KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Berita RedaksiTawaran PRESS CARD untuk Para Penulis KabarIndonesia oleh : Kabarindonesia
30-Nov-2020, 14:05 WIB


 
 

KabarIndonessia - Alphen Kami dari Harian Online KabarIndonesia (HOKI) bermaksud memberikan kesempatan kepada para penulis maupun photographers untuk bisa mendapatkan International Press Card Harian Online KabarIndonesia (HOKI)

Berikut beberapa alasan mengapa International Press Card HOKI bukan sekedar Press Card biasa:

-
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
M E R D E K A !!! 17 Aug 2020 06:01 WIB

Terbunuh Cinta Sendiri 05 Jul 2020 14:46 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
OPINI

MENJAGA INTEGRITAS INTELEKTUAL.
Oleh : Danny Melani Butarbutar | 19-Okt-2020, 01:59:14 WIB

KabarIndonesia - Fenomena yang terjadi era belakangan ini adalah terdegrasi integritas intelektual akibat mudah terseret politik kepentingan menjadikan kaum cendekia atau intelektual kadangkala mengingkari kejujuran, kebenaran, integritas obyektif universal sebagaimana sumpah/janji almamater harus berpijak dan berdiri kokoh diatas kejujuran, kebenaran atau integritas akademik.

Menurut KBBI Online Integritas ialah mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan; kejujuran; prinsip moral dan etika dalam kehidupan.

Integritas adalah suatu konsep berkaitan dengan konsistensi tindakan-tindakan, nilai-nilai, metode-metode, ukuran-ukuran, prinsip-prinsip, ekspektasi-ekspektasi dan berbagai hal yang dihasilkan.

Orang berintegritas berarti memiliki pribadi yang jujur dan memiliki karakter kuat (Google, 30/4/2020).

Sedangkan Cendekiawan atau Intelektual ialah orang yang menggunakan kecerdasannya untuk bekerja, belajar, membayangkan, menggagas, atau menyoal dan menjawab persoalan tentang berbagai gagasan.

Seorang intelektual tentu mendasarkan kajian, analisis, konklusi berbasis data, fakta, bukti empirik tervalidasi obyektif universal.

Intelektual tidak boleh memberi pendapat atas dasar opini subyektif tendensius membelokkan kebenaran menjadi pembenaran atau justifikasi pada persoalan atau masalah sedang diperdebatkan, didiskusikan, dll sehingga terperangkap pada penggiringan opini serta penyesatan logika.

Meminjam pendapat Sigmund Freud, "Pikiran manusia bukan saja dapat digunakan untuk menemukan dan mempertahankan kebenaran namun sekaligus juga dapat dipergunakan untuk menemukan dan mempertahankan hal-hal yang tidak benar.

Seorang manusia biasa berdalih untuk menutup-nutupi kesalahannya baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.

Dalih yang berbahaya adalah rasionalisasi yang disusun secara sistematis dan meyakinkan.

Dalih semacam ini bisa memukau apalagi didukung oleh sarana seperti kekuasaan.

Seorang ilmuan tidak menolak atau menerima sesuatu secara begitu saja tanpa suatu pemikiran yang cermat.

Segala sesuatu dikaji dan diteliti komprehensif paripurna atas dasar data, fakta, bukti empirik tervalidasi untuk menjamin obyektifitas intelektual.

Dan disinilah kelebihan seorang ilmuan dibandingkan dengan cara berpikir seorang awam".

Forum Bandung (2009) mengatakan, "Di tengah situasi masyarakat yang tengah kehilangan orientasi (khaos), biasanya muncul 'suara kebenaran' layaknya sinar pelita, nun jauh di ujung lorong kegelapan, yang dengan itu masyarakat kembali memiliki semangat dan harapan.

Suara kebenaran tidak selalu harus berasal dari rasul, nabi, filsuf, ataupun negarawan.

Suara kebenaran bisa pula datang dari kaum intelektual.

Kaum intelektual, tidak terbatas akademisi (budaya-wan dan/atau tokoh masyarakat yang non partisan, termasuk dalam kategori ini), perlu mengingatkan masalah apa yang tengah, yang akan, dan yang harus dihadapi bangsanya.

Suara jujur seperti itu akan memperoleh tempat di hati publik. Kaum intelektual harus bersuara.

Kaum intelektual perlu menepis premis menyesatkan seperti 'semua sudah tahu masalah, yang diperlukan bangsa bukan demokrasi melainkan pemimpin yang kuat yang bisa membawa bangsa keluar dari kubangan krisis.

Bahasa intelektual adalah bahasa logika karena didukung data bukan bahasa politik yang acapkali menanggalkan logika.

Kaum intelektual harus mengangkat persoalan pokok masalah bangsa ke permukaan agar rakyat mengetahui kadar masalah yang dihadapi".

Dari berbagai uraian diatas, kaum cendekia atau intelektual harus berteriak keras dan lantang menyuarakan KEBENARAN.

Tidak boleh diam dan berpangku tangan sekalipun harus menerima resiko ancaman nyawa sebagaimana dialami Socrates, Cicero, Marthin Luther King Jr, Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, Nelson Mandela, Jokowi, Basuki Tjahaja Purnama (AHOK), dll.

John McChain &Mark Salter (2009) "Demi prinsip, banyak orang baik menderita.

Beberapa orang mati demi mempertahankan prinsip. Tapi betapapun kejam akhir kisah itu, mereka pasti terhibur karena tahu telah memilih dengan benar, dan mereka punya karakter untuk menjalani hidup yang baik.

Selama telah memilih dengan baik, bertindak adil, dan memiliki karakter yang layak dalam menghadapi tantangan pilihan, mereka tak peduli apa orang lain tahu keberanian mereka atau tidak.

Mereka tak menyerah pada nasib yang terjadi. Mereka percaya bahwa nilai mereka ialah kekuatan yang mengarahkan hidup, menerangi dunia tempat kita menyalakan lilin-lilin kecil, sebelum pekerjaan itu selesai dan kita istirahat".

KEBENARAN ATAU PEMBENARAN.

Bila diperhatikan cermat dan seksama situasi ke kinian ditengah kehidupan berbangsa akhir-akhir ini muncul pemikiran unik dan aneh kaum cendekia atau intelektual.

Degradasi integritas intelektual sungguh miris dan menyedihkan.

Kaum cendekia atau intelektual yang seharusnya berpijak dan berdiri kokoh diatas kejujuran, kebenaran atau integritas, kini telah bermetamorfosa ke DALIL PEMBENARAN ATAU JUSTIFIKASI akibat terjebak, tergoda, terperangkap keuntungan parsial, insidental, temporer.

Kaum cendekia atau intelektual telah mengubah jati diri, marwah, harkat, martabatnya dari bersuara kebenaran menjadi berteriak pembenaran.

Dan sudah banyak pula kaum cendekia atau intelektual menggadaikan, menjual, menukar MARTABAT DEMI MENDAPATKAN SEPOTONG MARTABAK.

Mohon maaf bagi kaum cendekia atau intelektual yang masih konsisten menjaga integritas intelektual, telah banyak jadi "Prostitusi Intelektual" demi meraih nafsu birahi kekuasaan dengan dalil-dalil pembenaran menyesatkan logika akademik.

Para pelacur intelektual ini telah meracuni karakter bangsa yang ujung-ujungnya sulit dan tidak mudah membedakan KEBENARAN DENGAN PEMBENARAN di ruang publik.

Penyebaran informasi publik dengan berbagai hoax atau kebohongan, fitnah, ujaran kebencian, hasut, hujat, adu domba, provokasi, agitasi, serta opini sesat yang didukung premis-premis prostitusi intelektual telah menimbulkan prahara, kegaduhan, keonaran politik luar biasa.

Pembenaran atau justifikasi cendekia atau intelektual memunculkan kecurigaan dan prasangka buruk amat sangat dahsyat.

Sadar atau tidak, setuju atau tidak kerusakan karakter mental, moral bangsa tidak lain dan tidak bukan dipantik para PELACUR INTELEKTUAL mengkhianati jati diri dan hati nurani.

Hura-hara, kegaduhan, keonaran belakangan ini marak terjadi seperti; demo-demo brutal, barbar, anarkhistis tidak terlepas dari aktor-aktor intelektual memobilisasi para demonstran tak berdosa dan tak tau apa-apa.

Para dalang atau aktor intelektual memframing kata-kata PEMBENARAN menggeser dan membelokkan KEBENARAN untuk memancing amarah, amuk dan tindakan kiminal perlawanan terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Jokowi sah konstitusional.

Membelokkan dan membajak KEBENARAN menjadi PEMBENARAN sesungguhnya adalah KEJAHATAN INTELEKTUAL membumihanguskan kejujuran, kebenaran, integritas intelektual.

Kerusakan karakter mental, moral anak bangsa akibat fenomena "Prostitusi Intelektual" adalah permasalahan bangsa yang tidak boleh dianggap enteng dan remeh.

Karena itu, kaum cendekia atau intelektual harus berteriak keras dan lantang menyuarakan kejujuran, kebenaran atau integritas intelektual walau dalam situasi apapun demi bangsa dan negara.

Tanggung jawab cendekia atau intelektual adalah mencerdaskan, mencerahkan anak-anak Ibu Pertiwi Indonesia agar terhindar dari pembohongan, pembodohan, penyesatan pengkhianat bangsa dan negara.

Bravo Cendekia atau Intelektual..!!! Bravo Indonesia....!!! (Penulis: Drs.Thomson Hutasoit, Rakyat Marjinal).(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  Solidaritas Mahasiswa dan Pemuda Papua Nyatakan Dukungan Agar Otsus Jilid II Dilanjutkan pada Peringatan Hari Pahlawan Menyadari bahwa sejarah perjuangan pahlawan nasional Republik Indonesia khususnya yang tercermin pada peristiwa 10 November 2020 patut dikenang dan diteladani sebagai upaya generasi muda Indonesia dalam menghormati para pejuang yang telah merebut bangsa ini dari zaman penjajah hingga nyawa mereka
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 
Kenaikan Cukai Rokok Ditunda 04 Nov 2020 00:50 WIB


 

 

 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia