KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalWUPID INDONESIA 2017: Pemilihan Dua Tim Debat Bahasa Inggris untuk Mewakili Indonesia di WUPID Global oleh : Redaksi-kabarindonesia
18-Okt-2017, 01:37 WIB


 
 
KabarIndonesia - Jakarta, 18 Oktober 2017 – Ruang kuliah 7-6 dan 7-7 Sampoerna University Jakarta seketika berubah hening dan suasana menegang sebab Muqriz Mustafa Kamal selaku Chair Adjudicator Final round akan mengumumkan
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 

 

 
Sabar dan Syukur 12 Okt 2017 01:07 WIB

Di Padepokan Om Jin 12 Okt 2017 01:06 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 
"Tangisan" Ridho Irama 12 Okt 2017 10:00 WIB


 

 

Megawati Bukan Soekarno

 
OPINI

Megawati Bukan Soekarno
Oleh : Ki Semar | 25-Jan-2009, 22:23:05 WIB

KabarIndonesia - Suasana sejuk pegunungan hari ini begitu terasa. Terlebih di lereng gunung tempat Ki Semar membangun pondoknya. Di sebuah bangku tua yang terbuat dari bambu tampak Ki Semar begitu asyiknya memandangi sebuah foto tua yang sudah kusam. Sesekali diusapnya foto itu. Tampak sekali betapa berharganya foto tersebut bagi Ki Semar. Namun demikian ketenangan Ki Semar tidak berlangsung lama, karena dari balik rumpun bambu muncul beberapa orang tetangga Ki Semar. Dengan keramahan khas pegunungan, Ki Semar mempersilahkan mereka mampir di pondoknya.

Salah seorang dari mereka sempat bertanya kepada Ki Semar, “Ki, foto siapa itu. Kok nampaknya Ki Semar sangat menyayagi orang dalam foto itu. Apa itu foto cucu Ki Semar?”  

Dengan tersenyum Ki Semar berkata, “Masa kamu tidak tahu, ini kan foto Bung Karno. Aku sangat menyayanginya. Bahkan aku sampai rela turun dari khayangan hanya untuk menjaga beberapa peninggalan Bung Karno. Terutama ajaran-ajarannya.”

Mendengar penjelasan dari Ki Semar, maka salah satu tamu berkata, "Wah, kalau begitu aku bisa nebak, pasti dalam PILPRES 2009 Ki Semar memilih MEGAWATI dengan PDIP sebagai partainya.”
 
Mendengar perkataan tersebut, tampak Ki Semar  sangat sedih. Dengan penuh kasih sayang Ki Semar meminta para tamunya untuk duduk lebih mendekat kepadanya. Katanya, “Kemarilah cucuku, duduklah lebih mendekat. Aku ingin menceritakan sesuatu yang selama ini menghantui dan meresahkan perasaanku. Dan karena keresahan inilah, sampai saat ini aku tidak kembali ke khayangan dan memilih tinggal di bumi Nusantara ini.”
 
Setelah para tamu duduk mendekati Ki Semar, mulailah Ki Semar bercerita: “Sebentar lagi PEMILU PRESIDEN RI akan segera dilaksanakan. Menyambut hal itu, maka banyak wajah Capres yang muncul di kancah politik National. Salah satunya adalah MEGAWATI SOEKARNO PUTRI. Dia adalah PUTERI BUNG KARNO. Sekali lagi PUTERI BUNG KARNO. Dia bukan Bung Karno. Sementara yang aku lihat selama ini banyak rakyat yang bermimpi. Dia membayangkan betapa luhurnya budi Bung Karno dalam memimpin negeri ini. Di jaman kepemimpinan Bung Karno, Indonesia menjadi negara yang disegani oleh bangsa-bangsa lain. Dan hal itu terjadi tidak lepas dari Peran Bung Karno selaku PREIDEN RI saat itu. Di tengah terpuruknya kondisi negeri ini, masyarakat banyak berkhayal untuk kembali dipimpin oleh Bung Karno. Guna menghilangkan kehausan dan kerinduan akan masa lalu, maka sebagian masyarakat mengusung Megawati Soekarno Putri dengan PDIP sebagai partainya untuk menjadi Presiden RI. Nah, di sinilah awal kesalahan bangsa ini. Megawati hanyalah puteri bung Karno, sehingga banyak sekali perbedaan di antara keduanya. Baik dari landasan berpolitiknya maupun dari kondisi keluarga sebagai faktor pendukungnya. Di sini akan aku sampaikan berbagai perbedaan tersebut. Aku akan mulai dari sisi Bung Karno.


Jejak Politik Soekarno


Soekarno memulai kiprahnya di dunia politik di saat negeri ini masih di bawah penjajahan Belanda. Semua langkah, strategi serta berbagai pengorbanan yang dilakukannya hanya mempunyai satu niat: INDONESIA MERDEKA. Untuk itu dia mengalami berbagai rintangan. Diasingkan ke pulau-pulau terpencil, diisolasi dari pergaulan umum, sampai dijanjikan PANGKAT & JABATAN yang terhormat hanya dengan syarat, Bung Karno menghentikan teriakan dan tuntutannya tentang INDONESIA MERDEKA. Di sini jelas tentang arah berpolitik Soekarno. Bila Bung Karno berpolitik untuk kepentingan diri pribadi yang terwujud dalam bentuk pangkat dan jabatan, maka sejak awal Bung Karno telah menghentikan perjuangan poltiknya. Dia akan menjadi seorang Pejabat di bawah pemerintahan Belanda dengan berbagai kemewahan serta fasilitasnya. Sungguh janji yang sangat menggiurkan. Tapi hal itu tidak mampu membelokkan arah perjuangan Soekarno, karena prinsip perjuangannya bukan untuk menjadi PRESIDEN RI, tetapi untuk KEMERDEKAAN INDONESIA. Apabila pada akhirnya dia terpilih sebagai PRESIDEN RI, itu hanya merupakan sebuah DAMPAK, bukan TUJUAN dari perjuangannya.

Proses pemilihan dirinya tidak diawali masa kampanye yang pada intinya membanggakan diri sendiri, menjual kebaikan diri sendiri, dan bila perlu, harus perlu untuk menjelekkan pihak lain. Pengangkatan dirinya sebagai Presiden tidak disambutnya dengan teriakan kemenangan, karena memang dia tidak pernah merasa menang. Mengapa dia tidak merasa menang? Jawabnya adalah: dia tidak pernah bertarung dengan siapa pun untuk menjadi Presiden RI. Pengangkatan dirinya sebagai Presiden RI hanya dijawab dengan ucapan TERIMA KASIH ATAS KEPERCAYAAN INI.
 
Apa yang diuraikan di atas adalah analisa tentang landasan perjuangan Bung Karno. Dari sisi penataan keluarga, Bung Karno sangat tidak menghendaki campur aduk antara JABATAN PRESIDEN RI dan JABATAN KEPALA KELUARGA, sehingga dengan prinsip ini Bung Karno tidak pernah membicarakan permasalahan yang dihadapinya sebagai PRESIDEN RI di hadapan anak dan istrinya. Dia akan akan murka bila sang istri mencoba ikut bicara dalam hal keputusan yang dia ambil sebagai Presiden RI. Bung Karno memang pencinta wanita, tapi paling PANTANG DIATUR WANITA. Lalu bagaimana dengan MEGAWATI ?


Jejak Politik Megawati 

Megawati memulai karier politiknya dari sebuah Partai Politik. Dengan dalih apa pun, berdirinya Partai Politik pasti bertujuan ingin menjadi pihak yang berkuasa di negeri ini. Berbagai cara akan ditempuhnya. Salah satu diantaranya dengan mengupayakan agar salah satu kadernya menjadi PRESIDEN RI. Hanya dengan cara inilah berbagai kemudahan dan fasilitas berupa pangkat dan jabatan akan didapat dan dinikmati oleh semua jajaran yang ada di dalam sebuah Partai Politik. Di organisasi yang demikianlah MEGAWATI  dibesarkan, sehingga dapat disimpulkan bahwasanya Megawati terjun ke dunia Politik dalam rangka ingin menjadi PRESIDEN RI. Atau dengan kata lain JABATAN PRESIDEN RI menjadi TUJUAN perjuangannya, bukan untuk kepentingan bangsa dan negara. Kepentingan Bangsa dan Negara hanya menjadi DAMPAK. Itu pun kalau berdampak.

Dari sisi kehidupan keluarga. Dalam hubungan keluarga sudah jelas Megawati bukan kepala keluarga. Dia hanyalah istri dari Taufik Kemas. Situasi yang demikian akan membuat Megawati seakan berdiri di persimpangan jalan. Ketegasan sebagai seorang Presiden serta bakti seorang istri bukanlah dua hal yang mudah dilakukan. Jika para istri Bung Karno sangat takut untuk ikut berkomentar tentang permasalahan Politik dan Pemerintahan, tidak demikian dengan suami Megawati (Taufik Kemas).

Masih segar dalam ingatan kita di saat terjadi konflik antara Megawati dan SBY, pernyataan pedas serta kurang etis justru lebih banyak dikeluarkan oleh Taufik Kemas. Dalam wawancara di Kick Andy beberapa waktu lalu, Megawati dengan bangga menceritakan bagaimana dia berangkat ke istana dengan diikuti oleh cucu-cucunya. Kita semua tahu setiap langkah seorang Presiden selalu diikuti oleh aturan Protokoler. Di sana sudah diatur tentang Ajudan dan kendaraan dinas Presiden (RI 1) termasuk siapa saja yang berhak mengendarai kendaran tersebut. Layakkah seorang bocah duduk dalam Kendaraan Kepresidenan? Jelas tidak layak. Di sini tampak sekali betapa Megawati belum bisa memisahkan Jabatan Presiden dan kasih sayang seorang nenek.

Dari berbagai perbandingan di atas, jelas tampak perbedaan antara Megawati dan Bung Karno. Kembali kepada kita semua, apakah kita masih harus bermimpi kembali ke jaman Presiden Soekarno dengan memilih Megawati sebagai Presiden RI? Kalau kamu sekalian berpendapat demikian. maka bersiaplah untuk menjadi bangsa yang kecewa. Sekali lagi bangsa yang kecewa."

Demikian Ki Semar menutup ceritanya di hadapan para tamu yang ada. Mendengar penjelasan Ki Semar, tampak perubahan di wajah para tamu Ki Semar. Ada wajah sedih, kecewa, bahagia semua campur jadi satu. Sejenak suasana menjadi hening, semua orang sibuk dengan pikiran masing-masing.

Keheningan itu hilang saat seorang tamu kembali bertanya kepada Ki Semar, "Ki, kalau begitu keadaannya, lalu siapa yang akan kita pilih saat  Pemilihan Presiden RI 2009 mendatang?"

Sambil menggeser duduknya Ki Semar menjawab, "Aku tidak akan mendukung satu nama, tapi aku  akan memberi kamu pedoman kriteria seorang Presiden RI:

- Jangan memilih Presiden yang terlalu banyak janji. Semakin banyak dia berjanji semakin banyak pula janji yang akan dia dustai, dan kita hanya akan menjadi bangsa yang penuh kecewa.

- Jangan memilih Presiden dari Capres yang suka menjelekkan Capres lain. Capres yang demikian telah menunjukkan kekerdilan jiwanya. Sehingga untuk menghilangkan kekerdilannya, dia harus naik ke bahu Capres lain dengan cara menjelekkan Capres lain tersebut. Dampak yang kedua, Capres yang demikian akan selalu mencari kambing hitam apabila menemui kegagalan dalam memerintah. 

- Jangan memilih Capres yang sudah pernah menjadi Presiden RI tetapi tidak lama masa kepemimpinannya. Capres yang demikian sudah menunjukkan ketidakmampuannya dalam mengendalikan dan meredam masalah yang ada. Jabatan sebagai Presiden sudah tidak mampu dia pertahankan, apalagi mempertahankan kehormatan dan kedaulatan bangsa dan negara ini. Itulah sebagian kriteria yang harus kamu pegang saat akan memilih seorang Presiden."

Demikian Ki Semar mengakhiri ucapannya. Para tamu pun tampak mengangguk-angguk dan tersenyum puas. Tak terasa hari semakin sore, maka berpamitlah para tamu kepada Ki Semar. Suasana pondok kembali sepi, tinggal sosok Ki Semar yang duduk bersila sambil memandangi foto Bung Karno yang dipegangnya.
 
Dengan lirih dia berkata, "Maaf Bung Karno atas pembicaraanku tadi, tapi semua ini aku lakukan demi Bumi Nusantara yang aku cintai, seperti engkau juga sangat mencintainya."  
 

Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com
Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//  

  

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Sandy dan Syagung, Sukses di Ajang Debat - WUPID 2017oleh : Johanes Krisnomo
19-Okt-2017, 13:37 WIB


 
  Sandy dan Syagung, Sukses di Ajang Debat - WUPID 2017 Sandy Sanjaya Awaluddin (kiri) dan Syagung Gunawan May (kanan) dari Universitas Gajah Mada, terpilih sebagai 1st breaking team, dalam ajang debat Bahasa Inggris WUPID - World Universities Peace Invitational Debate, di Jakarta (14-15/10/17). Bersama Aldwin dan Ibrahim dari
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 

 

 

 

 

 
Pimpinan Redaksi HOKI 2017 09 Okt 2017 20:02 WIB


 

 

 

 

 

 

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia