KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
DaerahOperasional Pelabuhan Simanindo Kembali Dibuka dengan Pengoperasian Kapal Ferry dan Kapal Kayu oleh : Danny Melani Butarbutar
07-Jul-2018, 14:45 WIB


 
  KabarIndonesia - Samosir, Sejak peristiwa tenggelamnya kapal kayu KM. Sinar Bangun di perairan Tigaras pada Senin (18/6) Pemerintah telah menghentikan operasional transportasi kapal trayek Simanindo (Samosir) - Tigaras (Simalungun). Hal ini sangat berdampak luas kepada roda perekonomian masyarakat.

Namun,
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Ruang dan Cinta Penyatu Segalanya 27 Jun 2018 05:55 WIB

Surat Untuk Bapak Presiden 06 Jun 2018 09:09 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Calon Independen Bukan Pelarian Politik

 
OPINI

Calon Independen Bukan Pelarian Politik
Oleh : Azzam Miftah | 08-Okt-2017, 08:06:45 WIB

KabarIndonesia - Kajian atas latar belakang calon independen dalam pilkada sebenarnya bukan hal yang baru. Sejak ditetapkannya Perpu No.1 tahun 2014 tentang pemilihan gubernur, bupati dan walikota yang kemudian direvisi menjadi UU No. 1 tahun 2015, ditetapkan bahwa calon independen untuk calon Gubernur harus mendapatkan sedikitnya 6,5% dari jumlah penduduk, jika jumlah penduduk lebih dari 12 juta. Kalau jumlah penduduknya kurang dari 12 juta dan lebih dari 6 juta, maka suara yang harus dikumpulkan sebanyak 7,5 %. Sedangkan jika jumlah penduduknya lebih dari 2 juta dan kurang dari 6 juta, maka suara yang harus dikumpulkan sebanyak 10 % dari jumlah penduduk.
Ketentuan diatas jelas sekali merugikan beberapa pihak yang salah satunya Gerakan Nasional Calon Independen (GNCI), yang kemudian menggugat ke Mahkamah Konstitusi (MK) yang menghasilkan beberapa keputusan yakni jumlah dukungan bukan didasarkan dari jumlah penduduk melainkan hanya dari total daftar pemilih tetap pada pemilu sebelumnya. Hal ini tentu menjadi angin segar bagi calon independen atau perseorangan yang maju dalam Pilkada tanpa harus menggunakan perahu partai dengan sejumlah mahar.
Sosok yang muncul dari jalur independen bebas dari tekanan politik, karena tak berafiliasi partai tertentu. Terlihat lebih bersih karena jauh dari interpensi kepentingan Parpol. Ketika satu kandidat independen memenangkan pemilu ia tidak akan tersandera dengan kepentingan satu kelompok politik, ongkos politik pun mampu ditekan karena kreatifitas dalam mencari dana kampanye dituntut lebih bagi calon independen. Calon independen tentu harus rasional dalam mengukur peluang mereka agar sanggup memenangkan kontestasi pemilu. Bila melihat dana yang begitu besar untuk kampanye, mereka dituntut kreatif dan inovatif dalam menggalang dukungan.Kandidat ini memang bisa jadi menu utama bagi mereka yang tak terlalu percaya lagi dengan kinerja partai politik. Tentu calon independen bukan sebuah pelarian politik, namun lebih sebagai calon yang punya karakteristik disukai oleh masyarakat berdasarkan ciri tertentu, misalkan bersih, berdedikasi tinggi, idealis, dekat dengan masyarakat dan memiliki prestasi yang bagus.

Tolak ukur dari itu semua bisa muncul akibat dari ketidak percayaan publik pada produk-produk pemilu yang menghasilkan pejabat korup. Sehingga calon independen bisa menjadi satu pilihan utama bagi masyarakat yang tentu menginginkan perubahan struktur politik atau pemerintahan di daerah mereka masing-masing. Bagi-bagi keuntungan untuk "sponsor" politik memang bisa ditekan oleh sang "independen" sejati. Dengan kata lain mereka yang independen hanya berbakti pada sponsor utama, yakni rakyat sebagai pemilih.
Setelah UU No. 32 tahun 2004 diubah menjadi UU No. 12 tahun 2008 peta model kontestasi politik yang berganti. Pemimpin daerah baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota boleh memilih pemimpinnya secara langsung walaupun tanpa kendaraan partai. Beberapa pihak melihat ini sebagai upaya de-parpol-isasi, seperti pencalonan Ahok beberapa waktu yang lalu sebelum Pilkada Jakarta 2017 berlangsung. Namun banyak pihak juga ikut mendukung terbentuknya satu kepemimpinan daerah yang muncul dari kandidat tak ber-partai. Optimisme muncul dari kandidat independen karena beberapa hal, misal tidak tersandera urusan politik kelompok tertentu, lebih transparan dan akuntabel serta prestasi yang gemilang karena terukur berdasarkan prestasi tertentu atau track record yang baik.
Pilihan dari kandidat independen juga ikut menjawab tantangan masyarakat yang melihat kader partai tidak berhasil menunjukkan kinerja memuaskan. Selain itu beberapa kali oknum pejabat yang berasal dari partai tertentu juga terlibat korupsi menambah keraguan publik. Maka dari itu opsi kandidat independen diharapkan mampu menjawab beberapa alasan-alasan tersebut dan bukan hanya sekedar pilihan alternatif semata.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
  FWD Life Gandeng Special Olympics Indonesia untuk Program Pemberdayaan Penyandang Disabilitas Intelektual di Semarang – PT FWD Life Indonesia (FWD Life), pelopor asuransi jiwa berbasis digital di Indonesia, telah meresmikan kerja sama dengan Special Olympics Indonesia (SOIna) pada 18 April 2018 lalu. Setelah peluncuran kerja sama, FWD Life kemudian menggelar roadshow perdana di Bandung pada
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 
Sang Perancang Mode Batik 14 Apr 2018 18:54 WIB


 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia