maupun hewan seperti kerbau, sapi, atau kuda. Di daerah tertentu belis berupa barang khusus. Sementara bagi masyarakat Lamaholot nilai seorang perempuan pada maskawin dikonkritkan dalam bentuk nilai dan ukuran gading gajah yang sulit diperoleh.

Gading gajah baru masuk pada abad permulaan perdagangan rempah-rempah termasuk wewangian cendana. Secara umum, ukuran dan jumlah gading tergantung pada status social seorang gadis, juga system perkawinan yang ditempuh serta kemampuan negosiasi dari keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan. Lebih dari itu, pendidikan perempuan juga terkadang menjadi ukuran dalam menentukan belis.

Sistem Perkawinan

Dalam kehidupan masyarakat Lamaholot dikenal beberapa system perkawinan yakni, gete dahang/pana gete (peminangan biasa) perkawinan cara ini didahului dengan acara peminangan resmi dari keluarga pria kepada keluarga wanita menurut adat kebiasaan keluarga wanita. Bote kebarek, perkawinan jenis ini dilakukan tanpa sepengetahuan sang gadis.

Proses persetujuan hanya dilakukan keluarga pria dan keluarga wanita. Bote kebarek biasa dilakukan di jalan saat si gadis bepergian ke luar rumah. Kepergian si gadis diinformasikan terlebih dahulu oleh orang tua si gadis kepada keluarga pria. Dengan begitu keluarga pria bisa menghadang gadis bersangkutan dan secara paksa membawanya ke rumah keluarga pria.

Proses ini biasanya diiringi dengan bunyi-bunyian gong gendang. Jenis perkawinan seperti ini sudah jarang ditemui pada saat sekarang . Plae (kawin lari) biasanya dilakukan karena orang tua/keluarga dari kedua pasangan atau keluarga wanita tidak merestui hubungan mereka sehingga kedua pasangan sepakat untuk melarikan diri ke daerah lain. Atau bila orangtua keluarga wanita yang tidak merestui hubungan anak gadisanya, maka si gadis bisa memutuskan untuk lari dari rumah orang tuanya dan tinggal bersama keluarga pria agar proses perkawinannya dapat di atur lebih lanjut. Loa wae menate, perkawinan ini dikarenakan wanita sudah hamil sebelum urusan perkawinan selesai.

Meski demikian acara peminangan tetap dilakukan dan sebagai konsekwensi dari kejadian ini, pihak keluarga pria akan dibebankan dengan mas kawin/belis tambahan karena kejadian ini. Liwu/dope keropong, dilakukan saat proses perkawinan berlangsung dimana kaum pria pergi dan tinggal di rumah keluarga wanita.

Karena perkawinan dilakukan sebelum proses penyelesaian adat, maka kaum pria dan wanita menetap bersama keluarga wanita sampai proses penyelesaian adat (pemberian belis) dilakukan. Liwu weking/dekip kenube, pada perkawinan ini pria pergi dan tinggal di rumah perempuan sehingga secara mendesak orang tua wanita menyerahkan anak gadisnya untuk diperistri pria bersangkutan. Kawin beneng, perkawinan ini dilakukan dengan cara menawarkan anak gadis dengan berusaha memperkenalkannya ke desa lain agar mendapat jodoh.

Dengan demikian orangtua perempuan dapat memperoleh maskawin/belis yang sesuai. Kawin bukang, merupakan bentuk perkawinan levirat dimana berlaku anggapan bahwa sang isteri setelah perkawinan menjadi milik suku suaminya sehingga kalau suaminya meninggal ia dapat dinikahi oleh saudara laki-laki kandung suaminya atau juga oleh lelaki dari suku yang sama dengan suku suaminya. Sebaliknya, bila menikah dengan laki-laki lain diluar suku suaminya, maka suku suaminya yang berhak menerima belis dari perkawinannya. Perkawainan wua gelu malu, yakni perkawinan yang dilakukan timbal balik oleh dua suku.

Jenis perkawinan ini dilakukan dengan tujuan agar belis atau maskawin hanya berputar dalam suku itu saja. Selain itu model ini sangat ekonomis karena terkadang, acara penyerahan belis tidak dilakukan sehingga tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk pesta adat yang biasanya dilakukan disaat penyerahan belis. Kawin bluwo, merupakan jenis perkawinan yang dilakukan pria beristri dengan seorang gadis. Ini terpaksa dilakukan karena wanita sudah hamil supaya jelas bapak dari anak yang dikandungnya. Model – model perkawinan ini akan menentukan belis/maskawin baik dalam jumlah maupun ukuran.

Marginasiliasi Perempuan
Disadari atau tidak, model-model perkawinan yang berlaku dalam masyarakat Lamaholot sebagaimana diuraikan di atas, telah membuat kaum perempuan termarginaliasi. Hal ini dapat dilihat pada model perkawianan bote kebarek, liwu weking/dekip kenube, kawin beneng dan kawin bluwo yang jelas–jelas mengabaikan hak kaum perempuan dalam memilih dan menentukan pasangan hidupnya.

Namun menghadapi system ini, kaum perempuan selalu berada pada posisi tawar yang lemah. Penolakan tidak harus mesti terjadi karena proses ini mendapat legitimasi budaya/adat yang sudah dianut turun temurun. Karena itu penolakan akan menjadi semacam petaka yang membuat malu orangtua dan keluarga besar. Hal ini yang tidak diinginkan terjadi sehingga seorang gadis yang berhadapan dengan system perkawinan yang demikian tentu saja harus menerimanya.

Hakekat Belis dan Konsekuensinya
Sebagaimana telah dijelaskan bahwa hakekat belis adalah menunjang harkat seorang wanita dalam kehidupan patrilineal, dan agar keluarga wanita mendapat tempat terhormat dihadapan keluarga pria.

Bagi masyarakat Lamaholot, kedudukan wanita adalah kedudukan seorang ibu. Selain itu, belis juga sebagai lambang pemersatu keluarga pria dan wanita, sekaligus sebagai tanda seorang perempuan resmi pindah ke suku suami. Karena itu perempuan Lamaholot dimata kaum pria selalu mendapat perlindungan dalam pergaulan sosialnya. Setiap pelabelan negative yang dilakukan terhadap perempuan Lamaholot dapat dikenakan denda adat bagi pelakunya. Bentuk dendanya bisa berupa gading, sarung tenun adat atau lainnya. Dendanya sangat berfariasi sesuai jenis pelanggaran dan permintaan keluarga perempuan.

Namun disisi lain, belis telah menjadi akar kekerasan terhadap perempuan. Penelitian yang dilakukan TRUK-F di Maumere, Kabupaten Sikka, sejak 2003 hingga beberapa bulan pada 2006, menyebutkan dari 104 kasus kekerasan yang terjadi disimpulkan bahwa belis menjadi alasan suami melakukan kekerasan (Kompas, 21 Juli 2006).

Temuan tahun 2003 terdapat lima kasus, yakni pasangan tidak dapat melaksanakan pernikahan Katolik karena belis belum dibayar. Suami pun tertekan karena terus-menerus dipaksa oleh pihak keluarga perempuan untuk segera membayar belis. Selain itu, juga terdapat 10 kasus suami merantau untuk mengumpulkan uang agar dapat melunasi belis. Namun, setelah tiba di tempat perantauan, suami jarang atau sama sekali tidak mengirimkan uang.

Bahkan, pada 2005 terdapat 12 kasus perempuan diperlakukan dengan kekerasan oleh suami. Saat istri melarikan diri ke keluarganya, suami dan keluarganya memaksanya untuk kembali sebab belis sudah dibayar lunas.

Sementara temuan tahun 2006, terdapat 19 kasus suami yang merantau untuk mencari uang guna melunasi belis. Namun, akhirnya istri dan anak ditelantarkan di kampung. Sebanyak lima kasus lainnya, keluarga istri mengintimidasi suami untuk melunasi belis. Karena tertekan, suami memperlakukan isterinya dengan kekerasan.

TRUK-F juga menampung keluhan dari 10 perempuan tua yang tak menikah, yang diduga terkait persoalan belis. Kesimpulan sementara yang diambil Divisi Perempuan TRUK-F, perempuan-perempuan ini tidak menikah sampai tua karena orangtua dan saudara laki-laki menuntut belis yang tinggi dan banyak sehingga pihak laki-laki tidak mampu membayar, atau tidak mau melamar mereka, karena sudah mendengar cerita dari orang-orang di sekitarnya. Umumnya perempuan ini dari keluarga kalangan menengah ke atas. Akhirnya, perempuan ini sendirian dan tidak pernah diperhatikan.

Dari gambaran di atas, penulis melihat bahwa belis meski bertujuan mulia untuk mengangkat harkat dan martabat seorang perempuan, namun belis dapat juga menjadi sumber persoalan dalam rumah tangga yang pada akhirnya dapat melahirkan kekerasan terhadap perempuan. Hal ini terjadi bila tuntutan belis yang terlampau tinggi melampaui kemampuan financial seorang laki-laki dan keluarganya. Selain itu, belis yang mahal akan berdampak pada beban psikologis seorang laki-laki untuk menikahi perempuan dari strata social yang tinggi sehingga banyak perempuan yang pada akhirnya tidak menikah karena faktor belis yang terlalu tinggi. Belis juga telah menjadi penyebab seorang suami menelantarkan isteri dan anak-anaknya, dan dapat membebani ekonomi keluarga.

Bagi masyarakat Lamaholot, sistem pembelisan telah menjadi pranata social dan dapat mengeliminir terjadinya tindakan – tindakan yang melanggar hak-hak perempuan. Belis tidak saja menjadi syarat sebuah perkawinan tapi juga sebagai bentuk denda yang harus diberikan dari pihak yang melakukan kesalahan terhadap seorang perempuan. Kesalahan-kesalahan yang pada umumnya diberi hukuman denda adalah soal sterotipe negative yang mana ukurannya merujuk pada budaya. Penerapanan denda biasanya pada kasus-kasus seperti peghinaan, juga kasus-kasus asusila. Itu nilai positip dari system pembelisan. Namun fakta lain juga membuktikan bahwa belis telah melahirkan dampak buruk terhadap kaum perempuan. Karena itu penulis berpendapat bahwa belis sebagai tradisi yang memiliki nilai-nilia luhur dan sebagai bentuk perghargaan terhadap harkat dan martabat seorang perempuan perlu tetap dipertahankan dengan beberapa catatan sebagai berikut; Pertama, perlu penyederhanaan belis.

Biasanya, setelah pihak laki-laki memberikan belis, pihak perempuan membalasnya dengan memberikan barang bawaan bagi pihak laki-laki untuk dibawa pulang. Minimal bawaan itu sama dengan besar belis yang diberikan kepada pihak perempuan. Karena itu pembebanan sesungguhnya tidak hanya pada pihak laki-laki tapi juga perempuan. Karena itu diperlukan suatu alternative semacam pembicaraan untuk memperoleh kesepakatan yang sama tentang belis.

Dialog ini harus melibatkan tetua adat, juga dapat ditunjang dengan pendekatan informal kepada masyarakat. Contoh, di Ileape telah ada symposium di tingkat kecamatan yang menyeragamkan ukuran dan jumlah gading sebagi belis terhadap seorang perempuan dan hal itu berlaku sampai sekarang. Karena itu, di Ileape Lembata, penentuan belis tidak lagi berdasarkan satatus social seorang perempuan.

Kedua, penyederhanaan tahapan/proses pembelisan. Disadari atau tidak, tahapan/proses pembelisan menyedot dana yang besar sementara kenyataan sebagian besar masyarakat hidup dengan keadaan ekonomi yang pas-pasan. Dari itu perlu dibuat penyederhanaan proses/tahapan-tahapan. Bagi masyarakat Lamaholot proses pernikahan sangat panjang hanya karena urusan adat (belis). Bahkan jauh sebelum pernikahan, terlebih dahulu digelar koda kiring (pertemuan adat di antara keluarga besar wanita dan pria). Yang terlibat adalah keluarga besar (fam/suku/marga), bukan orang tua kandung saja seperti di Jawa dan tempat-tempat maju lain di Tanah Air. Biasanya, Koda Kiring ini digelar sepanjang malam, beberapa hari, sampai ada kesepakatan. Ini tentu membutuhkan biaya yang besar.

Ketiga, perlu penyadaran kepada masyarakat terutama pemegang otoritas komunitas seperti tetua adat, tuan tanah, kepala suku dan lain-lain untuk memaknai kembali secara mendalam hakekat belis itu sendiri. Hal ini dapat menghapus asumsi negative tentang belis itu sendiri yang pada akhirnya berdampak buruk terhadap kaum perempuan Lamaholot. (*)


*) Tulisan ini telah dipresentasikan pada Konferensi I, Hukum dan Penghukuman yang diselenggarakan Program Studi Kajian Wanita/ Kajian Gender, Program Pasca Sarjana UI bekerjasama dengan Komnas Perempuan yang diselenggrakan di Pusat Studi Jepang U, tanggal 28 Oktober hingga 1 November 2010 lalu).



Mansetus Balawala, Yayasan Kesehatan untuk Semua/YKS




Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:

www.kabarindonesia.com






 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
WUPID - 2017 Berfoto Bersamaoleh : Johanes Krisnomo
20-Okt-2017, 00:06 WIB


 
  WUPID - 2017 Berfoto Bersama Para peserta, juri dan panitia WUPID Indonesia 2017, Jakarta (14-15/10/17), berfoto bersama di akhir acara. Dua dari 30 tim (berhak mewakili Indonesia di QUIP WUPID (World Universities Peace Invitational Debate) Global 2017, Malaysia (8-12/12/17). Aldwin & Ibrahim - Universitas
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi JK 20 Okt 2017 15:13 WIB


 

 

 

 

 
Pimpinan Redaksi HOKI 2017 09 Okt 2017 20:02 WIB


 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia