KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalHumas Indonesia Butuh Dewan Kehumasan oleh : Rohmah Sugiarti
10-Des-2017, 23:29 WIB


 
 
KabarIndonesia – Profesi Hubungan Masyarakat (Humas) atau Public Relations (PR) di Indonesia butuh sebuah lembaga independen yang bertugas membina pertumbuhan dan perkembangan kehumasan nasional. Kebutuhan ini semakin relevan dan mendesak dengan dibukanya keran Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang membuka akses
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Jatuh Cinta Kepada Telaga 26 Nov 2017 11:31 WIB

Dunia Imitasi 23 Nov 2017 15:40 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Kembalikan Budaya Tenun yang Termakan Virus Globalisasi Digital

 
OPINI

Kembalikan Budaya Tenun yang Termakan Virus Globalisasi Digital
Oleh : Silivester Kiik | 08-Aug-2017, 16:35:45 WIB

KabarIndonesia - Budaya tenun ikat saat ini boleh dikatakan hilang termakan oleh virus globalisasi digital. Virus yang memanjakan kita untuk kehilangan akan berbagai nilai-nilai budaya yang tertuang dalam ragam motif tenun tersebut. Kita lebih cenderung sebagai konsumtif akan nilai-nilai modern dibandingkan sebagai produktif akan nilai-nilai tradisional. Jika dianalisis secara kasat mata, kini sudah hilang nilai-nilai yang tertuang dalam motif kain tenun ikat mulai menurun dan bahkan hilang bagi generasi penerus kebudayaan.

Generasi penerus bangsa lebih menghabiskan waktunya dengan kemanjaannya pada berbagai alat-alat elektronik (televise, gadget, handphone, game, dan lain sebagainya) dibandingkan dengan menghabiskan untuk belajar menenun. Hal ini akan berdampak pada kekurang ingintahuan seseorang terhadap bagaimana proses dan hasil dalam tradisi budaya tenun.

Tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi sangat berperan penting dan tidak bisa untuk dihindari bagi setiap individu dalam kehidupannya, karena kemajuan teknologi berjalan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Dewasa ini, teknologi telah menjadi sebuah kekuatan otonom yang telah membelenggu perilaku dan gaya hidup kita sendiri. Dengan daya pengaruhnya yang sangat besar yang ditopang oleh sistem sosial yang kuat, dan dalam kecepatan yang semakin tinggi, teknologi telah menjadi pengarah hidup setiap individu. Masyarakat yang rendah kemampuan teknologinya cenderung tergantung dan hanya mampu bereaksi terhadap dampak yang ditimbulkan oleh kecanggihan teknologi.

Perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang demikian pesatnya telah membawa manfaat yang luar biasa bagi kemajuan peradaban umat manusia. Seluruh pekerjaan yang sebelumnya menuntut kemampuan fisik cukup besar, kini relatif digantikan dengan perangkat mesin otomatis yang mengalihfungsikan setiap pekerjaan dengan cepat dan hasilnya cukup menakjubkan. Hal ini akan berpengaruh pada perilaku dan gaya hidup manusia yang serba modern sehingga peradaban budaya manusia dalam hal ini budaya tenun yang telah dipelihara dan dilestarikan oleh para leluhur akan luntur secara perlahan.

Jika direnungkan, pada kehidupan era globalisasi ini hampir seluruh generus penerus melupakan akan budaya tenun yang telah diajarkan secara turun-temurun. Pewarisan demi menjaga nilai dan makna yang terkandung dalam setiap ragam motif yang digambarkan atau tertera pada kain tenun ikat yang ada. Tenun ikat dipandang memiliki nilai-nilai simbolis yang terkandung di dalamnya, termasuk arti dari ragam rias yang ada memiliki nilai spiritual dan mistik menurut adat istiadat.

Ragam hias pada kain tenun ikat yang ada di hampir semua daerah di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya sifatnya sebagai hiasan atau dekorasi belaka, namun ragam hias yang dihasilkan melalui motif dan warnanya merupakan manifestasi dari kehidupan masyarakat yang ada. Hal ini merupakan sebuah simbol atau lambang yang memiliki arti tertentu seperti warna hitam berarti kedukaan, merah berarti kejantanan, putih berarti kesucian, kuning berarti kebahagiaan, biru berarti kedamaian, dan hijau berarti kesuburan.

Sedangkan pola dasar dari bentuk corak motifnya dihasilkan berupa ragam hias zoomorpic (bentuk fauna, misalnya Garuda Pancasila), ragam hias antropomorph (bentuk manusia), ragam hias flora (stilisasi tumbuhan), ragam hias geometri (kerucut, segitiga, dan lain sebagainya), dan ragam hias replica yang berupa ragam hias kain Patola (India Utara).

Tenun ikat dalam proses pembuatannya tidak memerlukan teknologi modern untuk membuat setiap ragam motifnya, tetapi yang diperlukan adalah kesabaran yang cukup panjang dalam menghasilkannya. Hal ini dimulai dari penanaman bibit kapas, pemanenan, penjemuran, pemilahan kapas, proses penghalusan, pemintalan kapas menjadi benang, proses penggulungan, pewarnaan benang, hingga sampai pada proses penenunannya. Semua alat yang dibutuhkan sangat sederhana dan mudah didapatkan. Alat tersebut di desain dari kayu, bambu, dan lain sebagainya. Sehingga kain tenun yang dihasilkan benar-benar alami.

Kain tenun ikat yang dihasilkan berfungsi dan bernilai ekonomis, sosial, maupun budaya. Hal ini dapat dilihat bahwa kain tenun ikat dipakai sebagai salah satu objek belis dalam upacara perkawinan, kain penutup jenasah, dan juga dapat memberikan identitas sosial (etika dan estetika) dari si pemakai.

Fungsi utama kain tenun ikat adalah sebagai berikut: 1) sebagai busana sehari-hari untuk melindungi tubuh, 2) sebagai busana yang dipakai dalam tari-tarian adat/upacara adat, 3) sebagai alat penghargaan dan pemberian perkawinan (belis/mas kawin), 4) sebagai pakaian adat perkawinan, 5) sebagai alat penghargaan dan pemberian dalam acara kematian, 6) sebagai alat untuk denda adat dalam mengembalikan keseimbangan sosial yang terganggu akibat suatu pelanggaran adat, 7) sebagai alat tukar dalam bidang ekonomi, 8) sebagai prestise dalam strata sosial masyarakat, 9) sebagai mitos, lambang suku yang diagungkan karena menurut corak/desain tertentu akan dilindungi dari gangguan alam, bencana, roh jahat, dan lain sebagainya, 10) sebagai alat penghargaan kepada tamu yang datang, 11) sebagai sumber pendapatan masyarakat di pedesaan, dan 12) sebagai pakaian resmi untuk Pegawai Negeri Sipil pada hari tertentu.

Dahulu, setiap wanita yang pandai menenun dianggap lebih tinggi derajatnya dari yang lain. Wanita penenun menjadi suatu kebanggaan bagi seseorang atau sebuah keluarga. Hasil tenunannya sangat dibanggakan karena memiliki suatu sugesti yang memberikan kekuatan terhadap suatu tindakan. Hal ini nampak ketika ibu atau saudarinya memberikan kain tenun hasil buatannya kepada anaknya yang pergi merantau atau yang akan menikah. Material yang diberikan dianggap sebagai suatu media yang memberi kekuatan kepada si anak atau saudaranya di rantauan atau di kehidupan rumah tangga yang baru. Kekuatan yang diberikan melalui rangkaian ragam motifnya berupa kasih sayang yang tak terlupakan.

Berdasarkan hal tersebut, perlu adanya pembinaan kesadaran bagi semua warga untuk terus melestarikan kasih sayang yang telah tertuang secara turun temurun melalui ragam motif kain tenun yang dihasilkan. Jika bukan sekarang, kapan lagi. Apakah kita akan selalu dikuasai oleh virus globalisasi terus menerus dengan mengorbankan nilai-nilai kebudayaan yang telah ada? Apakah kita hanya berdiam diri tanpa melakukan perubahan untuk mengembalikannya? Perubahan tersebut hanya di mulai dari tindakan kita. Think globally, Act locally.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Kemeriahan Konser Akhir Tahun JOOX Festival Hura Ceria 2017oleh : Rohmah Sugiarti
10-Des-2017, 23:02 WIB


 
  Kemeriahan Konser Akhir Tahun JOOX Festival Hura Ceria 2017 Kota Bandung sempat diguyur hujan deras sejak siang, rupanya animo kaum muda dan pecinta musik tidak ikut surut sesudah hujan. Sesuai jadwal, tepat pukul 16.00, panggung “JOOX Live Festival Hura Ceria”, yang diadakan pada Sabtu, 9 Desember 2017 di Lapangan
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 
Hasapi dan Sarune Batak 05 Des 2017 02:46 WIB

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia