KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
 
KabarIndonesia - Tepat 45 tahun lalu, Argopandoyo Tri Hanggono dilahirkan di Kota Jakarta, sebagai anak ketiga dari pasangan W. Sudaryo dan Martha Beetje.

Ayah dua anak ini memiliki ketertarikan pada dunia jurnalistik sejak mengikuti kegiatan penerbitan Warta Yohanes
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sabar dan Syukur 12 Okt 2017 01:07 WIB

Di Padepokan Om Jin 12 Okt 2017 01:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
"Tangisan" Ridho Irama 12 Okt 2017 10:00 WIB


 

 
 
OPINI

Filosofi Gundhul Pacul Pemerintahan
Oleh : Ilus Trian Dayano | 23-Mei-2017, 18:37:02 WIB

KabarIndonesia - Segala kekayaan (aset atau inventaris) yang ada di pemerintahan, mulai dari rumah dinas, kendaraan dan perlengkapan-perlengkapan untuk menjalankan tugasnya adalah milik rakyat. Makna lainnya adalah rakyat membayar pemerintah baik dari tingkatan presiden hingga lurah. Lebih luas lagi, rakyat adalah ‘bos' sedangkan pemerintah adalah ‘abdi' atau pelayan. Lebih dalam lagi, 250 juta jiwa rakyat Indonesia adalah ‘raja'.

Dalam struktur demokrasi, derajat rakyat lebih tinggi daripada pemerintah. Oleh karena itu, seharusnya pemerintah tunduk pada kedaulatan rakyat dalam segala aspek. Apa tugas pemerintah? Hal ini bisa dijawab dengan kalimat simpel, yakni ‘mengolah modal kekayaan negara untuk diantarkan kepada rakyat berupa kesejahteraan lahir batin'.

Filosofinya bagaikan lagu ‘Gundhul Pacul'. Pemerintah meletakkan wakul atau kesejahteraan rakyat di atas kepalanya. Sedangkan kendaraan untuk mengantar kesejahteraan itu adalah demokrasi. Pemerintah dilarang gembelengan, main-main, sok kuasa dan merasa dirinya berada paling atas. Kalau pemerintah gembelengan, maka wakul ngglimpang segane dadi sak latar, kekayaan negara akan tercecer mubazir.

Apa yang terjadi? Kaum maling yang serakah akan nothol-nothol nasi yang berceceran itu. Lebih luas lagi, derajat kaum maling itu sama halnya seekor ayam yang kelaparan. Maka berhati-hatilah wahai para jajaran pemerintah! Sangat wajar bila rakyat marah kepadamu, karena kekayaannya hilang begitu saja. Lebih luas lagi, rakyat bisa hidup walau tidak ada kamu, sedangkan kamu tidak akan menjadi kepala pemerintah tanpa adanya rakyat.

Pun anjuran untuk rakyat, masyarakat adalah pemegang otoritas kekuasaan tertinggi, maka jangan diam saja! Suarakan apa yang ingin kalian suarakan! Katakan muak bila kebijakan pemerintah memuakkan! Menyuarakan pendapat sama halnya menciptakan ‘perubahan', yakni perubahan untuk ‘detik' ke depan yang lebih baik lagi.

Namun mengapa hal ini menjadi krisis? Hari ini, Indonesia hanya sedikit mempunyai ‘kelas menengah pemikir' yang merancang perubahan. Yang di atas hidup sangat enak dan pasti tidak mau berubah. Yang di bawah kelelahan memikirkan sebutir nasi sehingga tidak mungkin dituntut memikirkan perubahan. Padahal semuanya tidak ada toleransi lagi, bahwa Indonesia wajib berubah sak oyot-oyote. Ghundul ghundul pacul cul gembelengan. Nyunggi nyunggi wakul kul gembelengan. Wakul ngglimpang segane dadi sak latar. Wakul ngglimpang segane dadi sak latar. (*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Pesona Tahun Ketiga Hong Kong Cyclothon 2017oleh : Rohmah Sugiarti
12-Okt-2017, 06:52 WIB


 
  Pesona Tahun Ketiga Hong Kong Cyclothon 2017 Hong Kong Cyclothon kembali di tahun ketiga, tepatnya pada hari Minggu, 8 Oktober kemarin. Diikuti sekitar 5.000 pesepeda dari seluruh pelosok dunia. Tujuh belas tim balap profesional akan berlaga di UCI Asia Tour Class 1.1 Road Race pertama di Hong
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 
Pimpinan Redaksi HOKI 2017 09 Okt 2017 20:02 WIB


 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia