KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalWUPID - 2017 Ajang Debat Menantang! oleh : Johanes Krisnomo
20-Okt-2017, 16:38 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, 20 Oktober 2017 - Gaduhnya para mahasiswa saat istirahat makan siang, mengikuti ajang debat WUPID - 2017, tak sejalan dengan keseriusannya berkompetisi. Mereka berdebat mempertahankan argumentasinya, baik pro dan kontra, berdasarkan data akurat dan pola pikir kritis.
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sabar dan Syukur 12 Okt 2017 01:07 WIB

Di Padepokan Om Jin 12 Okt 2017 01:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
"Tangisan" Ridho Irama 12 Okt 2017 10:00 WIB


 

 

Calon Independen Bukan Pelarian Politik

 
OPINI

Calon Independen Bukan Pelarian Politik
Oleh : Azzam Miftah | 08-Okt-2017, 08:06:45 WIB

KabarIndonesia - Kajian atas latar belakang calon independen dalam pilkada sebenarnya bukan hal yang baru. Sejak ditetapkannya Perpu No.1 tahun 2014 tentang pemilihan gubernur, bupati dan walikota yang kemudian direvisi menjadi UU No. 1 tahun 2015, ditetapkan bahwa calon independen untuk calon Gubernur harus mendapatkan sedikitnya 6,5% dari jumlah penduduk, jika jumlah penduduk lebih dari 12 juta. Kalau jumlah penduduknya kurang dari 12 juta dan lebih dari 6 juta, maka suara yang harus dikumpulkan sebanyak 7,5 %. Sedangkan jika jumlah penduduknya lebih dari 2 juta dan kurang dari 6 juta, maka suara yang harus dikumpulkan sebanyak 10 % dari jumlah penduduk.
Ketentuan diatas jelas sekali merugikan beberapa pihak yang salah satunya Gerakan Nasional Calon Independen (GNCI), yang kemudian menggugat ke Mahkamah Konstitusi (MK) yang menghasilkan beberapa keputusan yakni jumlah dukungan bukan didasarkan dari jumlah penduduk melainkan hanya dari total daftar pemilih tetap pada pemilu sebelumnya. Hal ini tentu menjadi angin segar bagi calon independen atau perseorangan yang maju dalam Pilkada tanpa harus menggunakan perahu partai dengan sejumlah mahar.
Sosok yang muncul dari jalur independen bebas dari tekanan politik, karena tak berafiliasi partai tertentu. Terlihat lebih bersih karena jauh dari interpensi kepentingan Parpol. Ketika satu kandidat independen memenangkan pemilu ia tidak akan tersandera dengan kepentingan satu kelompok politik, ongkos politik pun mampu ditekan karena kreatifitas dalam mencari dana kampanye dituntut lebih bagi calon independen. Calon independen tentu harus rasional dalam mengukur peluang mereka agar sanggup memenangkan kontestasi pemilu. Bila melihat dana yang begitu besar untuk kampanye, mereka dituntut kreatif dan inovatif dalam menggalang dukungan.Kandidat ini memang bisa jadi menu utama bagi mereka yang tak terlalu percaya lagi dengan kinerja partai politik. Tentu calon independen bukan sebuah pelarian politik, namun lebih sebagai calon yang punya karakteristik disukai oleh masyarakat berdasarkan ciri tertentu, misalkan bersih, berdedikasi tinggi, idealis, dekat dengan masyarakat dan memiliki prestasi yang bagus.

Tolak ukur dari itu semua bisa muncul akibat dari ketidak percayaan publik pada produk-produk pemilu yang menghasilkan pejabat korup. Sehingga calon independen bisa menjadi satu pilihan utama bagi masyarakat yang tentu menginginkan perubahan struktur politik atau pemerintahan di daerah mereka masing-masing. Bagi-bagi keuntungan untuk "sponsor" politik memang bisa ditekan oleh sang "independen" sejati. Dengan kata lain mereka yang independen hanya berbakti pada sponsor utama, yakni rakyat sebagai pemilih.
Setelah UU No. 32 tahun 2004 diubah menjadi UU No. 12 tahun 2008 peta model kontestasi politik yang berganti. Pemimpin daerah baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota boleh memilih pemimpinnya secara langsung walaupun tanpa kendaraan partai. Beberapa pihak melihat ini sebagai upaya de-parpol-isasi, seperti pencalonan Ahok beberapa waktu yang lalu sebelum Pilkada Jakarta 2017 berlangsung. Namun banyak pihak juga ikut mendukung terbentuknya satu kepemimpinan daerah yang muncul dari kandidat tak ber-partai. Optimisme muncul dari kandidat independen karena beberapa hal, misal tidak tersandera urusan politik kelompok tertentu, lebih transparan dan akuntabel serta prestasi yang gemilang karena terukur berdasarkan prestasi tertentu atau track record yang baik.
Pilihan dari kandidat independen juga ikut menjawab tantangan masyarakat yang melihat kader partai tidak berhasil menunjukkan kinerja memuaskan. Selain itu beberapa kali oknum pejabat yang berasal dari partai tertentu juga terlibat korupsi menambah keraguan publik. Maka dari itu opsi kandidat independen diharapkan mampu menjawab beberapa alasan-alasan tersebut dan bukan hanya sekedar pilihan alternatif semata.(*)

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
WUPID - 2017 Berfoto Bersamaoleh : Johanes Krisnomo
20-Okt-2017, 00:06 WIB


 
  WUPID - 2017 Berfoto Bersama Para peserta, juri dan panitia WUPID Indonesia 2017, Jakarta (14-15/10/17), berfoto bersama di akhir acara. Dua dari 30 tim (berhak mewakili Indonesia di QUIP WUPID (World Universities Peace Invitational Debate) Global 2017, Malaysia (8-12/12/17). Aldwin & Ibrahim - Universitas
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi JK 20 Okt 2017 15:13 WIB


 

 

 

 

 
Pimpinan Redaksi HOKI 2017 09 Okt 2017 20:02 WIB


 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia