KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalPemerintah Harus Bersatu Demi Pulihkan Wilayah Terkena Bencana oleh : Rohmah S
17-Okt-2018, 15:20 WIB


 
 
KabarIndonesia- Jakarta, Indonesia menjadi salah satu negara yang sangat rawan terhadap berbagai bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir dan lainnya. Hal ini karena secara geografis Indonesia berada di kelilingi "cincin api (ring of fire)" sehingga potensi terjadi
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Duhai Kau yang Sedang Diuji 21 Okt 2018 11:53 WIB

Tentang Dia 21 Okt 2018 11:53 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 
Deklarasi Garda Relawan Jokowi 13 Sep 2018 12:43 WIB

 
 
OPINI

Kematian Adelina Duka buat Flobamora
Oleh : Mansetus Balawala | 05-Mar-2018, 16:53:30 WIB

KabarIndonesia - Mendung duka kembali menggelayut di langit Flobamora. Minggu 11 Februari lalu, Adelina Lisao (26), pekerja migran asal TTS meninggal dunia setelah dua tahun bekerja pada majikannya di Bukit Mertajam, Malaysia. Ironisnya, kematian Adelina karena mengalami penyiksaan majikannya. Sehari sebelum dia meninggal, Adelina didapati memiliki luka-luka parah di kepala dan wajahnya serta infeksi di tangan dan kakinya.

Kasus kematian Adelina terungkap berkat para tetangga majikannya dan kepedulian anggota parlemen lokal Malaysia. Kisah berawal dari rasa curiga dan kekhawatiran para tetangga majikan Adelina melihat kondisinya yang penuh luka di wajah, tangan, dan kaki. Saat disapa para tetangga, Adelina hanya diam saja dan enggan berbicara. Tidak hanya itu, para tetangga juga mendapati Adelina kerap tidur di beranda rumah majikannya, ditemani seekor anjing peliharaan selama kurang lebih dua bulan sebelum akhirnya ajal menjemput .

Laporan post-mortem yang dirilis kepolisian setempat menyebutkan Adelina meninggal karena kegagalan sejumlah organ tubuhnya, yang disebabkan oleh anemia yang dideritanya. Pakar patologi, Dr Amir Saad Abdul Rahim, yang melakukan post-mortem menyebut penyebab kematian menunjukkan ada kemungkinan besar bahwa Adelina telah ditelantarkan. Kesimpulan yang disampaikan kepolisian Malaysia ini jelas memperkuat kesaksian para tetangga yang melihat perlakukan majikan terhadap adelina.

Korban Human Trafficking
Adelina, patut diduga sebagai korban human trafficking. Indikasinya jelas. Korban Adelina memiliki beberapa identitas yang ditemukan. Pada identitas awal ditemukan seolah-olah korban berasal dari kabupaten Kupang, dan kemudian ditemukan lagi dengan identitas asal korban dari kabupaten Belu dengan nama yang berbeda pula.

Dugaan ini juga dibenarkan Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi yang menyebutkan ada perbedaan nama korban yang selama ini beredar dengan yang didapati oleh pihaknya. Setelah dilacak Kemenlu, ditemukan nama korban Adelina Jemirah. Selain itu, paspor perempuan asal TTS ini dibuat di Blitar, Jawa Timur, dan setelah dilacak lebih jauh Adelina diketahui berusia 21 tahun, tidak seperti informasi awal yang menyebutkan korban berusia 26 tahun. Adelina juga diketahui meninggalkan Tanah Air melalui Medan untuk menuju Malaysia. (cnnindonesia.com, selasa 13 februari 2018). Kendati demikian, nama korban sebagaimana disampaikan Kemenlu sebagai Adelina Jemirah juga sesunggunya belum tepat. Karena nama korban sebetulnya adalah Adelina Jeremia Sau, Pos Kupang (14/2/2018)

Kematian Adelina telah menambah daftar korban pekerja migran yang terjerumus dalam human trafficking. Data Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) NTT menyebutkan, Per Agustus 2017 korban human trafficking di NTT tercatat 137 kasus. Sementara pada tahun sebelumnya tercatat 400 kasus. (foxntt.com, 10/10/2017)

Tingginya kasus human trafficking di NTT tidak terlepas dari masalah kemiskinan yang menjadi akar berbagai persaolaan mulai dari kasus gizi, angka putus sekolah, human trafficking dan berbagai persoalan lainnya . Data yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) 4 Januari 2017 mencatat jumlah penduduk miskin di NTT mencapai 1,14 juta orang (22,01 persen). Jumlah ini menempatkan NTT pada posisi ketiga setelah Papua.

Selain kemiskinan, terbatasnya lapangan pekerjaan mendorong anak-anak NTT memilih menjadi pekerja migran ke luar negeri dengan upah yang relatif lebih tinggi dibandingkan dengan upah kerja dalam negeri. Pilihan ini kebanyakan dilakukan oleh masyarakat berpendidikan rendah dengan skil yang terbatas. Keterbatasan skill dalam menjalankan pekerjaan ketika berada di luar negeri akan menjadi sumbu pemicu terjadinya kekersaan majikan terhadap pekerjanya yang dapat saja berakhir dengan kematian sebagaimana terjadi pada Adelina.

Publik NTT tentu tahu kalau Adelina bukanlah korban pertama human trafficking. Sebut saja Dolfina Abuk, Yufrida Selan dan Wilfrida Soik, mereka mengalami nasib yang sama dengan Adelina. Jagad NTT berharap bahwa cukup Wilfrida sebagai korban terakhir human trafficking, namun harapan tak selalu selaras dengan kenyataan. Kini Adelina menyusul Wilfrida. Kita tidak tahu apakah harapan yang sama masih juga terulang kembali?. Atau Adelina menjadi yang terakhir untuk korban human trafficking di NTT.

Qua vadis Satgas Human Trafficking
Pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Human Trafficking oleh Polda NTT, yang diharapkan dapat menyelesaikan benang kusut permasalahan human trafficking, ternyata belum juga memenuhi harapan.

Di NTT kasus human trafficking terus saja terjadi. Meski data BP3TKI NTT menunjukan trand menurun. Namun data BP3TKI bukanlah satu-satunya data yang menjadi rujukan. Ada banyak data dari berbagai organisasi lain yang berbeda satu sama lain. Polda NTT memiliki data sendiri. Di tahun 2016 misalnya Polda NTT mencatat terdapat 61 kasus human trafficking dengan korban sebanyak 92 orang. Sementara di tahun 2017 Polda NTT mencatat 26 kasus . (www.rappler.com/indonesia/berita/156309-92-orang-trafficking-ntt dan kupang.tribunnews.com/2017/12/29/polda-ntt-ada-26-kasus-trafficking-selama-2017-33-orang-tersangka)

Publik Flobamora patut mengapresiasi upaya berbagai pihak terutama Satgas Pemberantasan Human Trafficking Polda NTT dalam upaya-upaya pencegahan tindak pidana perdagangan orang (TPPO). Namun satu hal yang pasti keberhasilan ini belum memenuhi tuntutan dan harapan masyarakat NTT yang lebih menginginkan agar tak ada lagi korban TPPO. Lantas mengapa masih ada warga NTT yang menjadi korban trafficking? Pertanyaan ini tentu tidak hanya mendapatkan jawaban tunggal. Ada begitu banyak sebab yang dapat dikemukan.

Namun pada titik ini, publik diingatkan akan kasus keterlibatan oknum-oknum di tubuh Polda NTT dalam perdagangan orang beberapa tahun silam. Rudy Soik, salah seorang anggota Polda saat itu yang berupaya membongkar keterlibatan oknum atasanya justeru akhirnya menghuni sel tahanan. Niat Rudy membongkar keterlibatan oknum Polda NTT, terhalang lantaran membentur tembok kekuasan dalam tubuh organisasi sendiri. Mudah-mudahan, dibalik kasus human trafficking yang masih juga menimpa masyarakat Flobamora ini bukan karena kisah yang dikicaukan Rudy Soik terulang kembali. Tidak ada gunanya menyapu lantai yang kotor dengan sapu yang kotor pula. (Penulis adalah aktivis LSM ).(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
BPBD Papua Belajar Analisis dan Pengembangan Organisasioleh : Djuneidi Saripurnawan
28-Aug-2018, 06:07 WIB


 
  BPBD Papua Belajar Analisis dan Pengembangan Organisasi TATTs Program: Analisis dan Pengembangan Organisasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Papua
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Selamat HUT TNI Ke-73 13 Okt 2018 19:46 WIB

 

 

 

 

 
Sang Perancang Mode Batik 14 Apr 2018 18:54 WIB


 

 

 
Khasiat Buah Bit untuk Kecantikan 16 Sep 2018 16:05 WIB


 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia