KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalWalau Sering Mogok, Mobil Jokowi Tidak Bobrok oleh : Chairil Makmun
27-Mar-2017, 21:28 WIB


 
 
Kabarindonesia, Jakarta -Walaupun sering mogok, mobil Presiden Jokowi bukanlah mobil bobrok. Pengertian mogok pada mobil Presiden tidak sama dengan mogok pada mobil masyarakat pada umumnya. Demikian penjelasan Kepala Sekretariat Kepresidenan Darmansjah Djumala kepada jurnalis di Jakarta, Kamis pagi (23/3/17).
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
 

 
Langkah Menuju Pasti 23 Mar 2017 23:05 WIB

Walau Satu Detik Bersama Tuhan 10 Mar 2017 04:05 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
OPINI

Janji Nawacita Jokowi Tentang Penyelesain Pelanggaran HAM Masa Lalu
Oleh : Mohamad Hidayat Muhtar | 15-Mar-2017, 12:15:17 WIB

KabarIndonesia - Penyelenggaraan pemilu 2 tahun lalu menghadirkan sebuah isu yang sangat menarik yang menyerang salah satu kandidiat calon presiden dengan berbagai isu pelanggaran HAM dan menjadi aktor serta pelaku utama dalam pelanggaran masa lampau. Isu ini dihembuskan dengan begitu derasnya dan menjadi perhatian banyak pihak. Ada sebuah luka yang mendalam serta kesedihan tiada tanding akan sebuah nestapa tak berujung bagi korban dan keluarga korban. 

Terlepas dari itu isu HAM masa lalu, masih belum padam dan apinya tetap menyala terang. Pelantikan Jokowi dan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden Indonesia menjadi sebuah nafas baru, harapan baru dalam penyelesain pelanggaran HAM masa lampau dengan slogan "Nawacita". Mimpi itu makin nyata ketika Nawacita dirumuskan dalam dokumen resmi yaitu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMP) tahun 2014-2019 yang disahkan lewat Kepres Nomor 2 tahun 2015.

Akan tetapi janji nawacita tentang penuntasan kasus pelanggaran HAM masa lalu seolah hanya sebagai retorika pengantar tidur yang indah di dengar tetapi tumpul di lapangan, pelaksanaan Nawacita yang pada prinsipya menjadi salah satu pisau instrumen untuk menuntaskan pelanggaran HAM masa lalu menjadi tumpul sebagai akibat kekuataan politik terhadap orang-orang yang bertanggung jawab pada saat itu.
Kejadian Trisakti, Semanggi 1, Semanggi 2 dan peristiwa 1998 telah menjadi pelanggaran HAM berat, orang-orang yang terlibat dan bertanggung jawab saat itu telah menjadi rahasia umum dan sekarang duduk di jajaran kabinet pemerintah. Merekalah yang ikut melukai para korban serta keluarga korban.

Jalur Rekonsiliasi yang di gagas pemerintah seolah-olah menjadi suatu ketidakmampuan pemerintah menindak secara hukum orang yang bertanggung jawab saat itu. Hal ini menimbulkan impunitas,  ada apa dengan tokoh-tokoh besar tersebut? Ada apa dengan mereka yang kuat secara politik?. Dalam hal ini, Lord Acton pernah mengatakan:"Seseorang yang memiliki kekuasaan cenderung untuk menyalahgunakan kekusaanya akan tetapi seseorang yang mempunyai kekuasaan yang tak terbatas sudah pasti menyalahgunakan kekuasaanya"
Tokoh-tokoh nasional yang memiliki kekuasan kuat sangatlah sulit untuk disentuh oleh hukum. Harus butuh kerja keras serta keberanian yang luar biasa untuk dapat menindak mereka.  Janji Nawacita sebenarnya telah memberikan harapan baru, asa baru serta mimpi baru, tetapi janji itu tak kunjung direalisasikan. Indonesia yang katanya sebagai negara beradab tetapi membiarkan perbuatan barbar menjadi duri dalam daging yang pedihnya tidak hilang sebelum duri itu dihilangkan.*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 



Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Berdoa untuk Perdamaian Dunia 11 Mar 2017 19:07 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia