KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
Serba SerbiJerman Bahas Larangan Berjilbab buat Anak TK dan SD oleh : Kabarindonesia
24-Mei-2019, 14:50 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jerman bergulat dengan fenomena jilbab di kalangan siswa taman kanak-kanak atau sekolah dasar. Kebiasaan tersebut dinilai mempersulit proses integrasi. Tapi apakah larangan serupa di Austria adalah langkah bijak?

Perdebatan tentang larangan jilbab di sekolah dasar di Jerman
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 
Kejagung Tunggu SPDP Kasus Makar 24 Mei 2019 17:39 WIB


 
Menunggu 19 Mei 2019 16:15 WIB

SYEH SITI JENAR 16 Mei 2019 15:44 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 

Ancaman Tsunami di Kawasan Pesisir Pantai Holtekamp Jayapura Papua

 
OPINI

Ancaman Tsunami di Kawasan Pesisir Pantai Holtekamp Jayapura Papua
Oleh : Djuneidi Saripurnawan | 08-Sep-2018, 16:56:17 WIB

KabarIndonesia - Ancaman Tsunami adalah  gelombang tinggi air laut yang masuk ke wilayah daratan dengan karakter dorongan air yang terus-menerus dan meluas. Kerusakan banyak terjadi karena hantaman air laut membawa puing-puing material yang hanyut menjadi pemukul bagi semua benda yang ada dihadapannya. Demikianlah manusia dan makhluk hidup lainnya banyak yang menjadi korban jiwa, dan kerusakan-kehancuran yang meluas, seluas radius Tsunami itu.
Tsunami merupakan fenomena dampak dari adanya gempa bumi. Artinya, tsunami terjadi setelah ada gempa bumi, tetapi tidak serta merta bila ada gempa bumi maka terjadi tsunami. Gempabumi tidak terduga, dan tidak terdeteksi kejadiaannya. Oleh karena itu, ancaman tsunami sebenarnya juga tidak bisa diprediksi kapan akan terjadi. Teknologi yang ada hanya memberikan peringatan potensial terjadinya tsunami setelah terjadinya suatu gempa bumi. Dalam hitungan beberapa menit, gelombang tsunami yang terjadi sudah bergerak masuk ke daratan dan memukul semua yang menghambat pergerakannya.     

Tulisan ini tidak bermaksud menakut-nakuti masyarakat, atau mencari sensasi semata. Jauh daripada itu, saya hanya berpikir bahwa hal ini sangat penting untuk disampaikan kepada publik seluas mungkin, terutama kepada masyarakat lokal dan para pihak yang berwenang/berkewajiban dan peduli dengan adanya ancaman tsunami ini.

Apalagi bila ada kegiatan kerumunan massa terjadi di sekitar pantai itu; setidaknya antisipasi terhadap ancaman ini sudah menjadi bagian dari pertimbangan yang matang atas penyelenggaraan kegiatan itu. Dengan inilah kita selalu belajar dari kejadian sebelumnya.

Gempa Bumi dan Tsunami Papua
Tanah Papua berada di jalur gempa dunia, dalam "Ring of Fire". Sejarah gempabumi besar dan tsunami di tanah Papua (termasuk Papua New Guinea) terjadi pada tahun 1900 di laut Bismarck (7,8 SR) dan tercatat 5 orang korban jiwa; pada 1996 terjadi di Biak (8,2 SR) dengan tinggi gelombang mencapai 7 meter di Pulau Yapen, korban jiwa tercatat 110 jiwa dan kehancuran pemukiman di bagian utara Pulau Biak. Akibat gempabumi di Biak itu, Jepang mengalami tsunami setinggi satu meter. Tsunami juga terjadi pada 2002 di Ransiki (7,6 SR), dan tahun 2009 di Manokwari(7,9 SR) dengan tsunami kecil yang tidak menimbulkan korban jiwa.Kejadian gempabumi di Tohoku, Jepang pada 11 Maret 2011 ternyata berdampak pada pantai di utara Papua, yaitu berupa tsunami setinggi 0,8 meter sampai 2,8 meter di Kawasan Pesisir Pantai Holtekamp. Area terdampak meliputi Jalan Raya Holtekamp, Jembatan Muara yang hancur, koperasi palong yang rusak, bangunan tembok dan fondasi untuk PLTD-sekarang bernama Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Jayapura 50 MW-- hancur diterjang tsunami setinggi 1,8 meter dan sejauh 368 meter ke daratan. Gelombang tsunami juga menghantam sampai ke Dermaga Teluk Youtefa, Kampung Enggros, seluruh Pulau Debi, Pelabuhan Depapre dan Pantai Tablanusu.


Di Papua, dampak tsunami Jepang tersebut mengakibatkan 1 orang meninggal dunia, 92 rumah warga rusak berat di sepanjang pesisir, di sekitar Holtekamp, di Kampung Tobati dan Hanurata, dan 1 jembatan rusak berat. Kerugian diperkirakan senilai Rp 1,5 Milyar (H. Hudha,2017).

Pertanyaan kritisnya adalah mengapa PLTMG masih tetap dibangun di lokasi yang sama yang sudah pernah dihantam tsunami Jepang 11 Maret 2011 itu? Ini persoalan lain, tetapi perlu dicatat dalam sejarah Papua, karena nilai pembangunan instalasi vital bila berhadapan pada resiko ancaman yang jelas-jelas di depan mata, maka resikonya bukan hanya kerugian struktural tetapi juga korban jiwa manusia.


Perlu diketahui bahwa PLTMG Jayapura yang bernilai Rp 866 Milyar sudah beroperasi sejak 24 November 2017 adalah bangunan vital di Papua karena menjadi sumber energi listrik yang utama. Karena sudah "terlanjur" berdiri di kawasan pesisir yang berpotensi ancaman tsunami, maka upaya mitigasi dan kesiapsiagaan harus menjadi bagian penting dari perawatan menjaga bangunan instalasi vital ini dan keselamatan manusia yang bekerja di dalamnya.


Mitigasi dan Kesiapsiagaan
Mitigasi dan kesiapsiagaan harus dilakukan dengan seksama bagi kompleks PLTMG Jayapura di Holtekamp, karena berhadapan langsung dengan pantai sebagai jalur tsunami yang mungkin terjadi. Mitigasi struktural yang mungkin dilakukan, belajar dari Jepang, adalah pembangunan tanggul pantai atau dinding penahan tsunami (sea-wall) dengan kekuatan menahan daya dorong air tsunami.  Sea-wall yang dibangun tanpa perhitungan struktural yang memadai justru akan mengakibatkan tambahnya ancaman bagi bangunan, perumahan dan pemukiman di daratan, karena material yang dibawa air tsunami berubah menjadi senjata pemukul terhadap semua yang ada di daratan.
Kesiapsiagaan mengacu pada upaya menambah kapasitas manusia dalam membangun sistem peringatan dini, cara merespon bila tsunami datang, pemahaman terhadap gejala gempabumi dan tsunami, rencana kontijensi tsunami,  latihan simulasi gempabumi dan tsunami, membangun infrastruktur penyelamatan, melengkapi peralatan yang diperlukan, dan seterusnya. Sudahkan kapasitas warga masyarakat di sepanjang  Kawasan Pesisir Pantai Holtekamp siap menghadapi ancaman tsunami?
 
Bila terjadi gempa bumi yang serupa atau yang berpusat di wilayah Papua, misal di utara Pulau Yapen, Biak Numfor, dan tsunami terjadi setinggi 1 sampai 2 meter, maka bisa diasumsi terdapat sejumlah 450 rumah warga terdampak dan 900 orang lebih akan terdampak langsung karena aktivitasnya di kawasan sekitar pesisir pantai Holtekamp. Dan PLTMG Jayapura juga terdampak langsung karena berada di muka pantai Holtekamp. Di sinilah pentingnya rencana kontijensi dan upaya mitigasinya.(*)

Penulis: Djuneidi Saripurnawan, Senior Program Officer-TATTs Program for Papua-Mercy Corps Indonesia & BPBD Papua; alumnus Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), dan Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.  

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Hanya Satu Produk Indonesia di "Asia Society and Museum"oleh : Fida Abbott
21-Apr-2019, 05:24 WIB


 
  Hanya Satu Produk Indonesia di "Asia Society and Museum" berlokasi di 725 Park Ave, New York, NY 10021; berukuran tidak besar; memiliki dua lantai dan lantai bawah tanah. Lantai pertama untuk pendaftaran para tamu yang berkunjung, kafe, dan toko suvenir. Lantai dua untuk museum yang
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
Air Danau Toba Tercemar Berat 24 Mei 2019 15:17 WIB


 
Cara Asik Menikmati Mudik 23 Mei 2019 13:11 WIB


 
Doa Yang Sia-Sia 25 Mei 2019 14:32 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia