KabarIndonesia

Kirim / Edit Berita
Daftar Jadi Penulis
Harian Online KabarIndonesia

Dari Kita Untuk Kita

Home | Index | Berita | Berita Foto | Top Views | Top Reporter | Berita Redaksi | RSS RSS | Blog | FAQ | Email ke Redaksi
 
BERITA UTAMA
NasionalJokowi Resmi Menjadi Presiden ke-7 Gantikan SBY yang Lengser Keprabon oleh : Bambang
20-Okt-2014, 17:51 WIB


 
 
Jokowi Resmi Menjadi Presiden ke-7 Gantikan SBY yang Lengser Keprabon
KabarIndonesia - Alhamdulillah, akhirnya sang ksatria piningit dari kota Bengawan Solo, penyuka musik keras Metallicca & Arkana yang juga pengusaha mebel, mantan Walikotra Solo & Gubernur DKI Jaya yang mencintai kedamaian, Ir Haji Joko Widodo, alias Jokowi dan juragan dari
selengkapnya....


 


 
BERITA OPINI LAINNYA












 
BERITA LAINNYA
 
Membutuhkan Wartawan/Wartawati 06 Sep 2012 16:29 WIB


 
Buruh Sawit Temukan Mayat 21 Okt 2014 12:52 WIB


 
Karyawan (Tak) Setia 16 Okt 2014 17:37 WIB

PerlindunganNya di Bebas Hambatan 16 Okt 2014 17:30 WIB

 


 
BERITA LAINNYA
 

 

 
 
OPINI

1001 Cara Menjaga Kelestarian Hutan
Oleh : Zaky Al Hamzah | 31-Okt-2008, 19:44:05 WIB

Banyak jalan menuju Roma. Begitu pula banyak cara untuk menjaga Kelestarian Hutan. Melestarikan Hutan sejatinya bukan hak monopoli pemerintah maupun petugas penjaga hutan saja, pemerhati maupun pengkampanye hutan, duta kehutanan atau lingkungan hidup, pemangku adat atau sukarelawan pecinta hutan, semata. Upaya pelestarian hutan menjadi tanggung jawab bersama, semua penghuni negeri ini.

Para santri Pondok Pesantren (Ponpes) Al Hidayah di Desa Telaga Langsat, Kecamatan Takisung, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan (Kalsel), contohnya, dalam beberapa tahun terakhir menanam 7.000 batang pohon mahoni.

Atas arahan pimpinan ponpes, ditengah proses belajar agama serta pelajaran umum, para santri ini dikenalkan berbudidaya tanaman hutan sejak dini, di lingkungan sekitarnya. Supaya kelak ketika dewasa, mereka tidak saja mencintai alam, namun juga produk kayu mahoni bisa menghasilkan keuntungan tinggi sebagai hasil kerja kerasnya.

Bibit gatis pohon mahoni tersebut diperoleh dari program Gerakan Nasional Rehabiliasi Hutan dan Lahan (GNRHL/GERHAN). Program yang dicanangkan sejak tahun 2003 itu secara nasional punya target untuk menghijaukan areal seluas 3 juta hektare (ha) sampai 2007. Program Gerhan kini diperpanjang hingga 2009 dengan target luasan sampai 5 juta ha.

Aksi ratusan anak didik ponpes tersebut merupakan bagian kegiatan dalam kerangka kampanye Kecil Menanam Dewasa Memanen (KMDM). Enam sekolah dasar di Kecamatan Pleihari, Kabupaten Tanah Laut, pun tidak ingin kalah, dengan membuat kebun pembibitan mandiri.

Lain lagi dengan masyarakat Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Atas keberhasilannya menjaga kelestarian hutan dengan menanam pepohonan keras di lahan-lahan kritis di kawasan hutan, telah mengantarkan kabupaten yang dipimpin Bupati Batang Bambang Bintoro tersebut untuk meraih penghargaan Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam 2008, untuk kategori Kabupaten Peduli Kehutanan. Hebatnya, Batang merupakan kabupaten paling muda di propinsi tersebut.

Keseriusan warga dengan bantuan pemerintah setempat menanam tanaman di lahan kritis menambah lahan hutan rakyat. Sehingga ada tanggungjawab dari masyarakat.

Tidak hanya penghargaan semata, aksi tanam tersebut membuat Kabupaten Batang tidak lagi pernah terjadi bencana banjir, longsor atau bencana ekologis lainnya. Disamping itu, suplai air untuk berbagai aktivitas masyarakat juga terus terjaga. Pendeknya, Batang tidak lagi kekeringan.

Di kelompok seniman, artis dan budayawan, banyak berderetan nama-nama tokoh yang peduli dengan pelestarian hutan maupun lingkungan hidup. Sebut saja Emha Ainun Najib bersama kelompok pengajiannya Kyai Kanjeng.

Dalam sejumlah kesempatan, Emha Ainun Najib yang kerap dipanggil Kyai Mbeling diajak serta Departemen Kehutanan (Dephut) RI untuk menyadarkan nurani pejabat, masyarakat serta semua pihak supaya merawat hutan yang dianggap rumah bagi kehidupan lingkungan.

Selain menggandeng Emha Ainun, Dephut juga melibatkan penyanyi Franky Sahilatua, seniman lingkungan Ully Sigar Russady, serta seniman lain mengkampanyekan pentingnya kelestarian hutan.

Nama-nama lain Sitoresmi Prabuningrat, Slamet Gundono, bersama D Zawawi Imron, ikut terlibat melindungi lingkungan dengan gayanya sendiri, yakni membacakan Ikrar Peringatan Hari Bumi di Pesan Trend Ilmu Giri, Nogosari, Selopamioro, Imogiri, Bantul, Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Luna Maya, artis yang jadi duta WWF itu juga peduli pada kondisi hutan dan mengajak koleganya sesama artis untuk ikut merawat lingkungan dan menjaga hutan dari kerusakan. Musisi Gilang Ramadhan pernah menyumbangkan 5.000 batang pohon sebagai dukungan menyelamatkan hutan Indonesia yang kerusakannya menjadi rekor dunia.

Tidak hanya di Indonesia, kalangan musik internasional, banyak yang telah dilakukan untuk menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan. Mulai dari kampanye antikarbon, membagikan tempat sampah yang bertanda tangan musisi terrkenal, hingga filantropi. Bertepatan Hari Bumi, Billboard, perusahaan musik dunia, mengeluarkan daftar 10 musisi yang telah begitu banyak membuat perubahan dalam lingkungan.

Daftar tersebut adalah : Jack Johnson, penyanyi dan penulis lagu kelahiran Hawai ini membangun studio rekaman yang terbuat dari material bekas. Sebagai sumber tenaga, ia memasang panel solar. Kendaraan pengiring turnya pun akan menggunakan bahan bakar biodiesel.

Willie Nelson, si penyanyi country, menjual biodiesel yang diberi nama BioWillie. Bahan bakar ini tersedia di tempat pemberhentian truk miliknya, Willie's Place di Texas, AS. Tempatnya ini memecahkan rekor sebagai tempat pemberhentian truk terbesar di AS yang dalam setiap jenis bahan bakar mengandung sedikit biodiesel.

Sedang delapan musisi lain, yakni Mana, grup musik asal Meksiko, mendirikan yayasan nonprofit bernama Selva Negra sejak 1994 lalu. Dave Matthews Band, juga melalui yayasan nonprofit mereka, Reverb, menghitung emisi gas CO2 mereka.

KT Tunstall yang asli Skotlandia berpartner dengan Virgin Records untuk memproduksi buklet CD terbaru Drastic Fantastic dengan bahan yang 100 persen dapat didaur ulang. Ia berencana mengagendakan tur Inggris dengan tema karbon netral.
Pearl Jam melalui drummer Matt Cameron menggalang dana untuk korban banjir di Washington Tengah. Sedangkan Stone Gossard, gitaris, membantu menanam vegetasi di taman-taman di kota Seattle, AS, dengan tanaman English Ivy.

Musisi lain, Serj Tankian, vokalis grup musik undergrund-rock System of a Down mengorganisir penggemarnya untuk gerakan peduli lingkungan. Ia mendirikan organisasi nonprofit Axis of Justice bersama mantan gitaris Rage Against The Machine Tom Morello, serta Yayasan Reverb untuk memastikan mereka hanya meninggalkan jejak karbon yang kecil selama tur.

Radiohead asal Inggris memilih untuk menjual album mereka secara digital untuk mengurangi produksi dan pembuangan ratusan keping CD yang sudah tidak berguna. Sebab kepingan CD ini sulit didaur ulang atau dengan kata lain tidak ramah lingkungan. Mereka juga mengurangi jejak karbon yang mereka tinggalkan.
Missy Higgins, penyanyi/penulis lagu asal Australia berlibur di AS dengan Pirus hibrida. Ia memposkan beberapa dokumentasi berbagai tempat yang ia kunjungi seperti National Center for Atmospheric Research di Boulder, Colorado, serta Mountain View Montessori School, sebuah sekolah hijau.

The Roots, yang merupakan grup hip-hop asal Philadelphia ini mungkin yang caranya paling sederhana, namun kreatif dan efektif. Ketika jam session sebelum tampil di Grammy Awards, mereka membagikan tempat kompos yang dibubuhi tanda tangan. Menurut mereka, cara ini efektif untuk mempromosikan kesadaran kembali ke lingkungan hijau. (www.inilah.com)

Di Jakarta, tepatnya di Karang Tengah, Jakarta Selatan, dikenal nama H. Chaerudin, yang sejak tahun 1990-an membersihkan sampah, kotoran di Hutan Kota Kali Pasangggrahan, Karang Tengah, tanpa kenal lelah.

Ia bekerja dengan tidak ada dukungan sponsor dari perusahaan manapun, termasuk dari pemerintah. Bukan penghargaan dan duit banyak yang dicari. Tujuannya satu, menyelamatkan kerusakan lingkungan di kawasan tersebut.

Tapi, siapa sangka, tindakan tokoh lingkungan Hidup yang mendirikan kelompok tani Sangga Buana tersebut ikut menyelamatkan Ibukota Jakarta dari kepungan banjir. Jika ratusan hektare huta kota di kawasan tersebut tidak dilindungi, maka dapat dibayangkan jika Jakarta tenggelam sejak puluhan tahun silam.

Kepada media massa, dia pernah mengatakan jika aksi itu dilakukan sebagai sindiran pemerintah yang hanya berwacana dalam menyelamatkan lingkungan dengan dukungan dana ratusan miliar. Namun, faktanya Jakarta tetap banjir dan ekologi lingkungannya rusak parah.

Santri Ponpes Al Hidayah, siswa-siswi SD di Kabupaten Tanah Laut, warga Kabupaten Batang, seniman dan musisi Indonesia serta internasional, Chaeruddin melakukan aksi penyelamatan hutan demi menjaga kelestariannya dengan cara mereka masing-masing.
Saya dan juga Anda pun juga mempunyai cara dan strategi sama untuk ikut menjaga Kelestarian Hutan. Dimulai dari diri sendiri, dimulai dari cara yang sederhana sesuai kemampuan serta profesi masing-masing. Tidak sulit, bukan. Murah dan mudah dilakukan.
Meski demikian, tetap saja terdapat pihak yang menyangsikan menanam pohon tidak akan menguntungkan, menambah pemasukan kantong, dan menilai hanya buang-buang waktu dan tenaga. Pernyataan tersebut ternyata bisa dibantah.

Unit Usaha Bagi Hasil Koperasi Perumahan Wanabakti Nusantara (KPWN) memberikan bukti. Sejak awal tahun 2007, koperasi tersebut mengembangan bisnis agro berupa tanaman Jati Unggul Nusantara (JUN).

Usaha tani JUN ini cukup murah, aman, menguntungkan tapi juga menjaga kelestarian lingkungan. Dengan Rp60ribu/pohon dengan minimal investasinya 100 pohon atau Rp6 juta, investor bisa dapat keuntungan 233 persen dalam waktu 5 tahun.

Menurut Direktur Utama Unit Usaha Bagi Hasil Koperasi Perumahan Wanabakti Nusantara (KPWN), Hariyono Soeroso, bisnis seperti ini ternyata banyak diminati investor, setelah bisnis investasi, reksadana maupun bisnis serupa hancur lebur.

Investasi pada sektor ini, dipastikan terbebas dari imbas krisis finansial global. Keuntungan lain, ikut menyelamatkan alam dan menyejahterahkan warga petani di desa-desa yang terlibat menanam pohon jati.

Hingga awal tahun 2007 sampai akhir September 2008 kemarin, jumlah investor mencapai 383 orang dengan 1.329 KK (kepala keluarga) petani yang terlibat dengan jumlah tanaman jati 318 hektar jumlah investasi 215.772 pohon, dan nilai investasi Rp 13,08 miliar.
 
Bagaimana dengan pemerintah sendiri? Pemerintah memang tak kenal lelah membangun semangat menanam, melalui Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GNRHL/GERHAN) atau aksi tanam serentak hingga 100 juta pohon pada 2009 nanti.
Aksi tersebut tidak lain sekadar memicu gerakan menanam sebagai kegiatan yang benar-benar melekat dalam kehidupan masyarakat. Pemerintah menginginkan masyarakat ikut menjaga, merehabilitasi hutan dan lahan yang rusak. Dan menekan laju kerusakan hutan.

Data Badan Planologi Dephut menunjukkan, laju deforestasi hutan Indonesia laju deforestasi pada periode 1997-2000 yang luasnya mencapai 2,8 juta ha per tahun. Penebangan hutan Indonesia yang tidak terkendali selama puluhan tahun dan menyebabkan terjadinya penyusutan hutan tropis secara besar-besaran.
Laju kerusakan hutan periode 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per tahun, sedangkan pada periode 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Ini menjadikan Indonesia merupakan salah satu tempat dengan tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia.
Di Indonesia berdasarkan hasil penafsiran citra landsat tahun 2000 terdapat 101,73 juta hektar hutan dan lahan rusak, diantaranya seluas 59,62 juta hektar berada dalam kawasan hutan. [Badan Planologi Dephut, 2003].

Dunia internasional tetap kerap menuding Indonesia sebagai negara yang tak bisa mengurus lingkungan. Indonesia disebut sebagai pemilik rekor kerusakan hutan tropis tercepat di dunia. Indonesia juga dicap sebagai kontributor utama pelepasan karbon, penyebab pemanasan global. Tapi itu cerita lama. Pada periode 2000-2007 mencapai 1,08 juta hektare (ha) per tahun. Atau terjadi penurunan hingga 60 persen. Ya, Indonesia telah berhasil menurunkan tingkat deforestasi pada periode 2000-2005 hingga 60 persen dibandingkan periode 1997-2000.

Angka tersebut diperoleh dengan memanfaatkan data digital citra landsat penutupan lahan hasil penafsiran citra SPOT Vegetation milik Wageningen University, Belanda dan data digital penutupan lahan hasil penafsiran citra Modis milik South Dakota State University.

Tapi, bagaimana pemerintah bisa melakukan hal itu? Bukan sulap bukan sihir, pemerintah bekerja keras menyelamatkan hutan dari kerusakan parah selama bertahun-tahun.

Pembangunan kehutanan pada era 2005-2009 difokuskan kegiatan rehabilitasi dan konservasi. Dari upaya rehabilitasi yang telah dilakukan, sejak 2003 melalui berbagai kegiatan penanaman, telah berhasil ditanam sekitar 2 miliyar bibit pohon, melalui berbagai gerakan penanaman yaitu; Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN) dengan menanam 100 juta pohon hingga tahun 2009, Gerakan Indonesia Menanam, Gerakan Bakti Penghijauan Pemuda dan lain-lain.

Dalam Konferensi Perubahan Iklim, di Bali beberapa waktu lalu, pemerintah mencanangkan penanaman 79 juta pohon jelang acara tersebut. Pada saat yang sama, Perempuan Indonesia lewat 'Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon' juga mencanangkan penanaman 10 juta pohon.

Data per bulan Juni 2008 menunjukkan, aksi tanam serentak telah berhasil ditanam lebih dari 101 juta pohon atau lebih 1 juta dari target penanaman pohon pada tahun 2009.

Rincian dari 101 juta pohon yaitu, aksi tanam serentak berhasil menanam 86,9 juta pohon dari target 79 juta pohon, sementara Gerakan Perempuan Tanam dan Pelihara Pohon sejumlah 14 juta pohon dari target 10 juta pohon.

Aksi tanam yang digelar guna menyambut konferensi perubahan iklim itupun mulai membuka mata dunia tentang jerih payah Indonesia dalam pengelolaan lingkungan.
 
Badan PBB yang mengurus lingkungan, UNEP (United Nation Environment Programme) memberikan penghargaan internasional Certificate of Global Leadership terhadap Ibu Negara Ani Yudhoyono dan Menteri Kehutanan MS Kaban yang mendorong terselenggaranya aksi tanam massal itu. Apalagi, kegiatan tersebut sejatinya sudah mengalir dalam darah bangsa ini.
Tokoh nasional Boedi Oetomo melalui Gerakan Kebangkitan Nasional-nya pada 100 tahun lalu, dan tonggak melawan penindasan bangsa asing, menginspirasi pemerintah menggelorakan GERHAN denan menanam 100 juta pohon dijadikan tonggak melestarikan hutan.

Dephut dalam laporannya disebutkan aksi tanam 100 juta pohon ekivalen dengan areal penanaman seluas 100.000 ha. Jika satu hektare bisa menyimpan 4 ton karbon, hitung saja berapa potensi karbon yang bisa diserap. Jika perhitungan serapan karbon dihitung sejak awal kegiatan penanaman, volume karbon yang bisa diserap jauh lebih besar lagi.

Berdasarkan perhitungan Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Dephut dengan basis data dari Pusat Agroforestry Dunia (ICRAF), kegiatan penanaman mampu menyerap karbon sebanyak 49-101 ton karbon/ha dengan jenis tanaman cepat tumbuh dan 94-336 ton karbon/ha dengan jenis tanaman lambat tumbuh.

Di luar serapan karbon dari penanaman 100 juta pohon itu, maka sebenarnya Indonesia sudah memiliki potensi karbon yang berasal dari serapan hutan-hutan di Indonesia sebanyak 68 miliar ton.

Selain berkontribusi besar dalam pencegahan pemanasan global, aksi penanaman serentak juga punya nilai penting dalam revitalisasi industri kehutanan di tanah air. Hitung saja, volume kayu yang bisa dihasilkan dari aksi tanam serentak ini tentu saja sangat potensial untuk dimanfaatkan oleh industri kehutanan.

Bayangkan, seandainya setiap hektare areal yang ditanami pada aksi tanam serentak tadi bisa menghasilkan volume kayu sebesar 150 meter kubik saat panen, maka dari 100.000 ha yang ditanami dalam aksi tersebut tersedia volume kayu mencapai 15 juta meter kubik. Jelas bukan sedikit dan bisa mendukung kebangkitan industri kehutanan nasional.

Data Dephut menyebutkan, luas hutan tropis di negara ini sangat besar, yakni sekitar 120,35 juta hektare atau 63 persen dari luas daratan Indonesia. Luas hutan tersebut terdiri dari hutan konservasi 20,5 juta hektare, hutan lindung 33,52 juta hektare, hutan produksi terbatas 23,06 juta hektare, hutan produksi 35,2 juta hektare dan hutan produksi yang dapat dikonversi 8,07 juta hektare.

Indonesia memiliki 10 persen hutan tropis dunia yang masih tersisa. Hutan Indonesia memiliki 12 persen dari jumlah spesies binatang menyusui/mamalia, pemilik 16 persen spesies binatang reptil dan ampibi, 1.519 spesies burung dan 25 persen dari spesies ikan dunia. Sebagian diantaranya adalah endemik atau hanya dapat ditemui di daerah tersebut.

Tapi, jangan lupa, program GERHAN pemerintah tidak berdiri sendiri. Dibutuhkan puluhan, ratusan, ribuan hingga jutaan pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung dalam melestarikan hutan.

Aksi sederhana santri Ponpes Al Hidayah, siswa SD, seniman, Chaeruddin serta pihak-pihak ikut menyelamatkan hutan, dengan kesederhanaanya merupakan bagian kecil dari jutaan cara menyelamatkan hutan supaya tetap lestari.

Saya dan juga Anda pun juga mempunyai cara dan strategi sama untuk ikut menjaga Kelestarian Hutan. Dimulai dari diri sendiri, dimulai dari cara yang sederhana sesuai kemampuan serta profesi masing-masing. Tidak sulit, bukan. Murah dan mudah dilakukan.

Mari jadikan Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional, 80 Tahun Sumpah Pemuda, dan 10 Tahun Reformasi di tahun ini sebagai inspirasi kita ikut menjaga Kelestarian Hutan, dengan 1001 Cara. Jadi, ada '1001 Cara Menjaga Kelestarian Hutan'. Anda pejabat, pemangku kebijakan, pelaku usaha, konglomerat, aktivis lingkungan, anak pelajar dan siswa, seniman, tokoh agama, tokoh masyarakat, Indonesia Idol, wanita tercantik di Indonesia, pemilik bengkel, pendiri bisnis makanan, atau hanya warga biasa, saat ini silakan lakukan cara menjaga Kelestarian Hutan dengan cara masing-masing, sesuai kemampuan, dan, dimulai dari hal sederhana, dimulai sekarang.

Salam Lestari !!!

[Sumber, Data dan Referensi: Kompas Senin, 23 April 2007; www.dephut.go.id; www.inilah.com edisi 24/04/2008; Badan Planologi Dephut (2003).] (*)



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/  
Alamat ratron (surat elektronik):
redaksi@kabarindonesia.com Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://kabarindonesia.com/  

 

[Beritahu Teman]  [Print Berita]

Bagikan :   Share 


Komentar & Respon :
Nama
Komentar
Validasi
 


 
BERITA FOTO
Mungkinkah Suami Mengasuh Anak?oleh : Jumari Haryadi
17-Okt-2014, 23:18 WIB


 
  Mungkinkah Suami Mengasuh Anak? Tugas istri adalah mengasuh anak, namun peluang kerja untuk pria terbatas, terkadang posisinya terbalik. Justru istri bekerja menjadi TKI di luar negeri, sementara suami mengasuh anak di rumah. Pasangan suami istri sebaiknya berbagi peran mengasuh anaknya. Misalnya ketika
selengkapnya....
 
 

Follow KabarIndonesia on Twitter

 
BERITA LAINNYA
 
Muhammadiyah Kalteng Adakan Milad 21 Okt 2014 12:49 WIB


 
Idul Adha di Leipzig 08 Okt 2014 13:16 WIB


 

 

 
Valentino Rossi Puji Marc Marquez 18 Okt 2014 23:59 WIB

 

 
Memimpin dengan Kepala dan Hati 20 Okt 2014 12:40 WIB


 

 

 

 
"Remote Sensing" untuk Masyarakat 13 Sep 2014 08:36 WIB


 
Selamat Melayani Pertua-Diaken 12 Okt 2014 11:13 WIB

 

  Back to Top   Home |  RSS RSS  
© Copyright 2009 KabarIndonesia